Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26. Tiba Di Ibukota
Ren Zen berpikir sejenak, lalu menangkupkan tangan lagi. “Kalau begitu, kami berterima kasih.”
Lyra mengangguk antusias. “Jujur saja, berjalan dengan penjaga sekuat ini membuatku lebih tenang. Ren Zen masih terlalu lemah untuk melindungi ku.”
"Siapa yang mau melindungimu?" balas Ren Zen sedikit kesal. "Lebih baik, sekarang kau pergi. Masih banyak hal lain yang bisa kau lakukan selain mengikuti aku."
Lyra tersenyum manis, "Aku tidak mengikuti mu. Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentangmu, Ren Zen."
Ren Zen menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Hah, sudahlah.., ayo kita pergi."
Gorblac berbalik, melangkah lebih dulu. “Ikuti aku,” katanya singkat.
Mereka bertiga mulai bergerak menembus hutan, kali ini tanpa tergesa-gesa. Langkah Gorblac mantap dan berat, seolah tanah itu sendiri menyesuaikan diri dengannya. Ren Zen berjalan di sampingnya, penuh perhatian, sementara Lyra mengikuti di belakang, sesekali melirik ke sekeliling dengan rasa ingin tahu.
Di kejauhan, di balik pepohonan dan perbukitan, terlihat jelas ibu kota Kekaisaran Awan Putih. Kota yang menjadi tujuan perjalanan mereka.
Kurang dari satu jam kemudian, perubahan mulai terasa jelas.
Pepohonan yang sebelumnya menaungi perjalanan mereka perlahan menipis, digantikan oleh jalan batu yang rapi dan lebar. Tanah hutan yang lembap berubah menjadi jalanan padat berwarna abu pucat, terukir simbol-simbol awan yang halus—tanda khas Kekaisaran Awan Putih. Udara pun berbeda. Lebih bersih, lebih ringan, seolah setiap tarikan napas mengandung energi spiritual yang lembut.
Di kejauhan, gerbang ibukota berdiri megah.
Tembok kota menjulang tinggi, terbuat dari batu putih keperakan yang memantulkan cahaya matahari pagi. Di atasnya, bendera kekaisaran berkibar perlahan. Para penjaga bersenjata tombak panjang berjajar rapi di atas tembok dan di sisi gerbang, wajah mereka tegas dan disiplin.
Lyra tanpa sadar memperlambat langkahnya. Matanya berbinar.
“Jadi… ini ibu kota Kekaisaran Awan Putih,” gumamnya pelan. “Jauh lebih megah dari yang kubayangkan.”
Ren Zen mengangguk tipis. Tatapannya tertuju pada gerbang besar itu, sorot matanya dipenuhi kekaguman. Dua tahun sejak ia pergi meninggalkan tempat itu, Kekaisaran Awan Putih telah berkembang pesat. Banyak hal yang telah terjadi. Namun, satu hal yang pasti, tekadnya untuk menjadi kultivator yang sangat kuat, semakin besar.
Gorblac berhenti beberapa puluh langkah sebelum gerbang. Tubuh besarnya berbalik menghadap mereka berdua.
“Sampai di sini saja,” katanya dengan suara berat namun tenang. “Wilayah selanjutnya berada di bawah pengawasan langsung kekaisaran. Aku tidak perlu ikut campur lebih jauh.”
Ren Zen segera menangkupkan tangan, membungkuk dengan penuh hormat. “Terima kasih atas bantuanmu, Gorblac. Tanpa dirimu, perjalanan ini tidak akan semudah ini.”
Lyra ikut menangkupkan tangan, meski caranya sedikit lebih santai. “Benar. Kalau suatu hari kita bisa bertemu lagi, aku akan mentraktirmu makan besar.”
Gorblac mendengus pelan, sesuatu yang hampir menyerupai tawa. “Jaga dirimu baik-baik, Ren Zen,” katanya sambil menatap Ren Zen dalam-dalam. “Istana Kekaisaran bukanlah tempat biasa. Disana terdapat banyak intrik konflik dan permusuhan.”
Ren Zen mengangguk. “Aku tahu.”
Tanpa menunggu balasan lain, Gorblac berbalik. Tubuhnya perlahan menyatu dengan bayangan pepohonan di pinggir jalan, hingga akhirnya benar-benar menghilang, seolah ia tidak pernah ada di sana.
Sejenak, Ren Zen dan Lyra berdiri dalam diam.
Lalu Lyra menepuk kedua tangannya. “Baiklah! Kita berhasil sampai. Apa langkah kita selanjutnya?”
Ren Zen menghembuskan napas pelan. “Masuk ke kota. Tapi… sebelum menuju ke istana, kita makan dulu.”
