Nando menatap tubuh sang istri yang terbaring dengan tubuh penuh nanah dan tidak pernah berhenti merintih, sudah dua bulan ini Yuli terus aja menderita dengan rasa sakit begitu panjang dan ini semua tidak tahu datang dari mana.
Yuli adalah wanita yang tipe tidak pernah keluar rumah untuk urusan jalan-jalan atau yang membuang waktu, dia hanya diam di rumah dengan penampilan sederhana serta tidak banyak bertingkah namun mendadak saja sekarang jadi sakit seperti itu dan kabar beredar bahwa dia sedang di santet.
Siapa kah yang sudah menyantet Yuli?
Benarkah bahwa Yuli memang terkena santet?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Bertemu Meri
"Mas Sadewa kan ya?" tegur Meri yang sedang ada di rumah sakit ini juga.
"Iya, kamu siapa?" Sadewa lupa dengan gadis ini.
"Ini aku Meri, yang dulu sempat mengalami tragedi dan di tolong sama Mas Sadewa serta Mas Arya." Meri berusaha menjelaskan agar Sadewa kembali.
"Oh yang karena iblis anak itu ya!" Sadewa baru ingat siapa gadis yang ada di hadapan dia saat ini.
"Benar, tadi saya kebetulan lewat dan melihat masa Dewa ada di sini juga." Meri tersenyum manis dan dia memang tidak pernah melupakan orang yang telah membantu dia.
"Iya ini ada salah satu teman yang sedang di rawat jadi aku datang untuk menemani." ujar Sadewa sambil tersenyum.
"Em gitu, ya sudah saya permisi dulu." pamit Meri karena tadi dia memang hanya ingin menegur saja.
"Kenal kan nama saya Reni." gadis yang ada di sebelah Meri langsung mengulurkan tangan karena dia terpesona juga melihat ketampanan dari Sadewa ini.
Dewa hanya mengangguk dan sama sekali tidak ada mengulurkan tangan juga karena dia tidak ingin memberi harapan kepada orang lain yang jatuh cinta seperti ini, kalau bukan jatuh cinta namun Sadewa menyadari bahwa wanita yang ada di hadapan dia menunjukkan gaya ketertarikan yang begitu kuat karena itu dia menolak untuk berjabat tangan.
Pokok nya segala sesuatu yang berbau dengan perselingkuhan maka Sadewa akan terus menjauh agar dia tidak terjerumus ke dalam hal itu, sebisa mungkin otak Sadewa terus mengingatkan bahwa dia menjadi manusia ini hanya karena ingin mengejar cinta istri dia yang sekarang sehingga dia tidak boleh melenceng dari perjalanan.
Nanti yang ada Sadewa juga akan kena amuk dari atasan secara langsung, karena dia memang dijaga menjadi pria yang setia dan tidak mudah terpengaruh dengan hal apa pun, walau kadang ke sana sedikit lebay namun tetap saja Sadewa tidak pernah mau berjabat tangan dengan wanita lain dan terutama seperti Reni saat ini.
"Sadewa."
Reni agak malu karena tangan dia hanya mengambang di udara tanpa ada yang menjabat, tapi dia kembali tersenyum setelah mendengar nama pria yang ada di hadapan nya ini. Meri tahu bahwa teman dia sudah jatuh cinta kepada Sadewa, sebab Dewa memang memiliki paras yang begitu tampan sehingga siapa saja yang melihat pasti akan terpesona.
Tapi tentu saja itu semua tidak mudah karena sang Dewa adalah tipe pria yang setia dan tidak akan pernah mengkhianati sang istri, jadi tidak mungkin bisa terpengaruh dengan mudah hanya karena pesona dari wanita lain yang bisa di katakan lebih mudah dari sang istri.
"Kami pamit dulu, Mas." Meri segera menarik tangan Reni.
"Ih kau ini buru buru sekali, padahal aku masih ingin melihat wajah tampan dia." Reni jadi kesal kepada Meri.
"Sadar diri woy, Kau tidak lihat tadi dia bahkan tidak mau berjabat tangan dengan wanita lain!" sentak Meri.
