Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-Hari Tanpa Angin
Koridor marmer putih yang biasanya ia lalui bersama langkah tenang sang pangeran kini terasa lebih panjang. Tatapan murid-murid tidak berubah; tetap ada bisik-bisik, pandangan iri, dan rasa ingin tahu yang berlebihan... tetapi kali ini, tidak ada angin yang berdiri di sisinya.
Lein berjalan sendiri menuju aula studi.
Tiga hari, pikirnya.
Hanya tiga hari.
Namun setiap hari terasa seperti ujian kecil yang tak tertulis.
Di aula, beberapa murid berhenti berbicara saat ia masuk. Ada yang berpura-pura membaca, ada yang berbalik menjauh. Beberapa penyihir senior meliriknya sekilas, bukan dengan kebencian, melainkan pengamatan.
Itu yang paling mengganggunya.
Pengamatan tanpa kata.
Lein duduk di sudut, membuka buku teori sihir dasar. Tangannya tenang, napasnya teratur. Dari luar, ia tampak seperti murid biasa: mana stabil, sihir ringan, dan tidak mencolok.
Namun di dalam dirinya.
Raksha terjaga.
Bukan mereka yang melihatmu, bisik suara lama itu.
Tapi sesuatu yang pernah kau tinggalkan.
Lein menutup buku.
Ia sudah terlalu lama pasif.
Jika seseorang di Academy ini ingin menguak rahasianya, maka ia harus tahu siapa dan mengapa alasannya.
***
Malam itu, Lein berjalan ke arah arsip terbuka Academy.
Bukan Arsip Tertutup, belum.
Ia tidak sebodoh itu.
Ia mulai dari catatan lama: daftar penelitian dosen, laporan eksperimen sihir terlarang yang pernah ditolak, dan catatan insiden mana yang disegel puluhan tahun lalu.
Nama-nama muncul.
Gram Blackfullet.
Karza Jetrats.
Beberapa penyihir senior yang bahkan sudah pensiun.
Namun satu hal yang membuatnya berhenti.
Catatan tentang fluktuasi mana tidak wajar di area Academy, dicatat beberapa dekade lalu.
Penyebab: Tidak diketahui.
Ciri: Mana stabil, namun terasa “asing”.
Lein menelan ludah.
Itu terlalu mirip.
“Kau mencari sesuatu yang spesifik?”
Suara itu membuatnya menegang.
Lein menoleh perlahan.
Seorang murid senior berdiri di dekat rak tidak asing, namun tidak dekat.
Bukan Jizz.
Seorang pria bermata abu-abu gelap, ekspresinya netral.
“Aku hanya membaca saja,” jawab Lein hati-hati.
Murid itu tersenyum tipis. “Berhati-hatilah. Beberapa catatan lama, biasanya tidak suka dibaca oleh orang yang salah.”
Ia berjalan pergi seolah tak terjadi apa-apa.
Namun Lein merasakan sesuatu tertinggal.
Bukan mana.
Melainkan niat.
***
Kembali ke kamarnya, Lein duduk di tepi ranjang.
Tangannya gemetar sedikit.
“Aku tidak ingin bersembunyi lagi,” Ucapnya.
Raksha menjawab pelan, nyaris seperti napas:
Dulu, kau dihormati karena ditakuti.
Kini, kau dicurigai karena terlalu tenang.
Lein menutup matanya.
***
Cahaya kristal di Arsip Lama bergetar pelan saat Lein mengulurkan tangannya.
Rak tertutup di hadapannya tidak bertanda. Tidak ada judul, tidak ada segel kasar, hanya lapisan mana tipis yang berdenyut seperti nadi yang tertahan. Ini bukan Arsip Tertutup, namun jelas bukan untuk murid biasa.
Lein menarik napas.
Sentuhan singkat saja.
Jarinya hampir menyentuh permukaan kristal.
“Jangan.”
Satu kata.
Pendek. Tegas.
Lein membeku.
“Jika kau menyentuhnya,” lanjut suara itu tenang, “alarm sihir tingkat dosen akan aktif. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat Karza datang sendiri.”
