NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LAGI-LAGI... SOSOK ITU...

KRUTUK KRUTUK KRUTUK...

KRAUK KRAUK...

Suara tulang ikan keras yang dikunyah begitu jelas terdengar di telingaku. Aku sampai berhenti menyuap nasi dan ikanku sendiri. Menatap lurus ke arah bapakku dengan rasa heran dan bingung.

Tak pernah aku melihatnya makan ikan sampai tak menyisakan tulangnya sedikitpun. Walau ikan itu dari jenis apapun, diolah dengan menu apapun.

"Pak...? Pelan-pela makannya..." ucapku sambil terus memperhatikannya.

Aku juga akhirnya kembali menyuap nasi dan daging ikan bakar itu. Karena saking herannya aku melihat bapak, sampai terasa sakit salah satu gusi gigiku tertusuk tulang ikan gurame ini.

"Keras loh... Tulang kecil aja sampe nusuk gini ke gusiku..." gumamku dalam hati sambil mencabut tulang yang terlalu panjang dan kecil dari gusiku.

"Tapi... Kenapa Bapak kok ngunyahnya sampe gak bersisa sih? Apa iya terlalu lapar dia?" tambahku dalam hati.

Keanehan dan rasa bingungku semakin besar, saat semua nasi dan ikan berukuran setengah kilo lebih itu habis tak bersisa, dan bapak langsung berdiri. Mencuci tangan. Dengan ekspresi masih datar wajahnya.

Setelah itu, dia dengan tanpa bicara sepatah kata pun, langsung pergi tanpa minum setetes air pun, meninggalkan aku sendirian di dapur.

"Loh, Pak? Gak minum dulu? Itu airnya ada di atas meja Pak..." ucapku sambil melihatnya melangkah keluar dari dapur.

Segera saja kutinggalkan nasi dan ikan yang masih bersisa di atas piring. Kucuci juga kedua tanganku. Dan membawakan segelas air putih untuk bapak.

Aku melihat bapak sekarang sedang duduk di kursi teras rumah, kubawakan minum kepadanya.

"Pak... Ini, diminum dulu air putihnya. Nanti gak enak loh tenggorokan sama perutnya kalo gak minum. Soalnya kan Bapak makan banyak barusan."

Aku duduk di kursi teras sebelahnya sambil menaruh gelas itu di atas meja.

Dan lagi-lagi, tanpa menjawabku, ia langsung ambil gelas itu.

Tanpa membaca basmallah atau apa... Langsung...

GLEK GLEK GLEK GLEK...

Langsung habis total air segelas itu. Seperti seseorang yang benar-benar kehausan.

Aku duduk sambil merapatkan kedua kaki dan menggenggam sendiri kedua tanganku di atas paha. Ku tatap dengan serius wajah bapakku.

Namun... Aku tak merasakan aura atau pertanda yang aneh darinya. Semuanya masih terasa normal bagi sensor ghoib dalam diriku.

Aku jadi tak berani berkata-kata padanya. Apakah mungkin bapak marah? Atau merasa kesal padaku?

Tapi... Kenapa? Atau... Karena apa?

Biasanya bapak pasti langsung bicara denganku jika memang seperti itu.

Aku mengalihkan pandanganku ke halaman. Tertuju pada cangkul kecil dan gunting rumput yang masih tergeletak di ujung halaman.

"Em, Pak, aku beresin dulu ya itu..."

Aku langsung berjalan ke halaman, bermaksud membereskan alat-alat tersebut.

Saat sudah kupegang alat-alat tersebut, aku disapa oleh Ustadz Furqon yang datang dengan berjalan kaki.

"Assalamu'alaikum..." sapanya sambil tersenyum padaku.

"Wa'alaikumsalam... Eh, Ustadz, dari mana?"

"Dari warungnya Ningrum Nis, habis beli gas." jawabnya.

Tapi tiba-tiba...

"Pak, gimana kabarnya? Sehat?" ucap Ustadz Furqon sambil menjulurkan tangannya ke arah belakangku.

Aku yang kaget, segera menengok ke belakang. Dan ternyata... Bapakku sudah berdiri di belakangku.

Aku kaget... Terpaku tubuhku...

Sejak kapan bapakku sudah ada di belakangku?

Tak terdengar suara langkah kakinya mendekat. Tak ada pula bayangannya di atas tanah.

Seharusnya aku bisa mendengar suara langkah kakinya jika memang ia berjalan mendekat. Atau paling tidak, aku melihat siluet bayangannya saat mendekat. Tapi... Ini tidak ada sama sekali...

Semakin aneh dan curiganya diriku, bapakku justru tampak sumringah dan biasa saja menyapa Ustadz Furqon

"Hehehe... Sehat Pak Ustadz... Pak Ustadz sendiri gimana kabarnya?" jawab bapakku sambil tersenyum dan ceria wajahnya.

"Alhamdulillah, sehat juga Pak. Habis bersihin rumput nih kayaknya ya Pak?"

"Hehehe... Iya Pak Ustadz, habisnya udah agak tinggi rumput-rumputnya juga. Ya mumpung hari minggu, jadinya saya bersihin."

Sungguh aneh bagiku, sangat aneh malah terasa bagiku.

Aku sampai tak bisa membuka mulut. Aku terpaku melihat bapakku mengobrol dengan Ustadz Furqon di depan kedua mataku.

"Habis dari mana Pak? Beli gas?" tanya bapakku.

