Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Restoran ramen di lantai tiga itu cukup tenang dengan pencahayaan temaram yang nyaman. Aroma kaldu gurih yang mengepul dari mangkuk-mangkuk besar di depan mereka sukses membangkitkan selera makan. Bunda duduk di sisi meja yang sama dengan Amara, sementara Nicholas duduk tepat di hadapan Amara.
Setelah perdebatan singkat mengenai menu, akhirnya tiga mangkuk ramen spesial dengan extra topping tersaji. Amara, yang memang merasa lapar setelah "perang" dengan soal-soal simulasi, langsung menyantap ramennya dengan lahap. Baginya, makanan enak adalah obat paling mujarab untuk otaknya yang penat.
Amara menyeruput kuah merah pedas itu dengan antusias. Ia tidak sadar bahwa cara makannya yang bersemangat—dan sedikit ceroboh—membuat sisa kuah dan sedikit saus kental menempel cukup banyak di sudut bibir kanannya.
"Pelan-pelan, Ifa. Nggak akan ada yang minta ramen kamu," goda Bunda sambil terkekeh melihat anak bungsunya makan dengan pipi menggembung.
Amara hanya bergumam tidak jelas sambil terus mengunyah. Ia terlalu fokus pada rasa gurih di lidahnya.
Nicholas, yang sejak tadi lebih banyak diam dan hanya memperhatikan Amara, mendadak berhenti menyumpit mie-nya. Matanya tertuju pada noda saus merah di sudut bibir Amara. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nicholas meraih selembar tisu dari kotak di tengah meja.
Sebelum Amara sempat bereaksi, tangan besar Nicholas sudah terulur ke arah wajahnya. Dengan gerakan yang sangat lembut dan telaten, Nicholas mengusap sudut bibir Amara, membersihkan noda saus itu dengan sekali usap.
Waktu seolah berhenti bagi Amara. Ia membeku dengan sumpit yang masih menggantung di depan mulutnya. Matanya membulat menatap Nicholas yang jaraknya kini sangat dekat. Nicholas tidak terlihat canggung; ekspresinya tetap tenang, namun sorot matanya menunjukkan perhatian yang sangat dalam.
"Makan tuh pelan-pelan. Belepotan semua," bisik Nicholas pelan, suaranya rendah namun terdengar hangat.
"Aaaaaa! Manis sekali!" Bunda tiba-tiba memekik senang sambil menepuk kedua tangannya, membuat beberapa pengunjung di meja sebelah menoleh.
Wajah Amara seketika memerah padam, lebih merah dari kuah ramen yang ia makan. Ia segera menjauhkan wajahnya dari tangan Nicholas dan menatap Bundanya dengan tatapan protes.
"Bunda! Apaan sih! Nggak usah lebay deh!" seru Amara dengan suara tertahan karena malu. "Cuma ngelap doang, bukan lagi syuting drama Korea!"
Bunda justru makin tertawa, wajahnya berbinar-binar penuh godaan. "Lho, habisnya kalian lucu sekali. Nicholas ini perhatian ya, Ifa saja yang terlalu cuek."
Nicholas hanya tersenyum tipis—senyum yang penuh arti—lalu kembali menyantap makanannya seolah tidak terjadi keributan kecil barusan. Namun, Amara bisa melihat telinga Nicholas juga sedikit memerah.
Sisa waktu makan siang itu diisi dengan obrolan ringan, di mana Bunda lebih banyak melontarkan pertanyaan kepada Nicholas. Amara hanya bisa menunduk dalam, mencoba fokus menghabiskan ramennya meski hatinya sedang tidak keruan.
"Jadi, Nicholas ini ambil jurusan Teknik apa?" tanya Bunda.
"Teknik Sipil, Tante. Seangkatan sama Ryan," jawab Nick sopan.
"Wah, hebat ya. Susah tidak kuliah di sana? Bunda dengar anak teknik itu sibuk sekali, jarang ada waktu buat jalan-jalan atau sekadar ke mall begini," pancing Bunda.
