Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kirana Semakin Tertarik
Apartemen Kirana, SCBD, Pukul 22.18
Langit malam Jakarta dilihat dari balkon lantai tinggi ini adalah hamparan permata cahaya. Tapi Kirana tak memandangnya. Dia duduk di sofa Chesterfield kulit yang empuk, memandangi ponsel di tangannya.
Layar menunjukkan chat grup Project PAMOR, yang baru saja ia gunakan sebagai alasan untuk mengirim pesan pribadi ke Ferdy.
Rasanya aneh. Sebuah gejolak yang asing dan… menyenangkan.
Sejak pertemuan berdua di coffeeshop beberapa hari lalu, pikirannya terus kembali pada sosok tinggi dengan mata jujur dan jawaban polos itu. Ferdy Wicaksono. Bukan tipe pria yang biasanya mengisi lingkaran sosialnya—yang penuh dengan anak-anak konglomerat dengan Porsche dan obrolan tentang merger.
Ferdy berbeda. Dia real. Grounded. Dan ada aura misterius di sekitarnya, sesuatu yang Kirana—dengan latar belakang spiritual keluarganya—bisa rasakan namun tak bisa ia definisikan. Seperti ada tirai tak kasatmata yang melindunginya, atau mungkin… menemani.
Dia membuka chat pribadi dengan Ferdy. Percakapan mereka singkat, formal: tentang jadwal shooting heritage buildings. Kirana mengetik jari-jarinya menari di atas layar.
Pesan tentang izin dan contact person sudah dikirim. Tapi sekarang… dia ingin lebih.
Kirana (22.20): "Btw, terima kasih untuk waktu ngobrol di kafe kemarin. Seru bisa ngobrol santai, bukan cuma urusan project."
Dia menekan send. Jantungnya berdebar
kencang, sesuatu yang tak pernah ia alami saat bernegosiasi bisnis jutaan dolar. Dia menunggu.
---
Kamar Kos Ferdy, Pukul 22.22
Ferdy sedang memilih foto untuk moodboard brand skincare. Layar laptopnya penuh dengan gambar tekstur, warna earthy, dan model dengan kulit natural. Ponselnya bergetar. Melihat nama "Kirana" di chat pribadi, dadanya sedikit berdebar—bukan karena cinta, tapi karena kejutan dan sedikit kecemasan.
Dia membaca pesannya. Santai, friendly. Tapi di baliknya, ada maksud yang jelas. Kirana membuka pintu untuk percakapan yang lebih personal.
Ferdy menoleh ke ruangan kosong di sampingnya. "Dasima," ucapnya pelan, seperti sedang meminta pendapat pada seorang sahabat. "Gimana pendapat kamu tentang Kirana?"
Dia menunggu, merasakan kehadiran di sekitarnya. Biasanya, akan ada "jawaban" berupa perasaan atau intuisi yang muncul.
"Dia tertarik padamu, Raden," sebuah suara halus—bukan suara, tapi kesan pikiran—muncul di kepalanya. Itu adalah "suara"
Dasima yang semakin lama semakin bisa ia tangkap dalam bentuk intuisi yang sangat jelas. "Dan ketertarikannya tulus. Tidak seperti Vina yang bermain pesona. Kirana… ingin mengenalmu."
Ferdy mengangguk. Itu yang ia rasakan juga.
"Terus, gue harus gimana?"
"Hati-hati," jawab "suara" itu, lebih tegas. "Tapi jangan menutup diri. Kau manusia, wajar untuk berinteraksi. Tapi ingat, dunia kalian berbeda. Dan…" ada jeda, seperti kecemasan, "ada sesuatu tentang dirinya yang belum kita pahami sepenuhnya. Aura masa lalu yang samar itu masih ada. Aku akan mengawasi."
Ferdy menarik napas. Nasihat Dasima selalu bijak: terbuka tapi waspada. Dia membalas pesan Kirana.
Ferdy (22:25): "Iya, seru kok. Jarang-jarang bisa ngobrol santai juga soal hal-hal di luar kerjaan. Makasih udah ajak."
Balasan itu netral, namun ramah. Dia tidak ingin memberi harapan berlebihan, tapi juga tidak ingin terkesan dingin.
Hampir seketika, titik-titik "typing…" muncul.
