NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 05 - Garis Takdir

Siang dilamar, malam menikah dan keesokan hari dia harus ditinggal pergi. Secepat itu dunia Nadin berbalik, dan pelakunya kini tengah termenung menatap Nadin yang terbaring dari kejauhan.

Jangankan melakukan malam pertama, hendak mencumbunya saja Zain tidak punya rencana. Bukan karena tidak sudi, bukan pula dia benci, tapi dia tahu jika nekat melakukan hal semacam itu sama saja dengan membunuh istrinya.

Tanpa perlu dijelaskan Zain tahu sebesar apa trauma yang membekas dalam diri Nadin. Walau memang tidak sehisteris pertama kali, tapi ketika didekati Nadin masih terlihat bergetar, dan Zain sadar betul akan hal itu.

Usai puas memandangi Nadin, perhatian pria itu beralih pada layar ponselnya. Zain tersenyum kecut begitu menatap wajah si cuek yang terus mengabaikan pesannya sejak beberapa hari lalu. Entah sesibuk apa Jessica saat ini hingga menjawab pertanyaannya saja tak sempat, padahal akun sosial medianya tetap aktif.

Zain tidak ingin mempermasalahkan hal itu, dia berpikir positif dan mungkin saja Jessica tengah menikmati waktu bersama rekan-rekan dokternya di sana. Satu persatu Zain menggeser foto Jessica, wanita tercantik di matanya saat ini setelah Amara, sang mama.

Senyumnya manis, gelak tawanya terdengar begitu bahagia di salah-satu video yang dia unggah di akun pribadinya. Semakin lama dia pandangi, rasa bersalah terhadap wanita itu juga semakin nyata.

Matanya mengembun, Zain agak cengeng sebenarnya. Bahkan, dia nekat sampai mabuk kemarin malam lantaran merasa diabaikan Jessica yang sudah begitu lama tak bertemu. Sepele memang, hanya karena Jessica tak menanggapinya, Zain marah hingga mencari kesenangan bersama teman-temannya.

Begitulah awal petaka yang pada akhirnya membawa Zain pada garis takdir yang tak dia duga, menikahi Nadin malam ini. Kendati demikian, dia tidak menyalahkan Jessica, pria itu tetap merasa bersalah pada akhirnya.

Malam ini Zain masih melihat dengan jelas sebahagia apa Jessica dengan pilihannya. Menjadi dokter di salah-satu rumah sakit negara maju di usia muda telah dia gapai, dan sebagai pasangan Zain turut bangga.

Akan tetapi, Zain tidak dapat menjamin Jessica tetap sebahagia itu andai tahu jika dirinya telah menikah. Seketika, Zain menghela napas panjang seraya mengusap wajahnya.

"Maafkan aku."

Hanya kata itu yang Zain utarakan, hadirnya Nadin bukan termasuk bagian dari rencananya. Hanya saja, untuk lepas tanggung jawab juga tidak bisa, Zain akan merasa lebih berdosa andai tidak menikahinya.

Lama berselang, lamunan Zain buyar begitu menyadari pergerakan Nadin. Melihat sang istri yang berusaha bangun, Zain bergegas menghampirinya. "Mau kemana?"

Pertanyaan sederhana yang lagi-lagi membuat Nadin sedikit bergetar, tapi dia tidak menolak kala Zain menahan tubuhnya yang kebetulan masih terasa sedikit lesu.

"Ngigau?"

Nadin mendongak, walau pertanyaan Zain agak sedikit aneh, tapi pria itu masih menjawab serius. "Kamar mandi."

Tanpa bertanya dirinya bersedia dibantu atau tidak, Zain tetap menuntunnya untuk berjalan ke kamar mandi. Walau sebenarnya mungkin bisa, tapi dikhawatirkan sang istri jatuh atau semacamnya.

Begitu tiba di depan pintu, Zain juga cukup sadar diri dan tidak perlu menunggu diteriaki, dia menunggu di luar dengan sabar. Walau statusnya sudah jelas-jelas istri, tetap saja Zain tidak selancang itu.

Tak berselang lama, Nadin kembali dengan wajah yang tampak basah. Besar kemungkinan dia sengaja dan hal itu membuat Zain melayangkan protesnya. "Kenapa cuci muka?"

"Gerah," jawabnya singkat dan berlalu melewati Zain yang mengekor dan memantaunya dari belakang.

Hingga Nadin kembali berbaring, Zain terus awasi lantaran khawatir sang istri kenapa-kenapa. Malam ini memang keduanya belum banyak bicara, Nadin juga lebih banyak tidurnya sementara Zain yang tak bisa tidur terus terjaga hingga keesokan harinya.

.

.

Nadin tak tahu akan hal itu, dia pikir Zain istirahat juga setelah memeritnahkan dirinya tidur segera, nyatanya hingga matahari mulai meninggi dia belum tidur juga.

Padahal, jadwalnya cukup padat hari ini. Nadin tahu jika sang suami harus pergi ke luar kota seperti yang dia katakan kemarin, tapi pria itu masih meluangkan waktu mengantarnya pulang lebih dulu.

Tanpa mengeluh, Zain terlihat begitu tulus walau sesekali menguap di mengusap matanya. Sepanjang perjalanan dia berusaha untuk fokus, hingga tiba depan gang sempit yang dikelilingi penduduk nan padat di ibu kota, Zain terjaga sejaga-jaganya.