"Ah itu kan hanya awal mula saja karena dia belum tahu pesona yang aku miliki." Reni berkata dengan penuh percaya diri.
"Pesona yang kau miliki itu sebaiknya di simpan saja karena dia adalah suami orang." geram Meri.
"Nah yang milik orang seperti ini kadang lebih menggoda." gurau Reni sambil menjilat bibir.
"Gila, kau sama saja dengan Nabila!" kesal Meri bukan main.
"Bercanda loh." Reni ikut merengut karena dia tahu Meri memang sudah kesal.
"Jangan di biasakan suami orang yang kau goda karena nanti bila sampai kebablasan maka melukai hati wanita lain." pesan Meri.
"Iya, kau seperti tidak tahu dengan aku saja loh." Reni baru sadar bahwa teman dia ini sangat anti dengan wanita yang merebut suami orang.
Sebab Meri mengalami hal mengerikan karena dulu Papa dia bermain gila dengan beberapa orang wanita dan kemudian Mama Meri juga menjadi korban dalam hal itu sehingga dia paling anti bila ada wanita yang gatal kepada suami orang.
Oleh sebab itu kadang dia juga merasa kesal dengan Nabila yang terus keras kepala seperti itu, sudah diberitahu agar tidak jatuh cinta kepada suami orang namun tetap saja diam melakukan hal nekat dan kemudian sampai sekarang mereka juga belum mengetahui secara pasti tentang hubungan Nabila dengan suami orang itu.
Sebagai teman tentu saja mereka sudah menasehati namun yang di nasehati ini begitu sulit karena dia berlindung di balik kata cinta, emang kadang cinta bisa membutakan siapa saja sehingga tidak pandang bulu dengan siapa dia jatuh cinta dan menjalin hubungan terlarang hingga kemudian melukai perasaan wanita lain.
"Bagaimana kabar dia sekarang ini?" Meri sudah lama tidak melihat Nabila.
"Aku rasa dia masih galau di apartment, ya gimana nggak galau karena sekarang sudah tidak ada yang menjadi donatur dia." sahut Reni.
"Ini yang di bilang keuangan tidak sesuai dengan gaya hidup, sudah tahu orang tidak punya tapi gaya dia begitu tinggi." cemoh Meri sambil mengendarai mobil.
"Kamu kalau ngomong jangan gitu karena nanti akan menyakiti perasaan dia." ujar Reni karena dia tidak mau bilang kedua teman nya itu nanti akan bertengkar.
"Yang aku bicarakan ini memang fakta walau agak menyakitkan tapi gaya Nabila sudah melebihi gaya anak orang kaya!" sengit Meri.
"Aku sudah memberi nasehat kok kepada dia tapi tetap saja Nabila ini keras kepala." ujar Reni.
"Tentu saja dia keras kepala karena merasa bila berpacaran dengan suami orang maka bisa menghasilkan apa saja, dia sudah nyaman dengan hubungan itu karena fasilitas yang dia miliki semua sudah sangat mewah." ketus Meri.
Reni terdiam tidak bisa membantah karena apa yang di katakan oleh Meri semua nya benar, Nabila sudah terlalu dalam menjalani peran sebagai perebut suami orang dan dia merasa nyaman dengan status simpanan itu karena yang di berikan dari suami orang begitu mewah dan juga banyak, cukup untuk menghidupi dia dan juga keluarga yang ada di kampung sana.
"Itu adalah salah satu contoh orang yang tidak punya tapi ingin bergaya seperti artis." kesal Meri.
"Kamu kenapa sih hari ini kok mudah sekali emosi?" Reni melirik Meri.
"Gara gara Nabila ini memang aku jadi mudah emosi, maka tidak usah membahas dia." sahut Meri.
Kadang Reni ingin tertawa karena Meri emang jadi begitu sensitif bila membicarakan Nabila yang sangat keras kepala, mereka sebagai teman tentu saja sudah menasehati agar Nabila kembali ke jalan yang benar dan bekerja sebagaimana gadis lain yang membutuhkan uang tanpa harus melibatkan suami orang di dalam kehidupan dia sekarang ini.
Selamat pagi menjelang siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
kenapa sendal jepit ga di ajak masuk aja sih mak... biar dia kapok...