Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Mawar yang Bersemi Selamanya
Fajar menyingsing di lereng bukit Bandung dengan keindahan yang sulit dilukiskan kata-kata. Kabut tipis perlahan terangkat, menyingkap hamparan perkebunan teh yang berkilau tertimpa embun pagi. Udara terasa segar, membawa aroma melati dan mawar yang sengaja dirangkai di sepanjang jalan menuju rumah kayu itu. Hari ini, alam semesta seolah berdandan khusus untuk menyaksikan penyatuan dua jiwa yang telah melewati api dan badai.
Pukul sepuluh pagi, halaman rumah sudah dipenuhi oleh orang-orang yang berarti dalam hidup mereka. Ada warga desa dengan pakaian terbaik mereka, ada Pak Gunawan yang tampak gagah dengan setelan jas hitam, dan tentu saja, barisan pria tegap yang dipimpin oleh Baron. Mereka semua berdiri rapi, bukan untuk bertempur, melainkan untuk memberikan penghormatan terakhir bagi masa lalu dan menyambut masa depan.
Musik instrumen yang lembut mulai mengalun. Pintu rumah terbuka, dan sosok Lia muncul. Ia tampak begitu mempesona dalam gaun pengantin putih berbahan brokat halus yang jatuh dengan indah di tubuhnya yang sedang mengandung. Kerudung transparan menutupi wajahnya, namun binar matanya tetap terlihat jelas. Ia berjalan perlahan, lengannya berpaut pada lengan Pak Gunawan yang menatapnya dengan bangga sekaligus haru.
Di ujung altar yang dibangun di bawah pohon pinus raksasa, Devan berdiri menunggu. Hilang sudah jaket kulit hitam yang penuh debu jalanan. Berganti dengan kemeja putih bersih dan setelan jas abu-abu gelap yang membuatnya tampak sangat berwibawa.
Rambutnya tertata rapi, dan wajahnya bersih dari luka baru. Saat melihat Lia mendekat, napas Devan seolah tertahan. Baginya, Lia bukan hanya pengantinnya; dia adalah keselamatan, rumah, dan cahayanya.
Tiba di depan Devan, Pak Gunawan mengambil tangan Lia dan menyerahkannya kepada Devan. "Jaga dia, Devan. Sekarang dia sepenuhnya milikmu."
Devan mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Dengan nyawaku, Ayah."
Penghulu memulai upacara. Suasana menjadi sangat hening, hanya suara gesekan daun pinus dan kicauan burung yang menjadi saksi. Saat tiba waktunya mengucapkan janji suci, Devan menggenggam kedua tangan Lia, menatap lurus ke dalam matanya dengan intensitas yang membuat semua orang yang hadir menahan napas.
"Saya, Devan Alaric," suara Devan terdengar berat namun sangat mantap, menggema di seluruh bukit.
"Mengambil engkau, Natalia, sebagai istriku. Aku berjanji untuk selalu mencintaimu, dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam bahaya maupun kedamaian. Aku berjanji untuk menanggalkan duniaku yang lama demi membangun dunia baru bersamamu. Aku akan menjadi pelindungmu, ayah bagi anak kita, dan rumah bagi jiwamu, hingga maut memisahkan kita."
Lia menjawab dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Saya, Natalia, mengambil engkau, Devan, sebagai suamiku. Aku berjanji untuk mendampingimu, menjadi kekuatanmu saat kau lemah, dan menjadi pelabuhanmu saat kau lelah. Aku mencintaimu bukan karena siapa dirimu dulu, tapi karena pria luar biasa yang berdiri di depanku hari ini. Selamanya, aku milikmu."
"Sah!" seru penghulu yang disambut teriakan "Sah!"
yang menggelegar dari Baron dan teman-temannya.
Devan membuka kerudung Lia dan mencium keningnya dengan sangat lembut dan lama, sebuah ciuman yang menyimbolkan rasa hormat dan cinta yang tak terhingga. Tepuk tangan pecah. Baron bahkan harus mengusap matanya berkali-kali dengan sapu tangan, tidak menyangka akan melihat "bos"-nya berada di posisi sebahagia ini.
Pesta pernikahan berlangsung dengan sangat hangat dan kekeluargaan. Mereka makan bersama di atas meja-meja panjang yang diletakkan di bawah naungan pohon. Tidak ada jarak antara mantan anggota geng dan warga desa; mereka semua tertawa dan berbagi cerita.
Saat matahari mulai terbenam, menciptakan warna jingga kemerahan di ufuk barat, Devan mengajak Lia berdansa perlahan di tengah halaman. Tangan Devan melingkar di pinggang Lia, sementara tangan Lia mengalung di leher Devan.
