NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3 : Emosi Alena meledak

Arinta pulang ke rumah pukul 20:00 lewat beberapa menit. Pria itu turun dari mobil dan membuka gerbangnya sendiri. Alena yang mendengar suara mobil sang suami dari arah depan bergegas keluar dan melihat mobil itu sudah masuk ke dalam pekarangan rumah.

Arinta turun dari mobil dengan senyum merekah dan memberikan bungkusan plastik kepada Alena.

"Aku bawa makanan buat kamu," ujarnya kepada Alena yang tampak murung. "Bawa ke dapur dulu, gih...," ucapnya lagi.

Alena tak berbicara apapun, dia hanya mencium tangan suaminya lalu mengangguk. Ia pun pergi ke dapur dengan bungkusan plastik yang terasa hangat, sementara Arinta berjalan ke depan untuk menutup pintu pagar.

Di dapur Alena segera membuka isi dari kantong plastik itu.

"Bakso...." Alena mengernyitkan dahi. Gak biasa-biasanya dia beli jajanan di pinggir jalan di luar.

Tapi wanita itu tak ingin terlalu memikirkannya, mungkin sang suami hanya sedang ingin mencoba hal baru. Alena pun segera meletakkan tiga bungkus plastik bakso itu ke dalam tiga mangkuk yang berbeda dengan sambal dan saos terpisah.

Alena meletakkan ketiga mangkuk itu di atas meja makan, lalu Arinta pun masuk ke dapur sambil melingkarkan handuk ke leher dengan kancing kemeja yang sudah terbuka semua, hendak mandi.

"Kamu makan saja sama Alea, dan itu bakso satu lagi buat Bi Yani, soalnya aku udah makan tadi di luar," ucap ya tanpa sadar keceplosan dan langsung masuk ke kamar mandi.

Seketika itu juga tangan Alena menegang saat memegang sendok nasi. Fokusnya langsung buyar.

Sudah makan di luar??? Batinnya langsung curiga dan hal yang lebih dipertanyakan lagi, Arinta makan di luar sendiri, atau pergi dengan orang lain? Perempuan kah?

Hatinya langsung tak nyaman dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang menjadi pikirannya sendiri. Ada kekhawatiran yang sulit ia tepis.

"Bu, itu nasinya mau ditaro di piring...?"

Suara Yani memecah lamunan Alena yang sedari tadi berdiam diri saja sambil memegang sendok penanak nasi sampai lupa dengan apa yang seharusnya ia lakukan.

"Eh, i-iya, Bi..., tolong ya...," ucapnya sedikit terkejut tadi dan meminta tolong bantuan Yani untuk menyiapkan nasi.

"Bi, itu yang satu untuk Bibi, saya mau ambil Alea dulu...." Yani hanya mengangguk mengikuti kata-kata sang majikan.

Alena lalu pergi keluar ruangan mencari Alea yang sedang duduk anteng di dalam pagar kecilnya dan bermain sendiri.

"Sayang kita makan Yuk," ujarnya dan segera menggendong si kecil dari dalam ruangan bermainnya.

"Alea mau main, Mih...," ucap si kecil sambil menunjuk ke bawah meminta diturunkan.

"Nanti main lagi, sekarang makan dulu, udah malam. Alea suka bakso 'kan?" Ia membujuk anaknya itu.

"Suka Mih!! Alea suka bihunnya!" Dengan semangat ia mengangguk.

"Nah, kita makan dulu, pakai bihun yang banyak, yuk kita ke dapur!" Alena menurun sang putri lalu menuntunnya berjalan ke dapur.

Ruangan makan yang menjadi satu dengan dapur yang luas sudah tertata oleh Yani. Alena kemudian mendudukkan Alea di atas bangku dan mengambil porsi nasi yang lebih sedikit untuknya. Dengan telaten ia memotong-motong daging bakso itu agar mudah masuk ke mulut, sementara si kecil sudah gak sabar dan memakan mie nya pakai sendok.

"Alea, jangan dulu, Mami lagi ngatur baksonya dulu." Alena dengan cepat mengambil kembali sendok dari tangan sang anak, meletakkannya ke mangkuk dan menggesernya agak ke tengah meja agar tak bisa dijangkau oleh Alea.

"Tapi Alea mau makan bihun, Mih!" Si kecil pun akhirnya merengek sambil menunjuk mangkuk bakso miliknya.

"Gak, kamu kalau makan bihunnya dulu nanti gak mau habisin nasi. Makan dulu bakso sama nasinya, baru bihun." Alena terlihat cukup tegas dalam mendidik Alea.

Gadis itu pun hanya bersunggut-sunggut sambil menatap ke arah meja makan.

"Aduh Alea anak Papih, kenapa?" Ujar Arinta yang baru saja keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada. Seakan lupa di rumah itu masih ada Yani, sang babysitter.

"Kamu apa-apaan sih?!" Kali ini Alena menatap gusar ke arah Arinta.

"Aku kenapa?" Tanya Arinta dengan bingung sementara Yani hanya bisa menunduk. Tak enak untuk melihat ke arah Arinta.

