Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.
Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.
Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Pagi datang terlalu cepat. Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai, jatuh tepat di wajah Shelina. Dia mengerjap, lalu membuka mata perlahan dan langsung membeku pada pandangan di depannya.
Lengan seseorang masih melingkari pinggangnya. Jantung Shelina langsung berdegup keras.
'Astaga…' batin Shelina yang begitu malu.
Shelina menoleh pelan. Kaisar masih terlelap, wajahnya menghadap ke arahnya kali ini. Alisnya rileks, tidak ada sisa marah, tidak ada sikap urakan seperti biasanya. Untuk sepersekian detik, Shelina hanya menatap.
Lalu kesadaran menghantamnya sekaligus.
"Malam tadi … aku menangis. Dan dia … memelukku. Shelin apa yang kau lakukan?!' teriak Shelina dalam hatinya.
Shelina menelan ludah, dengan gerakan sangat hati-hati, ia melepaskan diri dari pelukan itu, turun dari ranjang secepat mungkin dan terlalu cepat sampai lututnya hampir goyah.
Begitu kakinya menyentuh lantai, suara di belakangnya terdengar.
“Miss—”
Shelina berbalik.
Kaisar sudah duduk di ranjang, rambutnya berantakan, matanya masih setengah terpejam. Dan begitu mata mereka bertemu,
Deg!
Jantung keduanya berdetak tak karuan.
“Jam berapa sekarang?” tanya Kaisar cepat, suaranya serak.
Shelina menoleh ke jam dinding. Matanya melebar.
“Tujuh lewat dua puluh!”
“Hah?!” Mereka bersuara bersamaan.
Shelina langsung berlari ke arah kamar mandi. Di saat yang sama, Kaisar berdiri dan melakukan hal yang sama. Mereka berhenti tepat di depan pintu kamar mandi, berhadapan dengan jarak terlalu dekat.
“Aku dulu,” kata Shelina cepat.
“Eh, aku juga mau mandi,” balas Kaisar spontan.
“Aku dosen, aku harus masuk kelas pagi ini.”
“Aku mahasiswa. Kalau telat lagi, aku bisa diusir lagi dari kelas.”
Shelina menyipitkan mata. “Kaisar.”
Kaisar mendengus. “Shelin.”
Kaisar menghela napas panjang, mengangkat tangan menyerah.
“Yaudah, Miss saja duluan.”
Shelina terdiam, agak terkejut. “Serius?”
“Iya, iya. Tapi cepat, aku nggak mau mandi sambil lari-lari.”
Shelina membuka pintu kamar mandi. “Terima kasih.”
Namun begitu pintu menutup,
“Eh, tapi jangan lama-lama. Ini kamar mandi bukan ruang renungan,” teriak Kaisar dari luar.
Shelina menahan napas, lalu membuka pintu sedikit. “Kaisar, pagi-pagi jangan bikin emosi.”
“Loh, kan biar akrab,” sahut Kaisar santai dan berjalan kembali ke arah ranjang.
Shelina menutup pintu dengan keras.
“Nyebelin,” gumamnya.
Sementara di luar, Kaisar menyandarkan punggung ke dinding, tersenyum kecil meski wajahnya memerah.
"Kenapa gue jadi kayak gini, sih…"
Beberapa menit kemudian, mereka turun ke bawah dengan tempo tergesa. Shelina merapikan kemejanya, Kaisar mengancing jaket sambil terus melirik jam.
“Kopi?” tanya Kaisar asal.
“Nggak sempat.”
“Roti?”
“Di kampus aja.”
Kaisar mendengus. “Pagi-pagi udah galak.”
Shelina berhenti melangkah. Menoleh tajam. “Kamu yang dari tadi bikin suasana jadi ribet.”
“Loh, kan Miss yang duluan panik.”
“Karena kamu bikin aku gugup!”
Kalimat itu keluar begitu saja, keduanya terdiam.
Wajah Kaisar langsung memanas. Shelina sendiri terkejut dengan ucapannya.
“Maksud aku,” Shelina berdehem, memalingkan wajah, “kita harus profesional di kampus.”
“Iya, profesional,” ulang Kaisar cepat.
“Di rumah juga, kok.” Sindir Kaisar.
Mereka berjalan ke arah pintu, sama-sama canggung, sama-sama terburu, sama-sama menyimpan sisa malam yang belum selesai dibicarakan.
Mesin motor Kaisar meraung pelan saat ia mendorong kendaraannya keluar garasi. Di saat yang hampir bersamaan, Shelina juga mengeluarkan mobilnya. Pagi itu terasa terburu-buru dan udara masih dingin, tapi kepala mereka sudah panas oleh jam dan tanggung jawab.
Gerbang rumah terbuka.
