NovelToon NovelToon
Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Romansa
Popularitas:60.9k
Nilai: 5
Nama Author: megatron

Mengapa harus Likta yang mengandung calon penerus keluarganya?

Seumur hidup, Tiarnan tidak pernah terlena oleh sentuhan wanita. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama dengan Likta, benteng pertahanannya goyah. Hancur lebur oleh tutur laku wanita yang menyebabkan adik perempuan Tiarnan mengakhiri nyawa. Alih-alih membalaskan dendam, Tiarnan dan Likta malah tidur seranjang.


Akankah rumah tangga Tiarnan dan Likta bahagia setelah buah hatinya lahir ke dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megatron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 014: Afair

“Tiarnan, papa kira semua yang terjadi pada hari pertunangamu hanya kesalahpahaman. Di mana kamu memang belum siap menjalin hubungan serius, tetapi, ini apa?” berangnya, dengan mata cokelat pucat, Frits—ayah Tiarnan—tidak mengurangi tatapan tajam. Ingin menguak sendiri kebenaran dari sang putra, alih-alih percaya berita di dunia maya. “Rupanya papa telah gagal mendidikmu selama ini.” Pernyataan sang ayah laksana tamparan menyengat di hati.

Sudah sewajarnya, sang ayah marah besar terhadap Tiarnan, sebab selama ini selalu menanamkan nilai moral sedari dini. Hanya saja, dia kehilangan pegangan itu saat berada di dekat Likta, dirinya tidak lagi bisa mempertahankan kemampuan untuk tetap tenang dan terkendali. Hingga terjerumus dalam kesenangan yang bersifat duniawi.

Tiarnan mengenang kekecewaan sang ayah tadi siang, berusaha membujuk pria paruh baya itu agar tenang. Dengan hati-hati, dia memberikan pengertian kepada Frits, tanpa menyinggung akar permasalahan hingga afair antara dia dan Likta terjadi. Bahwa semua yang dia lakukan berkaitan dengan kematian Tanya.

Ragu-ragu Tiarnan mengetuk pintu dan sepertinya sang ayah telah merasakan kehadirannya. “Masuklah, jangan hanya berdiri di luar sana, Tiarnan!”

Kosen berukiran rumit dengan daun pintu tunggu itu berderit sewaktu Tiarnan membukanya. “Maaf, kukira Papa sedang sibuk dan tidak ingin ada yang ganggu,” ucapnya, sembari duduk di depan meja kerja Frits.

Bolpoin di genggaman berhenti menggores sejumlah laporan keuangan, Frits menarik napas dalam-dalam sebelum berujar, “Tidak mungkin ada waktu luang selagi cerobong asap masih mengepul.”

“Semoga selalu begitu, tetapi papa harus mengutamakan kesehatan, jangan bekerja terlalu keras. Sudah saatnya papa pensiun,” tutur Tiarnan, kemudian menambahkan. “Maaf ini tadi datang terlambat. Sebab Lik—”

Tiarnan mengigit pipi bagian dalam, terlalu sulit menganggap sang istri bukan bagian dari dirinya saat ini. Menilik ekspresi kaku Frits, dia tahu belum saatnya, menarik Likta ke dalam lingkungan keluarga. Bahkan tidak mungkin, setelah apa yang menimpa adiknya. Tidak pernah terbayangkan bagaimana reaksi sang ayah. Bisakah menerima kehadiran Likta? Bisakah dia menutup rapat-rapat rahasia kelam adiknya? “Ayo, Papa pasti belum makan karena nunggu kedatanganku.”

Tiarnan sudah berdiri, siap untuk keluar dari ruang kerja ayahnya. Namun, dari balik bahu, dia menyadari Frits masih bergeming, secara otomatis dia pun mengurungkan langkah. Sambil menerka-nerka apa yang ada di benak orang nomor satu dalam hidupnya. Dia berbalik badan, dengan tenang menunggu kegiatan pria paruh baya itu selesai.

Karena seingat Tiarnan, tadi siang tampak baik-baik saja, atau bisa jadi belum seratus persen menerima penjelasan darinya mengenai Likta. Apa masalah pribadinya mengganggu kelangsungan kerjasama bersama kolega sang ayah? Semisal ya pun, Tiarnan lebih dari mampu menyokong dana bagi perusahaan ayahnya.

Akan tetapi, baik Tiarnan ataupun Frits suka berjuang dengan cara mereka sendiri, tanpa bantuan dari masing-masing. Dan, cenderung menutupi permasalahan bisnis yang sedang menimpa.

Alis berwarna perak serta keningnya berkerut dalam, jelas ada yang mengganggu pikir pria paruh baya itu.

“Orang tua Violacea berkunjung tadi,” ungkap Frits, tenang, dia kembali menggerakkan bolpoin di atas lembar kertas rangkap tiga. “Duduklah, papa mau bicara sebentar.”

Napas Tiarnan seakan-akan tersekat, untuk apa lagi mereka datang. “Ya, aku mendengarkan.” Dia kembali menarik kursi lalu duduk.

“Kamu mencintai wanita itu?” Hening, Frits pun mengangkat kepala, bersandar perlahan sambil menumpukan kedua telapak tangan di atas perut. “Istrimu—apa kamu mencintai dia sebelum papa menginginkan perjodohan berlangsung? Mungkin sekarang kamu mulai mencintainya.”

