NovelToon NovelToon
Dinikahi Sahabat Ayah

Dinikahi Sahabat Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.

Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pinangan di Waktu Yang Salah

Pagi di Bandung yang seharusnya dipenuhi aroma kopi dan sisa kehangatan semalam, seketika berubah menjadi medan perang yang sunyi bagi Donny. Pesan singkat dari Arman di layar ponselnya terasa seperti vonis mati yang dijatuhkan tepat saat ia baru saja merasakan sedikit kehidupan.

“...Ada keluarga teman lama Ayah yang mau datang melamar Katya malam ini.”

Donny menatap layar itu dengan jempol yang bergetar. Ia melirik Katya yang masih meringkuk di bawah selimut, wajahnya tampak damai, pipinya sedikit lebih merona dibandingkan semalam. Efek demamnya sudah turun, namun efek ciuman kening dan genggaman tangan semalam masih menyisakan aura yang berbeda di ruangan itu. Donny merasa seperti baru saja membangun istana pasir yang indah, hanya untuk melihat ombak raksasa bernama "Realitas" datang menyapunya.

"Om..." Suara serak khas orang bangun tidur itu memecah keheningan. Katya membuka matanya, mengerjap perlahan menatap Donny yang berdiri kaku di sisi tempat tidur.

Donny segera mematikan layar ponselnya. Ia memaksakan sebuah senyum yang terasa sangat pahit di lidahnya sendiri. "Pagi, Katya. Bagaimana perasaanmu? Masih pusing?"

Katya bangkit perlahan, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia menatap Donny dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang kini berani mengakui bahwa pria di depannya adalah satu-satunya pelabuhan yang ia inginkan. "Sudah lebih baik, Om. Makasih ya... buat semalam."

Donny berdehem, mengalihkan pandangan ke jendela yang masih basah oleh sisa hujan. "Katya, kita harus segera pulang. Mandilah, saya akan minta supir memanaskan mobil."

"Kok buru-buru banget, Om? Bukannya jadwal kita masih ada kunjungan ke gudang pagi ini?"

Donny menarik napas panjang, lalu berbalik menatap Katya. Ada kilat kepedihan yang tak mampu ia sembunyikan sepenuhnya. "Ayahmu baru saja mengirim pesan. Dia ingin kamu ada di rumah sore ini. Ada tamu penting yang akan datang."

"Tamu penting? Siapa?"

Donny mengepalkan tangannya di balik saku celana. "Seseorang yang ingin melamarmu."

Kata itu meluncur seperti peluru perak yang menembus jantung kebahagiaan Katya. Senyum yang tadi sempat tersungging di wajahnya menghilang seketika. Ruangan suite mewah itu mendadak terasa sesak, lebih dingin daripada udara luar.

"Lamaran?" Katya tertawa hambar, matanya mulai berkaca-kaca. "Ayah nggak pernah bilang apa-apa soal ini. Om... Om setuju?"

Donny terdiam. Pertanyaan itu adalah jebakan yang mematikan. Sebagai sahabat Arman, ia seharusnya mendukung rencana yang dianggap baik oleh orang tua. Namun sebagai pria yang baru saja mencium kening gadis itu dengan segenap jiwanya, ia ingin membakar siapa pun pria yang berani datang ke rumah Arman malam nanti.

"Saya tidak punya hak untuk setuju atau tidak, Katya," jawab Donny dingin, kembali ke topeng profesionalnya. "Itu urusan keluargamu. Sekarang, tolong bersiaplah. Kita berangkat tiga puluh menit lagi."

Sepanjang perjalanan pulang, mobil itu seperti peti mati yang berjalan. Tak ada percakapan. Donny menatap lurus ke jalanan tol, sementara Katya menoleh ke arah jendela, membiarkan air mata jatuh tanpa suara. Ia merasa dikhianati. Bukan oleh ayahnya, tapi oleh ketidaksanggupan Donny untuk mempertahankan apa yang baru saja mereka miliki semalam.

Kenapa dia pengecut sekali? batin Katya menjerit. Setelah semua perhatian itu, setelah dia bilang menjagaku adalah tujuannya, kenapa sekarang dia melempar aku ke tangan orang lain?

Sesampainya di Jakarta, Donny menurunkan Katya di depan rumah. Arman sudah menunggu dengan wajah sumringah di teras.

"Makasih ya Don sudah antar Katya tepat waktu. Wah, kamu pucat banget, Ya? Kamu sakit?" tanya Arman cemas melihat putrinya.

"Hanya kelelahan, Yah," jawab Katya singkat tanpa menatap ayahnya, ia langsung masuk ke dalam rumah, melewati ayahnya tanpa salam yang biasanya hangat.

Arman mengernyit, lalu menatap Donny. "Dia kenapa, Don? Kalian berantem di jalan?"

Donny turun dari mobil, menyalami Arman dengan perasaan bersalah yang menggunung. "Dia hanya sedikit demam semalam di Bandung, Man. Mungkin kaget juga mendengar kabar yang kamu kirim."

Arman tertawa kecil, menarik Donny ke kursi teras. "Duduk dulu, Don. Aku butuh pendapatmu. Pria yang mau datang ini anaknya Pak Pratama, rekan kerjaku dulu. Namanya Rian, dokter muda, lulusan Jerman. Orangnya sopan, mapan, dan yang paling penting, agamanya bagus. Menurutmu bagaimana? Cocok kan buat Katya?"

