NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 : Kembali ke orangtua

Arinta tak menyadari kalau peristiwa kemarin akan menjadi sebuah malapetaka baginya. Keesokan pagi dia langsung di panggil ke ruangan atas dengan Melinda. Ya, keduanya dipanggil oleh Direktur dari perusahaan digital marketing itu. Sepertinya masalah dengan Alena kemarin sudah tersebar ke semua karyawan dan sampai ke telinga sang atasan.

Pasti ada yang melapor!

Arinta menahan geram di dalam hati ketika dirinya harus dihadapkan oleh Sutomo sang Direktur yang kini tengah menatapnya dan Melinda dengan wajah dingin. Namun, ia masih bisa bersikap tenang.

Berbeda dengan Melinda yang sedari-tadi terlihat gelisah. Wanita itu menunduk dengan jari-jari tangan yang saling bertaut dan bergerak-gerak tak nyaman.

"Duduklah kalian." Suara tegas Sutomo seperti menggetarkan hati keduanya. Tanpa banyak bicara baik Arinta atau Melinda segera mengikuti perintahnya.

"Apa kalian tau, kenapa tiba-tiba saya memanggil kalian kemari?" Tanyanya dengan tajam. Pandangannya seolah sedang menguliti kebohongan yang sedang ditutupi.

"Tidak, Pak...," balas Melinda masih menunduk. Ia menggeleng lemah dengan rasa khawatir.

"Saya tidak tau, Pak. Kalau ada kesalahan mungkin kami bisa perbaiki," ucap Arinta yang lebih tenang dari Melinda, bahkan ia terkesan tegas dan percaya diri tanpa ada gurat ketakutan di wajah atau dari nada suaranya.

Melinda dengan cepat mengangguk setuju, untuk memperbaiki apapun itu kesalahan yang diperbuat, selama itu masih bisa mempertahankan eksistensinya di perusahaan.

"Hah...." Sutomo tiba-tiba menarik napasnya panjang. "Sebenarnya kalian tidak melakukan kesalahan secara teknis dalam pekerjaan," ucapnya melanjutkan. Desahan napas keduanya terdengar. "Tapi, kalian melakukan kesalahan moral! Memalukan perusahaan!" Nada suaranya menjadi keras. Ia membentak Arinta dan Melinda yang langsung tersentak.

"Ma-maafkan kami, Pak Direktur!" Arinta dengan cepat memohon maaf. Bukan karena sadar dirinya salah karena perselingkuhan, tapi dia takut sang direktur marah.

"Iya Pak, kami minta maaf! Tolong jangan beri kami sanksi yang berat! Biar bagaimanapun kinerja kami dan hubungan sosial harus dipisahkan, tolong Pak Direktur bisa lebih bijak!" Melinda ikut menimpali. Dia memang pintar bicara untuk membuat sang Direktur ragu mengambil keputusan.

"Saya sudah membuat suatu keputusan untuk kalian...," ucap pria berusia 40 tahun itu dengan wajah serius.

.

.

Di sisi lain Alena hari ini terlihat agak pucat. Tubuhnya lemas seperti orang sakit. Wajar saja sih, karena sejak pulang kemarin dia belum makan apa-apa, ditambah dengan pikiran. Pasti tubuhnya sudah tidak kuat.

"Len...." Andini berjalan memasuki ruangan kamar. "Makan dulu, yuk. Gue udah beliin bubur tuh," ujarnya sembari mengajak Alena untuk ke depan.

"Gak deh...." Alena hanya menggeleng lemah.

"Ngomong apaan sih? Lu belum makan dari kemarin 'kan. Jangan ngaco ah!" Andini langsung ikut duduk di atas ranjang dan sedikit menarik tangan Alena agar dia mau bangun.

"Lu bukannya harus ke kantor ya?" Balas Alena sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Hari ini ijin dulu gue, takut lu di rumah ada apa-apa, nanti siapa yang bawa?" Jawab Andini yang jujur khawatir melihat kondisi temannya saat ini sudah seperti mayat hidup.

"Gue gak bakal kenapa-kenapa. Udah, lu kerja aja, gak apa-apa kok...," ucap Alena dengan suaranya yang sudah sangat lemah.

"Len, sebagai teman tolong sayangi diri lu sendiri! Makan ya? Dunia itu gak berakhir cuma karena Arinta selingkuh! Inget, masih ada Alea yang butuh elu. Kalau lu sakit siapa yang jagain dia?"

