Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'
Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.
Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 : Kapal Aneh
...Happy Reading^^...
...💮...
Di dalam klinik Lorian & Lorie, lebih tepatnya Ruangan khusus Edelweiss Miravale. Suasana menjadi hening ketika Nona Muda Azalea Lorienfield meninggalkan ruangan dengan terburu-buru.
Gadis kecil yang merasa menjadi penyebab tingkah Azalea itu sedih. Bahkan dia sudah menangis
"Oh, sayang! Sayang! Kenapa kamu menangis?" Edelweiss bangkit dari duduknya untuk mendekati gadis kecil yang tengah menangis itu.
Sambil berlinangan air mata, dia menjawab. "Karena diriku Nona Azalea seperti itu. Karena melihatku Nona menjadi pergi dengan cepat,"
"Kenapa kamu menjadi merasa bersalah? Mungkin keponakanku hanya buru-buru. Dia ke sini hanya ingin melihat keadaan dirimu dan adikmu. Begitu sudah mengetahui bagaimana keadaan kalian, maka Nona Azalea harus segera pergi. Jadi, dia pergi tadi bukan karena dirimu, sayangku. Dia hanya terburu-buru saking paniknya," jelas Edelweiss sambil mengusap rambut gadis kecil itu dan menghapus air matanya.
Sebenarnya Edelweiss juga bingung kenapa sikap keponakannya begitu. Bahkan dia sampai tidak pamit padanya. Padahal Azalea tidak seperti itu, mau dia marah ataupun dia panik maka anak bersurai merah muda itu pasti selalu menyempatkan diri untuk pamit pada orang di sekitarnya terutama orang yang lebih tua darinya.
Tapi tadi, Azalea berubah total begitu melihat gadis kecil itu keluar dari kamar mandi.
"Tubuhnya tiba-tiba kaku, lalu Azalea mundur seolah melihat monster atau hewan yang dia hindari. Tapi kenapa dia menjadi hindari pada gadis ini? Padahal dia sendiri yang berniat menyelamatkan gadis ini dan adiknya" batin Edelweiss bertanya-tanya.
"Apa salahku ya potong rambut, Nyonya Edelweiss? Waktu aku tidak memotong rambut, Nona Azalea masih mau menyentuhku. Tapi begitu aku memotong rambutku, Nona Azalea jadi berubah begitu...Nyonya,"
"Belum lagi, wajahnya yang biasanya cerah dan cantik berubah menjadi pucat dan kaku. Itu karena melihat wajahku, Nyonya Edel!" gadis itu tampak sangat kesal karena tiba-tiba saja Nona yang menjadi penyelamatnya malah menghindar setelah melihat dirinya.
"Bukan begitu. Ah! Begini saja, aku punya ide. Bagaimana kalau kamu beli bunga kesukaannya Azalea?"
"Bunga kesukaan Nona Azalea?"
"Iya!"
"Bunga apa itu, Nyonya Edel?" pertanyaan polos itu membuat Edelweiss tersenyum manis.
"Bunga yang sama dengan namanya, yaitu bunga Azalea. Jadi kamu harus mencari bunga itu lalu berikan padanya,"
"Apa jika aku memberikan bunga itu, Nona Azalea tidak akan menghindariku?" ada binar-binar harapan di mata gadis kecil itu.
Edelweiss tidak tega membohongi gadis kecil yang menatapnya sambil berkaca-kaca dan pipi basah sehabis menangis. Tapi dia berharap keponakannya itu akan luluh dan berhenti menghindari gadis kecil tidak berdosa ini.
"Hei, kamu! Bisa kamu antarkan gadis kecil ini pergi untuk membeli bunga Azalea?"
"Bisa nyonya,"
"Ikutlah bersamanya,"
"Baik Nyonya Edelweiss!"
...💮...
Di depan Pelabuhan, acara pelepasan sedang berlangsung. Count Alder dan Count Muda Asher tengah memberikan pidato serta kata-kata penyemangat untuk para prajurit, para awak kapal dan kapten kapal. Mereka berdoa semoga pelayaran kali ini sampai tujuan dan mereka kembali pulang sampai selamat.
Azalea dan Countess Daisy berdiri bersama para warga yang menyaksikan acara itu, hanya saja kami berdiri agak menjauh dari warga sekitar dan dijaga oleh beberapa prajurit yang berdiri di belakang mereka.
Sebenarnya Azalea ingin membicarakan tentang penyihir bernama Kelly dan kakak kembarnya itu. Tapi acara telah dimulai.
"Kak! Aku ingin membicarakan sesuatu, hal ini berhubungan dengan masa depan yang akan datang. Anak itu-"
"Asher! Azalea! Acara akan segera dimulai! Ayo ke sini ikut Mama!" akan tetapi Daisy memanggil mereka sehingga Asher terpaksa menghentikan obrolan mereka.
