NovelToon NovelToon
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Antagonis / Fantasi Wanita
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Riyana Biru

"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"

Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.

Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.

Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.

Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan yang Mengusik

Setelah pertempuran sengit melawan lilitan kain jarik di dalam bilik bambu yang pengap, Rosie akhirnya menyerah pada bantuan Gendis. Tangan Gendis yang cekatan menarik dan melilitkan kain itu di pinggang Rosie dengan sangat kencang, memberikan rasa aman sekaligus sesak yang baru.

Rosie melangkah kembali menuju bangunan utama dengan perasaan dongkol. Kakinya masih harus beradaptasi dengan cara berjalan kecil agar kainnya tidak lepas lagi.

Begitu dia menginjakkan kaki di area dapur yang berdekatan dengan ruang tengah, suara lengkingan Citra langsung menyambutnya seperti petir di siang bolong. Wanita itu berdiri berkacak pinggang dengan wajah yang merah padam.

"Merah! Ke mana saja kamu? Ibu sudah cemas setengah mati mencarimu ke seluruh penjuru rumah!" teriak Citra sambil menghampiri Rosie dan memegang kedua bahunya dengan kasar.

Rosie menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kaget.

"Maaf, Ibu. Aku tadi enggak tahan lagi, jadi aku pergi ke toilet, eh, tempat pembuangan," jawab Rosie mencoba menggunakan nada bicara yang lebih tenang.

"Ucapanmu masih kacau saja, Merah. Pasti karena panas di kepalamu belum benar-benar pulih, anakku," ucap Citra sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Rosie dengan raut cemas.

"Ibu, aku udah sembuh kok. Maksudku, aku sudah dalam keadaan yang sangat baik. Aku hanya ingin keluar sebentar," balas Rosie sambil melepaskan pegangan ibunya dengan halus.

"Keluar? Hari sudah gelap gulita, Merah! Untuk apa keluar? Tidak baik bagi seorang anak perempuan bangsawan pergi keluar rumah di waktu seperti ini," cegah Citra dengan nada yang mutlak tidak bisa dibantah.

Rosie merengut pelan. Dia memang ingin keluar hanya untuk membuktikan apakah di luar sana benar-benar dunia lain yang luas atau hanya sebuah desa terisolasi yang sedang mengikatnya dalam kegilaan ini.

Namun, melihat tatapan Citra yang mulai menajam, dia sadar bahwa melawan sekarang hanya akan membuatnya diseret kembali ke tempat tidur.

"Baiklah, aku mengerti," gumam Rosie akhirnya mengalah.

"Bagus. Sekarang ikut Ibu ke ruang tengah. Perjamuan makan malam sudah siap," ajak Citra sambil menggandeng tangan Rosie menuju sebuah area yang dialasi karpet pandan halus.

Di sana, berbagai macam hidangan sudah tersaji di atas piring-piring tanah liat yang dialasi daun pisang. Aromanya kuat, perpaduan antara rempah-rempah segar dan nasi hangat.

Citra duduk bersila di lantai dengan anggun dan Rosie pun mengikuti. Meskipun dia harus berjuang keras agar lututnya tidak menabrak piring karena kain jariknya yang sangat ketat.

Beberapa pelayan, termasuk Putih, berdiri sigap di sekitar mereka. Putih melangkah maju dengan gerakan yang sangat halus, mulai mengambilkan nasi dan lauk-pauk ke dalam piring Citra dan Rosie.

Penampilan makanan itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hidangan tradisional di jaman modern, hanya saja wadah dan suasananya yang terasa sangat kuno.

"Putih, kenapa kamu enggak duduk aja di sini?" tanya Rosie tiba-tiba.

Putih yang sedang menyendokkan sayur langsung mematung. Sendok kayu yang dipegangnya nyaris merosot. Dia menoleh ke arah Rosie dengan tatapan bingung dan ketakutan yang mendalam.

"Maksud Nona?" tanya Putih dengan suara yang berbisik.

"Maksudku, duduklah bersama kami. Biar kita semua bisa mengambil makanan sendiri-sendiri. Itu akan jauh lebih seru," lanjut Rosie sambil menatap para pelayan lain yang berdiri di sudut ruangan. "Kalian juga, Laras, Gendis, Melati, ayo makan ramai-ramai di sini! Makin ramai makin asyik, kan?".

Rosie sempat melihat seorang wanita yang lebih berumur. Perempuan itu selalu berada di dekat Citra. Baru saat ini Rosie menyadari keberadaannya, meski dia tidak tahu siapa namanya, sebab tidak satu pun memanggil atau menyebutnya. Meski begitu, wanita itu tetap ikut diajak.

Dia hanya menatap dengan wajah datar, duduk bersimpuh tidak jauh dari Citra, seolah kehadirannya memang sudah sewajarnya ada di sana.

Suasana ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin. Laras dan Gendis justru melangkah mundur dengan wajah pucat, seolah-olah Rosie baru saja mengancam akan menghukum mereka. Sedangkan Melati kebingungan.

Mereka berpikir ini hanyalah siasat baru dari Merah agar mereka melakukan kesalahan sehingga Citra punya alasan untuk memarahi mereka. Citra meletakkan piringnya dengan suara yang cukup keras hingga terdengar denting tanah liat.

"Apa yang kamu katakan itu tidak masuk akal dan mencoreng martabat, Merah! Jangan bicara sembarangan!"

Rosie tersentak. "Emangnya kenapa? Kita kan cuma makan bersama," belanya.