Kirana (22:26): "Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya. Bisa sambil bahas konsep project lain juga. Atau… cuma ngobrol aja." Ditambah emoji senyum.
Ferdy tersenyum kecil. Dia membalas dengan emoji thumbs up dan kata "Siap."
Percakapan berakhir di sana. Tapi bagi Kirana, itu adalah kemenangan kecil. Bagi Ferdy, itu adalah tambahan kompleksitas dalam hidupnya yang mulai teratur.
Dasima, yang berdiri di balik kursi Ferdy, memandangi layar ponsel itu dengan perasaan campur aduk. Di wajah energinya yang tak kasatmata, ada ekspresi kecemburuan yang samar.
Bukan kecemburuan yang mendidih dan irasional, tetapi sebuah kepedihan yang dalam. Dia melihat wanita lain—dengan wajah yang mirip dengan musuh bebuyutannya—mendekati pria yang telah ia tunggu selama lima abad. Dan wanita itu ada di dunia nyata.
Bisa disentuh, diajak bicara, diajak tertawa. Semua hal yang tak mungkin ia lakukan lagi.
Tapi dia sadar. Dia bukan manusia lagi.
Perannya adalah penjaga, pelindung, dan… mungkin satu-satunya penghubung dengan masa lalu Ferdy. Kecemburuan adalah emosi manusia yang sia-sia baginya. Tapi tetap saja, rasanya perih.
"Aku hanya ingin kau bahagia, Raden," bisiknya dalam hati, menatap profil Ferdy yang sedang kembali fokus ke laptop. "Jika dia bisa memberimu kebahagiaan di dunia ini… aku harus merelakan. Tapi… tidak sebelum aku yakin dia tidak akan menyakitimu lagi."
---
Kafe "The Conservatory", Senopati, Pukul 14.00, Tiga Hari Kemudian
Meeting kali ini penting. Tim Project PAMOR akan membahas detail eksekusi shooting heritage buildings di Kota Tua, termasuk budget akhir, shot list, dan pembagian tugas on-site. Kirana, sebagai fasilitator yang membantu mengamankan akses ke beberapa gedung tertutup, juga diundang.
Kafe ini berbeda dengan suasana cozy di Depok. Bernuansa industrial-meets-botanical: langit-langit tinggi, dinding bata, tanaman merambat di mana-mana, dan cahaya alami yang menyaring dari atap kaca. Suara mesin espresso dan obrolan bisnis para eksekutif muda memenuhi udara.
Ferdy tiba lebih awal, mengenakan kemeja chambray biru muda dan celana cargo coklat, tas kamera selalu siap di punggung. Andika dan Roni datang bersamaan, dengan laptop dan tablet di tangan. Kirana muncul tepat waktu, dan semua mata di sekitarnya—termasuk para pengunjung kafe—tertarik padanya.
Dia tampil sempurna. Blazer oversized warna krem yang dipadankan dengan tank top hitam dan celana kulot linen putih lebar. Rambutnya diikat rendah, anting-anting emas kecil berkilau di telinganya.
Makeup-nya natural namun flawless, highlighting tulang pipi yang tinggi dan bibir yang tersenyum ramah. Dia membawa tote bag kulit lembut berisi iPad dan dokumen. Elegan, berwibawa, namun tidak intimidating.
"Maaf, jalanan agak macet" ujarnya sambil duduk, menyapa mereka semua dengan senyum yang sama rata. Tapi matanya berhenti lebih lama pada Ferdy, memberikan anggukan kecil khusus. "Halo, Ferdy."
"Halo," balas Ferdy, mencoba terlihat biasa saja.
Dasima, tentu saja, ada di sana. Dia memilih untuk tidak duduk, melainkan berdiri di dekat pilar, mengamati dari kejauhan. Energinya disamarkan, tak ingin mengganggu pertemuan manusia ini. Tapi matanya tak lepas dari Kirana.
Meeting dimulai. Andika mempresentasikan breakdown budget yang detail. Roni menunjukkan peta lokasi dan jadwal shooting yang ketat. Ferdy menjelaskan shot list dan mood yang ia inginkan: bukan sekadar dokumentasi arsitektur, tetapi menangkap "napas" dan "kenangan" yang terperangkap dalam dinding-dinding tua.
