Area 21+
Anak di bawah umur dilarang mendekat.
Tentang Bianca yang memendam perasaan cinta terhadap Alexander Valentino sahabat kakaknya. Ia rela dijadikan partner di atas ranjang bagi pria itu meski ia tau hati Alex begitu kuat berpaut pada kekasih yang sangat dicintainya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Alex menggenggam tangan Bianca dan sesekali mengelap keringat yang memercik di kening gadis itu. Sungguh Bianca merasa bagaikan melayang mendapatkan perlakuan Alex yang begitu manis. Ia merasa begitu disayangi. Meski mungkin rasa sayang yang ada pada diri pria itu hanyalah bentuk kasih sayang kepada seorang adik, Bianca untuk saat ini memilih untuk tidak peduli.
"Capek kan? pulang aja yuk?" Alex tampak tidak tega melihat Bianca yang terlihat pucat dan kelelahan.
"Bian kuat kok bang, nggak apa-apa lanjut aja" Jawab Bianca, ia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati keindahan alam. Selama ini matanya hanya disuguhkan dengan pemandangan gedung bertingkat serta kemacetan lalu lintas. Capek sedikit tidak masalah, sebanding dengan kebahagiaan yang ia dapatkan.
"Kuat apanya, kamu pucat gitu" Alex memaksa Bian menghentikan langkahnya, menangkup pipi gadis itu dan menatap matanya dalam.
"Nanti kalau dipaksain kamu bisa sakit, kita pulang duluan oke?" ada ketegasan dalam nada lembut ucapan Alex.
"Bian janji nggak bakalan kenapa-kenapa bang. Please kali ini izinkan Bianca menikmati hidup seperti manusia normal lain nya" Ucapan penuh permohonan Bianca meruntuhkan ego pria itu, meski berat akhirnya ia menganggukkan kepalanya
"Tapi kalau uda nggak kuat langsung ngomong ya?" Bianca mengangguk sambil tersenyum manis, senyum yang seperti menular karena sekarang sudut bibir Alex ikut terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Minum nya bi" Andre yang juga berjalan tak begitu jauh dari Bianca tiba-tiba menawarkan minuman, ia bisa melihat Bianca yang mulai kelelahan setelah menempuh jarak puluhan kilo dengan jalur trekking yang cukup terjal.
"Bian bawa minum, tak perlu repot-repot" Ucap Alex, ia tak suka pada Andre yang terlalu sok perhatian pada Bianca.
"Iya, itu buat kakak aja" Ucap Bianca, ia terlalu lelah jika harus melihat kekesalan pada diri Alex karena interaksinya dengan Andre. Alex tersenyum tipis, merasa puas karena Bianca yang mulai paham bahwa ia tidak menyukai pria itu.
"Capek ya bi?" Tanya Andre kemudian.
"Lumayan" jawab gadis itu sambil tersenyum lebar dengan nafas nya yang ngos-ngosan.
"Sebentar lagi kita tiba di tempat tujuan Bi, semangat ya. Atau mau kakak gendong?" Andre menyemangati gadis pujaan nya itu, sementara Alex mendengus, ia hampir berada di puncak emosinya kalau saja Bianca tidak segera mengeratkan genggaman nya, belum lagi tatapan memohon dari gadis itu agar Alex tak memulai ketegangan.
"Bian uda dewasa, masa digendong" Bianca terkekeh diikuti oleh Andre kemudian.
"Kakak sanggup kok bi, kamu juga kurus gini pasti nggak kerasa kok gendong nya" lanjut Andre. Dan kali ini Alex sudah tidak bisa menahan kekesalan nya lagi.
"Jangan sok baik, kalaupun Bian butuh masih ada aku yang selalu siap untuk melakukan nya, tak perlu meminta bantuan darimu!" Alex menarik Bian agar menjauh dari Andre. Pria itu tercengang atas sikap Alex yang selalu tak bersahabat padanya.
"Bang?" Bianca memanggil Alex sambil menatap takut pada pria itu, ekspresi Alex terlihat benar-benar diliputi amarah.
"Kamu sangat menikmati perhatian dari nya huh?!" Dengus Alex kasar.
