Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dari Ashleen
Kemenangan atas Soraya tidak membawa sorak-sorai di kediaman utama keluarga Arya. Sebaliknya, suasana rumah itu terasa berat dan sunyi. Ayah mertua Ria, Pak Gustaf, jatuh pingsan sesaat setelah mendengar kabar penangkapan Soraya. Kini, pria tua yang dulunya dikenal sangat keras dan otoriter itu terbaring lemah di ranjang besarnya, dikelilingi oleh peralatan medis.
Ria melangkah masuk ke kamar yang temaram itu setelah Pak Gustaf meminta untuk berbicara berdua saja dengannya. Arya, dengan wajah cemas, terpaksa menunggu di luar pintu.
Ria mendekat dan duduk di kursi samping tempat tidur. Pak Gustaf meraih tangan Ria dengan genggaman yang lemah dan gemetar. Matanya yang sayu menatap Ria dengan penuh penyesalan.
"Ria... terima kasih sudah mau menemui ku," suaranya parau, hampir berbisik.
"Sama-sama, Ayah. Ayah harus istirahat agar cepat pulih," jawab Ria lembut.
Pak Gustaf menggeleng lemah. "Waktuku tidak banyak, dan dosaku pada Arya terlalu besar. Aku mengundangmu ke sini bukan sebagai mertua, tapi sebagai seorang pria yang gagal menjadi ayah. Aku ingin kau tahu siapa Arya yang sebenarnya, sebelum kau memutuskan untuk benar-benar menetap di sampingnya."
Pak Gustaf mulai bercerita dengan air mata yang mengalir di kerutan wajahnya. Ia menceritakan bagaimana ia mendidik Arya dengan tangan besi sejak kecil. Setelah ibu kandung Arya meninggal, Pak Gustaf melarang Arya untuk menangis. Ia membuang semua mainan Arya dan memaksanya belajar bisnis sejak usia sepuluh tahun.
"Aku yang membentuknya menjadi mesin yang dingin, Ria. Aku memberitahunya bahwa cinta adalah kelemahan, dan kasih sayang adalah racun bagi seorang pemimpin. Aku bahkan memaksanya memutuskan hubungan dengan cinta pertamanya hanya untuk memperkuat posisi perusahaan," isak Pak Gustaf.
Ria mendengarkan dengan hati yang teriris. Ia baru menyadari bahwa kekakuan Arya, ketidakmampuannya mengekspresikan perasaan, dan sikap diktatornya adalah mekanisme pertahanan diri dari seorang anak kecil yang jiwanya telah dibunuh oleh ayahnya sendiri.
"Dia selalu sendirian, Ria. Di balik jas mahalnya, di balik gedung-gedung tinggi itu, ada seorang bocah lelaki yang ketakutan dan hanya butuh dipeluk. Semua penderitaan keluarga ini, dia yang memikulnya di pundaknya yang masih muda, sementara aku terus menuntut lebih."
Pak Gustaf mengeratkan genggamannya pada tangan Ria. "Soraya adalah kesalahanku yang lain. Aku membawanya masuk, dan Arya harus menahan hinaan serta sabotase wanita itu demi menjaga kehormatanku. Aku tahu tentang rekaman itu... aku tahu Arya membeli mu karena perintahku, karena aku tahu kau adalah wanita yang sama penurut seperti mendiang Ibunya. Dan aku juga melihat bagaimana dia berubah sejak ada kau."
Pria tua itu menatap Ria dengan penuh permohonan. "Ria, tolong... jangan lepaskan tangannya. Apapun yang terjadi, tetaplah di sisinya. Arya sangat rapuh di dalam. Jika kau pergi, dia tidak akan punya alasan lagi untuk menjadi manusia. Aku menitipkan putraku padamu. Tolong, cintai dia untukku yang tidak pernah bisa mencintainya dengan benar."
Ria keluar dari kamar dengan mata yang sembap. Di depan pintu, Arya langsung berdiri dan menghampirinya, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Apa yang dikatakannya, Ria? Apakah dia menyakitimu lagi?" tanya Arya cepat.
Ria tidak menjawab. Ia hanya menatap Arya dengan pandangan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. Ia tidak lagi melihat seorang pemimpin yang sombong atau pria yang membelinya. Ia melihat seorang bocah yang terluka yang selama ini bersembunyi di balik perisai baja.
Ria maju dan memeluk pinggang Arya, menyandarkan kepalanya di dada pria itu, mendengarkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Aku tidak akan ke mana-mana, Mas," bisik Ria. "Mulai sekarang, kau tidak perlu memikul beban dunia ini sendirian lagi. Biarkan aku yang menjagamu."
Arya tertegun, tangannya perlahan memeluk Ria dengan erat, air mata yang selama ini ia tahan sejak kecil akhirnya luruh di bahu istrinya.