Donny merasa seperti sedang dipaksa meminum racun setiap kali Arman memuji Rian. "Dia terdengar seperti pria yang sempurna, Man."

"Aku ingin Katya bahagia, Don. Kamu tahu sendiri, aku sudah tidak muda lagi. Penyakit jantungku ini bisa kumat kapan saja. Aku ingin melihat dia ada yang menjaga sebelum aku dipanggil Tuhan," suara Arman merendah, menyentuh titik terlemah Donny.

Donny menatap sahabatnya. Ia tahu Arman tulus. Ia tahu Arman hanya ingin yang terbaik untuk putrinya. Namun, yang terbaik versi Arman adalah mimpi buruk bagi Donny.

---

Malam harinya, rumah Arman nampak rapi dan terang. Katya duduk di ruang tengah dengan kebaya berwarna pastel, wajahnya dipoles make-up tipis untuk menutupi jejak tangisnya. Donny juga ada di sana, diundang secara khusus oleh Arman sebagai "saksi keluarga".

Keluarga Pak Pratama datang membawa hantaran yang mewah. Rian, sang dokter muda, tampil sangat mengesankan. Ia bicara dengan cerdas, sopan, dan berkali-kali mencuri pandang pada Katya dengan kekaguman yang jelas.

"Maksud kedatangan kami ke sini, Pak Arman, sebagaimana sudah kita bicarakan," Pak Pratama memulai dengan nada formal. "Putra kami, Rian, sudah lama mengagumi Katya melalui cerita-cerita kami. Dan malam ini, dia ingin menyampaikan niat baiknya secara langsung."

Rian berdehem, menatap Katya dengan percaya diri. "Katya, saya tahu kita belum lama saling mengenal secara pribadi. Tapi saya serius ingin membangun masa depan denganmu. Jika kamu berkenan, saya ingin kita memulai proses menuju pernikahan."

Keheningan menyelimuti ruangan. Arman menatap Katya dengan penuh harap. Resti, sang ibu, tersenyum haru. Dan di sudut ruangan, Donny memegang cangkir tehnya dengan sangat erat, hingga tangannya memutih.

Katya tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Donny. Ia mencari satu saja isyarat, satu tarikan alis atau sorot mata yang melarangnya. Bilang sesuatu, Om. Bilang kalau Om keberatan. Tolong.

Namun, Donny hanya menatap cangkirnya. Ia tidak berani mengangkat wajahnya. Ia merasa tidak pantas bersaing dengan pria sekelas Rian yang sempurna di mata masyarakat.

"Ayah," suara Katya memecah keheningan, terdengar bergetar namun tegas. "Katya menghargai niat baik Mas Rian dan keluarga. Tapi... Katya belum bisa memberikan jawaban malam ini."

Arman tampak sedikit kecewa, namun mencoba maklum. "Tentu, tentu. Ini keputusan besar, Katya butuh waktu untuk istikharah."

"Bukan itu saja, Yah," lanjut Katya, matanya kini menatap lurus ke arah Donny, menusuk pria itu hingga ke dasar sukmanya. "Katya sudah memiliki seseorang yang Katya cintai. Dan Katya sedang menunggu pria itu untuk berani bicara pada Ayah."

Ruangan itu mendadak seperti tersambar petir di tengah cuaca cerah. Arman terkejut, Rian tampak tersinggung, dan Donny... Donny merasa jantungnya jatuh ke lantai.

"Siapa pria itu, Ya?" tanya Arman dengan nada yang mulai meninggi. "Kenapa Ayah tidak tahu? Bagas? Anak mawar itu?"

Katya menggeleng. Ia tidak melepaskan tatapannya dari Donny. "Dia bukan orang asing, Yah. Dia orang yang sangat dekat dengan kita. Orang yang selalu Ayah puji. Tapi dia pengecut, karena dia lebih mementingkan persahabatannya dengan Ayah daripada memperjuangkan kebahagiaanku."

Donny tidak bisa lagi menghindar. Ia berdiri, meletakkan cangkir tehnya yang beradu dengan meja kaca, menciptakan bunyi klenting yang nyaring di tengah kesunyian yang mencekam.

"Cukup, Katya," suara Donny berat, penuh peringatan.

Arman menatap Donny, lalu menatap putrinya. Matanya yang tua mulai menangkap sesuatu yang selama ini ia abaikan. Sebuah kepingan teka-teki yang mengerikan mulai tersusun di kepalanya.

"Donny?" panggil Arman dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Apa maksud anakku?"

Donny menatap Arman dengan keputusasaan yang nyata. "Man, maafkan aku..."

Belum sempat Donny melanjutkan kalimatnya, Arman memegang dadanya, wajahnya mendadak pucat pasi. Ia ambruk ke kursi, napasnya memburu dan pendek.

"Ayah!" teriak Katya histeris.

Kekacauan meledak. Rian segera bertindak sebagai dokter, mencoba memberikan pertolongan pertama, sementara Donny terpaku di tempatnya, menyadari bahwa pengakuan Katya baru saja memicu bom yang bisa menghancurkan jantung orang yang paling ia hormati di dunia ini.

Di tengah hiruk pikuk itu, Donny menyadari satu hal pahit: mencintai Katya mungkin bukan hanya mengkhianati sahabatnya, tapi mungkin juga membunuhnya.

1
awesome moment
sll bgitu kn?
awesome moment
g salah koq. p lg tanpa ikatan darah
Alvaraby: 👌👌👌 ok lanjut kak bacanya. selamat menikmati
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!