"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Lagi
Tepat di atas lantai kayu yang telah digosok bersih, cahaya pagi memantulkan kilau yang tidak biasa untuk sebuah gubuk di tengah hutan hilir sungai.
Ararya mengerjapkan mata, merasakan denyut di pergelangan kakinya sudah tidak lagi membara seperti malam tadi. Dia mencoba menggerakkan jemari kakinya, rasa kaku itu masih ada, tapi racun ular yang sempat melumpuhkannya tampaknya sudah menyerah pada ramuan obat yang diberikan.
Dia bangkit perlahan, menyandarkan punggungnya pada pilar kayu yang terasa kokoh. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Semuanya terlihat sangat teratur. Akar-akar kering, dedaunan obat, dan peralatan dapur tersusun dalam barisan yang sangat rapi di rak bambu.
Ada tanda-tanda kecil yang digoreskan pada setiap wadah, seolah-olah setiap benda di sana memiliki alamat pastinya sendiri. Ararya belum pernah melihat gubuk rakyat jelata yang memiliki keteraturan sekelas gudang persenjataan istana.
"Udah bangun? Jangan banyak bergerak dulu kalau enggak mau alirah darahmu memompa sisa racun ke jantung."
Suara itu datang dari sudut ruangan. Rosie sedang berjongkok, sibuk menyortir gumpalan kapas hutan ke dalam beberapa keranjang bambu kecil. Dia tidak menoleh, jemarinya bergerak cekatan, memisahkan helai demi helai dengan presisi yang membuat Ararya teringat pada para penenun sutra terbaik di kerajaan.
"Terima kasih," ucap Ararya dengan suara serak. Dia mencoba berdehem untuk menjernihkan kerongkongannya. "Aku merasa jauh lebih baik. Kepalaku tidak lagi seberat semalam."
Rosie akhirnya menoleh, menyampirkan beberapa helai rambut hitamnya yang terlepas ke belakang telinga. Tanpa lapisan bedak dingin yang biasanya menutupi wajahnya.
Gurat kecantikannya terlihat sangat nyata di bawah cahaya pagi, meskipun ekspresinya tetap datar dan penuh perhitungan. "Ya iya lah. Prosedur P3K darurat yang aku terapkan kemarin udah sesuai standar keamanan. Nenek juga memberikan dosis ramuan yang tepat untuk menetralisir racunnya. Anggap aja kinerjaku dan Nenek sukses besar hari ini."
Ararya mencoba berdiri, meskipun kakinya masih terasa sedikit gemetar. Dia memegang dinding bambu untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Sebagai seorang pria yang terbiasa memimpin dan dilayani, dia merasa berutang budi, sebuah perasaan yang jarang dia alami terhadap orang asing, apalagi seorang wanita yang terus-menerus mengomelinya.
"Ini tempat tinggalmu?"
"Bukan, ceritanya panjang." Rosie menjawab datar.
"Sebagai bentuk terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku, aku akan mengantarmu pulang," ucap Ararya dengan nada berwibawa yang sulit dia tanggalkan. "Hutan ini tidak aman untuk wanita sendirian. Banyak jebakan liar yang tidak terlihat dan hewan buas yang mungkin masih mengintai di balik semak. Aku akan memastikan kamu sampai di tujuan dengan selamat."
Rosie menghentikan kegiatannya. Dia meletakkan keranjang bambu itu, lalu berdiri tegak dan melipat tangan di depan dada. Dia menatap pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sangat skeptis.
"Mengantarku pulang?" Rosie tertawa pendek, nada yang terdengar sangat meremehkan di telinga Ararya. "Maaf ya, Bapak. Saya terpaksa harus menolak tawaran itu mentah-mentah. Saya masih ada deadline beres-beres gubuk Nenek ini. Masih ada dua area lagi di bagian belakang yang belum ter-audit dengan benar. Kalau saya pergi sekarang, alur kerjanya bakal berantakan lagi dan semua usaha saya sejak kemarin jadi sia-sia."
Ararya mengernyitkan dahi. "Det ...? Audit? Bahasa apa yang kamu gunakan sebenarnya? Aku selalu mendengar kata baru, apa kamu bukan rakyat Indraloka?
Rosie membeku, dia bingung harus menjawab apa. Untungnya selama Rosie diam, Ararya memilih melanjutkan ucapannya.
"Aku menawarkan perlindungan, bukan sedang meminta pendapatmu soal merapikan barang."
"Intinya, pekerjaan saya belum selesai," sahut Rosie cepat, tidak membiarkan pria itu menyelesaikan kalimatnya. "Lagipula, Bapak ini bukan siapa-siapa bagi saya. Kita baru bertemu dua kali, dan keduanya dalam situasi yang sangat kacau. Menurut prosedur keamanan pribadi saya, sangat berbahaya kalau berjalan berdua dengan orang asing di tengah hutan yang sepi begini. Siapa yang bisa menjamin kalau Bapak bukan salah satu dari bagian sindikat pemburu ilegal itu?"
Ararya terpaku di tempatnya berdiri. Dia, seorang pria yang biasanya membuat banyak wanita tertunduk malu hanya dengan satu tatapan, atau membuat para putri bangsawan bersaing hanya untuk sekadar berjalan di sampingnya, baru saja ditolak secara terang-terangan. Rasa heran dan gengsi yang terusik bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
"Kamu menolak?" tanya Ararya, suaranya naik satu nada. "Biasanya, banyak perempuan yang bersaing hanya untuk berada di dekatku. Mereka akan merasa sangat terhormat jika aku menawarkan pengawalan."