Lein menarik tangannya perlahan dan berbalik.
Siont Estesral berdiri di antara lorong rak, jubah murid senior menjuntai rapi. Wajahnya datar, mata abu-abu gelapnya tajam seperti telah membaca langkah Lein.
Di sampingnya, bersandar santai pada rak buku, seorang gadis berambut perak tersenyum tipis.
Cys Deraxle.
“Sayang sekali,” katanya ringan. “Sedikit lagi kau bisa mengambilnya.”
Lein menelan ludah. “Kalian mengikutiku?”
“Tidak,” jawab Siont. “Kami hanya berada di tempat yang sama.”
“Berulang kali bahkan,” tambah Cys.
Keheningan jatuh.
Lein merasakan tekanan tak kasat mata; bukan ancaman langsung, melainkan uji keberanian.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Lein akhirnya.
Siont menatap rak bersegel itu sejenak sebelum kembali padanya. “Jawaban.”
“Dan mungkin,” Cys melanjutkan, matanya menyipit penuh minat, “akses.”
Lein mengepalkan tangannya. “Aku tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan pada kalian.”
“Justru itu,” kata Siont. “Kau punya sesuatu yang langka.”
Lein merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Mana yang stabil secara tidak wajar,” lanjutnya datar. “Tidak besar, tidak liar. Tapi Primordial.”
Kata terakhir itu membuat Raksha tersentak.
Terlalu cepat.
Mereka sudah mencium jejakku.
“Aku hanya murid biasa,” ujar Lein.
Cys terkekeh pelan. “Kalau begitu, jelaskan kenapa arsip ini merespons kehadiranmu.”
Seolah menegaskan ucapannya, segel mana di rak itu berdenyut pelan, lebih terang dari sebelumnya.
Lein mundur satu langkah.
“Aku tidak berniat membuka apa pun,” katanya cepat. “Aku hanya mencari informasi.”
“Begitu juga kami,” jawab Siont.
Ia melangkah lebih dekat, cukup dekat hingga Lein bisa melihat garis tipis bekas rune lama di pergelangan tangannya.
“Kami tahu Academy ini menyembunyikan sesuatu,” katanya. “Dan kami tahu Karza bukan satu-satunya yang bermain di sisi gelap.”
Cys menegakkan tubuhnya. “Kami punya tujuan sendiri. Kau juga, kan.”
Lein terdiam.
“Bagaimana kita bekerja sama,” lanjut Cys ringan, namun matanya serius. “Kami tutup mata soal apa yang kau cari. Kau berbagi apa yang kau temukan.”
“Sebagai gantinya?” tanya Lein.
Siont menjawab tanpa ragu. “Perlindungan.”
Lein tertawa kecil. “Aku sudah punya masalah karena dilindungi orang yang kusayang.”
“Bukan perlindungan secara terang-terangan,” kata Cys. “Kami bekerja dari bayangan.”
Keheningan kembali turun.
Raksha menguap pelan di dalam dirinya:
Mereka bukan pemburu.
Mereka adalah penjarah rahasia.
Lein menutup mata sejenak, lalu membuka kembali.
“Aku tidak percaya pada kalian,” katanya jujur.
Siont mengangguk. “Itu terserahmu.”
Cys tersenyum lebih lebar. “Kami juga tidak percaya padamu.”
Mereka bertiga berdiri dalam kesepakatan rapuh; tanpa sumpah, tanpa segel.
Hanya kepentingan yang saling bersinggungan.
“Pikirkan lagi,” kata Siont sambil melangkah pergi. “Karena lain kali, kami mungkin tidak datang untuk menghentikanmu.”
Cys melambaikan tangan. “Roselein”
Lein menoleh.
“Jangan sentuh arsip itu sendirian,” ucapnya pelan. “Beberapa rahasia suka memilih pembacanya.”
Mereka menghilang di antara rak.
Lein berdiri lama, napasnya perlahan menenangkan diri.
Tanpa Reyd, pikirnya,
dunia ini jauh lebih tajam.