Keputusan Ria sudah bulat. Ia tidak lagi ingin menjadi penonton di pinggir lapangan sementara suaminya bertarung di tengah badai sendirian. Pagi itu, Ria tidak pergi ke apartemennya, melainkan ikut masuk ke dalam mobil Arya menuju kantor pusat.
Di dalam mobil, Ria menggenggam tangan Arya yang sedang meninjau laporan keuangan. "Mas, mulai hari ini, jangan sembunyikan apa pun dariku. Baik itu masalah saham, ancaman Tante Soraya, atau tekanan dari dewan direksi. Kita adalah satu tim sekarang."
Arya menatap istrinya dengan haru. Kehadiran Ria di sisinya bukan lagi sekadar kewajiban kontrak, melainkan sumber kekuatan utama. "Terima kasih, Ria. Memiliki seseorang untuk berbagi beban membuat pundakku terasa jauh lebih ringan."
Sesampainya di kantor, Arya memerintahkan sekretarisnya untuk menyiapkan meja kerja tambahan di dalam ruangannya untuk Ria. Sebagai pemegang mandat yayasan dan dewan direksi, Ria kini memiliki otoritas legal. Namun, lebih dari itu, ia memiliki otoritas moral di hati Arya.
Mereka menghabiskan berjam-jam membedah sisa-sisa sabotase Soraya. Ria dengan ketelitiannya dalam analisis data, dan Arya dengan ketajaman insting bisnisnya. Harmoni yang tercipta di antara mereka membuat para staf kagum; mereka melihat bukan lagi pasangan yang kaku, melainkan dua pemimpin yang saling melengkapi.
Namun, ketenangan itu terusik ketika Ashleen meminta pertemuan darurat. Kali ini, ia tidak datang ke apartemen, melainkan langsung menuju ruang kerja Arya. Wajahnya tampak lebih tegang dari sebelumnya.
"Aku minta maaf harus mengganggu momen kalian," ujar Ashleen setelah duduk di hadapan mereka. "Tapi ada sesuatu yang harus kalian ketahui tentang Tante Soraya sebelum kalian menganggap perang ini selesai."
Arya mengerutkan kening. "Dia sudah di penjara, Ashleen. Semua asetnya sudah dibekukan."
"Aset yang kau ketahui, iya," balas Ashleen sambil meletakkan sebuah transkrip percakapan terenkripsi di atas meja. "Tante Soraya hanyalah pion, Arya. Dia memang serakah, tapi dia tidak cukup cerdas untuk melakukan penggelapan dana sekompleks ini tanpa bantuan orang dalam yang jauh lebih kuat."
Ria membaca transkrip tersebut dengan teliti. Matanya membelalak saat melihat sebuah inisial yang sering disebut dalam percakapan itu: "The Great One" (Tuan Besar).
"Siapa dia?" tanya Ria.
"Dia adalah sosok yang mendanai gaya hidup mewah Tante Soraya selama bertahun-tahun sebagai imbalan atas informasi internal Arya Group," jelas Ashleen. "Tuan Besar ini adalah pemilik firma investasi asing yang diam-diam telah membeli 15% saham perusahaanmu lewat tangan-tangan gelap, Arya. Dan yang lebih mengejutkan..."
Ashleen menatap Arya dengan tatapan prihatin. "Dia adalah orang yang sama yang dulu menghancurkan bisnis ayahku dan memaksaku pergi ke London. Dia ingin menghancurkan keluarga Wiradhinata bukan karena uang, tapi karena balas dendam masa lalu terhadap ayahmu."
Arya mengepalkan tangannya. "Siapa nama aslinya?"
"Johan Wijaya," jawab Ashleen singkat.
Nama itu membuat Arya terdiam. Johan Wijaya adalah mantan rekan bisnis ayahnya yang dikabarkan sudah bangkrut dan menghilang dua puluh tahun lalu. Ternyata, pria itu membangun kekaisaran di luar negeri dan menggunakan Soraya untuk merusak keluarga mereka dari dalam.
Ria bangkit dari duduknya, mendekati Arya dan mengusap bahunya untuk menenangkan. "Mas, jika dia menggunakan Tante Soraya sebagai pion, berarti dia kehilangan mata-matanya sekarang. Dia pasti akan melakukan langkah yang lebih agresif secara terbuka."
"Tepat sekali," sahut Ashleen. "Dia sedang dalam perjalanan ke Indonesia. Dia akan menggunakan hak suaranya sebagai pemegang saham besar di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) minggu depan untuk mencoba melengserkanmu dari posisi CEO."
Arya menatap Ria, mencari kekuatan di mata istrinya. Ria memberikan senyuman tipis namun penuh tekad.
"Jangan takut, Mas," bisik Ria. "Jika dia ingin bermain secara terbuka, kita akan menghadapinya dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan. Kita tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang telah kita bangun kembali."