Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Topeng Yang Terbongkar
Daviko mendorong pintu itu hingga terbuka lebar. Ia berdiri tegak dengan tangan mengepal di samping tubuhnya. Aura kemarahan terpancar begitu kuat dari wajah pria perwira itu.
"Lanjutkan!" Suara Daviko terdengar sangat dingin, lebih dingin dari es manapun. "Silakan lanjutkan tawa kalian. Aku ingin mendengar lebih banyak lagi tentang siapa yang kalian sebut 'sampah' di rumah ini."
Bu Ratna langsung pucat pasi. Ia mencoba berdiri namun lututnya terasa lemas. "Da... Daviko? Sejak kapan kamu di sana, Nak? Ini... ini tidak seperti yang kamu dengar, kami tadi hanya...."
"Cukup!" bentak Daviko hingga membuat Tari berjengit ketakutan. "Aku mendengar semuanya. Setiap kata, setiap hinaan keji yang keluar dari mulut kalian untuk ibuku dan Saliha."
Daviko melangkah masuk, mendekati mereka berdua yang kini sudah terpojok di dekat ranjang. "Kalian datang ke sini dengan alasan menjenguk Kaffara, memakan makanan yang disediakan ibuku, dan menikmati fasilitas di rumah ini, tapi di belakang... kalian menyebut ibuku sebagai sampah?"
"Mas Daviko, maaf... Tari tadi hanya terbawa suasana, Tari tidak bermaksud...." Tari mencoba meraih lengan Daviko dengan air mata buaya yang mulai mengalir.
Daviko menepis tangan Tari dengan kasar. Sorot matanya penuh dengan rasa jijik. "Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang baru saja kau gunakan untuk menghina ibuku. Kalian benar-benar bermuka dua. Selama ini aku diam karena aku menghormati kalian sebagai keluarga Amara, tapi sekarang... kalian sudah menghancurkan rasa hormat itu sampai tidak bersisa."
Daviko menunjuk ke arah pintu kamar dengan telunjuk yang gemetar karena amarah. "Keluar sekarang juga!" usirnya.
"Daviko, tolong dengarkan penjelasan Ibu dulu, Nak...." Bu Ratna memohon dengan suara gemetar.
"Aku bilang KELUAR!" Suara Daviko menggelegar ke seluruh penjuru rumah, hingga membuat Saliha dan Mama Davira yang berada di dapur berlari menuju sumber suara.
Mama Davira tiba di depan kamar dengan wajah bingung. "Ada apa, Dav? Kenapa berteriak-teriak?"
Daviko menoleh ke arah mamanya, matanya melunak sesaat, akan tetapi kemarahan kembali menguasai saat ia melihat Bu Ratna. "Ma, mereka tidak pantas berada di sini. Mereka baru saja menghina Mama dengan kata-kata yang tidak sanggup Daviko ucapkan kembali. Mereka tidak punya tempat lagi di rumah ini."
Bu Ratna dan Tari hanya bisa menunduk malu, tidak berani menatap wajah Mama Davira. Topeng kepalsuan mereka telah lepas di depan orang yang paling mereka takuti. Sore itu, kedamaian di kediaman Daviko benar-benar pecah, meninggalkan luka baru yang mungkin tak akan pernah bisa disembuhkan.
Namun, pengusiran itu mendapat tentangan dari Bu Ratna, ia menghampiri Daviko dan berkata dengan lantang.
"Tapi, kamu tidak bisa mengusir kami begitu saja, Daviko. Di sini ada cucuku. Dan rumah ini adalah tempat Amara tinggal, jadi ketika Amara meninggal, rumah ini ada hak dia. Dan Ibu sebagai Ibunya Amara, masih berhak menginjakkan kaki di rumah ini," tegasnya, wajahnya memerah seakan sedang mempertahankan haknya yang sedang dicuri.
