Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Carut marut
Jeon Hanah masih sibuk membaca map ditangannya, membiarkan gadis muda yang duduk di depannya. Dia memicingkan mata membaca laporan ditangannya,gadis ini bukan gadis biasa,itu benar ternyata.
"Emily rose... Umur dua puluh lima tahun. Dibesarkan di panti asuhan, menempuh pendidikan di kyoto university dengan beasiswa, terakhir bekerja menjadi sekretaris..dan berakhir menjadi simpanan putraku. Apa sebenarnya tujuanmu mendekati pewaris Jeon jika bukan karena uang..? Bukankah perusahaan tempat kamu bekerja gajinya besar..
Gadis di depannya tidak menjawab,masih menatap padanya seperti tidak takut dengan intimidasi yang Hanah lakukan.
"Minumlah.."ucap Hanah sembari menyesap tehnya.
Hanah memperhatikan setiap gerakan gadis di depannya. Cara gadis itu memegang cangkir,mengangkat dan menyesap teh benar-benar mengesankan.Gagang cangkir yang sejajar dengan tubuh,ibu jari dan telunjuk yang memegang gagang cangkir, sementara jari tengah menopang bagian bawah gagang. Luar biasa gadis itu tau etika minum teh sedetail itu.
"Aku memanggilmu kemari bukan untuk basa-basi,kamu tau putraku sudah punya anak dan istri. Jadi aku harap kamu segera pergi dan tidak perlu lagi berada di sekitar putraku. Apa yang kamu mau, katakan sekarang..Aku bisa memberikannya"
"Maaf sebelumnya kalau saya lancang nyonya.Betul saya memang memiliki hubungan dengan putra anda,kami saling mencintai jadi saya tidak bisa meninggalkan putra anda begitu saja. Saya juga tidak menginginkan apapun dari anda"
"Hahahhaha...Cinta...ckckck cinta katamu" Hanah bangkit dari duduknya dan bersandar di meja kerja suaminya.
"Kamu masih muda,jalan kamu masih panjang. Sedangkan putraku dia sudah empat puluh tahun, usia yang tidak pantas untuk sesuatu yang sia-sia .Kamu akan ditinggalkan setelah dia bosan, entah kembali pada istrinya atau mencari daun yang lebih muda. Kamu terlalu percaya diri"Hanah kembali tertawa.
"Saya akan menunggu sampai saat itu tiba,saya akan bertahan sampai Jeon sendiri yang pergi meninggalkan saya"sahut Emily sembari tersenyum.
Hanah menatap gadis keras kepala itu. Sungguh jika bukan karena gadis itu simpanan putranya mungkin Hanah akan menjadikan gadis itu seorang model atau bintang film. Wajah Emily begitu cantik,hidung Bangir dengan bibir tipis berwarna merah merona jangan lupakan mata coklatnya. Hanah salut dengan pilihan putranya benar-benar gadis yang sangat cantik.
Pakaian gadis ini juga tidak norak,dia memakai kemeja berwarna peach dari merk kenamaan di padu padankan dengan celana bahan hitam, rambutnya di cepol dengan poni yang sedikit panjang.Aksesori yang dia pakai hanya satu cincin berwarna silver di jari manisnya tapi dia terlihat elegan. Sebenarnya bukan apa yang dipakai untuk terlihat mewah dan elegan tapi siapa yang memakai.
"Jadi..kamu tidak akan meninggalkan putraku.?? walaupun jika putraku miskin"
Tanpa banyak berpikir Emily menganggukan kepalanya mantap. Hanah menghembuskan nafasnya kasar, sungguh dia kesal dengan sikap keras kepala gadis di depannya ini.
"Pergilah sebelum aku membuat hidupmu sengsara"
"Maaf nyonya,katakan itu pada putra anda. Saya akan senang hati jika putra anda sendiri yang mengatakan nya"
Brakkkkkk
Pintu terbuka dengan kasar, wajah Jeon terlihat sangat marah. Dia menatap ibunya sembari menghampiri Emily yang sedang duduk. Pria itu mengusap kepala Emily dengan lembut.
"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak ikut campur..Aku sudah dewasa,bisa memilih apa yang baik untuk diriku"matanya masih menatap nyalang pada Hanah.
"Kalau kamu memang merasa sudah dewasa,kamu tidak akan melakukan semua ini.. Berselingkuh di belakang istrimu bukan sikap yang dewasa Jeon Respati.."ucap Hanah kesal.
"Aku akan menceraikan Namira.."
"Apaaaaa...tarik ucapan kamu. Jika mertuamu mendengar semua ini,kamu akan habis"
"Aku tidak perduli, sungguh aku lelah hidup seperti ini.tolong mihhh.."sahut Jeon menghiba.