"Iya nih, habis gas saya di rumah. Hehehe..."

"Oh... Pantesan bawa-bawa tabung gas."

"Iya Pak, soalnya saya tadi mau masak air, mau bikin kopi ceritanya. Eh... Taunya habis gasnya..."

"Wah, enak tuh ngopi sore-sore kan... Apalagi kalo ditambah sama gorengan Ustadz..."

"Naaah... Itu dia... Kebetulan tadi istri saya juga bikin tahu isi goreng. Kan makin jos ngopi sore-sorenya... Hehehe..."

"Nah itu dia... Hehehe..."

Aku yang terpaku melihat mereka berdua mengobrol dengan sangat luwes dan santai itu, merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi dengan bapakku.

Dan terasa tiupan angin sore yang semilir lembut, menyentuh tubuh kami bertiga di halaman.

Saat bapak dan Ustadz Furqon masih mengobrol dengan santainya, aku mencoba sesaat memejamkan mataku, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.

Aku bermaksud mengaktifkan pandangan ghoibku...

Sebelum ku buka kedua mataku, aku mencoba berbicara dengan Dayang Putri sebentar melalui dimensi ghoib itu...

"Dayang Putri... Apa yang terjadi dengan Bapakku?"

Aku merasakan kehadirannya namun tanpa muncul sosoknya di dalam tertutupnya mataku itu. Dan Dayang Putri hanya menjawab...

"Dia masih saja bermain denganmu Nisa..." ucap Dayang Putri.

"Dia? Bermain? Dia siapa Dayang Putri?" tanyaku heran.

"Bukalah kedua matamu..." jawab Dayang Putri.

Langsung saja ku buka mataku perlahan. Dan ternyata...

"Astaghfirulloh..." ucapku sambil langsung merasa geram. Wajahku berekspresi kaget bercampur geram yang tertahan.

Aku melihat sosok Gilang, si makhluk halus kecil itu, ternyata berada di samping bapakku!

"Ngapain kamu kesini hah?!" ucapku spontan.

Dan ucapanku membuat Ustadz Furqon dan bapakku langsung melihat ke arahku dengan tatapan kaget dan heran.

"Heh?! Ngomong apa kamu Nis?! Gak sopan kamu!" ucap bapakku spontan.

"E-eh, anu! Em... Bu-bukan maksud aku Pak! Em... Anu..."

Aku langsung salah tingkah, terbata-bata ucapanku, aku sudah langsung menyadari sudah keceplosan berbicara dengan sosok Gilang. Padahal Ustadz Furqon dan bapakku tak bisa melihat sosoknya.

"Gak sopan kamu ngomong begitu! Ustadz Furqon cuma mampir sebentar habis ke warung kok! Malah kamu tanya kayak gitu?!"

Bapakku menjadi tampak marah wajahnya.

"Eh, bukan maksud aku kayak gitu Pak, bukan! Maafin Nisa Pak..." ucapku yang kini menjadi serba salah. Masih berdiri sambil memegangi alat-alat bersihkan rumput milik bapak.

"Em... Pak, saya langsung ke rumah ya, udah ditungguin pastinya sama istri tabung gasnya... Assalamu'alaikum..." kata Ustadz Furqon yang langsung saja berjalan pergi, tatapan kedua matanya jadi terasa tak enak bagiku.

Aku yang merasa bersalah langsung berniat meminta maaf...

"Em, anu, Ustadz... Aduh... Bukan maksud saya buat---" belum selesai aku bicara dengan Ustadz Furqon, bapakku langsung menyela...

"Udah! Diam kamu! Gak sopan!" bentak bapakku.

"Hah? Bukan begitu Pak... Nisa gak---" lagi-lagi bapakku menyela perkataanku.

"Masuk sana! Masuk!"

"Em... Pak... Dengerin aku dulu..."

"Anak gak tau diri! Mulut lancang kamu! Masuk!!!"

Bapakku membentak lebih keras, sambil tangan kanannya memegang pinggang dan tangan kirinya menunjuk lurus ke arah rumah.

Namun... Kini...

Aku tak lihat lagi sosok Gilang yang barusan nampak di mataku...

Aku berjalan masuk ke dalam rumah dengan perasaan bersalah pada Ustadz Furqon, merasa takut dengan bentakan bapakku, dan bercampur dengan rasa geram dengan sosok makhluk halus kecil itu yang ternyata kini semakin jahil menggangguku!

1
Akbar Aulia
Nisa Baek" ya disana nanti
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
tinggal nunggu keberangkatan
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
sepertinya bisa nanti akan menetap di Jawatimur sama iko
Ayuk Witanto
Alhamdulillah di kasih ijin
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
pasti si iko ada rasa sama kamu nis
Ayuk Witanto
si Gilang minta di getok tuh...makin lama makin jail gak bisa di kasiani
Ayuk Witanto
bener2 si Gilang
Ayuk Witanto
kerasukan
Ayuk Witanto
si Gilang harus di musnahkan
Ayuk Witanto
si Gilang perlu di pulangkan
Ayuk Witanto
si Gilang ini meresahkan
Ayuk Witanto
kok agak aneh ya
Ayuk Witanto
rumahnya di pucuk
Ayuk Witanto
Risa sakit apa yah
Ayuk Witanto
mencurigakan...kok tau dayang putri
Ayuk Witanto
kok ngomongnya gitu si risa
Ayuk Witanto
pasti saudara pak Handoyo punya pesugihan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!