"Saya tahu, saya paham. Maksud ibu harta gono-gini? Tidak ada harta gono-gini di dalam rumah ini. Rumah beserta isi dari rumah ini, adalah murni hasil kerja kerasku. Kalaupun ada harta gono-gini yang ditinggalkan Amara, maka itu sepenuhnya akan jatuh pada Kaffara. Apakah Ibu dan Tari sudah jelas?" tekan Daviko dengan sorot mata tajam.
Bu Ratna dan Tari terdiam. Mereka tidak bisa berkata apa-apa selain harus pergi dari rumah itu.
"Tapi, di sini ada cucuku. Ibu dan Tari sewaktu-waktu akan ke sini, tentu saja hanya untuk menengok Kaffara," jelasnya kemudian.
Daviko tersenyum getir. Dari awal harusnya memang begitu niat mereka, tapi alih-alih justru ketahuan punya niat lain yang tidak baik.
Mama Davira menatap heran perdebatan yang masih berlangsung antara sang putra dan mantan mertuanya. Sementara Saliha segera pergi, dia tidak mau ikut campur ke dalam urusan majikannya. Saliha memilih menuju kamar Kaffara.
"Bersihkan dulu hati kalian jika ingin menginjakkan kaki di rumah ini. Bagiku hinaan kalian, adalah kesalahan terbesar yang tiada ampun. Sekarang, lebih baik kalian segera pergi, sebelum aku bertindak lebih keras," ujar Daviko kembali mengusir.
Tanpa tawar menawar lagi, Daviko segera menggiring Bu Ratna dan Tari menuju pintu keluar.
Dengan wajah yang kusam dan kecewa, Bu Ratna dan Tari, terpaksa menyeret kakinya keluar.
Daviko segera mengunci pintu dari dalam kuat-kuat. Dia tidak mau orang yang sudah menghina sang Mama menginjakkan kaki di rumahnya kembali.
"Dav, ada apa?" Mama Davira menghampiri Daviko, meraih lengannya dan membawa duduk di sofa. Wajah Daviko masih sangat kusut, sisa dari kemarahan yang tadi ia lampiaskan pada Bu Ratna dan Tari.
"Tidak apa-apa, Ma. Viko, hanya sedang menjalankan tugas sebagai seorang anak terhadap mamanya."
Mama Davira mengkerutkan kening tanda tak paham.
"Mama masih belum paham, Dav."
Daviko menatap Mama Davira haru. Wanita cantik nan lembut itu membalasnya dengan teduh dan penuh kasih sayang. Mana bisa Daviko membiarkan mulut keji seperti Bu Ratna menghina wanita tulus di depannya.
Daviko memeluk Mama Davira lalu berkata, "Viko tidak akan biarkan siapapun menghina Mama. Dan Viko pastikan orang itu tidak lagi menginjakkan kaki di rumah ini, sekalipun dia neneknya Kaffara," tegasnya.
Adegan itu membuat Mama Davira terharu. Bukan hanya Mama Davira, akan tetapi Saliha yang baru saja akan turun tangga, terlanjur melihat betapa Daviko begitu memuliakan mamanya.
"Ternyata Mas Viko, masih sosok yang begitu memuliakan mamanya," gumamnya terharu.
Mama Davira mencoba mencerna kalimat yang diucapkan Daviko barusan. Sepertinya ia mulai paham, dan kejadian pengusiran tadi adalah bukti bahwa Daviko sedang membela dirinya.
"Sepertinya ada hal yang tidak mengenakan hati Daviko, sampai dia bisa mengusir mantan mertuanya sekeras itu." Mama Davira membatin. Namun, kepergian Bu Ratna dan Tari dari rumah Daviko, membuat Mama Davira lega.
"Semoga saja kalian tidak datang lagi untuk mengacau di sini," gumamnya sedikit lega.
Lanjut nggak? Bernapas dulu, ya. Jangan lupa dukungannya ya, agar karya ini lolos retensi. 🙏🙏
semangat ya😚