Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Sore itu, langit di atas SMA Garuda berwarna jingga keunguan, memberikan kesan dramatis pada akhir hari yang panjang. Parkiran sekolah sudah mulai sepi, menyisakan beberapa motor dan mobil siswa yang masih mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Jonathan berdiri di dekat pilar besar, tepat di samping mobil sedan hitamnya. Di tangannya, ia menggenggam sebuket bunga lili putih—bunga favorit Jenny yang dulu selalu ia berikan setiap bulan. Wajahnya tampak sangat kuyu, matanya menunjukkan penyesalan yang begitu dalam. Ia sudah membulatkan tekad: ia akan memohon sekali lagi, berlutut jika perlu, agar Jenny memberinya kesempatan kedua.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Jenny berjalan keluar dari gedung sekolah, masih dengan cardigan merahnya yang menyala di bawah sinar matahari sore. Ia tampak begitu cantik, begitu tenang, seolah beban seberat gunung sudah terangkat dari pundaknya.
Namun, Jenny tidak sendirian. Angga berjalan di sampingnya, membawa tas sekolah Jenny di bahu kirinya. Mereka tampak sedang berbincang ringan sampai langkah mereka terhenti tepat di depan Jonathan.
"Jen..." suara Jonathan bergetar saat ia melangkah maju, menyodorkan buket bunga itu. "Tolong, dengerin aku sekali ini aja. Aku tahu aku salah besar. Aku sudah mutusin Claudia secara permanen. Aku mau kita mulai dari awal lagi. Aku kangen kamu, Jen."
Jenny menatap buket bunga itu, lalu menatap wajah Jonathan. Senyum manisnya yang tadi pagi ia bagikan ke seluruh sekolah kini berubah menjadi senyum tipis yang penuh simpati—tapi bukan simpati cinta, melainkan simpati kepada seseorang yang tidak tahu kapan harus berhenti.
"Bunga yang bagus, Jo," ucap Jenny lembut. "Tapi lili putih itu simbol kesucian, kan? Rasanya agak aneh kalau lo yang kasih itu ke gue sekarang. Udah nggak nyambung sama apa yang lo lakuin di apartemen itu."
Jonathan terdiam, tangannya yang memegang bunga mulai gemetar. "Jen, aku mohon..."
Tiba-tiba, Jenny menoleh ke arah Angga yang sejak tadi diam memperhatikan dengan rahang mengeras. Jenny meraih tangan Angga, menyatukan jemari mereka di depan mata Jonathan.
"Ngga, lo tanya jawaban gue kan?" suara Jenny terdengar jelas dan mantap.
Angga menahan napas, matanya menatap Jenny dengan penuh harap. "Iya, Jen."
"Gue mau," ucap Jenny dengan nada yang sangat manis. "Gue mau jadi pacar lo. Gue mau mulai lembaran baru sama cowok yang berani jujur dan nggak takut buat ngelindungin gue di depan semua orang."
JLEB.
Mata Jonathan membelalak. Ia merasa seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya saat melihat Jenny tersenyum begitu tulus kepada Angga—senyum yang dulu hanya miliknya.
"Jen? Kamu... kamu serius? Sama Angga?" Jonathan bertanya dengan suara yang hampir tidak keluar. "Kamu baru putus dari aku beberapa hari lalu, Jen!"
"Dan itu adalah hari terbaik dalam hidup gue, Jo," balas Jenny tajam. "Putus dari lo adalah awal gue bisa nemuin orang yang beneran tulus. Jadi, makasih ya buat perselingkuhan lo. Kalau lo nggak selingkuh, mungkin gue nggak bakal pernah tau kalau ada cowok sekeren Angga di sekolah ini."
Angga menarik pinggang Jenny lebih dekat, sebuah gerakan yang sangat posesif. Ia menatap Jonathan dengan pandangan pemenang.
"Lo denger kan, Jo? Dia udah punya rumah yang baru. Dan kali ini, gue bakal pastiin rumah ini nggak bakal pernah bocor apalagi roboh gara-gara ular kayak Claudia," ucap Angga tegas.
Jonathan hanya bisa berdiri mematung. Buket bunga di tangannya perlahan turun, hingga akhirnya terjatuh di atas aspal parkiran yang kasar. Ia harus menyaksikan Jenny naik ke atas motor sport milik Angga.
Saat Angga menyalakan mesin motornya yang menderu keras, Jenny sempat menoleh ke belakang. Ia melihat Jonathan yang berdiri sendirian di tengah parkiran yang luas, tampak begitu kecil dan menyedihkan. Air mata mulai mengalir di pipi Jonathan, namun Jenny tidak merasakan apa-apa lagi.
"Dah, Jo! Selamat menikmati kesepian lo!" seru Jenny riang sambil melambaikan tangan saat motor Angga melaju keluar gerbang.
Di kejauhan, Romeo yang baru saja keluar dari gym melihat pemandangan itu. Ia melihat bunga lili yang tergeletak di aspal dan Jonathan yang menangis sesenggukan di samping mobilnya. Romeo hanya mendengus, lalu memasang helmnya.
"Mampus lo, Robot," gumam Romeo sebelum memacu motornya ke arah yang berlawanan.
Malam itu, SMA Garuda punya topik baru yang jauh lebih panas: "The Queen has found her new King." Dan bagi Jonathan, itu adalah malam paling gelap yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Lanjut opsi mana, Nadhira? wkwkwk Jonatan nangis beneran tuh!