Tidak ada lagi rasa kantuk, matanya membola begitu Nadin benar-benar turun usai mengatakan jika mereka hampir tiba. "Kamu serius pulangnya kesini?"

"Iya, kamarku yang paling ujung ... kayaknya rada kotor bekas banjir kemarin, jadi Bapak nggak bisa kalau mau mampir."

"Hah?" Zain mengerutkan dahi, ucapan Nadin sedikit aneh terdengar di telinganya.

"Ma-maksudnya cukup antar sampai di sini, Bapak juga banyak kerjaan ... lagi pula bukannya Bapak sendiri yang bilang hari ini harus keluar kota?"

Diam, tidak ada jawaban dan hanya ada bisikan angin yang memecah keheningan. Entah kerasukan apa Nadin yang tiba-tiba kembali ke mode formal, padahal kemarin dia tidak begini. "Berhenti memanggilku begitu di luar, aku tidak setua itu sampai harus dipanggil bapak."

"Ehm, maaf."

Masih baru, jadi tidak apa dia melakukan kesalahan. Kembali fokus pada topik pembicaraan, Zain memerintahkan Nadin berkemas dan pindah segera.

"Hm? Kenapa begitu? Sayang uangnya, umi udah bayarin buat setahun," tolak Nadin tak bersedia jika harus pindah, dan hal itu jelas saja membuat Zain mengelus dada.

"Nanti aku ganti uangnya, kita cari tempat tinggal yang lebih layak dari tempat ini mau ya?" Sedikit lebih lembut, Zain merayu kali ini, tapi pendirian Nadin memang sekuat itu sialnya kemarin Zain iya-iya saja ketika sang istri mengatakan tetap ingin tinggal di sana.

"Kenapa tidak mau?"

"Di sini nyaman, dekat kampus jadi aku bisa santai dan ibu kostnya baik."

"Nyaman? Aku rasa tempat ini sangat sempit, rawan banjir lagi, apa nyamannya?"

"Banjirnya tidak tiap hari, hanya sesekali ... itu juga kalau sudah hujan deras."

"Sama saja, tetap tidak nyaman sepenuhnya."

Begitu banyak omelan Zain, tapi Nadin memilih mengabaikan sang suami dan tetap membuka kamarnya. Bagi Nadin, kamar itu sangat nyaman walau di mata Zain sempit atau semacamnya.

Saat ini Nadin lebih teguh pendirian, lagi pula andai pindah juga percuma, toh Zain harus pergi siang ini juga. Ketika masuk, Zain tampak memandang sekeliling ruangan, sebenarnya tidak begitu kecil, sangat cukup untuk berdua, dia saja yang berlebihan.

Juga, Nadin sempat mengatakan jika kost-nya kebanjiran, tapi nyatanya tidak begitu kotor, wajar saja jika Nadin sempat mengatakan ibu kostnya baik. Kendati demikian, tetap saja kamar Nadin terlihat apa adanya. Tidak ada fasilitas mewah di sini, hanya ada tempat tidur dan meja belajar di satu ruangan itu, sementara sisi kanan ada kamar mandi dengan ukuran kecil, seperti fasilitas kost-kostan pada umumnya saja.

"Dapurnya mana?"

"Tidak ada," jawab Nadin membuka tirai kamar agar cahaya yang masuk lebih sempurna.

"Lalu makanmu bagaimana? Beli?" terka Zain kini duduk di tepian tempat tidur demi memastikan seberapa nyaman kasurnya.

"Iya beli, aku tidak bisa masak soalnya."

Zain memijat pelipisnya, seketika dia mengingat ucapan dokter yang sempat memeriksa sang istri. "Pantas saja."

"Pantas? Apanya yang pantas?"

.

.

- To Be Continued -

1
Nurul Aisyah
nah loh ditagih kan wkwkwk 🤣
Zaara
aska bikin bengek mulu🤣🤣🤣
Zaara
serius q bacanya ngakak ga jdi sedih 🤣🤣🤣
Nurul Aisyah
cie cie wkwkwk
Bucinnya Baekhyun🐶
bener bener sih zain 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙩𝙥 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜...
mira maryati
kerennnn musibah membawa berkah 🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙚𝙩 𝙩𝙥 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙡𝙞𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙤𝙫𝙚𝙧 𝙠𝙚𝙥𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙜𝙖 𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨2𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙮𝙪𝙠𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙡𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝 𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞𝙣𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙤 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙣2 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙚𝙣 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙩𝙧𝙨 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙟𝙜𝙣 𝙖𝙥𝙖2 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨/𝙣𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙙 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙤𝙬𝙝 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙬𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙣𝙖𝙙.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙞 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙙𝙜𝙣 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙡𝙚𝙡𝙪𝙘𝙤𝙣 𝙖𝙥𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙪𝙩𝙤 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙪𝙠 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙥𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖... 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩𝙢𝙪 𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙤𝙨𝙚𝙣 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙠𝙝𝙡𝙖𝙠𝙢𝙪.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙧𝙥𝙪𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙩𝙥 𝙪𝙩𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙭 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙘𝙖𝙝 𝙮𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙞𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙬𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙘𝙤𝙠𝙡𝙖𝙩 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙚𝙠𝙣𝙮𝙖.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙨𝙚𝙧𝙚𝙢 𝙖𝙢𝙚𝙩 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.😄
NORA SAFITRI
oooooeh, Zain😍😍
Maya Mawardi
somplak emang
Maya Mawardi
mati kutu
Maya Mawardi
menarik dan menghibur banget
Maya Mawardi
ya ampuuun beneran pasangan somplak ini mah ketawa terus jadinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!