Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Janji di Bawah Langit Bagaskara
Pagi itu, grand ballroom hotel bintang lima milik keluarga Bagaskara telah disulap menjadi taman bunga putih yang sangat sakral. Aroma melati menyeruak, beradu dengan ketegangan yang menggantung di udara. Zea berdiri di balik pintu besar, napasnya terasa pendek.
Gaun pengantinnya yang sangat mewah ternyata menjadi beban fisik yang luar biasa. Ratusan payet dan kristal yang dijahit tangan itu terasa seberat beban hidup, menekan bahunya yang mungil. Ditambah lagi, high heels 12 cm pilihan Tuan Bagaskara mulai membuat kakinya terasa seperti ditusuk-tusuk jarum.
"Zea... kamu siap?" tanya Papa Zea pelan.
Zea menoleh ke arah Papanya. Pria itu tampak gagah dengan beskap tradisional, namun matanya merah dan berkaca-kaca. Papa Zea menggenggam tangan putrinya erat, sebuah genggaman yang terasa bergetar.
"Zea, kalau Mama masih ada... dia pasti bangga sekali liat kamu secantik ini," bisik Papa Zea dengan suara serak. Air mata akhirnya jatuh di pipi pria tua itu. "Maafin Papa ya, Nak. Papa harus ngelepas kamu secepat ini."
Zea tidak bisa menahan tangisnya. Ia teringat mendiang Mamanya. Di hari sebahagia ini, ada ruang kosong di hatinya yang tidak bisa diisi oleh kemewahan apa pun. "Papa jangan nangis... Zea jadi mau nangis juga," rengek Zea manja, persis seperti anak kecil, meski ia sedang dibalut gaun miliaran rupiah.
Pintu terbuka. Musik gamelan yang syahdu mulai mengalun. Zea berjalan perlahan, bertumpu pada lengan Papanya. Setiap langkah terasa menyiksa; kakinya gemetar menahan sakit dari heels-nya, dan berat gaun itu membuatnya merasa hampir limbung. Pandangannya sempat memutar, dunianya terasa bergoyang.
Namun, di ujung sana, di depan meja akad, Antares sudah duduk.
Antares terlihat sangat berbeda. Ia mengenakan jas formal dengan gaya rambut yang ditata rapi, menunjukkan dahi dan wajahnya yang tegas. Begitu melihat Zea masuk, mata Antares yang biasanya dingin dan analitis, mendadak melunak. Ada binar kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan.
Antares sadar Zea sedang kesulitan. Ia melihat istrinya berjalan dengan sangat pelan dan wajahnya sedikit pucat. Begitu Zea sampai di depannya, Antares segera mengulurkan tangan, membantu Zea duduk di kursi akad dengan gerakan yang sangat protektif.
"Tarik napas, Zea. Fokus ke saya," bisik Antares lirih, cukup hanya untuk telinga Zea.
Akad yang Menggetarkan
Penghulu mulai membuka acara. Suasana mendadak hening. Papa Zea menjabat tangan Antares. Genggaman itu adalah simbol penyerahan tanggung jawab dari seorang ayah kepada laki-laki lain.
"Saudara Antares Bagaskara bin Baskoro Bagaskara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Zea Anora binti Ahmad, dengan mas kawin logam mulia 100 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Antares menarik napas dalam. Tanpa ragu, dengan satu tarikan napas dan suara bariton yang mantap, ia berucap:
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Zea Anora binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"SAH!"
Suara para saksi dan keluarga bergemuruh. Zea memejamkan mata, air matanya jatuh—kali ini bukan karena stres maket atau cemburu, tapi karena ia menyadari bahwa ia baru saja terikat secara abadi dengan pria di sampingnya.
Antares menoleh ke arah Zea, ia mencium kening Zea dengan sangat lama di depan semua orang, termasuk di depan kamera-kamera yang meliput. Ia bisa merasakan tubuh Zea yang masih sedikit gemetar.
"Sudah sah. Kamu nggak perlu takut lagi," bisik Antares lembut. "Soal heels-mu yang sakit itu... setelah ini saya izinkan kamu lepas di bawah meja pelaminan."
Zea tersenyum di balik tangisnya. "Mas Antar... makasih ya."
Papa Zea memeluk mereka berdua, tangis harunya pecah. Di sisi lain, Tuan Bagaskara tampak tersenyum puas, seolah baru saja memenangkan proyek terbesar dalam hidupnya: mengamankan kebahagiaan putra tunggalnya.