Alena pun terdiam setelah mendengar semua perkataan dari Andini. Ia seperti tersadar kalau semua yang diucapkannya itu benar. Terutama, bagimana Alea nanti kalau dia sampai jatuh sakit apalgi harus dirawat? Arinta belum tentu mau peduli. Dia terlalu sibuk mengurusi selingkuhannya itu.

"Makasih ya, Din...." Alena menatap sang teman dengan haru. Ia bergerak mendekati Andini yang duduk tak jauh darinya. "Lu emang temen terbaik gue...," ucapnya yang langsung memeluk Andini dengan erat.

"Sama-sama, Len...," balas Andini sambil menepuk-nepuk pelan punggung wanita yang sedang memeluknya. "Jadi, gimana? Mau makan, gak?" Tanyanya setelah melepaskan pelukan.

"Iya, yuk makan." Alena pun tersenyum dan mengangguk.

"Nah, gitu dong! Ini baru Alena yang gue kenal! Mental baja!" Seru Andini segera bangun dari tempat tidur dan menggandeng Alena keluar kamar menuju meja makan.

.

.

"Arrrghhh! Sialan!" Sementara Arinta di ruangan kerjanya tampak sedang marah-marah. Ia berteriak frustasi. "Siapa sih, yang berani melapor?!" Ujarnya dengan nada kesal. Napasnya sudah tak beraturan karena ledakan emosi.

"Sabar, kamu jangan marah. Nanti didengar sama karyawan di luar, mereka pasti senang," ucap Melinda mencoba menenangkan. Ia mengusap-usap lembut bahu pria itu.

"Pasti ada yang berusaha untuk mejatuhkan ku dengan cara licik seperti ini!" Geramnya sambil mengepalkan tangan lalu memukul meja. "Sekarang harus bagaimana? Hah...." Pria itu mengacak sedikit rambutnya.

"Tarik napas, oke..., kamu jangan terlalu terbawa emosi, nanti kena darah tinggi!" Melinda pun tampaknya gak menyerah berusaha membuat Arinta tenang di situasi kacau seperti ini. "Ayo, ikuti aku. Tarik napas dalam-dalam, lalu buang perlahan...."

Arinta melihat ke arah Melinda yang sedang memperagakan gerakan napas beberapa-kali dan tanpa sadar akhirnya ia pun mengikuti Melinda.

"Nah, betul. Ayo tarik napas lagi, hembuskan perlahan," ujar Melinda sambil tersenyum ketika Arinta mengikuti ucapannya.

"Perlahan, lalu buang...," ucap Arinta sambil mengikuti gerakan Melinda beberapa kali sampai merasa dirinya menjadi lebih tenang.

"Gimana? Merasa lebih baik?" Tanya Melinda saat melihat napas pria itu jauh lebih stabil dari yang barusan.

"Lumayan...," jawab Arinta mengangguk.

"Kamu tunggu di sini ya, aku ambilkan air hangat." Dengan itu Melinda pun berjalan keluar ruangan.

Arinta sempat menatap lamat punggung Melinda yang menjauh lalu menghilang dari balik pintu sambil memikirkan kelembutan wanita itu dan berpikir dalam hati, seandainya saja dia istri aku....

Tapi Arinta segera menyadari kesalahan berpikirnya, dan menepis ujaran batin itu dengan cepat. Gak, Melinda bukan istri aku, tapi Alena..., aku harus bisa melupakannya.

.

.

Wajah Alena tampak lebih cerah dan bersinar dibanding sebelumnya usai sarapan. Hal ini membuat perasaan Andini, serta Yani menjadi lebih lega.

"Kayaknya gue mau balik ke Bandung aja dulu," ucap Alena yang sepertinya sudah memiliki sebuah keputusan.

"Ke rumah orang tua lu?" Tanya Andini.

"Ya, gue butuh situasi yang lebih nyaman. Kalau di sini, gue takut Arinta bisa datang kapan saja," jawab Alena mengangguk mantap.

"Lalu, setelah itu?" Andini menatap dengan penasaran.

"Kemungkinan aku bakal ajukan gugatan cerai, Din...." Wanita itu tersenyum tipis, tampak pasrah dengan ketentuan nasibnya saat ini ke Maha pencipta.

"Len...." Andini langsung meremas tangan temannya itu. "Pokoknya gue akan selalu dukung apapun keputusan lu. Tapi inget ya, semu harus udah lu pikirkan matang, terutama untuk kebaikan Alea," ucapnya yang hanya bisa mendoakan yang terbaik.

