Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Hati dan Angka
🕊
Aku menaruh tas di kamar, menarik napas panjang, dan menatap tumpukan buku dan berkas di meja. Hari ini panjang, tapi tugas-tugas OSIS menunggu—jadwal piket minggu depan, pengumuman lomba, hingga laporan kegiatan. Aku menghela napas, lalu mulai menata semuanya dengan rapi. Setiap lembar kertas yang kupegang terasa seperti menegaskan keberadaanku, sebuah cara agar aku tetap relevan di tengah dunia yang sering melupakan diriku.
“Kalau aku nggak kerjain sekarang, besok pasti kacau,” batin ku dalam hati. Pena bergerak di atas kertas, menuliskan daftar nama, tanggal, dan tanggung jawab masing-masing. Tami sudah menolong sebentar tadi di ruang OSIS, tapi aku memilih melanjutkan sendiri di rumah. Rasanya lebih tenang, meski sepi, karena aku bisa mengatur semuanya tanpa gangguan.
Setelah beres dengan OSIS, aku menatap buku catatan Olimpiade Matematika. Soal-soal dan rumus yang ku pelajari selama dua bulan terakhir menanti. Aku membuka halaman pertama, membaca soal, dan mulai menulis jawaban. Tangan bergerak cepat, otak berpacu, menimbang setiap langkah logika. Satu jam berlalu, aku menengadahkan kepala sejenak, menatap langit sore melalui jendela kamarku.
Rasa lelah mulai terasa di pundakku, tapi aku tidak berhenti. Latihan ini bukan hanya soal menang di lomba, tapi soal membuktikan pada diri sendiri bahwa aku mampu—bahwa aku bisa menahan rasa sepi dan tetap berprestasi, meski sering diabaikan orang di rumah.
Setelah latihan matematika, aku mengecek catatan OSIS lagi, memastikan semuanya beres. Papan pengumuman di kelas sudah diperbarui, daftar peserta lomba sudah lengkap, dan jadwal piket sudah tersusun rapi. Tapi rasa cemas tetap muncul: apakah teman-temanku melihat usahaku ini? Apakah aku akan dianggap ‘narsis’ atau ‘berlebihan’?
Di sekolah keesokan harinya, ketegangan sosial mulai terasa. Teman-temanku menatapku saat aku berjalan menuju ruang OSIS, beberapa berbisik, beberapa tersenyum samar. Aku tersenyum tipis, mencoba menjaga jarak—tidak ingin terlalu dekat, tapi juga tidak ingin terlihat cuek. Di balik kesunyian itu, aku merasakan tekanan: bagaimana menjaga citra di mata teman-teman, tetap produktif, tapi tidak kehilangan diri sendiri. Tami menyapaku di lorong. “Kaka Alea, tadi aku dengar kamu latihan matematika sampai malam, ya?”
Aku menunduk, mencoba terdengar biasa. “Iya… sedikit.” Tami menepuk pundakku. “Kamu hebat, Kaka. Aku selalu kagum sama kamu.” Senyum itu membuat dadaku hangat, tapi juga menusuk—aku terbiasa memendam rasa sepi, dan kata-kata kecil itu terasa seperti cahaya di tengah gelap.
Latihan Olimpiade Matematika terus berlanjut sepanjang minggu. Setiap soal yang kupecahkan membuatku merasa sedikit lebih kuat, tapi juga menegangkan. Aku menyadari, kemampuan akademis ku adalah satu-satunya hal yang bisa benar-benar dikontrol, karena di rumah, perhatian jarang datang, dan di sekolah, aku selalu harus menjaga jarak.
Sore itu, saat bel pulang berbunyi, aku kembali menempuh perjalanan panjang dengan dua angkutan umum. Di bus, aku menatap wajah penumpang, mendengar tawa dan percakapan, tapi tetap merasa berbeda—seperti ada jarak tak terlihat yang memisahkan diriku dari semua orang. Aku meneguhkan hati: ini semua bagian dari proses, bagian dari diriku yang berjuang untuk bertahan.
Sesampainya di rumah, aku menaruh tas di kamar, menatap tumpukan buku lagi. Hari ini, OSIS selesai, latihan selesai, dan aku berhasil menahan diri dari perasaan kesepian yang selalu menghantui. Namun di sudut hatiku, ada rasa gelisah—rasanya seperti sesuatu akan terjadi, sesuatu yang mungkin akan menguji semua ketabahan yang selama ini ku latih.
Aku menarik napas panjang, membuka buku lagi, dan mulai menulis daftar latihan besok. Setiap angka, rumus, dan jadwal yang kusiapkan terasa seperti pertahanan, benteng yang kubangun di tengah dunia yang kadang terasa dingin. Tapi aku tersenyum tipis, menegaskan pada diri sendiri: meski sepi, aku bisa bertahan, dan aku akan terus berjalan—karena hidup tidak menunggu mereka yang lemah.
Hari ini adalah bukti kecil bahwa aku mampu, tapi juga pengingat bahwa perjuangan sesungguhnya belum selesai. Sesuatu di luar sana, entah apa, akan segera menuntut lebih banyak dariku. Dan aku harus siap—bukan hanya untuk angka, jadwal, atau tugas, tapi untuk hati yang mulai belajar bertahan di antara dunia yang bising dan kesunyian yang membekap.
