NovelToon NovelToon
Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Nenek Gerandong : Kisah Urban Legend Indonesia

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horror Thriller-Horror / Hantu / Horor / Tamat
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: SARUNG GAME

Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia

Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang

Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Sore yang Hangat di Sungai

Sari Wangi duduk di teras, tatapannya kosong ke arah hutan. Wajahnya yang cantik masih pucat, lingkar hitam di bawah matanya belum hilang sepenuhnya. Trauma malam itu masih menempel seperti bayang yang tak mau pergi—gambar Lilis direnggut dari pelukannya, tawa serak Nenek Gerandong, dan rasa tak berdaya yang membuat dadanya sesak setiap kali Lilis menangis di malam hari. Ia mencoba tersenyum setiap Lilis memandangnya, tapi senyum itu rapuh, seperti daun kering yang hampir jatuh.

Siti Aisyah—Mbak Neneng—datang pelan dari jalan setapak, membawa keranjang anyaman kecil berisi sabun colek dan kain ganti. Usianya 37 tahun, tapi kecantikannya masih utuh seperti gadis dua puluh tahunan: kulit kuning langsat mulus, rambut hitam disanggul rapi, payudara montok terlihat samar di balik Jariknya. Ia mengenakan jarik batik putih motif coklat yang dililit ketat dari dada sampai setengah paha, kainnya menempel rapat menutupi lekuk tubuhnya dengan anggun. Di belakangnya, tiga anaknya berlari kecil-kecilan: si sulung Cecep laki-laki berusia 10 tahun, tubuhnya gemuk dengan pipi tembem yang selalu mengundang cubitan, lalu dua adik perempuannya—Ratih 8 tahun dan Lila 5 tahun—keduanya lincah seperti anak kucing.

“Neng Sari... ayo mandi ke sungai. Udah lama kita nggak ke sana bareng,” ajak Siti Aisyah lembut, tangannya menyentuh bahu Sari. “Lilis aman sama nenek. Biar kau rileks sedikit. Anak-anak juga kangen main air sama Teteh Sari.”

Sari menatap Siti Aisyah, matanya berkaca-kaca. “Aku... aku takut, Mbak Nen. Kalau hutan itu... kalau dia muncul lagi...”

Siti Aisyah memeluknya pelan. “Kita tidak masuk ke dalam. Cuma di bagian sungai dekat desa, yang tenang, yang selalu kita pakai dulu. Anak-anak ikut, kita bareng-bareng. Kau perlu ini, Neng. Lilis sudah kembali. Biar hatimu juga kembali.”

Akhirnya Sari mengangguk pelan. Ia masuk ke rumah, berganti jarik batik coklat tua yang dililit ketat dari dada sampai setengah paha, kainnya menutupi payudara montok dan pinggul penuhnya dengan pas. Ia keluar lagi, rambutnya terurai basah karena baru dicuci muka, wajahnya sedikit lebih cerah meski masih ada bayang trauma di matanya.

Mereka berlima berjalan ke sungai kecil yang mengalir di belakang desa, jalan setapaknya dikelilingi rumput liar dan pohon pisang yang daunnya bergoyang pelan. Sungai itu tenang sore ini, airnya jernih mengalir pelan di atas batu-batu halus, kedalamannya hanya sampai pinggang orang dewasa. Di tepiannya ada hamparan rumput hijau yang lembut, tempat yang dulu sering mereka pakai untuk mandi dan mencuci kain.

Anak-anak Siti Aisyah langsung berlari ke air. Cecep melompat duluan, cipratan air naik tinggi, membuat Ratih dan Lila menjerit kegirangan sambil ikut masuk. Mereka memercikkan air satu sama lain, tawa mereka bergema seperti lonceng kecil di udara sore yang hangat.

Siti Aisyah dan Sari masuk pelan ke air yang sejuk. Jarik batik mereka basah menempel di kulit, menonjolkan lekuk tubuh yang indah tapi tetap terlindung sopan. Air menyentuh dada mereka, membuat kain jarik semakin ketat, tapi mereka tak peduli—sore ini hanya tentang kebersamaan.

Sari duduk di batu besar yang rata di tepi sungai, air mengalir pelan di kakinya. Matanya menatap anak-anak yang bermain, tapi pikirannya masih jauh. Siti Aisyah duduk di sampingnya, tangannya memercikkan air kecil ke wajah Sari.