"Mama memanggil!"
"Tapi kak-"
"Nanti!"
Sekarang Azalea cemberut menatap Asher yang masih sibuk dengan tugasnya.
"Sayang, jangan cemberut begitu!" tegur Mamanya dengan halus.
Azalea menghela nafas sebelum mengubah ekspresinya.
"Kapan Kak Asher selesai, padahal hal yang mau aku katakan ini penting untuk masa depan kita semua!" batin Azalea.
"Nak! Di sini Ibu menunggumu kembali! Pokoknya kamu harus pulang dengan selamat!"
"Pasti, Bu!"
Azalea menatap itu dengan pedih. Dia menjadi ingat bahwa karakter-karakter di sekitarnya ini bukan hanya seorang karakter tapi juga orang-orang yang hidup seperti manusia pada umumnya. Mereka memiliki keluarga, pasangan, anak. Mereka juga ada yang susah dan ada yang berkecukupan bahkan lebih seperti dirinya yang menjadi Nona Bangsawan. Azalea juga jadi teringat prajurit-prajurit yang gugur saat perampokan itu, walau Azalea tidak kenal mereka bahkan mungkin tidak pernah bertemu. Tapi dia merasakan kesedihan atas gugurnya mereka, bahkan merasa bersalah karena pastinya mereka memiliki keluarga yang menunggu mereka pulang ke rumah masing-masing.
"Jangan lupa makan yang cukup, jangan sampai sakit. Lalu pulanglah dengan selamat!" seru seorang perempuan hamil pada suaminya yang menjadi salah prajurit yang akan berangkat.
Lalu Azalea melihat sebuah keluarga kecil yang terdiri dari tiga orang.
Anak laki-lakinya berkata. "Ayah! Ayah cepat pulang ya, aku sama Ibu akan menunggu Ayah pulang. Lalu sesuai janji ayah, ayah pulangnya belikan aku boneka seperti temanku ya!" Ayah dan Ibunya tertawa mendengar perkataan polos putra mereka.
"Baiklah! Ayah janji bakalan pulang! Karena ayah sudah punya pekerjaan sekarang, jadi kita bisa pergi beli boneka yang kamu inginkan dan makanan kesukaanmu!"
Azalea bisa melihat binar-binar polos di mata anak-anak itu. "Wah! Janji!"
"Janji!"
Lalu Azalea juga melihat sepasang ayah dan anak laki-lakinya yang bercanda.
Bukan hanya para prajurit, tapi kru serta kapten kapal juga berpamitan dengan keluarga masing-masing.
Begitu banyak kehidupan dan keluarga yang dipertaruhkan dalam pelayaran kali ini.
"Mereka harus kembali dengan selamat!"
Beberapa menit kemudian semua orang yang akan ikut ke pelayaran itu segera menaiki kapal. Mereka yang ada di atas kapal berpamitan dan melambaikan tangan pada keluarga masing-masing.
Lalu kapal pun berangkat.
Mereka menatap kapal yang berangkat itu sampai kapal itu tidak terlihat lagi di mata kami.
Azalea menoleh pada Asher yang tampaknya selesai berbicara dengan orang lain, Azalea pun pamit kepada Mama untuk menemui Asher. "Mama, aku pergi ke Kak Asher dulu," Mama menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kak Asher!" panggil Azalea ketika sudah berdiri di belakangnya. Sang Count Muda membalikkan badannya ke sang Adik. "Ada apa?"
"Kita perlu bicara!"
Lalu tiba-tiba ada suara kapal besar yang membuat kami menoleh. Di sana terlihat kapal besar berwarna hitam.
"Kapal apa itu? Seingatku tidak ada kapal yang minta izin berlabuh di sini?" gumam Kak Asher yang dapat Azalea dengar.
Kapal itu tampak memaksa untuk berlabuh di sini. Tubuh kapalnya berdekatan dengan beton Dermaga Utama.
Terlihat Count Alder yang berjalan dekat dengan Kapal misterius tersebut, Countess Daisy pun mengikuti langkah suaminya di belakang. Asher pun ikut maju mendekat ke Kapal tersebut, jadi Azalea pun ikutan mendekat di belakang Kak Asher.
Lalu sebuah jembatan kecil di turunkan kapal itu dan keluarlah sebuah pria gemuk dengan kumis yang panjang. Senyumannya tampak sangat menjengkelkan bagi siapa pun yang melihatnya. Dia membawa sebuah kertas yang isinya seperti list.
"Ayo kita berbisnis, Tuan Count Lorienfield."
Azalea yang berdiri di belakang Asher menatap aneh pria asing tersebut.
...💮...
...Bersambung....
...Thanks For Reading My Story^^...
...Dipublikasikan pada tanggal 7 Febuari 2026....