Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
On The Way
Dia sedikit condong ke depan di kursinya. "Kebanyakan tetangga aku orang pekerja kasar. Kita saling jaga." Dia menatapku sebentar lalu berkata, "Kalau itu bakal ganggu kamu, lebih baik kita akhiri aja sekarang."
Mengetahui ada orang yang menjaga dia membuatku merasa lebih baik, tapi aku harus menyebarkan kabar di Gang Royal kalau enggak ada yang boleh menyentuh dia.
"Itu enggak mengganggu aku," kataku, menenangkannya.
Saat aku kembali makan, Eva membersihkan tenggorokannya. "Aku bisa jaga diri sendiri."
Aku tertawa kecil. "Oke."
"Aku enggak mengharapkan apa pun dari kamu," ceplosnya. Saat aku melihatnya, dia menjelaskan. " Maksud aku ... aku enggak butuh kamu beliin aku apa pun buat naklukkin aku. Aku di sini karena aku suka kamu." Saat aku mengangguk, dia menambahkan, "Dan seksnya enak."
Dia suka aku.
Itu awal.
Tawa keluar dari mulutku, yang meredakan ketegangan di antara kita. "Makan makanan kamu biar aku bisa antar kamu pulang dan kita bisa mastiin apakah seks hebat itu cuma sekali atau enggak."
"Aku kasih tahu dari sekarang, kamu dan mobil sport kamu bakal mencolok banget di Gang Royal."
Setiap pengedar narkoba dan ketua Gangster tahu siapa aku dan enggak akan berani macam-macam sama aku.
"Aku bisa mengatasinya!" gumamku.
Kami makan beberapa saat lagi sebelum Eva bertanya, "Kamu suka kerjaan kamu?" Lidahnya keluar menjilat bibir lalu menambahkan, "Kerja sama para balerina."
"Aku suka banget." Ingin dia tahu sedikit lebih banyak tentang aku, aku bilang, "Aku juga punya gedung opera."
Dia diam sebentar lalu bertanya, "Jadi kamu orang Malaysia?"
"Langkawi." Aku mengoreksi.
Saat kami selesai makan, Eva berkata, "Makasih buat makan malamnya. Enak banget."
"Aku bakal bilang ke Quinn kalau kamu suka."
"Itu nama teman chef kamu?"
"Iya."
Sambil berdiri, aku berjalan ke tempat jaket Eva tergantung, mengambilnya dari hanger, aku menahannya terbuka supaya dia bisa memasukkan lengannya ke dalam.
Aku memindahkan tanganku ke bahunya dan memutarnya supaya dia menghadap aku.
Aku menatap mata abu-abunya dan perlahan menundukkan kepala, lalu memberi ciuman lembut di bibirnya.
Aku enggak bisa menjelaskan apa yang dia punya, tapi makin lama aku habiskan waktu sama dia, makin aku ingin dekat sama dia.
Jadi aku bilang, "Aku juga suka sama kamu, Sayang."
Mengambil tangannya, aku menyelipkan jari-jariku di antara jarinya sebelum kami keluar dari ruangan.
Saat kami melewati meja-meja menuju pintu keluar, Braun masuk, dan begitu matanya tertuju ke Eva dan aku, alisnya langsung terangkat.
Fokusnya berpindah ke Eva, dan baru saat kami sampai di depannya, dia menatapku.
"Hei!" kataku. "Braun, ini Eva." Menariknya lebih dekat ke aku, aku menjelaskan, "Dia balerina yang pernah aku ceritain ke kamu."
Senyum tumpul muncul di wajah Eva, dan dia mengulurkan tangan bebasnya ke dia. "Senang kenal kamu. Kamu teman Farris?"
"Aku sahabatnya." Braun tertawa.
Aku memperhatikan saat dia menjabat tangan Eva, dan setelah selesai, aku bilang ke dia, "Aku telepon kamu nanti."
"Oke." Senyum aneh muncul di wajahnya. "Bersenang-senanglah."
Aku selalu menggoda Braun dan Tully waktu mereka ketemu wanita mereka. Enggak mungkin mereka melewatkan kesempatan ini buat balas dendam ke aku.
Keluar dari restoran, Eva bilang, "Aku senang banget. Makasih."
Aku menatapnya sambil mengantarnya ke tempat SUV aku terparkir, yang aku pakai karena Barbbie pipis di kursi penumpang R8 aku, jadi aku minta mobil itu dikirim buat dibersihin.
Saat aku membuka pintu penumpang, Eva tertawa, "Kalau kamu lupa, aku tadi udah kasih kamu kesempatan buat batalin ngantar aku pulang. Dari pada kamu nyesel."
"Aku enggak bakal batal." Aku mengangguk ke arah mobil, menyuruhnya masuk.
Begitu dia duduk di kursi penumpang, aku menutup pintu lalu berjalan mengitari SUV.
Saat aku duduk di belakang setir, aku bilang, "Pakai sabuk pengaman, Sayang."
Dia menarik sabuk pengaman dan bertanya, "Kamu fasih bahasa Malaysia?"
"Iya." Aku menyalakan mesin dan mengecek lalu lintas sebelum menjauh dari trotoar.
"Oooh. Bilang sesuatu yang kotor ke aku dalam bahasa Malaysia."
Aku berpikir sebentar, lalu menurunkan suara ke nada menggoda, aku bilang, "Aku suka rasa vukki kau yang ketat melilit qotte aku!"
Dia meletakkan tangannya di pahaku dan menggerakkannya berbahaya dekat ke tempat batang aku mulai keras.
"Artinya apa?"
"Aku suka sensasi memew kamu gigit titid aku!"
Dia mengeluarkan dengusan tak terduga yang diikuti tawa. "Maaf. Bahkan tahu kamu bakal bilang kayak gitu, tetap aja aku kaget."
"Kamu enggak terbiasa ada cowok ngomong hal kotor ke kamu?" tanyaku, dan begitu pertanyaan itu keluar, aku benar-benar ingin dengar jawabannya.
"Enggak." Dia meremas pahaku. "Kamu bikin aku Hornie."
Aku menghentikan SUV di lampu merah dan menangkap matanya.
"Itu bikin kamu terangsang?" Dia mengangguk, yang membuatku bertanya, "Apa lagi yang bikin kamu terangsang?"
Dia mengangkat bahu dan berpikir sebentar. "Quick sex. Atau hardcore, atau yang lainnya."
Sudut mulutku terangkat saat aku bergumam, "Aku suka kedengerannya."
"Apa yang bikin kamu terangsang?" tanya dia.
"Semua yang kamu lakuin Jumat malam."
Senyum lebar menyebar di wajahnya. "Sayangnya buat kamu, itu cuma pertunjukan sekali."
"Berarti aku harus menikmatinya."
JD penasaran Endingnya