“Neng... lihat mereka. Lihat Cecep. Pipinya tembem sekali, seperti roti bakar yang baru keluar dari tungku,” kata Siti Aisyah sambil tertawa kecil.

Sari menoleh. Cecep sedang bermain kejar-kejaran dengan adik-adiknya di air dangkal, tubuhnya yang gemuk membuat cipratan air lebih besar setiap kali ia melompat. Pipinya bulat merah, matanya berbinar kegembiraan. Sari tersenyum tipis—pertama kalinya sejak kejadian itu.

“Gemes sekali, Mbak Nen...” gumam Sari.

Ia bangkit pelan, berjalan ke arah Cecep. Anak laki-laki itu melihatnya, langsung berhenti bermain, tapi Sari sudah lebih cepat. Ia memeluk Cecep dari belakang, tangannya melingkar di perut anak itu yang bulat, lalu mencium pipi tembemnya berulang kali—cium yang basah dan penuh sayang.

“Cecep... gemes sekali pipimu ini,” kata Sari sambil tertawa kecil, jarinya mencubiti pipi Cecep pelan-pelan, membuat anak itu meringis tapi juga tertawa.

Cecep berusaha menolak, tangan kecilnya mendorong pelan. “Bibi... jangan dicium! Cecep sudah besar! Nanti dilihat teman Cecep, Cecep malu, Bibi!”

Sari tak peduli. Ia mencium lagi, kali ini lebih lama di pipi kanan, lalu kiri, lalu dahi. “Biar saja dilihat temanmu. Teteh gemes sama Cecep. Pipinya empuk seperti adonan kue. Kalau nggak dicium, Teteh sedih.”

Cecep memerah, tapi tawanya pecah. “Teteh jahat! Lepasin Cecep! Cecep mau main lagi!”

Siti Aisyah tertawa melihat dari kejauhan, Ratih dan Lila ikut mendekat, memeluk kaki Sari. “Teteh Sari! Cubit pipi Cecep lagi dong!” kata Lila kecil sambil tertawa.

Sari melepaskan Cecep, tapi sebelum itu ia mencium kening anak itu sekali lagi. “Baiklah... pergi main. Tapi jangan jauh-jauh ya.”

Cecep lari kembali ke air, tapi wajahnya masih merah dan tersenyum lebar. Sari kembali duduk di batu, kali ini senyumnya lebih tulus. Ia menatap anak-anak yang bermain—Cecep memercikkan air ke adik-adiknya, Ratih menjerit kegirangan, Lila tertawa sampai terjatuh di air dangkal. Tawa mereka seperti obat—perlahan menghapus bayang malam itu dari hati Sari.

Siti Aisyah duduk di sampingnya lagi, tangannya memegang tangan Sari. “Lihat, Neng. Mereka bahagia. Lilis juga akan tumbuh seperti mereka. Kamu tidak sendirian. Kita semua ada untukmu.”

Sari menatap Siti Aisyah, air matanya jatuh pelan—bukan air mata sedih, tapi lega. “Terima kasih, Mbak Nen. Aku... aku mulai percaya lagi. Lilis aman. Desa aman. Mungkin... Nenek itu juga mulai mengerti.”

Mereka berdua diam, hanya mendengar tawa anak-anak dan gemericik air sungai yang tenang. Sore itu menjadi simbol kecil: harapan yang lahir dari kebersamaan, pemulihan emosional yang pelan tapi pasti di tengah trauma yang masih membekas. Sari memeluk lututnya, senyumnya semakin lebar setiap kali Cecep melambai dari tengah sungai. Untuk pertama kalinya setelah malam itu, ia merasa hatinya ringan—seperti air sungai yang mengalir, membersihkan apa yang kotor.

Di kejauhan, hutan masih diam. Tapi sore itu, diamnya terasa berbeda—bukan ancaman, tapi seperti seseorang yang sedang mendengar... dan mungkin, mulai memaafkan.

1
Pemuja Rahasia 001
baru bab awal tapi bagus penyusunan kata halus , terutama saat deskripsi tentang teh sari
Pemuja Rahasia 001
bab 3 ini bagus penyusunan katanya bagus terutama saat teh sari pingsan di lantai
Pemuja Rahasia 001: bab 3 tentang moster laut bagus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!