Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekayasa takdir.
Pagi itu, kediaman keluarga Arkaven tampak jauh lebih sibuk dari biasanya.
Para pelayan lalu-lalang membawa rangkaian bunga, kain-kain dekorasi, dan kotak-kotak besar berisi perlengkapan pesta. Ruang utama dipenuhi suara arahan, langkah tergesa, dan denting perabot yang dipindahkan. Aroma bunga segar bercampur dengan wangi lilin mahal memenuhi udara.
Namun semua itu terjadi tanpa sepengetahuan Arelion.
Ia masih berada di sayap timur rumah, menyendiri di ruang bacanya. Buku terbuka di hadapannya, namun sejak tadi matanya tak benar-benar membaca. Pikirannya terus kembali pada satu hal,mimpi semalam, kupu-kupu bersayap perak, dan nama yang tak bisa ia usir dari benaknya.
Sementara itu, di ruang tengah, Nyonya Arkaven berdiri mengawasi persiapan dengan wajah puas.
“Pastikan semuanya sempurna,” ujarnya tegas. “Ini pesta pertama sejak Arelion sadar. Tidak boleh ada cela.”
Tuan Arkaven mengangguk. “Tamu dari kalangan direksi dan keluarga besar sudah mengonfirmasi. Keluarga Thomas juga.”
Nama itu membuat senyum tipis terbit di wajah sang nyonya. “Althea pantas diperkenalkan secara resmi. Sudah terlalu lama dia menunggu.”
Seorang pelayan ragu-ragu mendekat. “Tuan… apakah Tuan Arelion sudah diberi tahu?”
Arkaven terdiam sejenak. “Belum. Nanti saja. Dia perlu kembali pada ritme hidupnya. Pesta ini akan membantunya.
Di luar, spanduk elegan mulai dipasang. Undangan terakhir dikirim.
Dan sebuah acara besar perlahan disusun—
bukan hanya untuk merayakan kembalinya Arelion ke dunia nyata,
tetapi untuk mengikat masa depannya pada seseorang…
Menjelang sore, deru mobil-mobil mewah mulai memenuhi halaman kediaman Arkaven. Lampu taman dinyalakan lebih awal, memantulkan cahaya keemasan pada air mancur besar di tengah halaman. Segalanya tampak sempurna.
Arelion baru menyadari ada sesuatu yang tidak biasa saat ia turun ke lantai bawah.
Langkahnya terhenti.
Aula utama yang biasanya lengang kini berubah menjadi ruang pesta. Meja panjang berlapis taplak putih, rangkaian bunga anggrek, dan lilin-lilin kristal tersusun rapi. Para pelayan membungkuk memberi salam, seolah hari ini adalah hari yang telah lama ditunggu.
“Ada apa ini?” tanyanya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
“Nak,” suara ibunya menyapa dari belakang. “Kau sudah turun. Bagus.”
Arelion menoleh. “Bu… ada acara apa?”
Nyonya Arvano tersenyum hangat,senyum yang rapi dan terencana. “Perayaan kecil. Untukmu. Kita bersyukur kamu kembali.”
“Kecil?” Arelion menatap sekeliling, tak bisa menyembunyikan keheranannya.
Tuan Arkaven mendekat, menepuk bahu putranya. “Anggap saja ini penyambutan."
Malam pesta tiba.
Kediaman Arvano bermandikan cahaya. Lampu kristal bergantung megah, musik klasik mengalun lembut, dan para tamu berdatangan dengan senyum penuh kepentingan. Segalanya tampak sempurna.
Di luar halaman kediaman Arkaven, deretan mobil mewah mengular rapi menunggu giliran masuk. Lampu-lampu kendaraan memantul di gerbang besi tinggi yang dijaga ketat. Di antara barisan itu, mobil milik Maria ikut berhenti...ia termasuk sedikit orang yang mendapat undangan terbatas malam ini.
Maria sesekali melirik cermin kecil di tangannya, memastikan riasan wajahnya sempurna. Bibirnya melengkung puas.
Di kursi sebelahnya, Elora terdiam. Tatapannya kosong menembus kaca jendela, jantungnya berdegup tak menentu.
Ia ingin menolak ikut.
Sangat ingin.
Namun ia tak punya pilihan.
Gaun sederhana yang dipinjamkan Maria melekat pas di tubuhnya. Potongannya rapi, warnanya lembut. Dengan riasan tipis, Elora tampak anggun,tanpa berusaha mencuri perhatian. Ia terlihat… cukup. Terlalu cukup untuk seseorang yang hanya ingin menghilang.
Maria menurunkan cermin, lalu melirik Elora dari ujung mata.
“Kau harus berterima kasih padaku,” ucapnya dingin. “Aku membawamu ke tempat kalangan elit.”
Elora menelan ludah.
“Tapi ingat,” lanjut Maria, suaranya merendah penuh tekanan, “kau hanya diam dan tersenyum jika ada yang menyapa. Jangan banyak bicara. Jangan bertingkah seolah kau bagian dari mereka.”
Elora mengangguk pelan.
“Baik, Bu,” jawabnya lirih.
Mobil perlahan bergerak maju, mendekati gerbang.
