Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 **Belajar Menggunakan HP**
Suasana ruang makan di kediaman Zidan malam itu terasa begitu sunyi, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Zidan tampak tidak fokus pada makanannya; ia terus mengaduk-aduk nasi di piringnya dengan tatapan kosong.
"Galen," panggil Zidan memecah keheningan, suaranya terdengar agak berat.
Galenio yang sedang menyuap makanan pun mendongak. "Apa, Dad?" tanya Galenio singkat sembari menatap wajah ayahnya yang tampak kuyu.
"Kamu masih ingat Aqila, anaknya Om Bryan?" tanya Zidan tiba-tiba.
Deg.
Galenio nyaris tersedak. Jantungnya berdegup kencang mendengar nama itu disebut oleh sang ayah. "I-ingat. Kenapa, Dad?" tanya Galenio berusaha tetap tenang, meski tangannya sedikit bergetar memegang sendok.
"Dia berubah," ucap Zidan pelan, matanya menerawang jauh ke depan seolah sedang memutar kembali memori pertemuannya di mall tadi siang.
"Berubah gimana maksudnya, Dad?" tanya Galenio memancing.
"Dulu kan dia tampak culun dan sangat pendiam. Tapi sekarang, dia tidak culun lagi walau... dia masih suka menunduk kalau melihat Daddy," jelas Zidan. Ada sedikit rasa heran di hatinya, ia tidak tahu mengapa ia memilih curhat kepada Galenio. Namun, ia merasa perlu mengeluarkan sesak di dadanya tentang bagaimana Aqila begitu mengingatkannya pada putrinya yang telah tiada.
(Jelas dia menunduk, karena Ila masih takut padamu, Dad), batin Galenio getir. Ia tahu betul alasan adiknya yang sekarang berada di tubuh Aqila itu enggan menatap sang ayah.
"Terus? Cuma penampilannya yang berubah?" tanya Galenio lagi, ingin tahu seberapa peka ayahnya terhadap kehadiran Ila.
Zidan menggeleng perlahan. "Bukan cuma penampilan, tapi auranya juga terasa berbeda. Soalnya..." Zidan menghentikan kalimatnya. Ia berusaha menghalau pikiran gila tentang Aqila. Ia merasa mungkin ini hanya efek karena ia terlalu merindukan mendiang putrinya, sehingga saat melihat Aqila yang seumuran, ia seolah melihat sosok putrinya sendiri di sana. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa memang benar jiwa Ila-lah yang kini menempati raga tersebut.
"Apa, Dad? Cerita saja," desak Galenio. Ia ingin mendengar pengakuan langsung tentang perasaan ayahnya.
"Saat Daddy lihat penampilannya yang sekarang, tiba-tiba Daddy teringat Ila. Seakan Daddy melihat sosok Ila di dalam diri Aqila..." lirih Zidan. Suaranya mulai bergetar, pertahanannya runtuh. Rasa rindu dan rasa bersalah yang selama ini terkubur kini meluap kembali.
"Serindu itu Daddy sama Ila sehingga Daddy melihat aura seperti Ila di diri Aqila?" tanya Galenio. Dalam hati, ia merasa sedikit lega. Ia senang karena ayahnya benar-benar menunjukkan penyesalan karena telah menyia-nyiakan Ila di kehidupan sebelumnya.
"Hem. Daddy sangat rindu. Jika saja waktu bisa diputar kembali, Daddy akan menyayangi Ila dan membuat Mommy tenang di sana..." Air mata mulai jatuh membasahi pipi Zidan. Lagi dan lagi, ia menangis saat mengingat permintaan terakhir mendiang istrinya untuk menjaga putri mereka tidak pernah ia laksanakan dengan baik.
Galenio menghela napas panjang melihat kerapuhan ayahnya. "Sudahlah, Dad. Ini semua sudah terjadi. Anggap saja Aqila anak Daddy sendiri, hitung-hitung untuk menebus kesalahan Daddy pada Ila dulu," saran Galenio.
Ia sengaja memberi saran itu tanpa berniat memberi tahu kebenaran yang sesungguhnya. Bukan karena ia ingin melihat ayahnya menderita, melainkan karena ia harus menjaga rahasia Ila. Ia tahu adiknya sekarang sedang sangat bahagia bersama keluarga barunya, dan ia tidak ingin merusak itu.
Zidan menatap putra sulungnya itu dengan lekat, wajahnya tampak bingung. "Kenapa harus menganggap Aqila anak Daddy?"
"Kan kata Daddy tadi, melihat Aqila seperti melihat Ila. Jadi tidak ada salahnya menganggap Aqila sebagai anak Daddy sendiri. Mungkin itu akan membuat hati Daddy sedikit lebih tenang dari kesedihan," jelas Galenio panjang lebar.
(Dek, semoga setelah ini kamu bisa merasakan kasih sayang Daddy yang sebenarnya. Daddy akan menyayangimu meskipun kamu berada di tubuh orang lain. Hanya ini cara untuk membuatmu tidak takut lagi pada Daddy), batin Galenio. Ia berharap dengan cara ini, Zidan akan memperlakukan Aqila dengan lembut sehingga perlahan ketakutan di hati Ila akan pudar.
Zidan terdiam, memikirkan ucapan Galenio yang terasa benar. Mungkin dengan menganggap Aqila sebagai anaknya, lubang di hatinya bisa sedikit tertutup. "Benar. Daddy nanti akan berkunjung ke rumah Bryan," tekadnya dengan mantap.
