Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Kembali ke orangtua
Arinta tak menyadari kalau peristiwa kemarin akan menjadi sebuah malapetaka baginya. Keesokan pagi dia langsung di panggil ke ruangan atas dengan Melinda. Ya, keduanya dipanggil oleh Direktur dari perusahaan digital marketing itu. Sepertinya masalah dengan Alena kemarin sudah tersebar ke semua karyawan dan sampai ke telinga sang atasan.
Pasti ada yang melapor!
Arinta menahan geram di dalam hati ketika dirinya harus dihadapkan oleh Sutomo sang Direktur yang kini tengah menatapnya dan Melinda dengan wajah dingin. Namun, ia masih bisa bersikap tenang.
Berbeda dengan Melinda yang sedari-tadi terlihat gelisah. Wanita itu menunduk dengan jari-jari tangan yang saling bertaut dan bergerak-gerak tak nyaman.
"Duduklah kalian." Suara tegas Sutomo seperti menggetarkan hati keduanya. Tanpa banyak bicara baik Arinta atau Melinda segera mengikuti perintahnya.
"Apa kalian tau, kenapa tiba-tiba saya memanggil kalian kemari?" Tanyanya dengan tajam. Pandangannya seolah sedang menguliti kebohongan yang sedang ditutupi.
"Tidak, Pak...," balas Melinda masih menunduk. Ia menggeleng lemah dengan rasa khawatir.
"Saya tidak tau, Pak. Kalau ada kesalahan mungkin kami bisa perbaiki," ucap Arinta yang lebih tenang dari Melinda, bahkan ia terkesan tegas dan percaya diri tanpa ada gurat ketakutan di wajah atau dari nada suaranya.
Melinda dengan cepat mengangguk setuju, untuk memperbaiki apapun itu kesalahan yang diperbuat, selama itu masih bisa mempertahankan eksistensinya di perusahaan.
"Hah...." Sutomo tiba-tiba menarik napasnya panjang. "Sebenarnya kalian tidak melakukan kesalahan secara teknis dalam pekerjaan," ucapnya melanjutkan. Desahan napas keduanya terdengar. "Tapi, kalian melakukan kesalahan moral! Memalukan perusahaan!" Nada suaranya menjadi keras. Ia membentak Arinta dan Melinda yang langsung tersentak.
"Ma-maafkan kami, Pak Direktur!" Arinta dengan cepat memohon maaf. Bukan karena sadar dirinya salah karena perselingkuhan, tapi dia takut sang direktur marah.
"Iya Pak, kami minta maaf! Tolong jangan beri kami sanksi yang berat! Biar bagaimanapun kinerja kami dan hubungan sosial harus dipisahkan, tolong Pak Direktur bisa lebih bijak!" Melinda ikut menimpali. Dia memang pintar bicara untuk membuat sang Direktur ragu mengambil keputusan.
"Saya sudah membuat suatu keputusan untuk kalian...," ucap pria berusia 40 tahun itu dengan wajah serius.
.
.
Di sisi lain Alena hari ini terlihat agak pucat. Tubuhnya lemas seperti orang sakit. Wajar saja sih, karena sejak pulang kemarin dia belum makan apa-apa, ditambah dengan pikiran. Pasti tubuhnya sudah tidak kuat.
"Len...." Andini berjalan memasuki ruangan kamar. "Makan dulu, yuk. Gue udah beliin bubur tuh," ujarnya sembari mengajak Alena untuk ke depan.
"Gak deh...." Alena hanya menggeleng lemah.
"Ngomong apaan sih? Lu belum makan dari kemarin 'kan. Jangan ngaco ah!" Andini langsung ikut duduk di atas ranjang dan sedikit menarik tangan Alena agar dia mau bangun.
"Lu bukannya harus ke kantor ya?" Balas Alena sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Hari ini ijin dulu gue, takut lu di rumah ada apa-apa, nanti siapa yang bawa?" Jawab Andini yang jujur khawatir melihat kondisi temannya saat ini sudah seperti mayat hidup.
"Gue gak bakal kenapa-kenapa. Udah, lu kerja aja, gak apa-apa kok...," ucap Alena dengan suaranya yang sudah sangat lemah.
"Len, sebagai teman tolong sayangi diri lu sendiri! Makan ya? Dunia itu gak berakhir cuma karena Arinta selingkuh! Inget, masih ada Alea yang butuh elu. Kalau lu sakit siapa yang jagain dia?"
Alena pun terdiam setelah mendengar semua perkataan dari Andini. Ia seperti tersadar kalau semua yang diucapkannya itu benar. Terutama, bagimana Alea nanti kalau dia sampai jatuh sakit apalgi harus dirawat? Arinta belum tentu mau peduli. Dia terlalu sibuk mengurusi selingkuhannya itu.
