"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit rasanya
"Ha-Hamil?" batin Ele seraya menoleh ke belakang, menatap pasangan itu yang tampak terdiam, dan saling pandang. Entah, kenapa hatinya tiba-tiba sangat sakit.
"Apa-Apaan ini! Kenapa di sini sakit sekali rasanya. Sesak." Ele menepuk dadanya sendiri berulang kali.
Niatnya ingin membuat susu pun urung. Ia segera pergi dari sana dengan perasaan tak karuan.
Nero terdiam karena syok mendengar pengakuan Ava. Lalu berkata, bersamaan dengan Ele pergi dari sana. "Wah, selamat Winters. Akhirnya kau hamil setelah setahun menikah dengan pria idiot itu," puji Nero tapi juga merendahkan suami Ava.
Ava mendengus kesal. "Pedro bukan pria idiot!"
"Bagiku dia pria idiot. Aku masih heran kenapa kau mau menikah dengan pria seperti dia." Nero kembali mengolok yang berakhir membuat Ava menangis.
Mungkin karena hormon kehamilan Ava jadi sensitif perasaannya. Ava menangis sesegukan sampai wajahnya banjir air mata.
"Astaga, Winters, kau menangis?" Nero terkejut karena ini pertama kalinya melihat wanita menangis. Ia sangat paham betul bagaimana sifat wanita itu yang sangat tangguh dalam situasi apapun.
"Anda jahat sekali. Padahal suamiku 'kan tampan dan baik, kenapa Anda selalu menyebutnya Idiot!" balas Ava, menangis sedih.
Nero menghembuskan nafas kasar, lalu beranjak, dan mengusap pundak Ava. "Sudah, jangan menangis, aku minta maaf." Ini pertama kalinya Nero mengucapkan kata 'maaf' dan bersikap layaknya manusia pada umumnya, penuh simpati dan empati karena Ava sedang hamil.
"Tidak mau! Aku ingin berhenti bekerja saja!" balas Ava, kesal.
"Masalah itu kita bicarakan nanti. Dan untuk hari ini kau boleh cuti," jawab Nero, serius.
Tangis Ava langsung berhenti saat mendengar kata 'cuti'. Wajahnya pun langsung berseri. Selama bekerja dengan Nero ia jarang mendapat libur. Ada saja pekerjaan yang harus ia kerjakan. Meski begitu ia tak pernah mengeluh karena gajinya sangat besar.
"Cuti? Benarkah?"
"Iya, bila perlu sampai minggu depan. Anggap saja ini hadiah dariku atas kehamilanmu," jawab Nero, serius.
"Yeay!! Terima kasih, Tuan!" Wajah Ava langsung ceria. Ia menyambar tasnya dan beranjak keluar dari rumah tersebut untuk memulai menikmati hari liburnya. Rasanya ia tak sabar tiduran di kasur seharian.
Nero geleng-geleng kepala melihat tingkah sekretarisnya itu. Ia mengambil ponselnya setelah Ava sudah tak terlihat, kemudian menghubungi Pedro, dan meminta asistennya itu ke rumahnya sekarang juga.
*
"A-Apa? Ava hamil?" Pedro sebagai suami belum tahu kalau istrinya tengah hamil. Ia sangat syok, bahagia dan terharu mendengar kabar ini dari boss-nya.
"Jadi Ava belum memberitahumu?" Nero menaikkan sebelah alis, menatap serius asistennya itu.
Pedro menggeleng, lalu tersenyum lebar, "belum, mungkin dia ingin memberikan kejutan untukku," jawabnya penuh semangat. "Tapi, aku kecewa karena aku bukan orang pertama mendengar kabar ini!" Pedro menghela nafas berat, sembari menundukkan kepala lesu.
Nero meringis melihat sikap asistennya itu. "Sudahlah, jangan sedih. Lagi pula dia memberitahu kehamilannya padaku untuk mengundurkan diri."
"Mengundurkan diri? Dia ingin berhenti bekerja?" Kedua mata Pedro langsung berbinar, pasalnya sudah lama ia meminta Ava berhenti bekerja, tapi selalu di tolak, dan berakhir bertengkar.
"Ya, tapi aku belum memberikan keputusan karena aku masih membutuhkan istrimu di perusahaan!" jawaban Nero membuat muka Pedro kembali lesu.
"Kau kenapa? Mestinya kau senang karena memiliki istri hebat seperti Ava."
"Ck! Anda belum menikah, jadi Anda tidak akan pernah tahu perasaanku!" sungut Pedro, mendelik kesal.
"Hei! Berani sekali kau melotot seperti itu padaku!"
Nyali Pedro seketika menciut. Lalu memasang wajah sok imut.
Coba nanti muntah lagi tidak si Nero ini.
Salahnya Elle, Nero untuk sementara tidak boleh ngopi atau ngeteh. Nero pinter - minum susu cap nyonya boleh.
heeeemmm pas banget kebetulan d larang ngopi dan ngeteh jd nya ya nyusu aj.. 😜