Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran yang Terlambat
Dua hari setelah momen nangis di kamar mandi kafe, Fira udah ambil keputusan. Dia harus nanya. Harus tau kebenaran tentang Jessica, tentang perasaan Ditya yang sebenarnya, tentang di mana posisi dia di hati Ditya
Hari ini hari Sabtu sore, Ditya mengajak Fira jalan ke Alun-Alun Utara. Katanya pengen ngobrol santai, pengen liat Fira senyum lagi karena kemarin kemarin keliatan sedih terus.
Mereka duduk di bangku taman yang agak sepi, jauh dari keramaian anak anak yang lagi main. Langit sore berwarna jingga kemerahan, angin sepoi sepoi, suasana nya seharusnya romantis. Tapi Fira merasakan sesuatu yang berat di dadanya.
Ditya lagi cerita tentang project kantor yang akhirnya kelar, tentang bosnya yang akhirnya puas sama hasil kerja dia, tentang rencana weekend depan mau ke Parangtritis bareng Dimas.
"Fir, kamu mau ikut nggak? Ke Parangtritis bareng aku sama Dimas? Pasti seru deh, kita bisa..."
"Ditya," potong Fira pelan.
Ditya berhenti bicara, lalu melihat Fira yang lagi menunduk melihat tanah.
"Iya, Fir?"
"Aku mau nanya sesuatu, dan aku butuh jawaban jujur dari kamu."
Nada suara Fira serius banget, Ditya langsung merasa ada yang nggak beres. Jantungnya mulai berdetak kenceng.
"Tanya apa, Fir? Tanya aja, aku pasti jawab kok."
Fira tarik nafas dalem-dalem, lalu mengeluarkannya pelan. Tangannya menggenggam tasnya erat.
"Ehm, siapa Jessica?"
Deg. Dunia Ditya rasanya berhenti berputar saat itu juga.
Jessica. Fira tau tentang Jessica. Gimana bisa?
Wajah Ditya langsung pucat, tangannya gemetar, nafasnya berat.
"Fira, ka-kamu tau nama itu darimana?"
"Dari Dimas, dia nggak sengaja menyebut nama itu, waktu lagi ngobrol di kafe. Dan aku mencari tau sendiri."
"Mencari tau gimana?"
"Dari Instagram kamu. Aku liat foto-foto lama kamu sama dia. Aku baca caption kamu. Aku buka akun dia, dan aku liat semuanya, Dit."
Air mata Fira mulai turun pelan, Ditya merasa dadanya sesak banget.
"Fira."
"Siapa dia, Dit? Dan, kenapa kamu nggak pernah cerita tentang dia ke aku?"
Ditya menutup matanya, lalu mengusap wajahnya kasar. Nafasnya berat banget, kayak ada beban yang begitu berat.
"Jessica. Dia... mantan aku, Fir."
"Aku tau, tapi aku pengen denger dari kamu. Cerita tentang dia, tentang kenapa kalian harus putus."
Ditya membuka mata, melihat langit yang mulai gelap. Dia nggak berani menatap mata Fira.
"Aku sama Jessica pacaran lima tahun, Fir. Dari SMA sampai kuliah. Lima tahun yang penuh kenangan."
Fira hanya diam dan mendengarkan Ditya, sambil menggenggam tasnya makin erat.
"Dia cewek yang baik, Fir. Sabar, pengertian, dan setia. Dia udah kenal keluarga aku, udah tau semua sisi aku yang jelek. Tapi dia tetep bertahan, tetep sayang sama aku."
Suara Ditya mulai bergetar, matanya mulai berembun.
"Terus, kenapa kalian bisa putus?" tanya Fira pelan.
"Karena aku takut, Fir. Aku takut untuk komitmen. Satu tahun yang lalu, Jessica meminta kepastian. Dia tanya 'Kamu serius nggak sama aku? Kamu mau nikahi aku atau nggak?' Dan nggak bisa jawab."
"Kenapa kamu nggak bisa menjawabnya?"
