Terperangkap pernikahan dadakan membuat Ustad Syamir harus menerima Syahira sebagai istrinya. Padahal dia hendak menikahi Zulaikha, wanita sholeha yang diidamkannya. Semua itu pupus karena kesalahan satu malam. Niat hati Ustad Syamir menolong Syakira justru berbuntut pengerebekan warga dan nikah paksa. Tak hanya batal nikah dengan Zulaikha, Ustad Syamir harus menikah dengan Syahira, wanita gaul dari Jakarta yang jelas-jelas tidak dikenalnya.
Ustad Syamir harus menelan pil pahit karena gunjingan orang ditambah lagi dia harus membatalkan pernikahannya. Selain itu dia harus mengantarkan Syakira ke Jakarta tanpa memiliki bekal yang cukup.
Apakah Syamir dan Syahira akan tetap bersama atau memilih bercerai mengejar mimpi mereka masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andropist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Lurah
Nun jauh di desa, Zulaikha kini terdiam dengan tatapan kosong di depan jendela yang mengarah langsung ke pemandangan persawahan. Sudah berhari-hari semenjak kepergian Syamir dari desa ini Zulaikha meratapi kepergiannya. Kedua orangtuanya tampak begitu cemas melihat kondisi putri semata wayangnya itu saat ini. Apalah mau dibuat, tak ada yang bisa mengobati kondisi batin Zulaikha selain Syamir.
“Piye to Pak? Wes mang dinten-dinten anak wedok kita macam ini. Ibu jadi semakin khawatir.” Bu Kiyai mengintip keadaan Zulaikha dari balik pintu kamarnya.
“Emmm, aha! Ibu suruh saja Zulaikha keluar omah. Nganter apalah, dia kan suka tenan keluar rumah sambil bercengkrama dengan warga sekitar, lebih-lebih nang bocah. Piye ?” Usul Pak Kiyai pada istrinya.
“Yo wes, Ibu coba dulu.”
Bu Kiyai lalu pergi ke meja jahitnya, ia mengambil bingkisan berisi baju hasil jahitannya. Ia kemudian menunjukkan bingkisan itu pada Pak Kiyai.
“Ibu ada jahitan yang belum diantar, ini punya Pak Lurah. Ibu mau suruh Zulaikha buat ngater jahitan ini. Sekalian biar Zulaikha bisa ketemu sama anak lanange Pak Lurah. Mungkin kali ini kita harus membuka pintu hati kita pada anaknya Pak Lurah. Ibu lihat mereka sudah berubah Pak.” Jelas Bu Kiyai.
“Nah, bolehlah. Sana cepat samperin Zulaikha.” Pak Kiyai terlihat antusias.
Bu Kiyai kemudian mengetuk pintu kamar Zulaikha. Dari dalam Zulaikha membukakan pintu dengan enggan. Rasanya ia tak mau beranjak dari depan jendela dan ingin terus seperti itu. Tapi tak baik juga jika ia mengabaikan panggilan dari kedua orang tuanya.
“Enjeh, ono opo to Bu?” tanya Zulaikha dengan tak semangat.
“Ini to Ndok, Ibu ada jahitan yang belum diantar tapi ibu lagi repot tenan. Jahitan ini harus diantar hari ini, punyanya Pak Lurah. Ndok mau kan mengantarkannya?” Bu Lurah lalu menyodorkan bingkisan itu pada Zulaikha.
Sebenarnya Zulaikha enggan, tapi ia tak sampai hati jika harus menolak perintah dari kedua orang tuanya. Apalagi kata ibunya ia sedang kerepotan, Zulaikha akhirnya harus mau mengantarkan bingkisan itu.
“Baik Bu. Kalau begitu Zulaikha pamit mau mengantar jahitan ini ya, assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Dengan berat hati Zulaikha menyeret kakinya menuju rumah Pak Lurah. Zulaikha sebenarnya sedikit menaruh benci dan curiga pada Pak Lurah karena ia adalah penyebab diusirnya Syamir dari desa ini. Tapi Zulaikha juga tak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak punya lasan yang kuat disertai bukti yang membuktikan bahwa Syamir sebenarnya telah difitnah. Kini Zulaikha melamun untuk beberapa saat, akankah ia bisa kembali menemi Syamir? dimana ia sekarang? Zulaikha merasa ingin menangis saat membayangkan kondisi Syamir sekarang bersama wanita asing itu.
Di rumah Pak Lurah Zulaikha melihat Pak lurah tengah duduk di teras dengan anak laki-laki kesayangannya itu, Wahyu namanya. Sejak kecil Pak lurah selalu memaksakan perjodohan antara Wahyu dan Zulaikha tetapi orang tua Zulaikha selalu menolaknya. Alasannya karena dulu Pak Lurah sering main dukun, ia juga belajar ilmu hitam. Belum lagi Pak Lurah sering mengajak para warga desa untuk melakukan tradisi yang menyimpang dari ajaran agama. Orang tua Zulaikha menentang keras tradisi yang dilakukan oleh Pak Lurah, semenjak Syamir pulang dari Mesir dan mendakwahkan ajaran agama pada mereka perlahan warga desa mulai meninggalkan tradisi yang menyimpang itu.