Suasana haru setelah akad nikah baru saja mereda ketika keributan kecil terjadi di pintu masuk ballroom. Sosok wanita dengan gaun merah menyala—warna yang sangat tidak pantas karena mencuri perhatian dari sang pengantin—menerobos barisan penerima tamu.
Clarissa.
Dia berdiri di sana dengan dagu terangkat, matanya menyapu seisi ruangan yang berlapis emas dan kristal. Clarissa selama ini hanya tahu Antares adalah pria jenius yang "kutu buku" dan memilih jadi dosen. Dia tidak pernah menyangka bahwa nama belakang "Bagaskara" yang disandang Antares adalah pemilik dinasti rumah sakit dan hotel tempat mereka berada sekarang.
Saat sesi foto keluarga dimulai, Clarissa tanpa rasa bersalah melangkah maju ke depan pelaminan. Dia mengabaikan tatapan tajam Sarah yang sudah siap melemparinya dengan sepatu.
"Antar! Selamat ya," suara Clarissa melengking manis, terdengar sangat palsu di telinga Zea.
Antares yang sedang merangkul pinggang Zea langsung menegang. Wajahnya kembali ke mode "Dosen Es". "Clarissa? Saya tidak merasa mengundang kamu."
"Aduh, masa teman lama harus pakai undangan sih? Aku baru mendarat dari London dan dapet kabar kamu nikah mewah begini. Kenapa nggak bilang kalau kamu itu... sesukses ini?" Clarissa mengusap lengan jas Antares dengan gerakan yang sangat sengaja, matanya berkilat penuh ambisi.
Zea yang kakinya sudah berdenyut karena heels dan bahunya pegal karena berat gaun, merasa emosinya naik ke ubun-ubun. Dia tidak peduli lagi sedang di depan banyak orang.
"Maaf, Tante. Tangannya bisa dijaga nggak? Ini suami saya, bukan pajangan butik," celetuk Zea ketus, matanya menatap Clarissa dengan berani meski wajahnya masih sembap bekas tangis.
Clarissa tertawa kecil, menatap Zea dengan tatapan meremehkan. "Zea, ya? Kamu masih muda banget ya, pantesan Antares harus jagain terus. Tapi Antar, kamu butuh pendamping yang bisa diajak bicara bisnis, bukan cuma yang bisa nangis di pojokan."
Antares tidak membiarkan Clarissa bicara lebih jauh. Dia menarik Zea lebih rapat ke tubuhnya, seolah menegaskan batasan wilayah.
"Clarissa, dengar baik-baik," suara Antares rendah tapi sangat mengintimidasi. "Zea bukan cuma pendamping saya. Dia adalah alasan saya tidak lagi peduli pada dunia luar, termasuk kamu. Kehadiran kamu di sini tanpa undangan adalah gangguan. Silakan pergi ke area prasmanan, makan, dan setelah itu keluar sebelum tim keamanan saya mengawal kamu secara tidak sopan."
Clarissa tertegun. Dia tidak menyangka Antares akan sekejam itu di hari pernikahannya. "Tapi Antar—"
"Satu kata lagi, dan saya pastikan paspor kamu bermasalah untuk kembali ke London," ancam Antares dingin.
Clarissa akhirnya mundur dengan wajah merah padam, menyadari bahwa pesonanya tidak lagi mempan pada pria yang sudah menemukan "pusat gravitasinya".
Puncaknya: Zea yang Tumbang
Setelah drama Clarissa berlalu, Zea harus berdiri selama tiga jam untuk menyalami ribuan tamu. Berat gaun yang mencapai 10 kilogram dan heels yang menyiksa membuat keseimbangan tubuhnya hilang.
"Mas... pandanganku gelap..." bisik Zea tiba-tiba.
Tubuh Zea limbung. Sebelum ia menyentuh lantai, tangan Antares dengan sigap menangkapnya. Zea benar-benar pingsan karena kelelahan fisik dan stres mental yang bertubi-tubi.
Tanpa memedulikan tatapan ribuan tamu atau kilatan kamera wartawan, Antares langsung menggendong Zea secara bridal style.
"Papa, maaf. Resepsi ini saya akhiri sekarang. Istri saya lebih penting dari acara ini," ucap Antares tegas kepada Tuan Bagaskara yang juga tampak panik.
Antares membawa Zea keluar dari ballroom menuju lift pribadi menuju penthouse hotel. Di dalam gendongan suaminya, Zea yang pingsan tampak begitu kecil dan rapuh di balik gaun pengantinnya yang megah.