NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Pendekar Tapak Hitam menghilang ke dalam kabut jurang. Dia memang belum tentu mati, namun pasti menderita luka dalam yang sangat parah.

Han Xiang berlari menghampiri Liang Shan, namun ia berhenti saat melihat Yue Niang. Gadis pemetik kecapi itu masih duduk mematung.

Senar kecapinya putus semua. Matanya terbuka, namun tidak ada cahaya di sana. Ia telah menguras seluruh sisa hidupnya untuk menjaga Liang Shan tetap berdiri selama pertarungan tadi.

"Yue Niang ..." Han Xiang meratap, memeluk tubuh sahabatnya yang mulai mendingin.

Liang Shan merangkak dengan sisa kekuatannya menuju mereka berdua. Ia memegang tangan Yue Niang yang kaku. Rasa bersalah yang lebih tajam dari pedang mana pun menghujam jantungnya.

"Kenapa ..., kenapa kalian melakukan ini untukku?" bisik Liang Shan, suaranya hilang ditelan isak tangis Han Xiang.

Di tengah kesedihan yang mendalam itu, sebuah bayangan muncul dari balik pohon besar di seberang jembatan. Bukan Mo Kuan, bukan pula menteri Wei. Melainkan seorang pemuda berpakaian putih bersih, membawa sebuah kipas lipat.

"Sungguh pemandangan yang menyedihkan," ucap pemuda itu. Suaranya halus namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.

"Liang Shan, pengorbanan wanita itu tidak akan sia-sia jika kau mau mendengarkanku. Aku adalah Putra Mahkota Bayangan, utusan langsung dari Dewa Tanpa Nama."

Pemuda itu melemparkan sebuah botol kecil berwarna ungu.

"Itu adalah Sari Keabadian Semu. Bisa menjaga nyawa gadis kecapi itu selama tujuh hari. Jika kau ingin dia benar-benar bangun, jemputlah obatnya di Lembah Penderitaan, di mana musuhmu yang sesungguhnya sudah menanti."

Liang Shan menggenggam botol ungu itu dengan jemari yang gemetar hebat. Cairan di dalamnya berkilau aneh, memancarkan cahaya redup yang seolah-olah bernapas.

Di hadapannya, Putra Mahkota Bayangan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun, melainkan penuh dengan intrik yang dingin.

"Tujuh hari, Liang Shan," ucap pemuda berpakaian putih itu sambil mengibaskan kipas lipatnya.

"Jika kau gagal tiba tepat waktu, Sari Keabadian Semu itu akan berubah menjadi racun paling mematikan yang akan menghancurkan jasad gadis itu hingga menjadi abu."

Tanpa menunggu jawaban, Putra Mahkota Bayangan berbalik dan melangkah pergi. Anehnya, setiap langkahnya tidak meninggalkan jejak di atas tanah, seolah-olah dia hanyalah ilusi yang menumpang lewat di dunia nyata.

Liang Shan terbatuk hebat, darah segar kembali membasahi telapak tangannya. Namun, ia tidak mempedulikan rasa sakit yang merobek dadanya, justru malah merangkak menuju Yue Niang.

Gadis itu masih mematung, wajahnya yang jelita kini sepucat rembulan di musim dingin.

"Minumkan ini padanya, Xiang-er," bisik Liang Shan parau.

Han Xiang, dengan tangan gemetar dan mata yang sembab, membuka sumbat botol itu. Aroma bunga yang harum namun menusuk hidung segera menyeruak.

Begitu tetes demi tetes cairan ungu itu masuk ke kerongkongan Yue Niang, sebuah keajaiban yang mengerikan terjadi.

Warna kulit Yue Niang yang tadinya putih pucat perlahan berubah menjadi agak kemerahan, dan napasnya yang tadi hilang kini muncul kembali, sangat halus, hampir tak terasa, namun ada.

"Dia benar-benar kembali bernapas," isak Han Xiang.

Ia memeluk tubuh Yue Niang yang kini terasa sekeras batu, efek samping dari Sari Keabadian Semu yang membekukan fungsi tubuh agar tidak rusak lebih jauh.

Liang Shan berusaha berdiri. Setiap kali ia menggerakkan sendinya, suara gemeretak tulang terdengar memilukan.

Teknik Napas Kosong yang ia gunakan tadi telah memberikan beban luar biasa pada sistem sarafnya. Penglihatannya mulai kabur, warna-warna dunia di sekitarnya tampak memudar menjadi abu-abu.

"Kita tidak bisa tinggal di sini," kata Liang Shan. "Menteri Wei pasti sudah mengirim pasukan pembersih untuk memastikan kematianku. Kita harus bergerak menuju Lembah Penderitaan."

"Tapi kondisimu, Shan-er ..." Han Xiang mencoba menahan. "Kau bahkan hampir tidak bisa melihat jalan di depanmu!"

"Selama hatiku masih bisa melihat kalian, aku tidak butuh mata," sahut Liang Shan dengan tekad yang membuat Han Xiang terdiam.

***

Perjalanan menuju Lembah Penderitaan adalah sebuah siksaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Lembah itu terletak di celah terdalam antara dua gunung raksasa di perbatasan Utara, sebuah tempat yang konon tidak pernah tersentuh cahaya matahari.