Aku menundukkan kepala di atas buku catatan, jari-jari menari di atas kertas, menuliskan rumus demi rumus persiapan Olimpiade Matematika. Angka dan logika menguasai pikiranku, menjadi pengalih dari rasa lelah dan kesepian yang selalu menempel di hari-hariku. Dunia di sekitarku terasa hening, hanya suara pena yang menandai keberadaanku.
“Kaka Alea, kamu selalu serius banget,” suara itu memecah kesunyian. Aku menengok, dan melihat Sita, Ibu tirinya berdiri di ambang pintu kamar, senyum tipis yang kukenal penuh maksud tersembunyi. “Belajar terus, belajar terus… Habis itu mau jadi apa? Kalau aku Papa, aku nggak repot-repot sama anak kedua yang cuma bisa diem di pojok kamar,” ucapnya, nada yang tak bisa disepelekan.
Aku menarik napas panjang, menenangkan diri. “Aku… harus menyiapkan latihan untuk Olimpiade, Bu,” jawabku pelan, menundukkan kepala lagi. Pena masih di tangan, tapi hatiku mulai panas. Kata-katanya seperti sengaja menusuk.
Sita melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Tangannya menunjuk buku catatanku. “Olimpiade, ya? Serius banget. Padahal anak pertama dan ketiga saja sudah cukup menarik perhatian Papa. Kamu, anak kedua, cuma jadi penonton. Jangan berharap apa-apa,” katanya sambil menyilangkan tangan, tatapan tajam yang membuat dadaku sesak.
Aku menahan amarah, menegaskan diri sendiri. “Aku… nggak minta perhatian Papa. Aku cuma ingin membuktikan kalau aku bisa,” jawabku, suara lembut tapi tegas.
Sita menepuk meja dekatku dengan keras, membuat beberapa lembar kertas berhamburan. “Hah, membuktikan? Kamu pikir bisa bersaing sama Dahayu atau Adikara? Dunia ini nggak peduli sama anak kedua yang pendiam kayak kamu. Kalau aku Papa, aku capek liat kamu serius-serius mulu!” katanya, menatapku dengan senyum mengejek.
Aku menunduk, menata kertas yang berserakan. Dalam hati, aku menahan amarah dan sakit hati yang menumpuk. Setiap kata Sita seperti menekan luka lama—anak kedua yang selalu diabaikan, anak perempuan pendiam yang jarang dianggap. Tapi aku menulis lagi, menyalurkan semua frustasi menjadi energi lain.
Sita mendekat, menatapku dengan mata menilai. “Kaka Alea, kalau kamu terus-terusan kayak gini, jangan heran kalau Papa nggak pernah menaruh perhatian lebih padamu. Anak pertama dan ketiga sudah cukup memenuhi perhatian beliau. Anak kedua? Hmm… cuma bayangan yang selalu ada tapi tak terlihat,” katanya, suaranya menusuk seperti pisau.
Aku menelan ludah, menahan marah. Tidak ada gunanya membalas. Aku hanya bisa menatap buku catatan, merasakan ketegangan merayap di tubuhku. Tanganku sedikit bergetar saat menulis, tapi aku menolak berhenti. Fokus adalah pertahanan terakhirku.
Sita menghela napas, melangkah ke pintu, tapi berhenti dan menoleh lagi. “Ingat, Kaka Alea, dunia ini keras. Jadi anak kedua yang pendiam dan terlalu serius… kamu harus siap sendiri. Jangan mengharapkan siapapun mengangkatmu. Kamu terlalu sibuk sama angka-angka untuk tahu siapa yang peduli padamu,” ucapnya sebelum keluar, menutup pintu dengan keras.
Aku menunduk di meja, menatap buku catatan yang penuh rumus. Nafasku berat, dada panas, tapi mataku menatap angka-angka itu seolah menantang dunia. Kata-kata Sita bisa memicu amarah dan kesedihan, tapi aku tidak akan menyerah.
Aku menarik napas panjang, menatap rumus yang tersisa. Setiap soal yang ku pecahkan menjadi bukti bahwa aku mampu bertahan, meski dunia kadang terasa dingin. OSIS, latihan Olimpiade, tanggung jawab rumah—semua kini bukan sekadar kewajiban, tapi bentengku, perisai yang menjaga hati yang rapuh namun ingin bertahan.
Aku memulai menulis lagi, setiap angka dan rumus adalah kemenangan kecil, bukti bahwa aku bisa tetap fokus. Rumah bisa memanas, Sita bisa memprovokasi, tapi aku bisa mengubah kesedihan dan kemarahan menjadi energi lain. Setiap jawaban yang kupecahkan, setiap catatan yang ku atur rapi, terasa seperti menegaskan keberadaanku—meski sepi, aku tetap berarti.
Malam itu, ketika lampu kamar redup dan rumah mulai tenang, aku duduk menatap buku catatan, menegaskan tekad. Hari ini aku bertahan, dan aku tahu besok akan menghadapi tantangan lain. Kata-kata Sita masih membekas, tapi aku belajar menjadi kuat bukan sekadar soal kemampuan, tapi tentang menjaga hati tetap berdiri di tengah badai.
Dan aku sadar, perjalanan ini baru dimulai. Rumah bisa memanas, orang bisa menyakitiku, tapi aku… aku akan tetap berjalan. Dengan angka, rumus, dan keteguhan hati. Karena aku tahu, dunia mungkin tak selalu peduli, tapi aku bisa peduli pada diriku sendiri.
☀️☀️