"Makasih ya, Din...." Alena menatap sang teman dengan haru. Ia bergerak mendekati Andini yang duduk tak jauh darinya. "Lu emang temen terbaik gue...," ucapnya yang langsung memeluk Andini dengan erat.
"Sama-sama, Len...," balas Andini sambil menepuk-nepuk pelan punggung wanita yang sedang memeluknya. "Jadi, gimana? Mau makan, gak?" Tanyanya setelah melepaskan pelukan.
"Iya, yuk makan." Alena pun tersenyum dan mengangguk.
"Nah, gitu dong! Ini baru Alena yang gue kenal! Mental baja!" Seru Andini segera bangun dari tempat tidur dan menggandeng Alena keluar kamar menuju meja makan.
.
.
"Arrrghhh! Sialan!" Sementara Arinta di ruangan kerjanya tampak sedang marah-marah. Ia berteriak frustasi. "Siapa sih, yang berani melapor?!" Ujarnya dengan nada kesal. Napasnya sudah tak beraturan karena ledakan emosi.
"Sabar, kamu jangan marah. Nanti didengar sama karyawan di luar, mereka pasti senang," ucap Melinda mencoba menenangkan. Ia mengusap-usap lembut bahu pria itu.
"Pasti ada yang berusaha untuk mejatuhkan ku dengan cara licik seperti ini!" Geramnya sambil mengepalkan tangan lalu memukul meja. "Sekarang harus bagaimana? Hah...." Pria itu mengacak sedikit rambutnya.
"Tarik napas, oke..., kamu jangan terlalu terbawa emosi, nanti kena darah tinggi!" Melinda pun tampaknya gak menyerah berusaha membuat Arinta tenang di situasi kacau seperti ini. "Ayo, ikuti aku. Tarik napas dalam-dalam, lalu buang perlahan...."
Arinta melihat ke arah Melinda yang sedang memperagakan gerakan napas beberapa-kali dan tanpa sadar akhirnya ia pun mengikuti Melinda.
"Nah, betul. Ayo tarik napas lagi, hembuskan perlahan," ujar Melinda sambil tersenyum ketika Arinta mengikuti ucapannya.
"Perlahan, lalu buang...," ucap Arinta sambil mengikuti gerakan Melinda beberapa kali sampai merasa dirinya menjadi lebih tenang.
"Gimana? Merasa lebih baik?" Tanya Melinda saat melihat napas pria itu jauh lebih stabil dari yang barusan.
"Lumayan...," jawab Arinta mengangguk.
"Kamu tunggu di sini ya, aku ambilkan air hangat." Dengan itu Melinda pun berjalan keluar ruangan.
Arinta sempat menatap lamat punggung Melinda yang menjauh lalu menghilang dari balik pintu sambil memikirkan kelembutan wanita itu dan berpikir dalam hati, seandainya saja dia istri aku....
Tapi Arinta segera menyadari kesalahan berpikirnya, dan menepis ujaran batin itu dengan cepat. Gak, Melinda bukan istri aku, tapi Alena..., aku harus bisa melupakannya.
.
.
Wajah Alena tampak lebih cerah dan bersinar dibanding sebelumnya usai sarapan. Hal ini membuat perasaan Andini, serta Yani menjadi lebih lega.
"Kayaknya gue mau balik ke Bandung aja dulu," ucap Alena yang sepertinya sudah memiliki sebuah keputusan.
"Ke rumah orang tua lu?" Tanya Andini.
"Ya, gue butuh situasi yang lebih nyaman. Kalau di sini, gue takut Arinta bisa datang kapan saja," jawab Alena mengangguk mantap.
"Lalu, setelah itu?" Andini menatap dengan penasaran.
"Kemungkinan aku bakal ajukan gugatan cerai, Din...." Wanita itu tersenyum tipis, tampak pasrah dengan ketentuan nasibnya saat ini ke Maha pencipta.
"Len...." Andini langsung meremas tangan temannya itu. "Pokoknya gue akan selalu dukung apapun keputusan lu. Tapi inget ya, semu harus udah lu pikirkan matang, terutama untuk kebaikan Alea," ucapnya yang hanya bisa mendoakan yang terbaik.
"Iya, Din..., nanti gue bakal coba renungin lagi pas di bandung, sekalian masalah ini juga harus dibicarakan sama keluarga...," balas Alena yang tak mau gegabah. Ini menyangkut masa depan anak semata-wayangnya.
Bagaimana reaksi keluarga Alena nanti? Apakah perceraian menjadi keputusan final atau masih kah ada ruang untuk berdamai?
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang