Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EKSEKUSI PENGKHIANAT
Pagi itu, langit di atas Florist tampak mendung, seolah alam pun tahu bahwa hari ini akan ada darah yang tertumpah di alun-alun kota.
Rakyat sudah berkumpul, berdesakan di balik barikade prajurit, mereka berbisik-bisik, menanti sosok wanita yang selama ini mereka takuti, sang Mantan Ibu Suri, Isabella.
Di atas panggung eksekusi yang tinggi, sebuah tiang kayu besar dan beberapa blok pemenggalan sudah disiapkan.
Jayden berdiri di balkon utama dengan zirah hitamnya yang berkilat, wajahnya sedingin es.
Di sampingnya, ada Calista yang tampak tenang, mengenakan jubah merah tua yang senada dengan warna darah, tidak lupa dia mengenakan lencana milik Jayden semalam.
"BAWA MEREKA KELUAR!"
Perintah Owen dengan suara menggelegar.
Pintu penjara bawah tanah terbuka. Isabella dan para pengikut nya, diseret keluar dengan tangan dirantai.
Pakaian Isabella yang dulu mewah kini kotor dan robek, namun matanya masih berkilat penuh kebencian.
Di belakangnya, ada orang tua Calista, Count Miller dan Baron Harry gemetar hebat, bahkan Baron Harry harus diseret karena kakinya sudah lemas.
Begitu Isabella menapakkan kaki di panggung eksekusi, sorakan cemooh dari rakyat pecah.
"PENGKHIANAT!"
"PEMBUNUH BAYI!"
"MATILAH KAU, WANITA IBLIS!"
"WANITA TERKUTUK!"
"WANITA HINA!"
"PEMBUNUH!"
"BUNUH ISABELLA!"
"BUNUH PENGKHIANAT KERJAAN!"
"BUNUH MEREKA SEMUA!"
"DASAR PEMBUNUH MENJIJIKAN!"
Suara hinaan dan ujaran pembenci untuk mereka, menggema di alun-alun.
Isabella tidak menunduk, wanita tua itu justru tertawa melengking, suara tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.
Isabella menatap ke arah balkon, tepat ke arah Jayden dan Calista.
"JAYDEN!"
Teriak Isabella, suaranya parau namun penuh amarah.
"Kau benar-benar anak terkutuk! Kau membunuh ibumu sendiri demi seorang pelayan desa dan bayi haram itu?" teriak Isabella, menatap Jayden dengan mata memerah, penuh kebencian.
Jayden tetap diam, namun rahangnya mengeras, dan tangan nya terkepal kuat.
"Dan kau! Kau pikir kau menang? Kau hanya hantu yang merasuki tubuh rendahan itu! Kau iblis yang sebenarnya! Rakyat Florist, dengarkan aku! Kalian dipimpin oleh Grand Duke yang lemah dan penyihir yang haus darah!" teriak Isabella menunjuk Calista dengan tangannya yang dirantai.
Calista melangkah maju ke tepi balkon, menatap Isabella dari ketinggian dengan tatapan merendahkan.
"Isabella, kau bicara soal iblis? Iblis tidak membakar cucunya sendiri, iblis tidak menjual rakyatnya demi emas! Kau bukan sedang dieksekusi karena aku, tapi karena dosamu sendiri," ucap Calista tenang namun terdengar jelas ke seluruh penjuru alun-alun berkat alat pemantul suara sederhana yang ia buat semalam.
"DIAM KAU, JALANG!"
"WANITA RENDAHAN SEPERTI MU TIDAK PANTAS BERBICARA SEPERTI KEPADA KU!"
"KAU HANYA PEREMPUAN HINA!"
Maki Isabella dengan keras, meludah ke arah panggung.
"Aku menyesal tidak mencekik Jayden saat dia lahir! Seharusnya aku membiarkan kerajaan ini hancur daripada melihatnya dipimpin oleh pengecut seperti kalian! Jayden, kau akan dihantui oleh wajahku setiap kali kau memejamkan mata! Aku mengutuk mu! Aku mengutuk takhta ini!" teriak Isabella, meraung-raung, seperti orang yang sudah kehilangan akal.
"Tolong! Ampuni saya! Saya hanya menuruti perintahnya! Saya tidak mau mati!" teriak Count Miller yang berada di sampingnya mulai menangis kencang.
Bhuk
"Tutup mulutmu, Pengecut!" bentak Isabella menendang kaki Count Miller dengan kasar.