"Iya, Din..., nanti gue bakal coba renungin lagi pas di bandung, sekalian masalah ini juga harus dibicarakan sama keluarga...," balas Alena yang tak mau gegabah. Ini menyangkut masa depan anak semata-wayangnya.

Bagaimana reaksi keluarga Alena nanti? Apakah perceraian menjadi keputusan final atau masih kah ada ruang untuk berdamai?

.

.

Bersambung....

1
falea sezi
author nya pro ke arinta tentang perselingkuhan ya kok kayak pro arinta hadehh peran Alena di buat jelek padhl uda di selingkuh in
Panda: kalau mengharapkan kisah wanita sangat baik tersakiti seolah olah dia suci ga pernah salah ini bukan novel yang tepat kak 🙏
total 2 replies
falea sezi
ini jg gatel amat ama duda hadeh duda tukang selingkuh aja di gamon in suami. gt buang ke sampah g usa di pungut
Cookies
alena klo msh egois bs di tinggal alea, ank ny lbh nyaman ma bpk ny
Panda: memang ada sifat keras berubah butuh waktu tinggal tunggu Aditya bersikap
total 1 replies
Isma Nayla
kok kesannya alena egois banget pantas sj klu mantan suaminya selingkuh.
rubah sifatmu lena jng sampai calon suamimu jg merasa tertekan oleh sifatmu
falea sezi: selingkuh itu laki nya aja doyan selangor woy
total 4 replies
Sunaryati
Dasar putri emang iri dan kau Alena rubah sikap keras kepala .
Panda: introspeksi buar Alena juga 👍
total 1 replies
Sunaryati
Semoga walao kau lebih muda kamu bisa melunakkan hati dan mencairkan sikap keras kepalanya. Sepertinya Putri iri.
Soraya
kurang suka sama karakter Alena
Panda: maapkeun 🙏🙏
total 1 replies
Soraya
buat bukti minta CCTV dr tokonya aja biar Arinta gak bisa ngelak
Soraya
mampir thor
Panda: terima kasih kakak sudah mampir
total 1 replies
Sunaryati
Jika ada yang serius untuk menjalin hubungan dengan kamu alangkah baiknya dekatkan dulu dengan putrimu
Sunaryati
Kamu juga salah paham Alina
Sunaryati
Putri tidak tahu yang sebenarnya terjadi tapi sudah berani ambil kesimpulan , kamu akan menyesal jika tahu kebenarannya
Panda: betul Putri emosi duluan
total 1 replies
Sunaryati
Mungkin putri tertarik dengan Arinya, apapun masalahnya jika selingkuh jadi solusinya, pelakunya tetep salah. Pasangan itu jika ada hal yang kurang berkenan dari pasangan sebaiknya dibicarakan, bukan mencari pelarian dengan selingkuh, seperti yang dilakukan Atinta
Panda: dia tersinggung sama Alena kak

padahal wajar Alena lagi emosional

kayak ga terima gitu putri nya
total 1 replies
Sunaryati
Menarik
Sunaryati
Kesalahan fatal yang merubah segalanya, bercerai, jauh dari anak dan jadi pengangguran
Panda: iya karena kasus skandal nya terekspos
total 1 replies
Sunaryati
Lebih cepat lebih baik Alena, keburu Arinya berubah pikiran karena sekarang jadi pengangguran
Sunaryati
Nah vidio tak senonoh kamu bersama selingkuhan kamu masih viral
falea sezi
punya anak gt uda tak. gampar bocah kok nyusain bilang aja bapakmu nguber lampir
Panda: sabaaar bun
total 1 replies
Sunaryati
Cara kamu seperti itu salah Alena, walau kamu benci pada Arinta, tapi juga berhak atas putrinya. Dia masih kecil jika kau keras Alea bertemu dengan ayahnya kau sendiri yang rugi, putrimu bisa membencimu. Kesalahan Arinta memang vatal, tapi Alea belum tahu. Biarkan mereka tetep berhubungan jelaskan jika sudah dewasa .
Panda: terima kasih sudah mampir 🙏

iya Alena hanya sedang emosional dia dan sedikit labil, semoga gak lama lama dia kayak gitu
total 1 replies
Anonymous
BOCIL GOBLOK DIEM LU .. BEBAN AMAT
Panda: tepok cayang ajaaa jangan dipites 😏

makasih kak sudah mampir 👍
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!