“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09. Antara Ingatan & Mimpi
Saat Elena dan Ivory akhirnya membelok ke gang menuju rumah, suara pintu besi berderit samar di belakang mereka, tertutup kembali oleh angin. Mereka tak menoleh. Mereka terlalu sibuk memikirkan mandi air hangat dan tempat tidur. Di sudut gang yang remang, sosok itu berhenti. Lalu dalam sekejap menghilang dalam terpaan angin.
...****************...
Kabut malam menggantung rendah di atas kota, menyelimuti atap-atap gedung dengan dingin yang semakin menusuk kulit. Dari balik bayangan menara air yang berkarat, sepasang mata keemasan mengamati lantai tertinggi gedung perusahaan IE Rowan Group, mata yang tidak pernah berkedip terlalu lama, mata milik pemburu kaum werewolf.
“Kau yakin dia sudah mulai bergerak?” bisik seorang pria bertubuh besar, mantel panjangnya menutupi sosok yang terlalu kokoh untuk ukuran manusia biasa.
“Sangat yakin, Tuan.” jawab yang lain, lebih ramping, rambutnya terikat ke belakang. Ketika cahaya matahari menyingkap wajahnya, pupil matanya menyempit tajam… ciri khas kaum werewolf yang sedang menahan perubahan. “Raja vampir itu tidak akan mendekati seorang wanita manusia tanpa alasan, kecuali… wanita itu adalah reinkarnasi dari Ratunya.”
Di kejauhan, jendela kaca kantor CEO memantulkan cahaya. Sosok Ragnar tampak berdiri di sana, tenang, angkuh seolah sadar bahwa dirinya sedang diawasi, namun sama sekali tidak peduli.
“Reinkarnasi ratunya…” gumam si bertubuh besar.
“Tak kusangka dia akan mencarinya di antara manusia.”
“Darah manusia,” sahut rekannya dingin. “Namun jiwa lama. Itulah yang membuatnya berbahaya. Kita harus mencari tahu lebih banyak informasi lagi tentang wanita itu. Raja vampire tidak boleh bertemu lagi dengan reinkarnasi Ratunya. Tidak, kita tidak boleh membiarkannya.”
Angin berdesir, membawa aroma lain tajam, pahit, dan penuh kebencian. Ketiganya serempak menoleh. “Penyihir hitam,” desis si bertubuh besar. “Mereka juga mencium jejaknya.”
Di sebuah bangunan tua tak jauh dari sana, lilin-lilin hitam menyala membentuk lingkaran. Seorang wanita berjubah gelap menorehkan simbol berdarah di lantai, bibirnya melantunkan mantra penuh dendam.
“Biarkan raja vampir itu menemukan ratunya,” ucapnya dengan senyum tipis. “Agar aku bisa merebutnya tepat di depan matanya.”
Bayangan bergetar. Cermin retak memperlihatkan pantulan seorang wanita muda dengan rambut gelap, mata jernih, dengan cahaya samar di balik dadanya. Darah manusia, namun tak sepenuhnya fana.
Kembali ke atap gedung, sang werewolf mengepalkan tangan. “Perintah Ketua jelas. Jika wanita itu benar reinkarnasi sang ratu… kita harus menemukannya lebih dulu.”
“Atau membunuhnya,” tambah rekannya pelan.
“Ya, aku harus pastikan Ragnar tidak bisa menemukan reinkarnasi ivory lagi… selamanya!” ucap pria bertubuh besar itu dengan sorot mata yang penuh kebencian dan dendam.
Di tengah kota yang tampak damai, tiga kekuatan kuno bergerak diam-diam, saling mengintai dalam kegelapan. Dan tanpa menyadari apa pun, seorang wanita berdarah manusia berjalan pulang dari pekerjaannya membawa takdir yang cukup kuat untuk menyalakan perang lama kembali.
...****************...
Malam merayap perlahan ke dalam kamar Ivory, membawa kesunyian yang terlalu bising untuk diabaikan. Lampu meja menyala redup, memantulkan bayangan panjang di dinding. Ia duduk di tepi ranjang, kedua tangannya saling menggenggam, seolah mencoba memastikan bahwa tubuhnya masih nyata, bahwa semua yang ia dengar sore tadi bukan sekadar ilusi.
“Aku adalah Raja Vampir. Dan kau… adalah reinkarnasi Ratuku.”
