NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #8: Gerobak Hitam

Adrenalin adalah obat bius terbaik, namun durasinya pendek.

Begitu bandit terakhir menghilang di balik tebing putih, rasa sakit itu datang menagih hutang. Rasanya bukan seperti dipukul, tapi seperti seluruh serat otot di tubuh Geun direndam dalam air cuka mendidih.

Setiap inci tubuhnya menjerit.

Jantungnya, yang tadi dipaksa memompa di luar batas wajar, kini berdetak lemah dan tidak beraturan, terasa nyeri seolah ada pisau yang tertancap di dada kirinya. Bahu kirinya yang baru saja disambung terasa panas membara.

Geun ingin menjerit. Dia ingin berguling-guling di salju sambil menangis memanggil ibunya yang telah tiada.

Tapi dia tidak bisa.

Puluhan pasang mata menatapnya.

Para pengawal bayaran yang selamat menatapnya seperti melihat dewa penyelamat.

Para pengawal resmi Silvercrane menatapnya seperti melihat bom waktu.

Jika dia terlihat lemah sekarang, dia tidak tahu ancaman apa lagi yang akan muncul. Terlebih, ada yang aneh dengan karavan ini. Pengawal resmi malah membunuh orangnya sendiri.

Jadi, Geun melakukan akting terbaik dalam hidupnya.

Dia tidak jatuh. Dia perlahan-lahan menurunkan linggis berkaratnya ke tanah dengan gerakan terkontrol.

Dia duduk bersila di atas batu yang tertutup salju, memejamkan mata, dan mengatur napas.

"Huuu... Haaa..."

Bagi orang lain, Geun terlihat sedang melakukan meditasi pasca-pertarungan untuk menenangkan emergi-nya yang mengamuk.

Kenyataannya, Geun sedang berusaha menahan muntah darah agar tidak keluar.

"Hebat..." bisik salah satu pengawal bayaran yang selamat. Kakinya pincang kena panah. "Dia langsung bermeditasi di tengah badai. Mentalnya baja."

Si Botak berjalan mendekat. Langkahnya ragu-ragu.

Tangannya tidak lepas dari gagang pedang, tapi keringat dingin mengucur di pelipisnya meski udara membeku. Dia baru saja melihat bocah ini meledakkan jantung praktisi tingkat First Rate.

"Oi... Nak," panggil Si Botak hati-hati. "Kau... kau dari sekte mana?"

Geun tidak membuka mata. Dia tidak punya tenaga untuk bicara panjang lebar.

"Berisik," jawab Geun datar. "Jangan ganggu."

Si Botak langsung mundur dua langkah. "Ba-baik. Maaf mengganggu."

Geun mengintip sedikit dari celah kelopak matanya.

"Bagus. Mereka takut," batinnya lega. "Sekarang biarkan aku istirahat atau aku akan mati beneran."

Malam turun dengan cepat di White Burial Valley.

Badai salju mereda, menyisakan angin dingin yang menusuk tulang dan langit gelap tanpa bintang.

Karavan tidak melanjutkan perjalanan. Mereka berkemah di tempat kejadian, dikelilingi mayat-mayat bandit dan rekan mereka sendiri yang mulai membeku menjadi patung es.

Geun duduk agak jauh dari api unggun utama. Dia mengunyah dendeng keras jatah makannya sambil memijat bahunya diam-diam.

Perutnya lapar, tapi matanya waspada.

Ada aktivitas aneh di tengah perkemahan.

Para pengawal bayaran yang selamat hanya tinggal tujuh orang, termasuk Geun, mereka disuruh istirahat di pinggir.

Sementara itu, Si Botak dan dua belas pengawal inti Silvercrane sibuk "membereskan" medan perang.

Tapi mereka tidak mengubur mayat.

Dan mereka tidak menjarah harta bandit.

Mereka menumpuk mayat-mayat itu.

Mayat bandit yang dadanya hancur.

Mayat si Penjudi yang terbelah dua.

Mayat si Preman yang lehernya tertembus panah.

Semuanya diseret mendekat ke Gerobak Hitam.

"Apa yang mereka lakukan?" batin Geun. Rasa kantuknya hilang seketika digantikan rasa mual.

Geun memicingkan mata, dia mencoba mengalirkan energi batinnya ke arah mata, berharap itu bisa mempertajam penglihatannya di tengah kegelapan malam.

Untungnya hal itu bekerja, matanya sekarang bisa melihat dengan jelas di malam hari dan jarak pandang nya meningkat. "Astaga, jadi orang-orang murim bisa melakukan hal keren seperti ini? Aku bisa mengintip gadis-gadis kalau begitu." pikir Geun.

Geun kemudian mengarahkan pandangannya ke arah gerobak hitam. Dia melihat Si Botak berdiri di depan pintu belakang gerobak hitam itu. Pengawal lain berdiri melingkar, wajah mereka tegang dan pucat.

Mereka tidak membawa penerangan sama sekali, membuat siapapun tidak bisa melihat apa yang terjadi kecuali mereka menggunakan energi internal untuk memperjelas penglihatan.

Si Botak merogoh saku, mengeluarkan sebuah kunci besi besar yang bentuknya rumit.

Dia membuka gembok berat yang mengunci pintu gerobak.

Klik. Kriet...

Pintu gerobak terbuka lebar untuk pertama kalinya.

Bau itu langsung meledak keluar.

Geun harus menutup hidung dengan lengan bajunya.

Itu bukan lagi bau mayat biasa. Itu adalah bau kematian. Bau daging yang diawetkan, bercampur dengan aroma anyir darah lama yang mengental.

