Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Kontrak Terungkap I
Hari kedua Naura dirawat, badannya udah mulai mendingan tapi tetep lemah banget, sampe buat angkat tangan aja rasanya capek.
Infus masih terpasang, monitor jantung masih bunyi beep beep teratur, dan Naura cuma bisa berbaring sambil ngeliatin langit langit ruangan yang sama dari tadi.
Layvin udah pulang tadi malem, dia bilang dia bakal balik lagi besok, dan Naura ngerasa seneng ada yang bakal dateng menjenguk. Bi Ijah dateng pagi tadi nganterin makanan dari rumah, perempuan itu nangis liat kondisi Naura, ngeraih tangan Naura sambil doa doa
"Nyonya harus cepet sembuh ya, Bi Ijah khawatir banget."
"Makasih Bi, Naura uda mendingan kok."
Bi Ijah berhenti sebentar, ada yang dia mau bilang tapi kayaknya ragu ragu. "Nyonya, Tuan Nathan."
"Gak apa-apa Bi " Naura motong sebelum Bi Ijah selesai, senyum tipis yang udah dia hapal masang di bibirnya. "Aku tau dia sibuk."
Bi Ijah menatap Naura dengan pandangan yang sakit, tapi dia gak nerusin.
Mereka ngobrol bentar soal ibu Naura yang kabarnya makin baik di rumah sakit lain, itu yang sedikit bikin Naura lega, setidaknya ada satu hal yang berjalan baik.
Bi Ijah pergi siang hari itu, Naura sendirian lagi.
***
Jam tiga sore, pintu kamar tiba tiba ketuk.
"Naura! Aku tau kamu disini, perawatnya bilang." suara riang dari luar bikin jantung Naura berdegup.
Mahira masuk dengan senyum lebar, tangan pegang buket bunga besar yang indah banget, warna kuning cerah.
"Mahira?" Naura kaget beneran kaget "Kenapa kamu kesini? Dari mana kamu tau?"
"Dari Bi Ijah lah, dia cerita ke aku waktu aku tadi nelpon kamu tapi ga diangkat." Mahira duduk di kursi samping tempat tidur sambil naruh bunga di meja. "Aku khawatir banget Naura, habis langsung kesini."
Naura ngeliat bunga bunga itu yang warna kuning cerah, bunga matahari yang dulu jadi favorit Naura waktu masih anak-anak.
Mahira inget.
Masih inget.
Naura ngerasa dada sesak tapi ini sengaja, karena Mahira emang sahabat terbaiknya kan? orang yang paling tau dia.
"Makasih Mahira, kamu ga perlu repot repot."
"Jangan ngomong gitu, kamu sahabatku." Mahira ngambil tangan Naura dan genggeng lembut. "Aku denger dari Bi Ijah kamu pingsan di kamarmu, astaga Naura, kenapa ga hubungi siapapun?"
Naura menggeleng pelan, "Aku gak sempet."
"Bukannya Nathan ada?" Mahira nanya dengan nada yang tampak innocen.
Nada yang sempurna.
Terlalu sempurna.
Naura merasa ada sesuatu dibalik pertanyaan itu, tapi dia gak bisa menyimpulkan begitu saja.
"Nathan, dia sibuk," Naura jawab pelan.
"Sibuk?" Mahira mengkerut dahi, pura pura kaget. "Tapi kamu kan istrinya? bukankah kalo istrinya sakit dia harusnya."
"Mahira jangan," Naura motong dengan suara lemah. "Aku ga pengen ngomongin itu."
Mahira diem sebentar, ngeliat Naura dengan pandangan iba yang sempurna. "Maafin aku, aku ga bermaksud bikin kamu ga nyaman."
Hening awkward beberapa detik.
Mahira pindahin kursinya lebih deket, tangannya masih menggenggam tangan Naura. "Naura, boleh aku nanya sesuatu? jangan marah ya."
"Apa?"
"Kamu dan Nathan, kalian beneran bahagia?" suara Mahira pelan dan hati hati.
Naura diem. Pertanyaan yang sama dengan yang Mahira dulu pernah nanya dikafe. Pertanyaan yang selalu bikin Naura ga bisa jawab jujur.
"Iya," jawabnya bohong lagi.
Mahira menatap Naura lama, matanya tajam tapi dibalut sama ekspresi khawatir. "Naura, aku sahabatmu, kamu bisa jujur sama aku."
"Aku udah jujur Mahira."
"Beneran?" Mahira nanya lagi. "Karena dari yang aku liat, Nathan jarang ada buat kamu, kamu sering sendirian, kamu sampe sakit gini karena stress."
Kata kata Mahira kayak cermin yang nunjukin kenyataan Naura yang selama ini dia coba tutup tutupin.
"Naura." Mahira merapat ke sisi ranjang, suaranya turun jadi bisikan. "Aku tau ini sensitive tapi, pernikahan kamu sama Nathan itu beneran pernikahan yang normal?"
Jantung Naura berhenti sebentar.
Apa yang Mahira maksud?
"Maksudnya apa?"
Mahira menghela napas panjang sambil menggerakkan tangannya pelan. "Maksudku, aku pernah denger bisik bisik di kalangan orang orang kaya gini, kadang ada pernikahan yang diadain bukan karena cinta tapi karena kebutuhan bisnis atau warisan atau apa gitu. Aku cuma pengen tau kamu baik-baik aja."
Kata kata Mahira kayak racun yang manis banget rasanya tapi lama lama bunuh dari dalem. Naura ngerti arah pertanyaan Mahira. Mahira lagi nanya soal kontrak.
Mahira tau atau Mahira cuma menebak?
Naura narik napas dalam, matanya panas, "Pernikahan kami normal, Mahira."
Bohong terbesar yang pernah Naura ucapkan. Mahira cuma ngangguk pelan, senyumnya tipis tapi matanya kayak baca sesuatu di wajah Naura yang Naura ga bisa sembunyiin.
"Pasti berat ya, menikah tanpa cinta," Mahira berbisik.
Kalimat itu keluar dari bibir Mahira pelan banget, kayak gak sengaja di ucapkan. Kayak kata-kata yang gak dimaksud buat didengerin. Tapi Naura denger, Naura denger dengan jelas banget.
Naura ngeliat ke mata Mahira, mencari sesuatu di sana, mencari bukti kalau Mahira lagi manipulasi dia. Tapi yang dia liat cuma kepedulian yang terlihat tulus. Atau Mahira emang jago banget akting.
"Mahira," suara Naura bergetar. "Aku gak mau ngomongin soal pernikahanku."
"Oke oke, maafin aku." Mahira kembali senyum manis sambil pegang tangan Naura. "Aku cuma khawatir aja, kamu penting banget buat aku Naura, aku ga mau kamu sakit."
Kata-kata itu harusnya bikin Naura tenang, tapi malah bikin dadanya makin sesak. Karena ada sesuatu yang ga bener. Ada sesuatu yang Naura ga bisa tangkap.
Mahira tetep di sana sampai jam lima sore, ngobrol ringan, cerita cerita lucu tentang masa kecil mereka, bikin Naura ketawa beberapa kali meski ketawannya terasa hampa. Tapi sepanjang obrolan, Mahira terus nanya nanya hal hal kecil yang kedengeran ga penting.
"Nathan romantis ga sih buat kamu?"
"Kalian sering makan malam bareng ga?"
"Nathan sayang banget ya sama kamu?"
Setiap pertanyaan kayak jarum yang masuk pelan pelan ke hati Naura dan bikin dia makin sakit setiap kali dia harus bohong.
Jam lima tepat Mahira pamit, dia berdiri dan peluk Naura lembut, hati hati karena tau Naura masih lemah.
"Aku pulang dulu ya sayang, besok aku mau menjenguk lagi," Mahira bilang sambil ngusap rambut Naura lembut.
"Makasih udah dateng Mahira."
"Jaga diri ya, dan jangan terlalu mikirin Nathan." Mahira mengedip mata. "Dia orang dewasa, biarkan dia urus hidupnya sendiri."
Kalimat terakhir itu. Kata kata Mahira yang terakhir sebelum dia pergi. Biarkan dia urus hidupnya sendiri. Naura tau kalimat itu bukan sekadar saran biasa. Itu pesan Pesan yang subtle tapi maknanya berat
"Jangan berjuang buat Nathan, karena kamu gak akan menang."
Mahira melambai dan keluar dari ruangan Pintu ditutup, hening. Naura sendirian lagi.
***
Naura menatap tangan kanannya. Cincin pernikahan terpasang di jari manis. Cincin gold rose yang indah, ada berlian kecil yang berkilau di tengahnya.
Indah.
Sangat indah.
Mahira pernah bilang dulu, waktu mereka masih anak anak main main. "Aku pengen cincin pernikahan yang berkilau kayak bintang, yang bikin semua orang iri."
Naura liat cincin itu dari dekat, kain putih rumah sakit ada di balik tangannya yang pucat. Cincin ini kado dari Nathan. Tapi Nathan kasihnya tanpa senyum. Tanpa perasaan, tanpa kata-kata manis.
Cuma "Pakai ini" dan selesai.
Naura mengencangkan jari dan buka cincin itu pelan pelan dari jarinya. Naura menatap cincin di telapak tangannya.
Kosong.
Kecantikannya kosong, kayak pernikahannya. Indah dari luar tapi di dalemnya cuma ada kekosongan yang dalam banget. Naura nutup telapak tangannya, menggenggam cincin itu kuat kuat sampe pinggiran cincin bikin bekas merah di kulit telapak tangannya.
"Kontrak," Naura berbisik.
Kata itu keluar dari mulutnya tanpa dia sadari. Kontrak satu miliar rupiah selama dua tahun. Ibu selamat, tapi Naura? Naura perlahan mati dari dalem, tanpa ada yang liat. Tanpa ada yang peduli.
Air matanya ngalir, jatuh ke sprei putih rumah sakit, meninggalin noda kecil yang berbentuk setetes. Naura pasang cincin itu kembali ke jari manis. Satu gerakan kecil yang bikin dia ngerasa betapa berat beban yang dia tanggung. Beban yang invisible. Beban yang cuma dia yang tau.
"Biarkan dia urus hidupnya sendiri." kata-kata Mahira berputar di kepala.
Biarkan, Mahira bilang biarkan. Seolah Nathan itu mainan yang bisa ditaro dan diambil kapan aja. Seolah Naura ga punya hak untuk peduli sama suami sendiri.
Seolah pernikahan ini, bukan sesuatu yang harus mereka hadapi berdua, Naura nutup mata. Hujan mulai turun di luar jendela, bunyi hujan yang biasa Naura denger dari kamarnya di mansion, bunyi yang biasanya bikin dia nangis sendirian.
Tapi kali ini Naura nangis di ruangan lain,di tempat tidur rumah sakit, tetap sendirian dengan cincin yang kosong di jarinya. Dan kata-kata Mahira yang terus berputar kayak lagu sedih yang gak bisa dimatikan.