Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Gelang Pelindung
Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing saat ketenangan kamar Jian Feng dihancurkan secara brutal.
BRAAK!
Pintu kayu yang sudah rapuh itu ditendang hingga hancur berkeping-keping, serpihannya berhamburan ke seluruh lantai.
Jian Feng langsung bangkit dari meditasinya. Matanya yang tajam dan dingin menusuk sosok pria yang berdiri di ambang pintu dengan wajah angkuh.
"Siapa kau?" tanya Jian Feng pendek. Suaranya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, justru mengandung ancaman yang tersembunyi.
Pria itu tertegun sejenak, lalu tertawa mengejek. "Jadi, desas-desus itu benar? Kau benar-benar kehilangan ingatanmu setelah dipukuli Ayah kemarin, Xiao Feng? Sampai-sampai kau tidak mengenali kakak keduamu sendiri?"
Jian Feng menatap pria itu dengan pandangan malas.
Ia berdiri perlahan, membersihkan debu dari bajunya yang lusuh. "Sepertinya begitu. Jadi, ada perlu apa Kakak Kedua datang ke tempat kumuh ini? Bukankah aku hanya 'sampah' cacat yang tidak pantas berada di pandanganmu?"
"Hahaha! Baguslah kalau kau sadar diri, adikku yang malang!" Xiao Liang, pria itu, melangkah maju dan menepuk bahu Jian Feng dengan kasar, sengaja menekan luka yang masih basah.
"Ingat ini baik-baik. Hari ini tunanganmu akan datang berkunjung. Jadi, simpan tingkah anehmu dan jangan permalukan keluarga Xiao seperti biasanya. Mengerti?"
Setelah memberikan peringatan itu dengan nada merendahkan, Xiao Liang berbalik dan pergi begitu saja.
Jian Feng hanya diam, menatap punggung kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Keluarga yang aneh.
"Bagaimana bisa raga selemah ini memiliki tunangan? Pasti ini hanyalah kesepakatan bisnis atau paksaan dari pihak keluarga." batinnya sinis.
Jian Feng memutuskan untuk keluar dan menjelajahi kediaman keluarga Xiao.
Langkah kakinya membawanya menyusuri lorong-lorong yang cukup luas, hingga ia berhenti di depan sebuah bangunan tua yang tampak terabaikan: Perpustakaan Keluarga.
Ia melangkah masuk ke dalam. Ruangan itu pengap, debu tebal menyelimuti rak-rak buku yang sudah mulai lapuk. "Tempat yang kotor untuk menyimpan pengetahuan." gumamnya.
Jian Feng mengambil sebuah buku secara acak. Namun, saat ia membaca judulnya, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Buku itu adalah sebuah catatan sejarah kuno yang menceritakan tentang "Sang Pembantai yaitu Iblis Petir"—seorang pria yang menghancurkan ribuan sekte demi menyelamatkan istrinya yang terluka.
Jian Feng tersenyum pahit. "Siapa sangka aku akan menjadi legenda di tempat terpencil ini? Namun, legenda yang mereka tulis hanya berisi tentang pembantaian, bukan tentang rasa sakit yang kualami. Aku merindukan rumah kita, Lin Xue... aku merindukan ketenangan di makam Guru."
Ia menutup buku itu dengan suara debukan pelan, lalu keluar dari perpustakaan dengan hati yang semakin berat.
Baru saja ia melangkah keluar, seorang gadis cantik dengan gaun sutra berwarna biru muda sudah menghadangnya.
Wajahnya tampak cemas sekaligus kesal.
"Kenapa kau berkeliaran di sini?! Kau sedang sakit, Xiao Feng!" seru gadis itu. "Aku dengar kau terluka parah karena gagal berkultivasi lagi. Kenapa kau tidak diam di tempat tidur?"
Tanpa menunggu jawaban, gadis itu menarik lengan Jian Feng menuju sebuah Manor kecil yang indah di sudut taman keluarga Xiao.
Ia menyuruh Jian Feng duduk di kursi bambu yang nyaman.
Jian Feng memerhatikan gadis di depannya. Aneh.
"Biasanya dalam drama reinkarnasi seperti ini, tunangan sang tokoh utama akan sangat membencinya. Tapi gadis ini... dia benar-benar khawatir."
"Maaf, aku kehilangan ingatanku," ucap Jian Feng tenang. "Jika boleh tahu, siapa kau? Dan kenapa kau mau menjadi tunanganku?"
Gadis itu terdiam sejenak, menatap mata Jian Feng dengan intensitas yang membuat Jian Feng sedikit tidak nyaman. Kemudian, ia tersenyum lembut.
"Aku Qing Laoyue. Kita adalah teman masa kecil,Xiao Feng. Meskipun semua orang menganggapmu sampah, aku tahu siapa kau sebenarnya. Aku menyukaimu karena kebaikanmu sejak dulu, bukan karena bakat kultivasimu."
Wajah Qing Laoyue memerah saat mengucapkan kata-kata itu. Jian Feng hanya terdiam.
Ia merasakan ketulusan dari gadis ini, sesuatu yang sangat langka di dunia kultivasi yang kejam.
Namun, ia tahu ia tidak bisa tinggal di sini selamanya; ia harus segera menemukan cara untuk memperkuat raga ini atau mencari tubuh yang lebih baik.
Sore harinya, sebelum Qing Laoyue berpamitan untuk pulang, ia melepaskan sebuah gelang emas dari pergelangan tangannya dan memakaikannya ke tangan Jian Feng.
"Ambillah ini. Ini adalah artefak pelindung," ucap Qing Laoyue tegas. "Jika ada yang berani menyakitimu lagi, kau harus memberitahuku. Jangan memendam semuanya sendirian, mengerti? Kau berharga bagiku."
"Terima kasih. Aku pasti akan membalas budi ini." jawab Jian Feng singkat.
"Tidak perlu balas budi, aku hanya ingin kau sehat dan bahagia." ucapnya sambil naik ke kereta kuda dan pergi meninggalkan kediaman Xiao.
Jian Feng melihat gelang itu. Ia menyadari bahwa artefak ini mengandung energi pelindung yang cukup kuat untuk menahan serangan dari praktisi tingkat menengah.
"Gelang yang menarik. Dia benar-benar ingin melindungiku. Sifatnya... sedikit mengingatkanku pada Lin Xue."
Namun, saat ia hendak kembali ke kamarnya, suara sinis Xiao Liang kembali terdengar dari balik pilar.
"Sungguh gadis yang luar biasa, bukan? Cantik, kaya, kuat, dan sudah menjadi pemimpin keluarga di usia muda. Sayangnya, dia lebih memilih sampah sepertimu daripada aku!"
Xiao Liang melangkah maju dengan wajah merah padam karena cemburu. Matanya tertuju pada gelang emas di tangan Jian Feng.
"Berikan gelang itu kepadaku! Benda berharga seperti itu tidak pantas dipakai oleh cacat sepertimu. Berikan, atau aku akan membuatmu tidak bisa berjalan selamanya! Jika bukan karena Qing Laoyue, kau sudah kami buang ke jalanan sejak lama!"
Jian Feng menoleh perlahan. Matanya yang dingin dan tajam menatap Xiao Liang seolah-olah ia sedang menatap seekor serangga yang berisik.
"Kau ingin gelang ini?" tanya Jian Feng dengan nada yang sangat rendah. "Ayo, coba ambil sendiri jika kau merasa cukup kuat untuk menyentuhku."
thor lu kaya Jiang Feng