"Karena aku punya trauma, Fir. Trauma dari keluarga aku yang berantakan. Orang tua aku cerai waktu aku masih SMA, cerainya toxic banget. Ayah selingkuh, ibu depresi, aku sama adek yang jadi korban. Dan aku takut jadi seperti ayah. Takut menyakiti pasangan aku, sama seperti ayah menyakiti ibu."
Fira merasakan dadanya sesak, jadi trauma Ditya itu beneran ada, dan bukan cuma alasan.
"Terus, Jessica gimana?"
"Jessica capek menunggu, capek sama aku yang nggak bisa kasih kepastian. Akhirnya, dia yang memutuskan untuk putus. Dia bilang 'aku nggak bisa terus-terusan kayak gini, Dit. Aku sayang kamu, tapi aku juga sayang sama diri aku sendiri. Aku pergi ya.' Dan dia beneran pergi."
Air mata Ditya jatuh, dan untuk pertama kalinya Fira melihat Ditya menangis.
"Aku nyesel banget karena udah melepaskan dia. Nyesel nggak bisa jadi orang yang dia harapkan. Dan aku nggak bisa mengalahkan rasa takut aku."
Fira melihat Ditya yang lagi nangis. Sebagian dari dirinya pengen peluk Ditya, lalu mengusap air matanya, dan bilang 'udah, aku ngerti'. Tapi sebagian lainnya pengen lari. Lari dari kenyataan yang mulai terkuak ini.
"Ditya," panggil Fira pelan, suaranya juga udah bergetar.
"Iya, Fir."
"Apa kamu udah move on dari dia?"
Ditya diem lama. Dan keheningan itu udah menjadi jawabannya.
"Aku lagi mencoba, Fir. Aku lagi mencoba untuk move on. Aku hapus foto-foto dia, aku nggak stalking dia lagi, aku mencoba fokus sama hidup aku. Dan waktu aku ketemu kamu, aku merasa ada harapan, harapan buat bisa bahagia lagi."
Fira ngerasa jantungnya kayak diremes.
"Tapi..." lanjut Ditya yang masih menangis. "Tapi kadang, aku masih memikirkan dia, Fir. Masih ngerasa bersalah. Dan masih ada bagian dari hati aku, yang nggak bisa sepenuhnya ninggalin dia."
Deg. Rasanya kayak ditusuk pisau langsung ke jantung. Fira menggigit bibir bawahnya kuat, menahan air mata yang udah mau jatuh.
"Ditya," bisiknya pelan, nyaris nggak kedengaran. "Apa aku hanya bagian dari proses move on kamu?"
Pertanyaan yang udah berhari hari dia pendem akhirnya keluar. Dan begitu keluar, hati Fira rasanya berhenti berdetak, nunggu jawaban yang bakal nentuin semuanya.
Ditya mengangkat kepala, menatap mata Fira yang udah berkaca-kaca. Mulutnya kebuka, pengen jawab, tapi bibirnya tak mengeluarkan sepatah katapun.
Soalnya deep inside, Ditya tau jawabannya. Dan keheningannya udah jadi jawaban yang paling jujur. Fira ketawa pahit sambil air matanya jatuh deras.
"Kamu nggak usah jawab, Dit. Diam kamu, udah cukup untuk menjadi sebuah jawaban."
"Fira, bukan begitu."
"Terus apa?!" suara Fira naik, nggak bisa nahan emosi lagi. "Kamu bilang kamu mencoba move on, tapi kamu masih mikirin dia! Kamu bilang kamu sayang sama aku, tapi hati kamu masih ada yang nyangkut sama dia!"
"Fir, please dengerin aku dulu."
"Dengerin apa lagi, Ditya?! Aku cuma pelarian kan? Cuma orang yang kebetulan ada di saat kamu lagi butuh pengalihan dari luka kamu! Aku bukan orang yang kamu cintai!"
"Bukan gitu Fira!"
"Terus apa?! Jelaskan ke aku Ditya! Jelaskan!"
Ditya berdiri, jalan mondar-mandir sambil mengusap wajah frustasi. Dia bingung harus ngomong apa. Gimana cara jelasin perasaan yang dia sendiri nggak ngerti.