Lyra tersenyum lebar. “Keputusan terbaik, pahlawan kecil. Kita tidak akan kuat tanpa makanan, bukan?”
Mereka pun melangkah melewati gerbang.
Begitu memasuki ibukota, dunia seolah berubah sepenuhnya. Jalanan ramai oleh pedagang, kultivator, prajurit, dan rakyat biasa. Bangunan-bangunan tinggi berjajar rapi, megah dan mewah.
Aroma makanan menguar dari berbagai arah—daging panggang, sup herbal, roti kukus, dan rempah-rempah khas yang membuat perut Lyra berbunyi tanpa permisi.
“Suara apa itu?” Ren Zen meliriknya sekilas.
Lyra berpaling, wajahnya memerah. “Itu… suara angin.”
Ren Zen terkekeh kecil. “Kau bisa kelaparan juga pengembara tanpa tujuan???”
"Pengembara juga butuh makan, bukan?" balas Lyra dengan senyuman manjanya.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah restoran dua lantai yang terlihat ramai namun bersih. Papan kayunya bertuliskan Awan Senja, dengan ukiran awan tipis di tepinya.
Begitu masuk, pelayan segera menyambut mereka. Tidak lama kemudian, meja mereka dipenuhi hidangan hangat—nasi putih aromatik, sup tulang spiritual, daging panggang berlumur saus manis, dan teh hangat yang mengalirkan energi lembut ke tubuh.
Lyra makan dengan penuh semangat, hampir tanpa jeda. “Aku tidak menyangka kota ini sehidup ini,” katanya sambil mengunyah. "Jika dibandingkan dengan kota-kota yang kita lewati sebelumnya, kota ini jauh lebih baik."
Ren Zen makan lebih pelan. “Itulah ibu kota. Pusat dari sebuah kekaisaran. Wajar saja, jika kota ini lebih baik dari kota-kota biasa.”
"Oh iya," lanjut Lyra lagi wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang tinggi, "Apakah kau seorang pangeran?"
Ren Zen sedikit terkejut, lalu mengangguk sedikit.
Lyra tersenyum lebar. Lalu menatap Ren Zen lebih dekat. Seolah memastikan kebenaran itu.
"Apa ada masalah?" tanya Ren Zen.
Lyra tertawa kecil, "Tidak ada, hanya saja aku sedikit terkejut dengan identitasmu itu. Pantas saja auramu bukan seperti pemuda biasa."
Ren Zen tidak menanggapi. Ia pun dengan tenang melanjutkan makannya.
Setelah selesai, mereka membayar dan turun dari restoran. Matahari telah naik lebih tinggi, cahaya memantul di jalan batu, membuat kota semakin terang.
Namun begitu mereka melangkah keluar, suasana mendadak berubah.
Keramaian yang biasanya kacau kini tersusun rapi di kedua sisi jalan. Orang-orang berdiri berbaris, sebagian membungkuk, sebagian menatap dengan mata berbinar. Prajurit bersenjata lengkap berlari kecil, mengosongkan jalan utama.
“Eh?” Lyra refleks meraih lengan Ren Zen. “Ada apa ini?”
Belum sempat Ren Zen menjawab, suara derap kuda menggema.
Dari ujung jalan, muncul seorang penunggang kuda berperawakan tinggi. Ia mengenakan zirah perak berkilau. Pedangnya tergantung di sisi pinggang, memancarkan aura tajam yang membuat banyak orang menahan napas.
“Itu… panglima kekaisaran,” gumam seseorang di kerumunan.
Panglima itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
“Hidup Pangeran Fui Che!”
"Hidup Putri Rin Che!"
Seruan itu disambut gemuruh suara para prajurit di belakangnya.
“Hidup Pangeran Fui Che!”
"Hidup Putri Rin Che!"
Kereta kuda mewah muncul di belakang barisan prajurit. Kayunya hitam mengilap, dihiasi emas dan batu spiritual. Tirainya perlahan tersingkap.
Di dalamnya duduk seorang pemuda berwajah tampan, rambutnya disisir rapi, mengenakan jubah putih dengan benang emas. Matanya setengah terpejam, senyum tipis penuh keangkuhan terpatri di wajahnya.
Di sebelahnya, duduk anggun seorang wanita cantik, dengan rambut hitam panjang, dan kulit putih halus. Wajahnya sedikit tersenyum kekerumunan orang-orang yang melihat mereka.
Sorak-sorai rakyat semakin keras.
“Hidup Pangeran Fui Che!”
"Hidup Putri Rin Che!"
“Semoga pangeran dan putri panjang umur!”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
........Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss........
........Selamat Membaca........
........Lanjut Terussss........
reader yg setia masih menanti update yg terbaru