Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 33
“Baik, kami akan katakan,” ujar Baron akhirnya, suaranya bergetar setelah pria itu mengacungkan besi beton panas tepat di depan matanya.
“Katakan di mana,” kata pria itu singkat, nadanya dingin tanpa emosi.
Baron menelan ludah. Bersama Luki, ia menyebutkan lokasi terakhir ponsel itu disembunyikan, lengkap dengan detail tempat dan orang yang pernah mereka temui.
Setelah itu, mereka digiring ke sebuah ruangan lain. Kali ini tangan mereka tidak lagi diikat. Meski begitu, tubuh Baron masih terasa kaku oleh ketegangan.
“Gila ya, Anton punya anak buah sebanyak ini,” gumam Luki sambil menoleh ke sekeliling.
“Aku ragu mereka suruhan Anton,” ucap Baron pelan sambil memegang jeruji besi di jendela kecil ruangan itu.
“Kalau bukan Anton, siapa lagi, Bang?” tanya Luki dengan suara bingung.
Baron berbalik, lalu duduk di pojok ruangan. Wajahnya muram, pikirannya dipenuhi kecurigaan.
“Entahlah,” katanya lirih. “Kalau mereka orangnya Anton, harusnya kita sudah dibunuh. Aku lebih baik mati cepat daripada disiksa pelan-pelan seperti tadi.”
“Kalau bukan Anton, lalu siapa?” tanya Luki lagi, semakin gelisah.
Belum sempat Baron menjawab, pintu ruangan terbuka. Seorang pria bertubuh kekar masuk. Otot-ototnya menonjol jelas di balik kaus hitam ketat.
“Ikuti aku,” ucap pria itu singkat.
Baron dan Luki berdiri. Mereka mengikuti pria kekar itu tanpa perlawanan. Tubuh mereka sudah terlalu lelah, dan dari segi fisik, mereka sadar tidak punya peluang.
Dalam hati, Baron hanya berharap satu hal. Jangan ada penyiksaan lagi. Jika harus mati, biarlah cepat.
Mereka berhenti di sebuah ruangan dengan pencahayaan terang. Di tengah ruangan ada sebuah meja besar.
“Duduklah,” ujar pria kekar itu.
Baron dan Luki duduk perlahan. Mata mereka terbelalak saat melihat meja penuh makanan. Ada ayam goreng, ikan bakar, nasi hangat, dan beberapa tusuk sate.
“Makanlah,” kata seorang pria tampan berambut cepak yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Baron menatap pria itu lama. Dahinya mengernyit, berusaha mengingat wajah tersebut. Ada sesuatu yang terasa familiar, namun sulit ia pastikan.
Pria tampan itu membalas tatapan Baron. Wajahnya tenang, tetapi aura intimidasi begitu kuat hingga membuat napas terasa berat.
Baron dan Luki akhirnya makan. Mereka menyantap makanan itu dengan lahap, seolah belum makan berhari-hari.
“Setidaknya sebelum mati, aku bisa makan enak,” gumam Baron dalam hati.
Setelah makan dan minum, tenaga mereka perlahan kembali. Mereka menyeka mulut dengan tisu yang disediakan.
“Hanya ada dua pilihan untuk kalian,” ujar pria tampan itu dengan suara datar.
Baron dan Luki tercekat. Tubuh mereka menegang, tangan mereka gemetar.
“Kalian mati atau ikut perintahku,” lanjut pria itu tanpa perubahan nada.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Baron, suaranya terdengar berat.
“Mengikuti perintahku,” jawab pria itu. “Jika berhasil, kalian akan kuberi uang dua ratus juta. Jika gagal, kalian akan mati.”
“Anda tidak memberi pilihan, Bos,” ucap Baron pahit.
“Aku tidak suka bertele-tele,” kata pria itu tenang. “Kalian sudah terlalu banyak tahu. Dan orang yang terlalu banyak tahu itu berbahaya. Tentukan sekarang. Mati atau ikut denganku.”
Baron menatap pria itu lekat-lekat, lalu segera menundukkan kepala. Tatapan pria tersebut terasa seperti menekan mentalnya.
“Aku ikut saja,” ucap Baron dalam hati. “Yang penting bisa keluar dari tempat ini. Setelah itu aku bisa lari. Pria kejam seperti ini mana bisa dipercaya.”
“Jangan coba-coba berbuat curang,” kata pria itu, seolah membaca pikirannya. “Aku bisa melepaskan kalian, dan aku juga bisa menemukan kalian.”
Baron menelan ludah. Suaranya gemetar saat bicara.
