Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.
Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".
Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.
Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Melompati Batas Logika
Dunia seolah berjalan dalam gerak lambat di mata Adrian. Dia melihat tabung berisi cairan putih bening itu satu-satunya harapan untuk menyelamatkan Malabar melayang di udara, berputar perlahan menuju kegelapan jurang yang curam. Di bahunya, rasa panas menjalar akibat peluru yang menyerempet jas mahalnya, tapi rasa perih itu kalah jauh dibanding rasa ngeri yang menghantam dadanya.
"Tabungnya!" teriak Sekar. Suaranya pecah, ketutup sama suara raungan menara kristal yang makin menjadi-jadi.
Adrian nggak mikir dua kali. Logika "The Shark" yang biasanya penuh perhitungan matang mendadak ilang, diganti sama insting gila yang belum pernah dia rasain selama hidup di kenyamanan Jakarta. Dengan sisa tenaga di kakinya, Adrian lari sekenceng mungkin ke arah pinggir tebing. Dia nggak peduli seberapa dalem jurang itu, atau seberapa kecil kemungkinan dia selamat.
Gua nggak boleh kehilangan itu, batinnya.
Dia melompat. Tubuhnya melayang di antara kabut tipis dan cahaya biru yang berpendar dari menara. Tangannya terulur, jemarinya berusaha menggapai udara kosong, sampai akhirnya... HAP! Ujung jarinya berhasil mencengkeram tabung kaca itu tepat sebelum benda itu menghilang ditelan kegelapan.
Tapi hukum gravitasi nggak bisa dilawan. Tubuh Adrian jatuh menghantam lereng tebing yang miring. Dia berguling-guling di antara semak berduri dan batu-batu tajam. Rasa sakitnya luar biasa, kayak tulangnya mau rontok satu-satu. Untungnya, tangannya yang memeluk tabung itu tetap terkunci rapat di dadanya. Dia berhenti terguling setelah punggungnya menghantam akar pohon besar yang menonjol keluar dari dinding tebing.
"Adrian! Lu masih hidup?!" Suara Sekar terdengar jauh di atas sana, panik banget.
Adrian batuk, ngerasain rasa anyir darah di mulutnya. Dia ngelihat ke tangan kanannya. Tabungnya masih utuh. Dia narik napas panjang, mencoba buat duduk meski dunia di sekitarnya terasa muter.
"Gua... gua nggak apa-apa!" teriak Adrian balik, meskipun suaranya kedengeran lemes.
Dia ngelihat ke arah ponselnya yang untungnya masih nyangkut di saku jas. Layar video call itu masih nyala. Sosok ibunya masih di sana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ibu... kenapa Ibu nyuruh gua suntik ini ke diri gua sendiri?" tanya Adrian lewat napas yang tersenggal-senggal. "Bokap bilang ini buat menara. Kenapa instruksi kalian beda?"
Sosok di layar itu menggeleng pelan. "Ayahmu terlalu takut untuk menjadi bagian dari sistem, Adrian. Dia ingin menghancurkannya karena dia merasa gagal mengendalikannya. Tapi kau... kau punya DNA yang sudah dimodifikasi sejak kau dalam kandungan. Kau bukan sekadar wadah, kau adalah 'Server' yang hidup. Jika kau suntikkan ke menara, sistemnya mati, tapi semua warga yang terhubung akan mengalami kerusakan saraf permanen. Mereka bakal jadi zombi selamanya. Tapi kalau kau suntikkan ke dirimu, kau akan mengambil alih pusat kesadaran jaringan itu. Kau bisa melepaskan mereka dengan aman."
Adrian terdiam. Jadi ini alasan kenapa dia selalu merasa berbeda? Kenapa dia bisa memproses data lebih cepat dari orang lain? Kenapa dia nggak pernah merasa "cocok" di mana pun? Ternyata hidupnya bukan cuma soal warisan perusahaan, tapi warisan genetika yang mengerikan.
"Adrian! Naik, Adrian! Mereka mulai gerak lagi!" Teriak Sekar lagi.
Adrian ngelihat ke atas. Di pinggir tebing, wanita bermasker itu udah berdiri lagi, dia lagi merintahin anak buahnya buat turun ke bawah buat ngambil tabung itu dari tangan Adrian.
Sementara itu, menara kristal di puncak gunung mulai ngeluarin sulur-sulur cahaya biru yang lebih besar, kali ini mulai menyambar ke arah rumah-rumah warga di kaki gunung. Ledakan-ledakan kecil mulai terjadi. Malabar mulai terbakar.
Adrian mulai mendaki naik dengan satu tangan. Rasa sakit di bahu dan punggungnya dia abaikan. Dia harus nyampe ke atas sebelum anak buah wanita itu nyampe ke posisinya. Tiap kali dia narik akar pohon atau batu, dia ngerasain energi biru dari tanah merambat ke kulitnya, bikin pembuluh darahnya kelihatan bercahaya biru redup.
"Adrian, cepet!" Sekar ngebantu narik tangan Adrian pas dia udah nyampe di bibir tebing. Begitu Adrian berdiri, dia langsung dihadang sama tiga orang anak buah wanita itu. Tapi sesuatu yang aneh terjadi. Adrian nggak ngerasa takut. Pas dia ngelihat ke arah mereka, matanya seolah bisa ngelihat aliran listrik di dalem senjata elektrik mereka. Dia bisa ngelihat "jalur" energi yang menghubungkan mereka ke menara.
" Administrator terdeteksi. Mode defensif aktif," suara robot mirip bokapnya tiba-tiba muncul di belakang para pengejar itu. Si robot itu langsung nerjang mereka dengan kekuatan yang luar biasa, ngelempar mereka seolah mereka cuma boneka plastik.
Baskara, yang dari tadi sembunyi di balik batu, lari nyamperin Adrian. "Adrian! Kasih tabungnya ke gua! Gua tahu cara matiin menara itu dari panel bawah! Lu nggak perlu jadi tumbal!"
Adrian natap Baskara tajam. "Lu masih mau nipu gua, Bas? Setelah semua yang lu lakuin?" "Gua serius! Gua nggak mau mati di sini! Kalau lu suntik itu ke badan lu, lu bakal kehilangan kemanusiaan lu! Lu bakal jadi bagian dari mesin itu!" teriak Baskara histeris.
Adrian ngelihat ke arah tabung bening di tangannya. Dia lalu ngelihat ke arah desa di bawah sana yang mulai dipenuhi cahaya biru yang nggak terkendali. Dia ngelihat warga desa, Wak Haji, para petani, yang mulai kesakitan karena saraf mereka ditarik oleh sistem. Dan dia ngelihat Sekar, yang meski kelihatan berani, tapi urat biru di lehernya mulai muncul lagi.
"Gua nggak punya pilihan lain, kan?" gumam Adrian.
"Adrian, jangan..." Sekar megang tangan Adrian. "Pasti ada cara lain. Jangan dengerin suara di telepon itu. Kita nggak tahu itu beneran nyokap lu atau cuma AI yang mau manfaatin lu."
Adrian ngelihat layar ponselnya. Sosok ibunya cuma diem, tapi matanya kelihatan memohon. Tiba-tiba, suara tawa wanita bermasker itu meledak. Dia berdiri di depan menara kristal yang sekarang udah bener-bener jadi pusaran energi murni.
"Pilihannya cuma dua, Adrian! Biarkan mereka semua hangus, atau serahkan dirimu ke sistem! Tapi ingat, kalau lu masuk ke sistem, gua yang bakal pegang kontrolnya dari luar! Lu bakal jadi mesin gua selamanya!"
Adrian nyengir. Senyum "The Shark" yang udah lama ilang muncul lagi di wajahnya yang penuh lumpur dan darah. "Lu lupa satu hal, Tante. Gua bukan cuma administrator. Gua pemilik sah tempat ini."
Adrian ngebuka tutup tabung itu. Dia ngelihat ke arah Sekar untuk terakhir kalinya. "Kar, makasih ya udah nemenin gua jalan-jalan di lumpur. Kayaknya sepatu gua beneran nggak bakal bisa dibersihin lagi."
"Adrian! Apa yang mau lu lakuin?!" teriak Sekar.
Tanpa jawaban, Adrian langsung menancapkan jarum tabung itu ke urat di pergelangan tangan kirinya. Dia neken cairannya masuk semua ke dalem aliran darahnya.
Seketika, Adrian ngerasa seluruh badannya kayak meledak dari dalem. Cahaya putih bening memancar dari matanya, dari mulutnya, dan dari pori-pori kulitnya. Rasa sakitnya nggak bisa dijelasin pakai kata-kata kayak setiap atom di badannya lagi disusun ulang jadi sirkuit digital.
WUUUUUUSSSHHHH!
Gelombang kejut yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya terpancar dari tubuh Adrian. Semua sulur biru yang tadinya mau nyerang desa mendadak berhenti. Menara kristal itu mulai melambat putarannya, dan warnanya berubah dari biru jadi putih bening, ngikutin warna cairan di nadi Adrian.
Adrian ngerasa kesadarannya mulai meluas. Dia bisa ngerasain setiap pohon teh di perkebunan Malabar. Dia bisa ngerasain detak jantung setiap warga desa. Dia bahkan bisa ngerasain arus listrik di seluruh pulau Jawa. Dia bukan lagi cuma manusia yang berdiri di puncak gunung melainkan dia adalah sistem itu sendiri.
"HENTIKAN DIA!" teriak wanita bermasker itu sambil nyoba nerjang Adrian.
Tapi sebelum dia nyampe, sosok robot mirip bokap Adrian berdiri di depan Adrian. Robot itu sekarang nggak lagi bergerak kaku. Dia noleh ke arah Adrian dan ngomong dengan suara yang sangat lembut, suara yang bener-bener mirip bokap Adrian pas lagi sayang-sayangnya.
"Bagus, Nak. Kau sudah mengambil kendalinya."
Si robot itu lalu megang pundak wanita bermasker itu, dan tiba-tiba seluruh energi berlebih dari menara dialirkan ke arah wanita itu. Dia teriak kenceng sebelum akhirnya jatuh pingsan karena syok energi.
Adrian masih berdiri, tapi badannya mulai melayang dikelilingi cahaya putih. Dia ngelihat Sekar yang natap dia dengan air mata mengalir. Adrian pengen ngomong, pengen bilang kalau dia baik-baik saja, tapi mulutnya udah nggak bisa ngeluarin suara manusia lagi.
Tiba-tiba, dari arah langit yang tadinya merah, muncul sebuah helikopter tanpa lampu identitas. Helikopter itu turun dengan cepat di area puncak. Pintu helikopter terbuka, dan seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi keluar. Dia nggak kelihatan takut sama sekali dengan semua energi yang ada di sana.
Pria itu jalan mendekati Adrian yang masih dalam kondisi "transisi". Dia ngeluarin sebuah kacamata khusus, ngelihat ke arah Adrian, lalu tersenyum puas. "Luar biasa. Proyek pewaris ternyata bener-bener berhasil," ucap pria itu. Sekar berdiri di depan Adrian, mencoba melindungi. "Siapa kalian?! Pergi dari sini!"
Pria itu nggak peduli sama Sekar. Dia ngelihat ke arah Adrian yang sekarang udah mulai kehilangan wujud manusianya karena terlalu banyak energi yang keluar. "Adrian, namaku adalah Aris. Aku adalah pengacara asli ibumu. Dan aku di sini bukan untuk menyita hartamu, tapi untuk membawamu ke tempat di mana kau seharusnya berada. Malabar hanyalah laboratorium kecil. Dunia yang sebenarnya sedang menunggumu."
Pria itu lalu ngasih isyarat ke arah helikopter, dan beberapa orang dengan peralatan medis canggih mulai keluar, membawa sebuah tabung kapsul besar yang ukurannya pas buat manusia.
"Adrian! Jangan dengerin dia!" teriak Sekar.
Tapi kesadaran Adrian mulai memudar. Pandangannya mulai kabur jadi barisan kode angka. Di saat terakhir sebelum dia bener-bener kehilangan kesadaran, dia denger suara ibunya lagi di telinganya, tapi kali ini suaranya bukan dari ponsel.
"Selamat datang di rumah yang sebenarnya, Adrian. Akhirnya kau bangun."
Helikopter itu mulai lepas landas membawa Adrian yang sudah tak sadarkan diri di dalam kapsul, meninggalkan Sekar yang menangis di puncak gunung yang hancur, dan desa Malabar yang meski selamat, kini kehilangan pelindung barunya.
Siapakah Aris dan organisasi apa yang dia wakili? Jika Malabar hanyalah laboratorium kecil, seberapa luas sebenarnya jaringan yang sudah dirancang untuk Adrian? Dan yang paling penting, apakah Adrian yang sekarang ada di dalam kapsul itu masih manusia, atau dia sudah sepenuhnya berubah menjadi entitas digital yang akan menguasai jaringan energi dunia?
semangat update terus tor..