Emily menarik tangan Jeon untuk duduk bersamanya. Tangan lentik gadis itu mengusap bahu Jeon yang turun.
"Tinggalkan perempuan itu Jeon, kembalilah pada anak dan istrimu..Apa lagi yang kamu cari,kamu bukan anak kemarin sore lagi. Gadis di sampingmu itu masih muda,dia akan meninggalkanmu saat kamu sudah tidak menguntungkan lagi"
"Tidak... Emily tidak seperti itu.."ucap Jeon lagi.
Pukkkkk
Hanah melemparkan segepok uang dan beberapa kertas cek ke atas meja.. "Tulislah berapa yang kamu inginkan, ambil semuanya"
"Mamiiiiiii..."teriak Jeon frustasi.
"Kamu tau apa yang bisa aku lakukan pada kekasihmu...suruh dia pergi tanpa terluka..Dia hanya gadis tanpa asal-usul yang jelas,dia hanya gadis yang tumbuh di panti asuhan. Jika bukan karena beasiswa dia tidak akan sekolah ditempat yang bagus. Dia tidak cocok bersanding dengan keluarga kita"
"Mami..."Emily mengusap punggung tangan Jeon dengan lembut, menggelengkan kepalanya untuk menghentikan ucapan Jeon Respati.Walaupun hatinya sakit mendengar semua hinaan ibu kekasihnya tapi dia bisa menahan untuk tidak membalas ucapan wanita paruh baya itu.
"Sudahlah...jangan ribut,kumohon"bisiknya.
"Aku tidak mau kamu pergi" Emily tersenyum menganggukan kepalanya.
"Aku tidak akan kemana-mana,aku janji"senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Jeon Respati..kamu putraku,putra kebanggaan ku. Presdir yang disegani dan dikagumi seluruh penjuru dunia, beginikah kelakuanmu hanya karena cinta..teriakkan Hanah menggema.
"Nyonya..aku akan berlutut jika itu bisa membuat anda merestui hubungan kami". ucap Emily hendak bangkit dari duduknya.
"Tidak..jangan lakukan itu"tangan Jeon menahan tubuh Emily. Dia mengeratkan pelukannya pada pinggang Emily.
"Yang kalian lakukan itu salah, cinta kalian salah. Pengawal usir perempuan ini.."teriak Hana lagi.
Beberapa pengawal masuk hendak menarik tangan Emily tapi tangan besar Jeon segera menepis tangan mereka.
"Aku sendiri yang akan membawanya pergi,jangan coba-coba kalian menyentuhnya"Mata Jeon memerah menahan amarahnya.
"Jangan pernah kamu melangkahkan kakimu keluar dari sini, nanti kamu akan menyesal"ucap Jeon Hanah menatap putranya.
Jeon seolah tuli dengan gertakan ibundanya,dia menggandeng tangan Emily dengan erat. Membawanya keluar dari ruangan yang membuat mereka sesak. Sebelum keluar Emily membungkukkan badannya sopan,Hanah membuang wajahnya tak ingin melihat.
Netra itu memerah menahan tangis,dia tak menyangka akan sesakit ini melihat kerapuhan di wajah putranya. Sedari dulu Respati tidak pernah membantahnya, tapi sekarang dia berani menantang dan membentak dirinya demi gadis itu.
Keduanya hanya terdiam membuat suasana di dalam mobil semakin menyesakkan. Emily menatap ke arah jendela membiarkan pikirannya berkelana. Sungguh sakit sekali hatinya ketika mengingat lagi ucapan Jeon Hanah.
"Maafkan mami...Dia hanya menginginkan aku kembali pada keluargaku"Jeon membuyarkan lamunan Emily. Sebelah tangan pria itu menggenggam tangan Emily.Ibu jarinya mengusap punggung tangan gadis itu.
"Sayang..."
"Mungkin benar apa yang di ucapkan ibumu,kita tidak bisa bersama. Mungkin kamu bisa mundur sekarang, sebelum semuanya terlambat".
Jeon menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba. Untung saja mereka bukan di jalanan yang ramai.
"Apa kamu sudah gila.."teriak Emily karena terkejut.
"Iya...aku gila,aku akan gila kalau kamu juga mengatakan itu padaku.Cukup orang lain yang tidak percaya pada hubungan kita,kamu jangan"
Emily mendengus memalingkan wajahnya,dia tidak ingin terlihat kacau di depan Jeon. Pria itu kembali mengendarai mobil karena dia tau gadis di samping nya tak ingin lagi berdebat dengannya.
"Maafkan aku sayang..."ucap Jeon lirih.