“Baiklah, Tuan. Saya ikut Anda,” ucap Baron.
Pria itu lalu meletakkan sebuah ponsel di atas meja. Baron tertegun saat mengenali benda itu.
“Itu ponsel Miranda,” ucap pria itu singkat.
“Ambil,” katanya lagi.
Baron mengambil ponsel itu dan memasukkannya ke saku celana dengan tangan gemetar.
“Dan ini ponsel untuk kalian berdua,” lanjut pria itu. “Semua tugas kalian ada di dalamnya.”
Sementara itu, Anton sedang berada di kamar hotel bersama Saras. Perempuan itu berpura-pura sakit agar bisa meninggalkan Rizki dan melayani Anton.
Ponsel Anton bergetar berkali-kali di atas meja.
“Ah, sial. Ganggu saja,” gerutu Anton.
“Ih, Paman mau ke mana sih?” keluh Saras sambil cemberut di balik selimut.
“Aku angkat telepon dulu,” jawab Anton. “Aku tidak mau ada gangguan.”
Anton bangkit dari kasur dan meraih ponselnya. Ada satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Pesan itu berisi sebuah video.
“Sialan,” umpat Anton setelah memutarnya.
Video itu menampilkan adegan panas antara dirinya dan Saras. Dadanya langsung terasa sesak.
Tak lama, pesan lain masuk.
“Beri kami satu miliar. Kami akan serahkan ponsel ini. Kami belum menyebarkannya ke mana-mana.”
Anton membeku.
Siapa mereka?
Apakah Miranda?
Namun jika Miranda, seharusnya ia meminta lebih dari enam miliar. Kenapa hanya satu miliar?
Anton segera menelepon nomor itu. Dering pertama langsung tersambung.
“Siapa kalian?” tanya Anton dengan suara tertahan.
“Aku Baron, Tuan Anton,” jawab suara di seberang, disertai tawa sinis.
“Sialan!” umpat Anton. “Kalian gagal membunuh Miranda, sekarang mau memerasku?”
“Jangan marah, Tuan,” ucap Baron tenang. “Kami hanya minta satu miliar. Kalau tidak, ponsel dan video ini akan kami serahkan pada perempuan itu.”
Anton menggertakkan gigi. Video itu adalah ketakutan terbesarnya. Selama ini ia menahan diri terhadap Miranda karena menduga bukti itu masih ada.
“Bagaimana kalian mendapatkan video itu?” tanya Anton.
“Dari ponsel wanita gila itu,” jawab Baron. “Anda memberi data yang salah. Anda bilang dia lemah. Nyatanya kami hampir mati dipukuli. Untung saja dia ceroboh dan meninggalkan ponselnya.”
Anton terdiam, menimbang langkahnya.
Pantas saja Miranda tidak menyerang frontal. Rupanya kartu asnya juga hilang.
“Baiklah,” ucap Anton akhirnya. “Di mana kita bertemu?”
“Nanti kami kirim lokasinya,” jawab Baron. “Ingat, jangan bertindak curang. Jangan bawa siapa pun. Bawa uang tunai.”
“Baik,” kata Anton singkat. “Kirim lokasinya sekarang.”
Sambungan terputus.
“Paman, siapa sih? Kok tegang banget,” tanya Saras dari balik selimut.
“Kita tidak bisa lanjut,” jawab Anton sambil mengenakan pakaiannya. “Ada urusan penting.”
“Ih, sebel banget,” ketus Saras. “Tadi pagi ngotot minta, sekarang ditinggal di tengah jalan.”
“Tenang,” kata Anton. “Habis ini selesai, kita bisa bersenang-senang lagi.”
“Senang terus,” balas Saras. “Kapan aku dikasih uangnya? Miranda saja tidak pernah melayani kamu, tapi diberi tiga miliar.”
“Tenang,” ucap Anton menahan emosi. “Setelah ini, aku beri kamu uang banyak.”
Anton keluar kamar dengan wajah gelap. Ia langsung menghubungi beberapa anak buahnya.
“Kalian mau memerasku?” gumam Anton dingin. “Mimpi saja. Aku akan kirim kalian ke neraka.”
Anton memerintahkan pengambilan uang tunai dan diam-diam menghubungi beberapa tukang pukul untuk menjebak Baron dan Luki.
awas klo mngemis pda miranda🙄🙄
trus para manusia" laknat kpan jga musnah n brhnti mngusik hidup miranda..🙄🙄
ya sallam..... dunia memang suka trbalik dan lucu...
🙄🙄