Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Datang bersama
Seperti biasa, pagi di sekolah selalu dimulai dengan kesibukan yang sama.
Siswa-siswi berdatangan dari berbagai arah—ada yang berjalan kaki sambil menguap, ada yang turun dari motor dengan helm masih di tangan, ada pula mobil-mobil yang berhenti sebentar di depan gerbang sebelum kembali melaju.
Di depan gerbang sekolah, dua sosok sudah berdiri sejak tadi.
Siva dan Rahmalia.
Keduanya mengenakan atribut OSIS lengkap, berdiri tegak menjalankan tugas pagi mereka.
“AYO! AYO!” teriak Siva lantang.
“Masuk! Jangan lelet, nanti bel keburu bunyi!”
Beberapa murid yang masih berjalan santai langsung mempercepat langkah, sebagian tersenyum kecut, sebagian lagi pura-pura nggak dengar tapi tetap ikut masuk.
Rahmalia melirik Siva sekilas, lalu tersenyum kecil.
“Capek nggak sih tiap pagi teriak-teriak kayak gitu?” godanya pelan.
“Capek,” jawab Siva cepat.
“Tapi kalau nggak teriak, mereka nggak gerak.”
Rahmalia terkekeh pelan. Pandangannya menyapu barisan murid yang mulai menipis.
“Oh iya,” katanya kemudian, suaranya diturunkan sedikit.
“Malam ini kamu jadi datang ke pesta Azmi?”
Siva mendesah.
“Tadinya sih nggak mau. Males,” jawabnya jujur.
“Tapi ternyata dia anak keluarga Pratama.”
Rahmalia mengernyit kecil. “Keluarga Pratama?”
“Iya,” lanjut Siva.
“Perusahaan mereka gede banget. Mainnya di alat-alat musik. Katanya salah satu yang terbesar di dunia.”
Rahmalia terdiam sejenak.
“Terus?” tanyanya.
Siva mengangkat bahu.
“Keluargaku pingin kerja sama sama mereka. Jadi aku dipaksa datang. Formalitas lah, kenalan lah, basa-basi keluarga.”
“Oh…” Rahmalia mengangguk pelan.
“Sehebat itu ya keluarganya?”
“Hmm,” Siva berpikir sebentar.
“Nggak juga sih, kalau dibandingin keluarga Gina, masih kalah.”
Rahmalia meliriknya.
“Tapi karena keluarga aku sama keluarga Gina mainnya di industri hiburan,” lanjut Siva,
“ya otomatis butuh alat musik yang kualitasnya nggak main-main. Buat artis-artis, konser, rekaman, segala macem.”
Rahmalia terdiam.
“Jadi pesta ini…” gumamnya.
“Bukan cuma pesta,” potong Siva.
“Tapi ajang kenalan antar keluarga juga.”
Rahmalia menatap ke depan gerbang yang kini mulai lengang.
Entah kenapa, perasaannya terasa sedikit berbeda pagi itu.
Seolah pesta malam nanti bukan sekadar acara biasa—
melainkan awal dari sesuatu yang akan membuat
segalanya bergerak ke arah yang tidak ia duga.
...----------------...
Di tengah obrolan mereka, suara mesin mobil pelan terdengar mendekat ke gerbang sekolah.
Rahmalia refleks menoleh.
Dan seketika, senyum kecil muncul di wajahnya.
Mobil itu terlalu familiar.
“Eh,” Siva menyipitkan mata.
“Itu… bukannya mobil Azmi?”
Rahmalia mengangguk pelan.
Namun senyum itu belum sempat mengendap—
pintu mobil terbuka.
Azmi turun dengan cepat, lalu berlari mengitari mobil menuju sisi penumpang. Tangannya meraih gagang pintu, membukanya dengan sigap.
Rahmalia dan Siva sama-sama terdiam.
Dari dalam mobil, seseorang keluar.
Dan jantung Rahmalia seperti berhenti sepersekian detik.
“Bukan… itu Gina?” ucap Siva lirih, nyaris tak percaya.
Benar.