Pak Lurah nampaknya sedang membicarakan hal yang sangat serius bersama putra semata wayangnya itu. Sampai-sampai Pak Lurah menundukan kepalanya agar tidak didengar oleh orang lain. Zulaikha sangat penasaran dengannya, ia lalu bersembunyi dibalik tembok rumah Pak Lurah untuk menguping pembicaraannya. Zulaikha kaget begitu mendengar nama Syamir disebut-sebut. Untung saat itu Zulaikha membawa handphone-nya, ia lalu merekam pembicaraan Pak Lurah dengan anaknya itu.
“Wes, koe rausah cemas. Sekarang pemuda sok alim itu telah Bapak singkirkan dari desa ini jadi koe wes rak ono sainganne. Bapak juga telah membujuk orang tua Zulaikha agar bersedia kembali menjodohkan kalian. Jika semuanya lancar maka pernikahan akan segera terlaksana.” Pak Lurah tersenyum licik pada anaknya itu.
“Beneran Pak? Wahyu seneng tenan ngupingne. Tapi wahyu masih cemas Pak, bagaimana kalau nanti Bapak ketahuan telah memfitnah Syamir. Wahyu ndak mau kena getahne.”
“Ya ndak bakal lah le. Koe tenang wae, Bapak telah meyingkirkan semua buktinya. Termasuk mobil milik gadis kota itu. Jadi ndak bakal ada yang tahu.”
“Bapak umpeti nangendi to mobilnya?”
“Bapak wes jual ke pengepul di kabupaten. Wes bersih le, ra bakal ketahuan lagi.”
“Tapi bagaimana bisa Bapak mengetahui kalo Syamir wes nyelametin wanita itu dari kecelakaan mobil?”
“Karena Bapak yang mendabrak mobil wanita itu.”
“Opo?” Wahyu begitu kaget saat mendengar pernyataan dari ayahnya itu.
“Hush! Rausah teriak, nanti warga desa denger. Jadi malam itu Bapak karo Mas Prapto baru mulih dari kabupaten habis beli pupuk karo benih. Mas Prapto ngantuk tenan waktu itu, saking ngantuk ia rak iso ngerem dan malah nginjak gas pas berpapasan sama mobil yang ada di depan. Mobil itu yo mobilnya si gadis kota itu. Mobil si gadis banting stir yang akibatnya nabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan. Bapak panik waktu itu, akhirnya Bapak kabur saja. Tapi Bapak kepikiran juga soal gadis itu.”
“Ujung-ujungnya Bapak kembali menhampiri mobil itu, tapi Sudah ada Syamir di sana. Tadinya Bapak juga mau bantu nolong tapi dicegah karo Mas Prapto ‘rausah Pak, nanti kita ketahuan’ begitu kata Mas Prapto. Akhirnya Bapak pulang saja. Malamnya Bapak kepikiran rencana buat menggagalkan perjodohan Syamir karo Zulaikha, yo pake gadis kota itu. Piye? Bapak pinter to?” Pak Lurah mengakhiri penjelasannya dengan mengusap-usap dagunya.
“Bapak tega tenan wes ninggalin gadis itu tanpa menolongnya terus malah bawa-bawa orang lain buat dikambing hitamkan.” Wahyu mengutarakan perasaan yang tengah dirasakan oleh hati kecilnya.
“Heh! Diam koe! Ini demi kebaikan semuanya. Kalo Bapak ora bertindak macam itu maka koe raiso berjodoh karo Zulaikha. Mestine koe berterima kasih ke Bapak karena sudah berkorban untuk koe.”
“Tapi....”
“Rausah tapi-tapi. Wes cepat bersiap, malam ini kita akan bertamu ke rumahnya Pak Kiyai.”
Zulaikha menangis saat mengetahui kebenaran yang baru saja ia dengar. Ternyata betul dugaan Zulaikha kalau Pak Lurahlah yang telah memfitnah Syamir. Ia juga dalang dibalik kecelakaan yang terjadi pada gadis dari kota itu. Saking kagetnya Zulaikha sampai menjatuhkan bingkisannya. Pak Lurah lalu terperanjat saat mendengar suara itu.
“Sopo di sana?” Pak Lurah bangkit dari kursinya dan mendekati arah suara itu.
Zulaikha langsung berlari sekencang mungkin, ia takut jika keberadaannya diketahui oleh Pak Lurah. Untung saja ia sudah pergi agak jauh saat Pak Lurah mengecek tempat Zulaikha tadi.
“Ono opo to Pak?” tanya Wahyu pada Bapaknya.
“Ndak. Wes mari bersiap.” Pak Lurah dan Wahyu lalu masuk ke rumah mereka.