"Fira, aku sayang sama kamu. Beneran sayang, aku nggak bohong soal itu."
"Tapi kamu nggak cinta sama aku kan?" tanya Fira sambil berdiri, dan menatap Ditya langsung.
Tapi Ditya hanya terdiam.
"Jawab aku, Ditya! Kamu cinta sama aku nggak?"
Hening. Cuma suara angin dan suara orang orang di kejauhan yang terdengar.
"Aku nggak tau, Fir." akhirnya Ditya menjawab pelan. "Aku bingung sama perasaan aku sendiri. Aku sayang sama kamu, tapi aku nggak tau, apa ini cinta atau cuma aku yang hanya mencari kenyamanan."
Dan di situ Fira tau, dia bukan orang yang Ditya cintai. Dia cuma pelarian semata
"Oke, Dit. Sekarang aku ngerti," kata Fira sambil mengusap air matanya.
"Fira."
"Makasih karena kamu udah jujur, walau kejujuran ini begitu terlambat."
"Fira, jangan kayak gini."
Fira mengambil tasnya, lalu mulai pergi meninggalkan Ditya.
"Fira, tunggu!" Ditya mengejar, dan menggenggam tangan Fira.
"Lepaskan aku, Ditya!"
"Jangan pergi dulu, kita bisa ngobrol lagi, kita bisa..."
"Ngobrol apa lagi?!" Fira menarik tangannya, lalu menatap Ditya dengan mata yang penuh air mata. "Kamu udah menjawab semua pertanyaan aku, Dit. Kamu belum move on dari Jessica, kamu nggak tau kamu cinta sama aku atau nggak. Dan aku cuma bagian dari proses move on kamu, itu semua sudah cukup. Semuanya sudah cukup membuat aku ngerti, kalau aku nggak punya tempat di hati kamu."
"Fira, bukan gitu maksud aku."
"Terus apa?! Kamu mau bilang apa lagi, Dit?! Mau bilang 'tunggu aku ya Fir, tunggu sampe aku bener-bener move on dari Jessica'? Terus aku harus menunggu berapa lama? Satu ahun? Dua tahun? Atau kamu nggak akan pernah bisa move on?"
Ditya nggak bisa menjawab, air matanya luruh begitu saja.
"Fira, maafkan aku."
"Aku nggak butuh maaf kamu, Dit," bisik Fira sambil menggelengkan kepala. "Aku butuh cinta yang tulus, bukan cinta yang dibagi sama bayangan orang lain. Dan kamu nggak bisa kasih itu."
"Fir, kumohon."
Tapi Fira udah jalan. Jalan cepet sambil nangis, ngelewatin orang-orang yang pada ngeliatin mereka.
Ditya berdiri di situ, melihat Fira pergi sambil menangis kenceng. Dia pengen ngejar, pengen peluk Fira. Hatinya masih terbagi, dan Fira nggak pantas dapet cinta yang setengah kayak gitu.
***
Fira jalan terus sampe keluar dari Alun-Alun, pesen ojek sambil masih menangis. Abang ojeknya ngeliatin dengan tatapan kasihan tapi nggak nanya apa apa.
Sampe di kos, Fira langsung masuk kamar, jatuh ke kasur sambil nangis sejadi-jadinya.
Akhirnya dia tau, semua pertanyaannya kini telah terjawab. Dia cuma pelarian, bukan orang yang Ditya cintai. Fira cuma bayangan, dari cinta yang belum bisa Ditya lepaskan.
"Aku cuma pelarian," isaknya sambil memeluk bantal. "Bukan orang yang dia cintai."
Dan malam itu Fira nangis sampe ketiduran. Tidur dengan hati yang lebih hancur dari sebelumnya. Tidur dengan kenyataan pahit yang akhirnya dia terima.
Bahwa kadang cinta nggak cukup buat bikin seseorang bertahan. Kadang, timingnya yang salah. Dan kadang, kita cuma jadi perantara, buat orang lain sembuh dari lukanya.
Bukan jadi tujuan akhir, kita cuma pelarian sementara. Dan itu adalah, kenyataan paling menyakitkan yang pernah Fira terima.