Kaisar menyalakan motor, bersiap melaju ke kampus seperti biasa. Namun, tepat setelah melewati pagar, ia melihat sesuatu yang membuatnya mengerutkan kening.
Mobil Shelina berbelok ke arah berlawanan.
“Lah?” gumamnya.
Tangannya refleks menarik rem. Kaisar menoleh ke arah jam di pergelangan tangan. "Kalau muter ikut dia, gue bisa telat, tapi…"
Dia melirik lagi ke arah mobil yang makin menjauh. Ada perasaan aneh yang mengganjal bukan curiga, lebih ke bingung. "Kan kampus ke kiri … kenapa dia ke kanan?” gumamnya lagi.
Mesin motor masih menyala. Kaisar terdiam sepersekian detik, lalu menggeleng.
“Ah, urusan Miss,” katanya pada diri sendiri. Gas diputar, dia memilih jalan ke kampus meski pikirannya tak sepenuhnya ikut melaju.
Di dalam mobil, Shelina memegang kemudi dengan satu tangan, tangan lain menempel di ponsel yang tersambung bluetooth.
“Iya, Pak. Saya ke arah situ sekarang,” ucapnya tenang.
Di seberang sana, suara Rangga terdengar jelas, agak canggung, agak sungkan. Mobilnya mogok sejak pagi, tak mau menyala sama sekali. Dia sudah mencoba menghubungi bengkel, tapi belum ada yang bisa datang cepat. Dan entah kenapa, ia menghubungi Shelina.
Shelina tahu risikonya, waktu mepet, jam mengajar menunggu. Tapi ia juga tahu satu hal, dia punya hutang budi.
“Perumahan kita kan nggak jauh,” lanjut Shelina.
“Sepuluh menit juga sampai, tunggu ya, Pak.”
[Iya, terima kasih banyak, Shelina. Maaf ngerepotin pagi-pagi.]
Shelina tersenyum tipis.
“Nggak apa-apa, Pak.”
Mobil berbelok masuk ke kompleks yang familiar. Rumah Rangga memang tak jauh dari Bumi Asri dan itu satu jalur, satu belokan lagi.
'Masih sempat,' batinnya, mencoba meyakinkan diri.
Namun, entah kenapa, bayangan Kaisar yang tadi sempat berhenti di depan pagar kembali terlintas. Alis Shelina berkerut sebentar. Semoga dia nggak mikir aneh-aneh.
Mobil Shelina melambat di depan rumah Rangga.
Di kampus, Kaisar tiba lebih dulu dari pada Shelina.
Motor diparkir asal dan seperti biasa. Helm dilepas, kunci diputar, lalu ia turun sambil masih menarik napas yang belum rapi. Pagi itu terlalu penuh pikiran untuk ukuran jam delapan kurang.
Belum sempat melangkah jauh, suara mobil memasuki area parkiran dosen menarik perhatiannya.
Kaisar menoleh dan dia melihat itu mobil Shelina. Langkahnya terhenti begitu saja dan dia berdiri mematung di antara deretan motor mahasiswa, tatapannya mengikuti mobil itu hingga berhenti.
Pintu terbuka. Shelina turun lebih dulu penampilan rapi, tenang, seperti biasa. Lalu, kemudian seorang pria menyusul keluar dari kursi penumpang.
Pak Rangga turun dengan wajah tenang, dada Kaisar mendadak terasa berat.
“Apa-apaan…” gumamnya.
Ia melihat Rangga tersenyum, mengucapkan sesuatu pada Shelina. Shelina membalas dengan anggukan singkat. Terlalu singkat untuk disebut akrab, tapi cukup lama untuk disalahartikan oleh siapa pun yang melihat.
Termasuk Kaisar.
Di sekelilingnya, beberapa mahasiswa melintas. Suara mereka tak pelan dan bahkan terdengar jelas.
“Eh, itu Miss Shelina ya?”
“Iya, sama Pak Rangga.”
“Cocok juga ya. Sama-sama dingin, sama-sama pinter.”
“Pantes … katanya sering bareng.”
Tawa kecil menyusul, gosip pagi itu mengalir ringan, tanpa tahu dampaknya.
Rahang Kaisar mengeras, tangannya mengepal tanpa sadar. Ia ingin melangkah mendekat. Ingin bertanya, ingin memotong semua omongan itu. Tapi kakinya justru terasa berat, tertahan oleh sesuatu yang belum bisa ia namai.
'Ngapain gue kesel?' batinnya kesal pada diri sendiri, mau nya tidak cemburu, tetapi perasaannya menepis hal itu, Kaisar cemburu melihat Shelina bersama pria lain.
Shelina berjalan ke arah gedung dosen. Rangga menyusul, berbicara ringan di sampingnya.
Kaisar memalingkan wajah. Ia mendengus pelan, lalu melangkah pergi dan meninggalkan parkiran dengan langkah keras.
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.