Zulaikha lalu berlari dengan kencang menuju titik tengah desa. Di sana biasanya warga desa berkumpul untuk sekedar menikmati waktu sore. Para anak kecil bermain permainan kampung seperti engklak, layangan, kelereng, gangsing, dll. Sedangkan para pemuda biasanya bermain sepak bola dan ibu-ibu biasanya duduk di bangku sambil bergosip. Kadang jika hari bertanen telah usai bapak-bapak juga duduk berkumpul untuk minum kopi bersama sambil mendiskusikan hasil tanennya. Zulaikha berlari ke arah Pos Ronda. Ia lalu membunyikan pentungan sekencang-kencangnya. Para warga lalu berkumpul mengerumuni Zulaikha.
“Bapak-Bapak! Ibu-Ibu! Semuanya berkumpul!” teriak Zulaikha.
“Ono opo to Zul?” tanya salah seorang warga.
“Ada berita penting yang hendak Zulaikha sampaikan pada kalian.” Dengan wajah yang serius dan nafas yang dipacu Zulaikha meyakinkan semua warga.
“Berita penting opo to?”
“Lebih baik kalian dengar langsung. Ini.” Zulaikha lalu memutar rekaman suara dari handphone-nya dengan volume yang full.
Para warga medengarkan dengan serius isi remakan itu. Setelah rekaman itu selesai memutarkan seluruh isinya para warga langsung berubah kaget dan tak percaya. Bisik-bisik mulai menyebar. Warga kini telah disulut emosinya, mereka merasa telah dibohongi oleh Pak Lurah.
“Ayo kita labrak Pak Lurah sekarang!” teriak salah satu warga.
“Jangan langsung gegabah. Lebih baik beberapa orang memanggil polisi sekarang. Ingat! Kita tidak boleh main hakim sendiri.” Zulaikha mencoba menenangkan amukan warga.
“Tapi kita harus tetap melabrak Pak Lurah, nanti dia kabur lagi.” Kata salah seorang warga.
“Lebih baik kita tunggu polisi datang.” Ucap Zulaikha.
“Alah kelamaan.” Semua warga sudah habis kesabaran, mereka berduyun-duyun menghampiri rumah Pak Lurah. Zulaikha lalu mengejar mereka. Tak lupa Zulaikha juga menelpon Polisi.
Para warga dengan disulut oleh emosi langsung mendrobrak pintu rumah Pak Lurah. Pak Lurah dan Keluarga yang ada di dalam rumah kaget bukan main saat mengetahui ada banyak warga yang kini tengah mengepung rumahnya. Pak Lurah bingung atas kejadian ini.
“Woy Pak Lurah! Keluar koe! Atau kami dobrak secara paksa?” ancam salah satu warga.
Pak Lurah yang takut mendegarnya langsung membukakan pintu.
“Ono opo to iki? Kenapa kalian ribut-ribut di depan ruah dewek hah?” Pak Lurah geram melihat tingkah aneh warga.
“Heh, ngaku koe! Koe wes memfitnah Syamir dan mencelakai gadis dari kota itu kan?” ucap salah seorang warga.
“Jangan asal tuduh kalian. Mana buktinya?”
“Alah masih mau ngelak to, wes semuanya serang!” para warga lalu memukuli Pak Lurah. Memang begitu di kampung itu, warga masih melakukan praktek main hukum sendiri. Untungnya tak lama Polisi datang, Polisi lalu menghentikan aksi main hakim sendiri yang dilakukan oleh para warga itu.
“Tenang semuanya, biar kami yang tangani. Kami baru mendapat laporan terkait kasus tabrak lari dan pencemaran nama baik. Kami akan menindak lanjutinya sekarang.” Ucap Polisi itu. Para warga pun tenang.
“Pak ikut kami ke kantor Polisi.” Polisi lalu meringkus Pak Lurah.
“Heh apa-apaan ini? aku ora salah! Ini fitnah! Fitnah!” Pak Lurah bersikeras mencoba mengelak.
“Mbak ikut kami juga ya untuk memberikan kesaksian.” Polisi juga mengajak Zulaikha untuk memberikan kesaksiannya. Zulaikha ditemani oleh beberapa warga pergi ke kantor polisi dan menyerahkan barang bukti serta memberi kesaksian. Akhirnya setelah ini nama Syamir pun kembali bersih.
Di rumah, Si Mbok tengah sakit-sakitan. Semenjak kepergian Syamir, Si Mbok terus menangis dan meratapi kepergian putra semata wayangnya itu. Tak lama seorang warga mengetuk pintu rumahnya.
“Mbok! Mbok!” warga itu mengetuk pintu rumah dengan kencang.
Si Mbok lalu membukakan pintu. Dengan mata yang masih sembab dan tubuh yang mulai lemah ia berjalan membukakan pintu.
“Mbok, Pak Lurah ditangkap Polisi! Syamir ternyata difitnah oleh Pak Lurah Mbok!” warga itu memberi tahu si Mbok dengan penuh semangat.
Si Mbok terbelalak, ia seakan tak percaya atas apa yang baru didengarnya. Tangannya menutupi mulunya dengan gemetaran. Air mata yang hampir kering itu lalu menetes perlahan membasahi wajah renta Si Mbok. Saking senangnya Si Mbok iba-tiba ambruk tak sadarkan diri.
“Mbok, bangun Mbok! Mbok!” warga itu mencoba membangunkan Si Mbok.