Gina berdiri di samping Azmi.
Seragamnya rapi, rambutnya tertata, wajahnya tenang seperti biasa. Azmi mengatakan sesuatu—Rahmalia tak bisa mendengar apa—lalu Gina mengangguk kecil.
Beberapa detik kemudian, Azmi pamit. Ia menutup pintu mobil, melambaikan tangan singkat, lalu berjalan menjauh.
Gina melangkah masuk ke area gerbang.
Siva masih terpaku.
“Kenapa Gina bisa bareng Azmi?”
Rahmalia menggeleng pelan.
Namun bersamaan dengan itu, senyumnya perlahan menghilang.Ia tidak marah pada Gina. Justru itu yang membuat perasaan ini terasa lebih salah.
Gina mendekat.
Pandangan Gina tertahan di wajah Rahmalia.
Ada sesuatu di sana—halus, tapi jelas.
Rahmalia tidak tampak marah. Tidak juga tersinggung.
Ia hanya terlihat… terganggu.
Seolah ada sesuatu yang seharusnya baik-baik saja, tapi tiba-tiba terasa salah.
Rahmalia sendiri belum sadar.
Ia mengira itu hanya kaget.
Hanya perasaan aneh yang lewat sebentar.
Padahal dadanya bereaksi lebih dulu—
sebelum pikirannya sempat menyangkal apa pun.
“Gin,” Siva akhirnya membuka suara,
“kenapa lo bareng Azmi? Kalian jadian?”
Gina langsung mengernyit.
“Enggak. Siapa bilang pacaran?”
Jawaban itu cepat. Tegas.
Rahmalia mengangkat wajah.
Ada rasa lega kecil yang muncul—halus, hampir tak terasa.
“Terus kenapa berangkat bareng?” Siva belum puas.
Gina menarik napas pendek.
“Ceritanya panjang.”
“Keluarga Azmi tiba-tiba datang ke rumah pagi-pagi,” lanjutnya.
“Terus ayah sama ibu malah nyuruh aku berangkat bareng dia.”
Siva mendecak pelan.
“Udah kuduga,” katanya kesal.
“Keluarganya cuma mikirin bisnis.”
Rahmalia refleks menyahut,
“Emang nganterin termasuk bisnis?”
“Iya,” Gina ikut menimpali sambil mengangguk.
“Perasaan cuma nganterin doang.”
Siva menoleh ke mereka berdua.
“Kalian ini bestie gue yang masih polos,” katanya setengah geli, setengah serius.
“Di dunia orang-orang kaya, bisnis itu bukan cuma kerja sama perusahaan,” lanjutnya.
“Tapi juga kerja sama darah.”
Gina dan Rahmalia terdiam.
“Ada bisnis perjodohan,” kata Siva pelan.
“Menggabungkan perusahaan lewat anak-anak pewaris.”
Tatapan Siva bergantian ke Gina dan Rahmalia.
“Apalagi kalau nyangkut anak sulung dan anak satu-satunya.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Namun anehnya—
Gina tersenyum kecil.
Rahmalia ikut tersenyum, meski samar.
Lebih seperti senyum yang ditahan—
senyum orang-orang yang tidak mengeluh tentang kemungkinan,
karena diam-diam, mereka berharap kemungkinan itu memang nyata.
“Dahlah, udah mau jam tujuh. Ayo masuk, kita tutup gerbangnya,” ucap Siva.
Gina dan Rahmalia mengangguk.
“Aku duluan, ya,” kata Gina sambil melambaikan tangan.
“Iya,” jawab Rahmalia.
Gerbang mulai ditarik perlahan.
Namun tepat saat celahnya hampir tertutup—
“WOI! JANGAN DITUTUP DULU! GUE BELUM MASUK!”
Suara itu memecah pagi.
Rahmalia refleks tersenyum, bahkan sebelum ia sadar kenapa.
Sementara Siva langsung mendengus kesal.
“DIOOOOOOO…!!!”
Dan di saat itu, Rahmalia tahu— pagi itu ternyata tidak sesederhana yang ia harapkan.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