Nicholas melirik Amara sebentar sebelum menjawab. "Memang sibuk, Tante. Banyak tugas gambar dan praktikum. Tapi kalau untuk hal yang penting, selalu ada waktu kok."
Amara hampir tersedak telur puyuhnya. Ia tahu "hal yang penting" yang dimaksud Nicholas adalah dirinya. Ia ingin sekali menendang kaki Nick di bawah meja, tapi ia takut salah sasaran dan malah menendang kaki Bundanya.
"Pantas saja Ryan sering cerita kalau Nicholas ini paling bisa diandalkan," puji Bunda lagi. "Kapan-kapan main ke rumah lagi ya, Nak. Nanti Bunda masakkan semur jengkol kesukaan Ryan, kamu suka juga tidak?"
"Suka sekali, Tante. Terima kasih tawarannya," jawab Nick dengan sopan santun yang sempurna, membuat nilai plusnya di mata Bunda semakin melonjak.
Setelah selesai makan dan membayar (yang tentu saja didebatkan karena Nicholas bersikeras ingin membayar namun Bunda menolak keras), mereka berjalan menuju area parkir.
"Ifa, kamu pulang bareng Nicholas saja ya? Bunda mau mampir ke rumah Tante Sari sebentar, searah dengan mall ini tapi Bunda pulangnya mungkin agak malam. Daripada kamu ikut Bunda nanti capek nunggu," ujar Bunda tiba-tiba saat mereka sampai di depan mobil Bunda.
Amara melotot. "Lho? Kok gitu, Bun? Aku pulang sama Bunda aja, aku nggak capek kok!"
"Nggak bisa, Ifa. Tante Sari itu kalau sudah ngobrol bisa berjam-jam. Kasihan kamu nanti nggak bisa belajar UTBK. Nicholas, tidak keberatan kan antar Ifa pulang?"
"Sama sekali tidak, Tante. Motor saya juga sudah siap," jawab Nick dengan sigap.
Bunda memberikan kedipan mata rahasia pada Amara sebelum masuk ke mobilnya. "Hati-hati ya kalian. Nicholas, titip Ifa ya!"
Mobil Bunda meluncur pergi, meninggalkan Amara dan Nicholas berdiri berdua di area parkir yang luas itu. Hening sejenak menyelimuti mereka. Amara merasa ingin menghilang ke dalam beton parkiran saja.
"Masih mau marah atau mau naik?" tanya Nicholas sambil mengeluarkan kunci motornya.
Amara mendengus keras. "Aku terpaksa ya! Awas kalau Kakak macem-macem."
Nicholas tidak menjawab, ia justru menyerahkan helmnya pada Amara. Saat Amara hendak mengambilnya, Nicholas menarik kembali helm itu sebentar, membuat Amara menoleh bingung.
"Amara," panggil Nick. Kali ini ia memanggilnya dengan nama lengkap, sesuai permintaannya kemarin.
"Apa?"
"Makasih buat hari ini. Makasih udah bolehin gue duduk bareng lo sama Bunda," ucap Nick tulus.
Amara terdiam. Ia melihat Nicholas yang sekarang jauh lebih menghargainya. Perasaan kesal yang tadi ia rasakan perlahan mencair. Tanpa sadar, Amara tersenyum tipis, sangat tipis hingga mungkin Nicholas tidak menyadarinya.
"Udah, ayo pulang. Aku mau lanjut ngerjain soal simulasi," gumam Amara sambil memakai helmnya.
Nicholas tersenyum puas. Ia menyalakan mesin motornya, membiarkan Amara naik dan memegang pundaknya ragu-ragu. Kali ini, perjalanan pulang terasa jauh lebih tenang. Tidak ada lagi aksi kejar-kejaran atau paksaan. Hanya ada dua orang yang sedang mencoba memahami arti dari sebuah kehadiran.