"Tidak ada pelayan yang boleh makan bersama majikannya di kediaman ini!" tegas Citra dengan mata yang berkilat marah. "Mereka hanya boleh memakan sisa dari apa yang sudah kita santap. Itu adalah aturan yang sudah turun-temurun!"

Citra menunjuk ke arah Putih dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin emas. "Terlebih lagi Putih. Dia bukan bagian dari darah keluarga kita. Di rumah ini, dia hanyalah kasta terendah, seorang pelayan yang harus tahu diri di mana tempatnya berdiri. Jadi, berhenti bersikap tidak masuk akal, Merah!"

Mendengar bentakan itu, Rosie secara refleks menundukkan kepalanya sebentar. Rasa takut yang berasal dari tubuh asli Merah seolah-olah masih tertinggal dan bereaksi terhadap amarah Citra.

Namun, akal sehat Rosie sebagai wanita modern segera mengambil alih kendali. Dia menatap piring di depannya yang baru saja diisi oleh Putih dengan berbagai macam lauk.

Sebuah ide muncul di kepalanya. Jika dia tidak bisa mengubah aturan rumah ini dalam satu malam, maka dia akan menggunakan aturan itu untuk mempermainkan mereka.

"Ibu, aku baru ingat sesuatu," ucap Rosie sambil memasang wajah yang tiba-tiba berubah menjadi jijik. "Aku tidak suka makan makanan yang sudah disentuh oleh tangannya. Maksudku, aku tidak suka makanan bekas suapannya."

Rosie mendorong piring penuh makanan itu ke arah Putih yang masih bersimpuh di lantai. "Nah, nafsu makanku jadi hilang. Putih, ambillah ini. Aku tidak mau memakannya lagi," lanjut Rosie.

Citra terbelalak, napasnya memburu. "Apa yang kamu katakan, Merah? Kamu menghamburkan makanan mahal ini?"

"Ibu, apa Ibu tidak sayang padaku?" tanya Rosie sambil memasang wajah paling memelas yang dia bisa, menirukan gaya dramatis yang sering dia lihat di film-film kolosal. "Aku sudah bilang, aku tidak suka makan makanan hasil dari ambilan tangannya. Bau tangannya membuat perutku mual."

Rosie sedikit menggigit bibir bawahnya, merasa sangat lelah karena harus berpura-pura menggunakan bahasa yang terasa sangat kaku dan kuno di lidahnya.

Susah banget sih pakai bahasa jadul kayak gini! batinnya kesal.

Citra menatap Rosie cukup lama, mencoba mencari tahu apakah anaknya ini benar-benar gila atau hanya sedang kumat manjanya yang keterlaluan. Akhirnya, dia menghela napas panjang dan menoleh ke arah Putih.

"Baiklah! Putih, habiskan makanan itu sekarang juga! Jangan sisakan satu butir nasi pun di piring kakakmu!" perintah Citra dengan nada yang dingin.

"Baik, Nyonya Besar," jawab Putih dengan suara yang bergetar.

Dia mengambil piring itu dan meletakkannya di atas lantai tanah di dekat kaki, mulai memakannya dengan kepala yang tertunduk dalam, membiarkan rambutnya menutupi wajah yang tampak sangat tersiksa.

Rosie kemudian meraih piring kosong yang lain dan mengambil nasi serta lauk-pauknya sendiri dengan gerakan yang santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia sempat melirik ke arah Putih dan memberikan senyuman tipis yang sangat penuh arti.

Ini baru awalnya, Putih. Kamu enggak perlu merasa tersiksa lagi di rumah ini. Soalnya udah ada aku, batin Rosie sambil mulai mengunyah makanannya dengan nikmat.

1
lin sya
seorg pelayan tp pikirannya licik dan jahat berani adu domba putih dan merah alias rosie, klo putih bsa terpengaruh brrti bodoh, emg gk merasakan perubahan simerah yg mencoba utk mnjdi lbih baik krn karakter nya yg buruk
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 biasanya mudah terpengaruh kalo disbisikin mulu
total 1 replies
˚₊· ͟͟͞͞➳❥𝐋𝐢𝐥𝐲 𝐕𝐞𝐲༉‧₊⁴.
kapan sih topeng palsunya putih ketahuan sama rosie?
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 nanti
total 1 replies
sang senja
sebagai wanita modern jangan mau di tindas dong Rosi
sang senja
bagus Thor
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 boleh
total 3 replies
lin sya
thor koq updatenya lama trus cuma 1 bab sdikit kali, saya tdk puas bacanya /Smile/
lin sya: iya kk author 👍😄
total 2 replies
MayAyunda
keren 👍
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: makasih 😍
total 1 replies
Marine
semangat author
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 😍 makasih udh mampir
total 1 replies
Indira Mr
masuk ke tubuh bawang merah😭😭
Indira Mr
sama 😭😭😭
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: 🤭 sangat relate
total 1 replies
venezuella
jangan kontrak, ayo ikut aku pf lain yang lebih oke daripada ini, bawa cerita ini disana
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: iya udah
total 13 replies
Senjaa
d dunia iniii man phm sih ros 😭
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: /Chuckle/
total 1 replies
Senjaa
kurang bnyk up nya ni
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕: /Hey/
total 1 replies
Ŕ̳⃝îÿåñą Ƀ͋ïřū༽༽༽༼༐༐⃜⁕
Aku nitip note di sini yak!

Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh

Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/
Hani Hanita
Rosie walo keras tp ad luucux jg ya
𝒮𝑒𝑅𝒶𝐹𝒾𝑅𝓂
bru x ini nemu crita yg bagus bgt, lanjut thorrr
Senjaa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!