"Kita akan banyak menggunakan natural light, dan beberapa lampu portable untuk menciptakan chiaroscuro, permainan terang-gelap yang dramatis," jelas Ferdy, tangannya membuat gerakan untuk memperjelas.
"Intinya, membuat gedung-gedung ini terlihat seperti sedang bercerita."
Kirana mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat di iPad-nya. Saat Ferdy berbicara, matanya tak berkedip. Ada kekaguman yang nyata di sana. Bukan hanya pada konsepnya, tapi pada passion yang terpancar dari Ferdy saat membicarakan fotografi.
"Untuk akses ke Gedung Chandranadi, yang tutup untuk umum, saya sudah mengurus surat izin. Kita bisa shooting di sana hari Selasa pagi," kata Kirana, membuka dokumen digital.
"Dan untuk konservator yang akan menemani kita di Gedung Sepuluh, namanya Pak Wicaksono—kebetulan satu marga dengan kamu, Ferdy—dia sudah setuju."
"Wah, makasih banget, Kirana. Ini sangat ngebantu," ucap Andika dengan lega.
"Iya, nggak nyangka bakal semudah ini," timpal Roni.
Ferdy mengangguk, tulus. "Benar-benar terima kasih. Ini mempermudah kerja kita sekali."
Kirana tersenyum, senang bisa membantu. "Sama-sama. Saya senang bisa terlibat dalam project yang meaningful seperti ini."
Lalu, dengan santai, dia menambahkan, "Oh iya, untuk hari shooting nanti, saya boleh ikut ke lokasi? Saya janji tidak mengganggu, hanya ingin melihat proses kreatif kalian sekaligus memastikan semua akses berjalan lancar."
Permintaan itu wajar, mengingat perannya. Tapi Andika dan Roni langsung saling pandang dengan senyum kecut. Mereka tahu ini bukan hanya urusan bisnis.
"Tentu saja boleh," jawab Ferdy, setelah pertimbangan singkat. "Tapi prepare aja, lokasinya panas dan mungkin berdebu."
"Saya kuat," jawab Kirana cepat, matanya berbinar.
Pembahasan teknis berlanjut selama satu jam. Saat meeting resmi usai dan mereka memesan minuman lagi, suasana menjadi lebih santai. Andika dan Roni sengaja mulai membahas hal-hal lain, memberi ruang.
Kirana memanfaatkannya. Dia menyenderkan badan ke arah Ferdy. "Konsepmu sangat menarik, Ferdy. Aku bisa bayangkan hasilnya nanti. Kamu dapat inspirasi dari mana?"
Dari sudut ruangan, Dasima mengamati setiap gerakan Kirana: sudut senyum, arah pandangan, bahkan tarikan napas. Dia mencari celah, tanda-tanda energi gelap dari masa lalu. Sejauh ini… nihil. Kirana terlihat seperti wanita modern yang cerdas dan tertarik pada seorang pria berbakat.
Ferdy menjawab pertanyaan Kirana, bercerita tentang pengalamannya menjelajahi bangunan tua sendirian, tentang perasaan sepi dan sejarah yang ia tangkap melalui lensa. Kirana mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali bertanya, membuat percakapan mengalir dua arah.
Dan kemudian, Kirana melakukan sesuatu
yang tak terduga. Saat Ferdy sedang menceritakan tentang teknik exposure lama, tangan Kirana tanpa sengaja—atau mungkin sengaja—menyentuh lengan Ferdy saat meraih gula di tengah meja. Sentuhan itu singkat, tapi sengaja.
Ferdy terhenti sejenak. Sentuhan itu terasa… normal. Hangat. Manusiawi. Berbeda dengan "sentuhan" Dasima yang berupa aliran energi. Ini nyata.
Dasima, dari kejauhan, energinya bergetar. Dia melihat sentuhan itu. Dan untuk pertama kalinya, sebuah percikan kecemburuan yang lebih kuat menyala. Dia ingin melangkah maju, ingin berada di antara mereka. Tapi dia tak bisa. Dia hanya bisa melihat.
"Ini yang kau inginkan, Raden?" bisik Dasima, suara hatinya penuh kepedihan. "Sentuhan yang nyata? Percakapan yang nyata?"