Penjaga memberi hormat singkat, lalu palang terbuka perlahan. Cahaya lampu taman menyambut, menerangi jalan berlapis batu yang mengarah ke halaman luas dengan air mancur di tengahnya. Musik lembut mengalun dari dalam aula..elegan, dingin, dan asing bagi Elora.
Maria turun lebih dulu. Senyumnya langsung terpasang, langkahnya anggun penuh percaya diri.
“Elora,” ucapnya tanpa menoleh, “ikut.”
Elora mengangguk, turun dari mobil dengan hati-hati. Hak sepatunya terasa asing, lantai marmer dingin di telapak kakinya. Setiap langkah seolah terlalu keras di telinganya sendiri.
Begitu memasuki aula, dunia lain menyambutnya. Lampu kristal menggantung megah, gaunnya para tamu berkilau, tawa dan percakapan berlapis kepentingan berdesir di udara. Elora merasa kecil—seperti titik yang tersesat di lukisan yang terlalu besar.
Maria segera dikerumuni beberapa tamu.
“Oh, Maria… turut berduka atas kepergian suamimu,”
“Kudengar kau mengadopsi anak dari panti asuhan? Mulia sekali.”
Maria tersenyum sendu, memainkan perannya dengan sempurna.
“Terima kasih. Anak itu… Elora,” katanya sambil melirik sekilas.
Ia tahu betul..citra seorang janda yang tabah, dermawan, dan penuh kasih adalah investasi yang sangat berharga. Sejak suaminya meninggal, simpati publik mengalir deras. Nama perusahaannya kembali dibicarakan dengan nada positif. Saham perlahan naik.
Meski keluarga Arvano adalah rival bisnis almarhum suaminya, hubungan mereka tetap dijaga. Malam ini, kehadirannya di pesta ini adalah pernyataan halus: aku masih ada, dan aku tetap kuat.
Elora hanya berdiri di sampingnya, menunduk sopan setiap kali diperkenalkan.
Beberapa pasang mata menoleh. Senyum sopan Elora mengembang, seperti yang diperintahkan. Diam. Tersenyum. Menunduk sedikit.
Namun entah kenapa, di antara gemerlap dan suara yang tumpang tindih, ada satu rasa yang menyelinap pelan di dadanya. Perasaan asing. Seolah seseorang di tempat ini..sedang mencarinya.
Elora menarik napas, berusaha tenang.
Tanpa ia sadari, dari sudut aula yang lain, sepasang mata tengah terpaku padanya.
Tatapan itu berhenti terlalu lama. Ia seakan meyakinkan diri jika matanya tak salah mengenali orang .
Elora berjalan pelan disamping Maria .Gaun sederhana warna biru pucat yang dipakaikannya padanya tak cukup menyembunyikan aura lembut Elora. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya pucat namun cantik dengan cara yang sunyi.
Namun saat kakinya melangkah lebih dalam ke aula utama, dadanya mendadak terasa sesak.
Di ujung ruangan..
Ia menyadari jika seseorang tengah menatapnya ...lekat.
Setelan hitam membuat Arelion terlihat semakin tegap. Tatapannya tenang, tapi sorot matanya kosong, seolah ia sedang mencari sesuatu yang bahkan tak ia pahami sendiri.
langkah Elora terhenti .
Tatapan mereka saling bertemu .Saling mengunci beberapa detik .
Dunia seakan mengecil hanya menjadi jarak di antara mereka.
Detik itu…
segala suara lenyap.
Ada getaran aneh di dada Arelion. Napasnya tercekat, seolah udara di sekitarnya berubah berat. Ia menatap perempuan di seberang ruangan itu tanpa berkedip.
Dia…
Tanpa sadar, kakinya melangkah maju satu langkah.
Elora menegang. Jantungnya berdegup tak terkendali. Ia ingin pergi, ingin berpura-pura tak melihatnya, tapi tubuhnya mengkhianatinya.
Maria menoleh tajam.
“Elora,” bisiknya memperingatkan. “Jangan membuat masalah.” ucap Maria pelan penuh penekanan .
Tanpa menunggu jawaban, Maria melangkah pergi,senyumnya kembali terpasang sempurna saat ia menyapa rekan-rekan bisnisnya.
Elora berdiri mematung. Jemarinya saling menggenggam, dingin. Di sekelilingnya, tawa dan denting gelas berbaur, tapi semua terdengar jauh.
Langkah kaki Arelion semakin mendekat .
Para tamu mulai melirik, bisik-bisik pelan terdengar di sana-sini.
“Maaf,” ucap Arelion, suaranya rendah namun tegas, menatap langsung ke arah Elora. “Kita pernah bertemu, bukan?”
Meski gadis didepannya terlihat sangat berbeda ,namun sorot matanya ..wajah lembutnya ..ia tak mungkin salah .
Elora menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi gaunnya.
“Tidak, Tuan,” jawabnya pelan, berusaha menjaga jarak. “Anda salah orang.”
Kebohongan itu terasa menyakitkan.Namun untuk saat ini biarkan ia menjadi asing dimatanya.Sampai hatinya kembali mengingat apa yang ia lupakan.