"Mati dengan bangga! Kau adalah pengikutku!" lanjut Isabella, geram.
Jayden perlahan mengangkat tangannya ke udara, memberi isyarat kepada algojo.
"Ibu, kutukan mu tidak akan mempan, karena mulai hari ini, namamu akan dihapus dari sejarah Florist! Kau bukan lagi Ibu Suri! Kau hanyalah penjahat yang sedang menerima hukumannya," ucap Jayden, suaranya terdengar berat dan pedih, namun tegas.
"KAU AKAN MENYESAL, JAYDEN! KAU AKAN MEMBUSUK DI NERAKA BERSAMAKU!"
Teriak Isabella untuk terakhir kalinya.
"Algojo, laksanakan!" perintah Jayden, dingin.
Algojo besar dengan topeng hitam melangkah maju.
Orang tua Calista, Count Miller dan Baron Harry dieksekusi lebih dulu.
CRASH
Suara tebasan pedang besar itu membuat suasana mendadak hening, hanya terdengar isak tangis ketakutan dari para pengikut lainnya yang mengantre.
Kini giliran Isabella, dia dipaksa berlutut di atas blok kayu, meski lehernya sudah berada di bawah mata pedang, wanita tua itu masih terus meracau dengan kata-kata kotor dan makian.
"Calista! Aku akan menunggumu di neraka! Aku akan melihatmu hancur dari dalam kubur-"
CRASH
Dalam satu gerakan cepat, pidato kebencian Isabella terputus selamanya.
Kepala sang mantan ratu jatuh ke keranjang, dan tubuhnya ambruk seketika.
Alun-alun mendadak sunyi sesaat, sebelum akhirnya sorakan kemenangan rakyat membahana, lebih keras dari sebelumnya.
"HIDUP KERAJAAN FLORIST!"
"HIDUP GRAND DUKE JAYDEN!"
"HIDUP!"
Mereka merasa beban berat yang selama ini menekan kerajaan Florist telah terangkat.
Jayden memalingkan wajahnya, dia menutup matanya sejenak, berusaha menenangkan hati nya sendiri, dimana dia dengan mata kepala nya sendiri, melihat wanita yang melahirkan nya mati di tepat di depan mata nya.
Calista mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Jayden, memberikan kekuatan tanpa kata-kata.
"Sudah selesai, Jay," bisik Calista pelan.
Jayden membuka matanya, menatap rakyatnya yang bersorak.
"Belum, Calista, ini baru pembersihan. Sekarang, kita harus membangun kembali apa yang sudah dirusaknya," jawab Jayden, datar.
Calista menyeringai tipis, dia menatap ke arah langit yang mulai cerah karena matahari mulai menembus awan mendung.
"Kalau begitu, mari kita mulai," ucap Calista.
"Setelah ini, aku benar-benar ingin melihat gudang senjatamu, aku butuh sesuatu untuk merayakan kemenangan ini," lanjut Calista, tersenyum cukup lebar untuk hari ini.
"Tentu, apapun yang kau mau, Calista. Apapun," jawab Jayden tersenyum kecil, merasa beban di dadanya sedikit berkurang.
Jayden menatap kosong ke tempat dimana Isabella tadi di eksekusi.
Calista tahu apa yang sedang dirasakan oleh Jayden, tentu ini tidak mudah untuk pria itu, karena harus melihat ibunya di eksekusi.
Walaupun kedua orang tua Calista di eksekusi juga, tapi hal itu beda, karena jiwa yang sekarang berada di dalam tubuh Calista tidak memiliki ikatan apa-apa dengan mereka, terlebih kesalahan mereka sudah sangat fatal.
"Jay," panggil Calista hati-hati.
Jayden tidak menjawab, pria yang selalu berwajah kaku itu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosongnya.
Walaupun Isabella bukan ibu yang baik dan selalu menyiksa nya dari dirinya masih kecil, tapi sudut hati Jayden tidak bisa bohong, ada perasaan sedih dan sakit.
"Kenapa? Kenapa harus aku yang merasakan ini semua, kenapa?" batin Jayden, mengepal kan tangan nya kuat.
Ingatan tentang masa kecil nya, dimana dia selalu dikurung di gudang dan dipukuli, setiap kali Ibunya sedang marah.
Jayden kecil selalu menjadi samsak kemarahan ibu nya sendiri.
Dia memang anak dari seorang Raja, darah Florist mengalir di dalam tubuh nya, tapi hidup nya tidak seberuntung statusnya.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.