Di dalam gerobak itu gelap gulita. Tidak ada cahaya yang bisa menembus masuk, bahkan penglihatan yang sudah diperkuat dengan energi internal pun tidak bisa melihat ke dalam gerobak.

Tapi telinga Geun menangkap suara.

Suara rantai besi yang beradu.

Krincing... Krincing...

Lalu, sebuah tangan muncul dari kegelapan.

Tangan itu berwarna abu-abu pucat, dengan kulit yang kering dan menempel ketat pada tulang. Kuku-kukunya hitam, panjang, dan melengkung tajam seperti pisau belati.

Di pergelangan tangannya, terpasang belenggu besi yang diukir dengan kertas mantra merah menyala.

"Makan," bisik Si Botak, suaranya terdengar jijik tapi juga takut.

Dua pengawal mengangkat mayat si Penjudi yang mati sebelumya, lalu melemparkannya ke dalam gerobak.

GRAP!

Tangan pucat itu menyambar mayat si Penjudi di udara dengan kecepatan yang tidak wajar.

Mayat itu ditarik masuk ke dalam kegelapan dalam sekejap mata.

Lalu suara samar itu terdengar.

KRIUK.

SREET.

NYAM... NYAM...

Suara daging dikoyak. Suara tulang dipatahkan dan dikunyah seperti kerupuk basah.

Bunyi slurp yang keras saat cairan tubuh dihisap rakus.

Mata Geun terbelalak ngeri. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Dia pernah mendengar cerita horor dari pengemis tua di kolong jembatan. Cerita tentang mayat yang dibangkitkan oleh Shaman aliran sesat. Mayat yang tidak merasakan sakit, memiliki kulit sekeras baja, dan memakan darah untuk menjaga tubuhnya tidak busuk.

Jiangshi.

"Jadi itu isinya..." batin Geun, keringat dingin membasahi punggungnya. "Makhluk itu... ada di sana. Sial, jadi Jiangshi itu benar-benar nyata?"

Si Botak dan para pengawal terus melemparkan mayat.

Satu bandit. Dua bandit.

Bahkan mayat si Preman gemuk dilempar masuk.

Setiap kali mayat masuk, suara samar kunyahan menjadi makin rakus dan buas. Gerobak itu berguncang hebat, membuat jimat-jimat kuning di dinding luarnya bergetar.

"Cukup," bisik Si Botak setelah mayat kelima. "Jangan kasih terlalu banyak, nanti dia terlalu kuat dan lepas kendali. Kunci lagi."

Pintu gerobak ditutup paksa.

Suara samar garukan kuku terdengar dari dalam, mencakar-cakar pintu kayu berlapis besi itu, seolah marah karena makan malamnya dihentikan.

Si Botak mengunci gembok itu dengan tangan gemetar. Dia menghela napas panjang, lalu berbalik menatap ke arah api unggun para pengawal bayaran.

Tatapannya berhenti tepat di tempat Geun duduk.

Geun, dengan refleks bertahan hidupnya yang luar biasa, sudah lebih dulu memejamkan mata dan memiringkan kepala.

Dia pura-pura tidur sambil memeluk linggisnya. Mendengkur halus.

Si Botak menatap Geun lama.

"Hei," bisik salah satu pengawal inti. "Bocah itu... dia melihat terlalu banyak hari ini. Dan kekuatannya... berbahaya."

"Aku tahu," jawab Si Botak pelan. "Tapi kita tidak bisa membunuhnya sekarang. Dia terlalu kuat. Kalau kita serang dia dan gagal, dia bisa membantai kita semua sebelum makhluk di gerobak itu sempat kita lepaskan."

"Jadi? Kau mau membiarkan dia hidup? Hei, pelanggan akan murka kalau tau ada saksi mata!"

"Aku tahu. Tapi biarkan dia hidup sampai Kota Tujuan," putus Si Botak. "Lagi pula, kalau bandit menyerang lagi, kita butuh umpan yang lebih kuat dari sekadar mayat."

Mereka beranjak pergi.

Geun tetap memejamkan mata. Tapi di balik kelopak matanya, otaknya berputar lebih cepat dari sebelumnya.

Potongan teka-teki itu akhirnya menyatu.

Kenapa bayarannya 7 Tael, sangat besar untuk pekerjaan mudah?

Kenapa tidak ada tes kemampuan?

Kenapa mereka merekrut kuli tua dan orang sakit?

Kenapa mereka membawa mayat rekan sendiri?

"Kami bukan pengawal," sadar Geun.

"Kami adalah bekal makanan."

Jika bandit datang dan membunuh mereka, mayat mereka jadi makanan Jiangshi.

Jika bandit tidak datang, mungkin di tengah jalan Si Botak akan "menghilangkan" mereka satu per satu untuk memberi makan makhluk itu.

"Sialan..." batin Geun. "Aku terjebak di antara mayat hidup dan manusia yang lebih jahat dari mayat."

Geun mengeratkan pelukannya pada linggis besinya.

Mulai detik ini, dia punya strategi baru.

Dia tidak akan menonjol lagi.

Dia tidak akan bicara.

Dia akan menjadi batu.

Dia akan menjadi patung yang tidak terlihat, tidak mendengar, dan tidak tahu apa-apa.

Dia akan bertahan hidup sampai tujuan, mengambil uangnya, lalu lari sejauh mungkin dari dunia bela diri terkutuk ini, dan tidak akan masuk ke Murim sama sekali.

"Sial, jadi pengemis jauh lebih aman" gerutunya.

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!