"Biasa aja, abang kenapa mesti marah-marah. Nggak enak sama kak Andre, niat dia baik loh bang" Bianca mencoba membujuk Alex, ia tersenyum salah tingkah pada teman-teman yang menatap heran padanya dan Alex yang berjalan cepat seolah tak peduli meski jalan yang mereka lewati sedikit berbatu.
"Bang jangan cepat-cepat, Bian capek" Cicit gadis itu manja, berharap Alex akan luluh.
"Kalau capek kita pulang saja" tegas Alex, namun amarahnya langsungmenciut saat melihat binar ketakutan di mata Bianca atas sikap keras nya.
"Maaf bi, abang nggak bermaksud seperti ini. Abang nggak suka lihat dia sok perhatian sama kamu"
"Abang cemburu?" Bianca tertawa meledek. Alex merangkul leher Bianca hingga gadis itu berteriak sambil terus tertawa karena berhasil menggoda Alex.
Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan yaitu sebuah lembah yang terbentuk akibat longsoran tebing. Meski melelahkan, perjalanan tetap terasa menyenangkan karena pemandangan yang disuguhkan sangat indah. Tampak sebuah danau, tanaman Edelwais, dan deretan pohon rimbun yang menyegarkan mata.
"Bagus banget bang" Ucap Bianca antusias, ia dengan bersemangat mengambil foto pemandangan. Begitupun teman-teman Bianca yang lainnya. Alex tersenyum melihat keceriaan Bianca, ia tak menyangka hal yang sederhana dan biasa bagi nya bisa membuat Bianca begitu gembira. Alex menyadari selama ini Bianca terlalu banyak dikekang.
"Sini abang fotoin" Alex mengeluarkan ponselnya, tanpa menolak Bianca langsung beraksi, berpose dengan berbagai gaya.
"Bang, foto bareng ya" Tawar Bianca, senyum nya merekah dengan binar bahagia saat Alex mengangguk. Ia segera memanggil teman nya untuk mengambil fotonya dengan Alex.
Bianca sedikit tersentak dengan wajah memerah saat Alex merangkul dan memeluknya, bahkan beberapa kali Alex mendaratkan ciuman di pipi gadis itu. Pose mereka sudah seperti pasangan kekasih yang sedang melakukan foto pre wedding.
"Bi.." Bianca segera menatap tajam pada Alex, dari nada panggilan Alex dan tatapan mata nya Bianca sudah bisa menebak apa yang tengah pria itu fikirkan.
"Kali ini jangan coba-coba bang, di sini ramai. Ini juga tempat baru. Bian mohon jauhkan fikiran itu" Alex terkekeh melihat kepanikan Bianca.
"Tapi abang pengen" Bisik Alex, Bianca benar-benar harus waspada. Jangan sampai ia kembali kalah menghadapi hasrat Alex.
"Kali ini Bian marah, kalo abang maksa mending Bian lari ke kak Andre aja" Ancam Bian dengan tatapan serius.
Alex mengulum senyum nya
"Tapi janji nanti malam ya?" Bisik Alex dengan mengiba.
"Ayolah bi, semalam kita nggak ngelakuin. abang kangen" Lanjut Alex lagi. Bianca mendelik dan mencebik kesal.
"Tapi tadi pagi kan udah bang" Wajah Bianca memerah mengingat kembali kejadian tadi pagi.
"Kan beda bi" Bianca menghela nafas lelah, ia meninggalkan Alex untuk menikmati sisi lain dari lembah itu. Alex segera mengejar gadis itu, takut Bianca akan tersesat atau didekati oleh Andre.
"Jangan cepat-cepat, atau kamu mau abang meniduri mu di depan semua orang?" Ancam Alex. Bianca segera menghentikan langkah nya lalu menatap ke sekeliling nya dengan panik, untung tak ada yang mendengar ucapan pria itu karena mereka tengah asyik menikmati pemandangan serta berselfie ria.
"Abang bisa nggak jangan ngancam kayak gitu? kalau ada yang dengar gimana. Atau abang emang sengaja pengen semua orang tau gimana murahan nya seorang Bianca?" Ucap Bianca setengah berbisik.
"Siapa yang bilang kamu murahan hem? jangan melabeli dirimu sendiri dengan anggapan seperti itu. Jangan diulangi, abang nggak suka!"
Alex menatap dalam pada Bianca yang akhirnya menundukkan kepalanya
****