“Belum.” Menjawab tanpa sadar, harus Tiarnan akui bahwa perasaan aneh di hatinya-lah yang mendorong Tiarnan menerima perjodohan itu. Dia terlalu enggan mengakui ketertarikan alami diri sejak melewatkan tiga hari bersama Likta. Merasa telah berlaku tidak semestinya, mangkir dari tujuan awal mencari keberadaan wanita itu.

Karena tidak ingin terus-terusan dibayang-bayangi Likta, Tiarnan menyetujui permintaan Frits dengan gegabah. Tanpa tahu hasil akhir dari perbuatan yang hanya dia lakukan sekali malam itu. Dasar pecundang, kamu melakukan itu dua kali! Akan tetapi, tidak mungkin—mengatakan fakta yang ada—sebab percintaan canggung tersebut membuat berang sekaligus ingin mengulang. Oh, sial!

“Belum?” beo Frits, dia menolak punggung dari sandaran, menatap Tiarnan dalam-dalam.

Kemudian, Tiarnan meluruskan dengan berujar, “Tidak, seperti yang sudah aku bilang, Pa. Pertemuan kami sangat-sangat singkat,” akunya sekali lagi. Sebatas tanggung jawab, itu yang coba dia tekanan berulang-ulang, terlepas dari gejolak jiwa yang menggelegak.

“Bagus, berarti tidak masalah kalau setelah bayi itu lahir kamu menikah dengan Violacea,” ujar Frits, cepat-cepat menghindari tatapan tajam Tiarnan. Dia segera merapikan berkas-berkas di atas meja.

“Menikah bagaimana?”

“Papa tidak terbiasa ingkar janji, kamu tau itu.” Hela napas kasar Frits terdengar sebelum menambahkan. “Violacea lebih dari yang dibutuhkan untuk melahirkan penerus keluarga kita, bibit, bebet, dan bobotnya jelas.”

Jemari Tiarnan mengepal kuat, hingga ujung-ujung kukunya menusuk telapak tangan. “Aku kira setelah memiliki cucu Papa tidak akan lagi mendesakku untuk menikah?”

“Memang, kalau dia terlahir dari wanita yang asal-usul keluarganya jelas!” tegas Frits, sebagai bentuk penolakan atas alasan apa pun yang keluar dari pemikiran sang putra.

Rahang Tiarnan mengeras, jantungnya berdetak cepat. Kengerian menggerayangi setiap sel di dalam tubuh. Dia sangat-sangat menghindari pernikahan, tersebab begitu membenci perceraian. Dan, takdir ini konyol sekali, tersebab dalam sesaat tatanan hidupnya berjalan berbanding terbalik dengan keteguhan selama ini.

“Dan, ini bukan pilihan. Hanya ada kata, ya,” ucap Frits, takut kalau-kalau Tiarnan menolak. “Dengan tetap menunjang kesejahteraan mantan istrimu nanti, semua tidak akan jadi masalah.”

“Ya, tentu, tidak jadi masalah.” Tiarnan yang belum sepenuhnya menyadari perasaan sayang terhadap Likta setuju saja, lagi pula sudah tertulis perihal perceraian dalam surat perjanjian. Bukan masalah bagi Tiarnan, dia sendiri tidak yakin bahwa anak di kandungan Likta buah hatinya.

Frits melihat berbagai emosi melintas di binar mata Tiarnan meski bergeming tanpa ekspresi, dia menepuk mantap pundak datar putranya. “Ayo, kenalkan papa dengan wanita itu, siapa namanya?”

“Likta,” gumam Tiarnan lalu menambahkan, “Likta Ardistya Limantreyana.”

“Oh, Likta, mari kita lihat seperti apa dia.”

Kini, langkah kaki pria beda generasi itu sejajar. Lengan Frits tersampir di pundak kokoh Tiarnan. Berjalan ke ruang makan sambil membahas perkembangan bisnis Masing-masing.

“Dia akan tinggal di sini atau ikut bersamamu ke Swedia?” tanya Frits.

“Dia ikut bersamaku,” jawab Tiarnan cepat, “Maksudku, eem, aku tidak kembali ke Swedia, Juana akan mengurus semua di sana. Aku hanya perlu memantau dari sini, lagipula saat ini aku akan membuka kantor cabang di Jepara.”

“Senang mendengarnya.”

1
Iza
/Facepalm/
Miu Nuha.
waahh.. perkembangan ceritanya sampe dari tahun ke tahun,, pasti hebat banget perjuangannya 🤗🤗 ,, semangat authorr...

ramainya moga nular juga di karya aku. bantu dukung ya di 'aku akan mencintaimu suamiku'
Mega: untuk mengumpulkan kata perkatanya lumayan sulit, Kak.
total 1 replies
Lia Mulyanti
kapan up date Author? ceritanya bagus ini...
Mega: Terima kasih sudah support tulisan recehku, Kak.
total 1 replies
Leonora
🐱
Leonora
menguras emosi
Leonora
amit-amit jngn smpe
Leonora
seddiiiihhh
Leonora
kecewa sedih
Leonora
setuju bri
Leonora
Nah lo
Leonora
Nah bnerkan
Leonora
Lucky adik Tiarnan?
Leonora
Fixs Seysan bukan suruhan Viola
Leonora
Tiarnan gak jelas gitu gak usah dipertahankan
Leonora
Diihhh
Leonora
Gk hbs fkri sama bapaknya
Mega
😁
litaacchikocchi
Komen judul: tpi ini novel /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Grin//Grin//Grin/
Mega: Yah begitulah, Terima kasih sudah mampir
total 1 replies
Leonora
wajib baca wajib baca
Lia Mulyanti
kapan up lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!