"Kita berhasil, Lia," bisik Devan di telinga istrinya.
"Kita baru saja memulai, Devan," jawab Lia sambil menyandarkan kepalanya di dada Devan, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini tenang dan teratur.
Tiba-tiba, Lia tersentak. Ia melepaskan pelukannya sedikit dan memegangi perutnya. Wajahnya berubah drastis.
"Lia? Ada apa?! Kontraksi lagi?" Devan langsung panik, wajahnya kembali pucat seperti saat kejadian di klinik.
Lia tertawa di tengah rasa sakit yang mulai datang teratur. "Kali ini sepertinya bukan kontraksi palsu, Devan. Anakmu... dia benar-benar ingin ikut berpesta."
Kepanikan yang manis pun terjadi. Baron dengan sigap menyiapkan mobil, Pak Gunawan sibuk mengambil tas perlengkapan bayi, dan Devan menggendong Lia menuju mobil dengan langkah seribu. "Bertahanlah, Sayang! Jangan keluar di mobil!" teriak Devan yang membuat semua tamu tertawa sekaligus cemas.
Satu Tahun Kemudian...
Sebuah ayunan kayu kecil terpasang di bawah pohon pinus yang sama tempat mereka menikah. Seorang bayi laki-laki tampan dengan mata hitam tajam seperti ayahnya namun senyum manis seperti ibunya sedang tertawa riang saat Devan mendorong ayunannya pelan. Nama anak itu adalah Arka, yang berarti penerang.
Lia keluar dari rumah membawa nampan berisi camilan, ia tersenyum melihat pemandangan di depannya. Devan kini benar-benar telah menjadi pria biasa—seorang ayah yang hebat dan suami yang penuh perhatian. Bengkel restorasinya kini menjadi yang paling terkenal di daerah itu karena kejujurannya.
Devan menghampiri Lia, merangkul bahunya, dan mereka berdua menatap putra kecil mereka yang sedang asyik bermain.
"Terima kasih sudah memberikan hidup ini padaku, Lia," ucap Devan tulus.
Lia mengecup pipi Devan. "Terima kasih sudah berani berubah demi kami, Devan."
Mawar hitam itu tidak benar-benar mati; ia hanya berganti warna menjadi mawar yang lebih cerah, tumbuh di tanah yang subur, dan dijaga oleh cinta yang takkan pernah layu. Sang Serigala telah menemukan kawanannya yang paling berharga, dan sang Ratu telah menemukan kerajaannya di dalam pelukan pria yang paling ia cintai.
Kisah mereka yang berawal dari rak-rak perpustakaan yang berdebu dan deru motor yang liar, kini berakhir dengan melodi tawa seorang bayi di bawah langit Bandung yang damai. Mereka hidup bahagia, selamanya.
TAMAT
___________________________________________________
Terima kasih telah mengikuti perjalanan panjang antara Devan dan Lia hingga ke halaman terakhir. Sebagai penutup dari kisah "Mawar di Atas Aspal" ini, ada sebuah pesan yang ingin disampaikan untukmu, sang pembaca setia:
Catatan Penulis untuk Pembaca
Kisah Devan dan Lia adalah tentang sebuah pilihan. Kita seringkali tidak bisa memilih dari mana kita berasal atau luka apa yang diberikan masa lalu kepada kita, tapi kita selalu punya kekuatan untuk memilih ke arah mana kita akan berjalan pulang.Melalui sosok Devan, kita belajar bahwa maskulinitas sejati bukanlah tentang kekuatan otot atau dominasi, melainkan tentang keberanian untuk menjadi lembut, tanggung jawab untuk melindungi, dan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan demi orang yang dicintai.
Melalui sosok Lia, kita belajar bahwa keberanian tidak selalu datang dalam bentuk teriakan atau senjata. Terkadang, keberanian yang paling kuat adalah keteguhan hati seorang wanita yang percaya pada sisi baik seseorang saat dunia sudah menyerah padanya.
Cinta mereka membuktikan bahwa "Mawar tidak butuh duri yang tajam jika ia berada di taman yang tepat."
Semoga kisah ini memberikan sedikit kehangatan di hatimu. Bahwa seburuk apa pun badai yang menghantam, akan selalu ada pelabuhan yang tenang jika kita cukup berani untuk terus berjuang. Sampai jumpa di kisah-kisah selanjutnya, di mana setiap luka akan menemukan penawarnya, dan setiap pencarian akan menemukan rumahnya.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini!
___________________________________________________