Rosie mendengus, matanya berputar ke atas dengan ekspresi yang sangat tidak terkesan. "Wah, kepedean banget sih jadi orang! Bapak pikir saya bakal langsung terpesona dan merasa terhormat hanya karena Bapak bisa bawa busur panah dan punya tampang lumayan? Maaf aja ya, saya lebih menghargai keselamatan nyawa saya dan produktivitas kerja saya daripada sekedar tepe-tepe tidak jelas dengan orang asing. Status Bapak di mata saya sekarang hanyalah pasien yang baru sembuh, bukan pengawal bersertifikat."
"Kepedean? Apa itu artinya?" Ararya bertanya dengan nada kesal yang mulai memuncak. "Aku hanya bicara kenyataan. Dan berhenti memanggilku Bapak seolah aku ini orang tua yang renta!"
"Ya kalau enggak mau dipanggil Bapak, perbaiki sikapnya. Jangan merasa paling diinginkan sejagat raya," balas Rosie tidak mau kalah.
Pertengkaran itu semakin memanas saat keduanya berdiri berhadapan di tengah gubuk yang sempit. Ararya yang tidak terbiasa dibantah mulai merasa wanita di depannya ini benar-benar tidak memiliki tata krama, sementara Rosie merasa pria ini adalah tipe klien atau atasan yang paling dia benci di dunia modern, egois dan narsis.
"Cukup, cukup. Mengapa kalian ribut pagi-pagi begini sampai suara burung di luar pun kalah berisik?"
Nenek Galuh masuk ke dalam gubuk membawa mangkuk tanah liat berisi bubur hangat. Dia menatap kedua anak muda itu dengan senyum kecil yang terselip di wajah keriputnya. Nenek Galuh meletakkan mangkuk itu di atas meja kayu yang sudah bersih mengkilap hasil kerja Rosie.
"Cah Ayu ini benar, Tuan Muda," ucap Nenek Galuh sambil menatap Ararya. "Selama proses penyembuhanmu semalam, dia yang membantumu tanpa henti. Dia yang mengganti kompres di kakimu setiap satu jam sekali, memberikan ramuan obat dari arahanku dengan sangat teliti, bahkan dia tidak tidur hanya untuk memastikan napasmu tetap teratur. Dia menjaga keselamatanmu dengan caranya sendiri."
Ararya terdiam mendengar penjelasan Nenek Galuh. Dia melirik ke arah Rosie yang mendadak sibuk merapikan kain di sudut lain, seolah tidak mau mendengar pujian itu. Ada rasa sesal yang sedikit menusuk di hatinya karena telah bersikap terlalu sombong tadi.
"Aku tidak bermaksud meremehkan bantuanmu," ucap Ararya, suaranya kini melunak. "Aku berada di hutan ini karena sedang melakukan pemeriksaan. Aku mendengar ada banyak laporan tentang jebakan liar yang membahayakan warga, dan ternyata aku sendiri yang terperosok ke dalamnya. Aku hanya ingin memastikan tidak ada orang lain yang mengalami nasib yang sama."
Rosie berhenti bergerak, dia menghela napas panjang lalu berbalik menatap Ararya. "Jebakan itu emang berbahaya. Kemarin saya melihat ada tiga titik koordinat yang sangat enggak aman di dekat aliran sungai. Kalau Bapak memang lagi melakukan pemeriksaan, seharusnya Bapak memakai perlengkapan pelindung kaki yang lebih kuat, bukan hanya sandal kulit tipis kayak gitu."
Ararya mengangguk pelan, mengakui kebenaran kata-kata wanita itu. Dia teringat bagaimana mereka berdua harus berjuang menembus semak belukar saat Rosie memapahnya menuju gubuk ini semalam.
"Jadi, kita sepakat bahwa hutan ini memang area yang berisiko tinggi," ucap Rosie dengan nada yang lebih tenang, kembali ke mode managernya. "Karena itu, Bapak harus benar-benar pulih dulu sebelum kembali melakukan inspeksi. Jangan sampai Bapak pingsan lagi di tengah jalan dan membuat saya harus melakukan evakuasi darurat untuk kedua kalinya. Itu sangat tidak efisien bagi waktu saya."
Ararya hanya bisa mengembuskan napas panjang, merasa kalah telak dalam beradu argumen. Dia duduk kembali di atas tikar, menerima mangkuk bubur yang disodorkan Nenek Galuh. Sambil menyuap bubur hangat itu, dia terus memperhatikan Rosie yang kini kembali sibuk dengan jadwal beres-beresnya.
Dia menyadari bahwa wanita ini bukan hanya unik karena bahasa aneh yang digunakannya, tapi karena dia memiliki keberanian yang murni, yang tidak didasarkan pada rasa takut atau keinginan untuk mencari perhatian.
Ararya merasa dunianya yang kaku di istana mulai terasa sangat membosankan jika dibandingkan dengan dinamika yang dibawa oleh wanita asing ini.
Nenek Galuh yang memperhatikan dari sudut ruangan hanya tersenyum tipis. Dia tahu bahwa takdir sedang menenun benang-benang yang sangat kuat di antara mereka berdua, sebuah hubungan yang berawal dari panah yang melesat dan racun yang menyatukan mereka di bawah atap rumbia yang bersahaja ini.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..