Galenio tersenyum tipis, sebuah kemenangan kecil di hatinya. "Iya, Dad," ucapnya menutup pembicaraan malam itu.
...****************...
"Nah, ini namanya WhatsApp, Dek," ucap Elzion dengan nada sok tahu yang kental. Ia mulai menggeser layar ponsel baru itu, menunjukkan deretan aplikasi yang tampak asing di mata adiknya.
Malam itu, setelah makan malam selesai, ketiga anak pasangan Bryan dan Zeline itu segera meluncur ke kamar si bungsu. Sebenarnya Bryan tadi sempat memberi peringatan keras pada kedua anak kembarnya agar mengajari Ila hal-hal yang baik saja, tanpa keisengan yang aneh-aneh.
"WhatsApp?" tanya Ila dengan kening berkerut bingung. Saat ini, Ila sedang duduk nyaman di pangkuan Alzian, sementara Elzion duduk di samping mereka, bertindak sebagai guru dadakan.
"WhatsApp ini gunanya untuk mengirim pesan dan menelpon orang, Dek," jelas Elzion, mencoba bersabar di menit-menit awal.
Ila mengangguk-angguk kecil seolah baru saja menemukan penemuan besar. "Gimana cara telpon dan kirim pesan?" tanya Ila penasaran.
"Nah, begini caranya. Ini kan ada gambar seperti gelembung pesan, kan? Kamu pencet ini, lalu cari nama orang yang ingin Adek hubungi, terus pencet lagi. Setelah masuk ke room chat-nya, kamu bisa ketik apa saja yang ingin kamu beritahu," jelas Elzion dengan sangat hati-hati agar adiknya yang polos ini paham. "Terus kalau mau telpon, pencet gambar yang ini..." lanjutnya sambil menunjuk ikon berbentuk telepon rumah di layar ponsel Ila.
"Ila mau kirim pesan ke Luna!" seru Ila dengan mata berbinar.
"Luna? Emang kamu udah punya nomornya?" tanya Elzion.
Ila menatap Elzion dengan tatapan paling polos yang pernah ada. "Nomor?" gumamnya bingung.
"Ck, kalau gak ada nomor teleponnya, mana bisa kita mengirim pesan padanya..." decak Elzion mulai gemas sendiri.
Sementara itu, Alzian hanya bisa terkekeh melihat kepolosan adiknya. Sejak tadi ia hanya diam memantau, sambil sesekali mengecup pipi chubby Ila yang sangat menggemaskan itu.
"Kemana kita cari nomor telepon Luna?" tanya Ila tanpa dosa.
"Minta ke Luna langsung dong, Dekk..." jelas Elzion dengan nada yang mulai naik satu oktav.
Ila menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Ayo Abang, pergii!" ajak Ila sambil menarik-narik lengan baju Alzian.
"Heh, mau kemana? Kan belajar menggunakan ponselnya masih berlanjut dan belum selesai!" tanya Elzion heran melihat adiknya yang sudah siap-siap mau turun.
Ila menatap Elzion dengan wajah bingung. "Iya, ini kan masih belajar. Kata Abang tadi kalau mau kirim pesan ke Luna kita meminta langsung ke Luna. Nah, sekarang Ila mau ajak Bang Lian ke rumah Luna untuk meminta nomornya," jelas Ila dengan logika polosnya yang sangat kuat.
Alzian kembali meledak dalam tawa. Elzion, di sisi lain, membuang napas kesal seolah sedang membuang beban berat. "Ini malam, Dek! Bisa besok mintanya. Astagaaa..." Elzion memijat keningnya. Ternyata mengajar orang polos benar-benar menguras energi.
"Why? Ila kan mau kirim pesan sekarang. Emang bisa kirim pesannya sekarang dan minta nomor teleponnya besok?" tanya Ila lagi dengan ekspresi yang begitu meyakinkan.
Rasanya kesabaran Elzion sudah setipis tisu yang dibasahi air. Ingin rasanya ia memindahkan adiknya ini ke planet lain agar kepalanya tidak meledak. "Alzian, gue nyerah! Lo aja yang ajarin Ila!" seru Elzion akhirnya mengangkat bendera putih. Ia menyerah, kawan-kawan!
Alzian yang melihat kembarannya menyerah segera mengambil alih dengan kelembutan. "Dek, dengerin Abang ya. Ini sudah malam dan waktunya tidur. Kalau mau meminta nomor ponsel Luna, besok saja di sekolah yaa. Nah, nanti malamnya baru kamu bisa kirim pesan ke Luna," jelas Alzian lembut.
Anehnya, Ila langsung mengangguk patuh tanpa membantah sedikit pun. "Oke Abang."
Elzion yang melihat itu langsung melongo. Ia tak percaya adiknya tidak cerewet kepada Alzian, padahal tadi ia baru saja 'berperang' kata-kata dengan Ila. Ya, tentu saja beda, Elzion! Kamu mengajari dengan nada kesal, sedangkan Alzian menggunakan suara lembut yang menenangkan hati Ila.
Drit... derit... drt...
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering nyaring. Ila dengan sigap segera mengecek ponsel birunya dengan harapan ada seseorang yang menghubunginya.
"Ck, HP Abang yang bunyi, Cil..." decak Elzion ketus. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah balkon kamar Ila untuk menerima telepon tersebut.
"Kok HP Ila gak bunyi?" gumam Ila dengan bibir yang mulai cemberut.
Alzian kembali terkekeh geli. "Belum ada yang tahu nomor telepon kamu, Dek. Jadi tidak ada yang hubungi kamu," godanya sambil menarik hidung mungil Ila dengan gemas.