Ucapan Ragnar tiba-tiba saja kembali terdengar berulang-ulang di kepalanya, seperti gema yang tak mau padam. Nada suaranya begitu tenang saat mengatakannya, seakan membicarakan sesuatu yang sudah lama ia ketahui, sesuatu yang tak perlu diperdebatkan.
Namun bagi Ivory, kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam fondasi hidupnya. Ingin mengabaikannya dengan berpikir bahwa Bosnya gila, tetapi dari sorot matanya saat mengatakan itu jelas memperlihatkan keseriusan di dalamnya.
Ia menutup mata. Sekilas bayangan asing menyelinap. Sebuah istana indah yang menjulang, lilin-lilin merah menyala tanpa angin, dan dirinya sendiri mengenakan mahkota gelap dengan permata seperti darah. Jantungnya berdebar keras. Ivory spontan membuka mata dengan napas terengah.
“Apa itu tadi?”
“Tidak,” bisiknya, entah kepada siapa. “Aku bukan dia. Tidak ada reinkarnasi… tidak ada vampire di dunia ini. Aku yakin dia pasti memang sudah gila karena stress.”
“Namun, kilasan apa yang barusan aku lihat?”
Ivory berusaha untuk terus menyangkalnya. Namun tubuhnya mengkhianatinya. Ada rasa hangat yang aneh di dadanya, rasa akrab yang muncul setiap kali wajah Ragnar terlintas. Tatapannya yang dalam. Caranya menyebut namanya, seolah nama itu telah ribuan kali keluar dari bibirnya di kehidupan lain.
Ivory bangkit dan berdiri di depan cermin. Pantulan wajahnya tampak sama seperti biasa… manusia, sepenuhnya manusia. Tapi jauh di dalam pupil matanya, sekelebat cahaya asing berdenyut pelan, lalu menghilang. “Apa itu barusan?”
“Tidak, Ivory tenangkan dirimu. Kau manusia, bukan vampir?”
“Tapi tanda ini… kenapa Kak Elena bersikeras agar aku menyembunyikan tentang tanda ini? Apakah ini berkaitan dengan vampire?” Ivory mulai merangkai semua kejadian yang dia alami.
“Mustahil! Mungkin aku hanya terlalu terbawa novel yang dulu pernah aku baca. Leih baik aku berhenti memikirkan tentang ini,” ujarnya sembari membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang.
...****************...
Di kamar seberang, Elena rupanya tidak bisa tidur sama sekali. Kini ia duduk di lantai, punggung bersandar pada tempat tidur, dengan ponsel yang layarnya telah lama mati di tangan. Wajahnya pucat, alisnya berkerut dalam kegelisahan yang tak bisa ia ucapkan dengan mudah.
“Ragnar Rowan Agharon!”
Nama itu terasa seperti duri di pikirannya. Sejak pria itu muncul, Ivory jelas berubah. Bukan secara drastis, tapi cukup untuk membuat Elena merasa kehilangan pijakan. Tatapan Ivory sering kosong. Senyumnya terlambat.
Dan yang paling membuat Elena takut, Ivory terlihat tertarik, seolah ada benang tak kasatmata yang menariknya mendekat pada pria itu. Sementara mimpinya selama ini terasa semakin nyata, jika hanya disebut sebagai sebuah mimpi belaka.
“Raja vampir,” gumam Elena dengan nada nyaris marah. Ia teringat cara Ragnar mengucapkannya, tanpa ragu, tanpa bercanda. Ada sesuatu dalam mata pria itu. Sesuatu yang misterius, gelap, dan berbahaya seolah siap menerjang kehidupan mereka terutama Ivory.
Elena mengepalkan tangan. Apa pun kebenarannya… entah Ragnar gila, pembohong, atau benar-benar makhluk terkutuk seperti yang ia klaim. Tapi satu hal pasti, Ivory tidak boleh terlibat lebih jauh. Ia tak peduli dengan takdir, reinkarnasi, atau legenda berdarah. Ivory dalam kehidupan kali ini dan seterusnya adalah adiknya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki, terlepas dari keberadaan kedua orang tuanya.
“Aku harus memisahkan mereka,” bisiknya pada diri sendiri. “Apapun yang terjadi, aku harus menjauhkan Ivory darinya.”
“Untuk sementara waktu aku hanya akan mengawasi keadaan, tetapi jika Ivory malah semakin dekat dengannya. Maka lebih baik kami berdua keluar dari perusahaan itu,” ucapnya mantap.
Bersambung ….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