Ferdy, tanpa sadar, menarik lengannya dengan halus setelah sentuhan itu, melanjutkan ceritanya. Tapi ekspresi Kirana tidak menunjukkan kekecewaan. Malah, senyumnya semakin yakin. Dia sudah membuat kemajuan.
Di akhir pertemuan, saat mereka berpisah di
depan kafe, Kirana mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan semua orang. Saat giliran Ferdy, genggamannya lebih erat, dan dia menahan sebentar.
"Sampai jumpa di lokasi shooting, ya. Dan… jangan lupa, kita janji ngobrol santai lagi lain waktu."
Ferdy hanya mengangguk, melepaskan genggaman. "Iya. Sampai jumpa."
Saat Kirana pergi dengan langkah percaya diri menuju mobil premiumnya yang diparkir di valet, Andika dan Roni langsung menyerbu Ferdy.
"LOE DIBURU, FER! SECEPAT ITU!" seru Roni.
"Dia tuh jelas banget, Fer. Sentuh-sentuhan gitu," tambah Andika.
"Gue cuma dianggap temen kerja," bantah Ferdy, mencoba tenang.
"TEMEN KERJA YANG DISENTUH TANGANNYA DILEBIHIN DARI 3 DETIK? PLEASE LAH!" Roni menggeleng-geleng.
Perjalanan pulang naik motor, Ferdy memikirkan banyak hal. Sentuhan Kirana. Senyumnya. Minatnya yang tulus. Dan kemudian, seperti biasa, pikirannya beralih ke Dasima. Ke pelukan tak kasatmata yang selalu menenangkannya. Ke wangi melati yang menjadi soundtrack hidup barunya.
Malam itu, di kamar kos, Ferdy duduk di tempat tidurnya. "Dasima," panggilnya.
Wangi melati langsung muncul, kali ini terasa… berbeda. Sedikit lebih tajam. Ada kesedihan di dalamnya.
"Lo… marah?" tanya Ferdy, peka.
"Tidak," jawab "suara" di kepalanya, lembut.
"Sedih. Tapi itu bukan urusanmu. Kau harus menjalani hidupmu."
"Tapi lo bagian dari hidup gue sekarang," protes Ferdy. "Gue nggak mau lo sedih."
"Kehadiran Kirana membuatmu bahagia?" tanya Dasima, langsung ke inti.
Ferdy terdiam. "Dia… membuatku penasaran. Dan dihargai. Tapi bahagia…" dia memikirkan kata-kata yang tepat, "bahagia yang gue dapet waktu bisa kirim uang ke ibu, waktu bab 4 acc, waktu lo peluk gue pas gue lagi down… itu beda. Itu bahagia yang… tenang. Kayak… pulang."
Kata "pulang" itu membuat energi Dasima bergetar hebat. Air mata emas jatuh lagi. "Itu yang terpenting, Raden. Selama kau merasa 'pulang' di suatu tempat, di mana pun itu, dengan siapa pun itu… aku akan baik-baik saja."
Tapi Ferdy bisa merasakan kebohongan di balik kata-kata itu. Dia bisa merasakan kesedihan yang dalam dari energi di sekitarnya.
"Gue nggak mau ninggalin lo, Dasima. Apa pun yang terjadi."
"Kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku, Raden. Karena aku adalah bagian dari jiwamu. Sekarang dan selamanya."
Malam itu, Ferdy tidur dengan perasaan berat. Dia mulai terseret dalam dua arus: satu, tarikan dunia nyata yang diwakili oleh Kirana, dengan segala pesona dan kemungkinannya. Dua, ikatan dunia lain yang diwakili oleh Dasima, dengan segala kenyamanan dan misterinya.
Dan Dasima, berjaga sepanjang malam, memutuskan satu hal: dia akan melindungi Ferdy. Tidak hanya dari bahaya fisik atau pesona jahat. Tapi juga dari kemungkinan patah hati.
Jika Kirana memang tulus dan baik, dan bisa membuat Ferdy bahagia dengan cara yang tak bisa ia berikan, maka dia akan mendukung dari bayang-bayang. Tapi jika ada niat jahat, bahkan sekecil debu dari masa lalu yang tersisa, dia akan menghalanginya dengan segala kekuatannya—meski itu berarti harus berhadapan dengan hantu dari hidupnya sendiri yang lampau.