"Kalau keluar kamar mandi pakai baju, jangan handukan begitu saja!" Ujarnya jelas mengomel.

"Ya, aku langsung ke kamar," balas Arinta yang kemudian langsung berjalan keluar dari dapur.

Setelah mengeringkan tubuhnya dan berpakaian Arinta kembali lagi ke dapur. Dia dapat melihat Alena sedang mencoba untuk menyuapi Alea.

Gadis kecil tampak susah sekali untuk makan dan beberapa kali menggelengkan kepala ketika Alena mau memberikannya satu suapan.

"Alea, ayo buka mulutnya sayang, jangan bandel ya...." Alena tampak sabar dan membujuk Alea.

"Biarin aja dulu, Len..., dia masih mengunyah itu...," ujar Arinta dari arah belakang yang memperhatikan gerak mulut Alea.

"Kalau diturutin terus nanti kebiasaan dia...." Alena mendengus kesal dengan ucapan enteng Arinta. Dia gak tau karena selama ini gak pernah menjaga anak kecil. Anak-anak itu bisa sangat lama makannya, menguras emosi kadang-kadang, apalagi kalau kondisi hati dan pikiran sedang tak tenang atau rumit.

"Alea mau sama bihunnya!" Gadis kecil itu merengek sedikit.

"Mamih sudah bilang, makan bakso dulu sama nasi, baru bihun." Nada kesal mulai terdengar di telinga dan suaranya agak meninggi membuat gadis itu tersentak diam.

"Kamu kenapa sih? Alea cuma minta bihun, kasih aja sama nasinya sekalian, kenapa dibikin ribet." Arinta terlihat gusar dengan sikap Alena.

"Kalau kamu bisa, kamu saja yang suapi!" Alena mendadak meninggalkan ruangan makan begitu saja.

"Len...!" Ia berteriak memanggil sang istri, namun langkahnya tetap tak berhenti sampai memasuki ruangan kamar.

Yani yang sedang makan di sana pun dengan takut-takut berkata, "biar saya saja yang suapi Alea, Pak...."

"Gak perlu, biar saya saja. Kasihan kalau Alea malah ditinggal..., lebih baik kamu rapikan piring dan mangkuk kamu taro di tempat cucian piring," balas Arinta tegas.

"Baik, Pak...." Yani itu mengambil bekas makannya dan membawanya ke cucian piring untuk langsung dibersihkan.

Ckiiit...!

Arinta menggeser bangku di sebelah Alea dan duduk di sana. Gadis itu terdiam dan menunduk. Tangan kecilnya sedikit bergetar, mungkin karena kaget atau takut, atau mungkin bisa keduanya.

"Mamih gak marah sama Alea, dia marah Papih. Alea jangan takut ya...." Arinta menggenggam lembut tangan si kecil dan menenangkannya dengan suara lembut. Gadis itu hanya mengangguk pelan.

"Sekarang Alea makan ya? Tadi mau bihun? Nih, Papih kasih bihun yang banyak." Dia memamerkan satu sendok penuh bihun untuk menggoda selera makan anaknya kembali. Tapi Alea malah menggelengkan kepala.

"Alea makan bakso sama nasi aja. Bihunnya buang ajah...," ucapan itu terlontar dari mulut mungil Alea yang menandakan ia mengalami traumatik.

Arinta menarik napasnya dalam-dalam, merasa agak kasihan dengan anaknya. "Ya udah, Papih suapin ya...." Untungnya Alea mengangguk, tak menolak kehadiran Arinta.

.

.

Di luar dugaan gadis itu makan cukup cepat. Piring dan mangkuknya pun segera dibersihkan oleh Yani. Arinta tersenyum puas karena Alea sangat penurut dan patuh makannya tadi, sama sekali tidak membuat repot seperti yang dikatakan sang istri.

"Bi, temani Alea ya. Habis cuci piring ajak tidur...," ujarnya sambil mengelus rambut pendek Alea.

"Baik, Pak," balas Yani menoleh sedikit dan mengangguk.

"Alea, Papih mau ke Mamih dulu ya...." Gadis itu kembali mengangguk, kondisi mood-nya seperti masih belum stabil karena bentakan tak sengaja dari sang istri.

Arinta pun bergegas menyusul Alena yang berada di dalam kamar dan sudah berbaring di sana. Mungkin ia benar-benar kesal, tapi karena apa? Ia hanya menatap wanita itu dengan kebingungan.

Ia masuk ke kamar dan menutup pintu, lalu berjalan mendekati Alena yang ia yakin wanita itu tidak benar-benar sedang tidur.

"Len, kamu kenapa sih?" Tanyanya sambil duduk di pinggir ranjang kasur dan menoleh sedikit ke belakang.

Ranjang itu sedikit bergoyang karena Alena berbalik arah. Ia menatap tajam ke arah Arinta lalu bertanya, "kamu tadi makan di luar sama siapa?"

Arinta terdiam dan baru menyadari dia gak sengaja keceplosan tadi. Alena pasti curiga dan langsung mikir yang enggak-enggak (tapi bener).

Apakah Arinta akan jujur? Jawaban apa yang akan dia berikan pada Alena?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!