Selama tiga hari pertama, Liang Shan terpaksa merangkak di samping tandu Yue Niang.

Han Xiang menarik tandu itu dengan sisa kekuatannya, sementara Liang Shan, dengan penglihatan yang semakin gelap, menggunakan indra pendengarannya untuk mendeteksi bahaya.

Strategi musuh pun mulai berubah. Mereka tidak lagi mengirim pendekar hebat secara terang-terangan.

Melainkan mengirim pembunuh bayangan kecil yang mengincar pasokan makanan, meracuni sumber air di sepanjang jalan, dan melepaskan binatang-binatang buas yang sudah diberi obat perangsang saraf.

Pada malam keempat, mereka terjebak di sebuah hutan rawa yang dipenuhi lintah penghisap darah.

Liang Shan, yang tenaganya sudah terkuras habis, harus bertarung melawan sekawanan serigala hitam yang matanya bersinar merah.

Tanpa tenaga dalam, Liang Shan hanya mengandalkan insting bertarung murni. Ia memegang belati beracun milik Pendekar Tapak Hitam yang ditangkap di jembatan tempo hari.

CRASHH!!! CRASHH!!!

Setiap gerakan Liang Shan kini terasa berat. Seekor serigala berhasil menggigit bahunya, merobek dagingnya hingga terlihat tulang.

Namun, Liang Shan tidak berteriak. Ia justru menusukkan belatinya tepat ke mata serigala itu, lalu memutar badannya untuk menendang serigala lain.

"Liang Shan!" teriak Han Xiang yang berusaha melindungi Yue Niang dengan taburan bubuk beracun.

Liang Shan jatuh berlutut, napasnya tersengal. Di tengah kepungan binatang buas itu, ia kembali mencoba Teknik Napas Kosong.

Kali ini, ia tidak mencari tenaga dari angin, melainkan dari detak jantung bumi di bawah rawa itu.

"Bumi ..., berikan aku sisa kekuatanmu ..." gumamnya.

Tiba-tiba, tanah di sekitar Liang Shan bergetar. Sebuah gelombang kejut frekuensi rendah merambat dari kakinya, membuat serigala-serigala itu terjungkal dan lari ketakutan dengan telinga berdarah. Liang Shan pingsan seketika setelah serangan itu.

Saat Liang Shan terbangun, ia mencium aroma dupa yang sangat kuat.

Tahu-tahu dirinya berada di dalam sebuah gua yang dindingnya diukir dengan berbagai gambaran tentang penderitaan manusia, kelahiran, penuaan, sakit, dan kematian.

Di sudut gua, seorang pria tua bertubuh bungkuk sedang mengasah sebuah pisau kecil. Pria itu tidak memiliki mata, hanya lubang gelap di wajahnya.

"Kau sudah sampai, Putra Liang Qi," ucap pria itu tanpa menoleh. "Aku adalah Sian Mo, Sang Penjaga Lembah Penderitaan. Sudah dua puluh tahun aku menunggu seseorang yang cukup gila untuk datang ke sini demi nyawa orang lain."

Liang Shan berusaha duduk, meskipun setiap serat ototnya terasa seperti ditarik paksa. "Di mana Han Xiang? Di mana Yue Niang?"

"Han Xiang sedang mengumpulkan tanaman Lidah Iblis di dasar jurang untuk menjagamu tetap sadar. Dan Yue Niang, dia ada di dalam peti es di belakangmu," kata Sian Mo.

Liang Shan menoleh dan melihat Yue Niang terbaring di dalam peti yang terbuat dari bongkahan es abadi.

"Waktumu tinggal tiga hari, Liang Shan," kata Sian Mo sambil berdiri.

"Obat untuk membangkitkannya adalah Embrio Bunga Darah. Bunga itu tumbuh di atas tiang gantungan di tengah-tengah Hutan Pasung, tempat arwah-arwah penasaran dari korban pembantaian Keluarga Liang bersemayam."

Liang Shan tertegun. "Arwah keluargaku?"

"Benar. Dewa Tanpa Nama memindahkan seluruh nisan dan jasad keluargamu ke sana hanya untuk menciptakan tempat latihan paling terkutuk bagi murid-muridnya. Sekarang, tempat itu dijaga oleh salah satu dari lima pendekar bayaran yang kau cari: Si Pemotong Jiwa, Zhang Lie."

1
jhoni
parah bnget jalan cerita nya, bnr" d luar nurul... mc nya lemah jg keracunn trus musuh" nya kekuatan nya d atas mc, ending nya mo bikin ke ajaiban ya thor bwt mc nya bebas dari racun trus ranah nya meningkat dratis🤣🤣🤣🤣
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
mcnya terlalu lemah terluka parah terus Thor... kurang menarik bacanya
asri_hamdani
bukannya lidahnya udah dipotong Mentri Wei 🤔
asri_hamdani
Menarik, cerita wuxia classic 👍
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
ini cerita silat clasic...🤔🤔😀😀
Junn Badranaya: Benar, kak
total 1 replies
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
nyimax....🤔🤭
jhoni
ne mc nya ga bs d sembuhin apa tu racun nya, lawan nya aja d luar nurul Thor🤭
Junn Badranaya: Bisa kak, wkwk. Kan itu ujian buat dia bisa lebih tragis🤣
total 1 replies
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!