NovelToon NovelToon
Immortal Emperor: Dao Abadi

Immortal Emperor: Dao Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.

Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.

Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.

Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4: Pertemuan Takdir

Serangan mendadak itu cepat dan mematikan.

Pisau berkarat di tangan Li Wei melesat menuju leher bandit itu. Namun, naluri seorang veteran yang hidup di ujung pedang tidak bisa diremehkan. Di detik terakhir, bulu kuduk si bandit berdiri. Ia tidak sempat menoleh, tapi tubuhnya bereaksi otomatis, memiringkan leher dan mengalirkan Qi ke bahunya.

Srekk!

Bukannya membelah tenggorokan, pisau Li Wei merobek bahu si bandit. Darah menyembur, tapi lukanya dangkal. Otot bahu bandit itu sekeras kayu tua berkat teknik pertahanan dasar.

"Aaargh! Bajingan cilik!"

Bandit itu meraung, bukan karena sakit, tapi karena kaget. Ia memutar tubuhnya, lengan kanannya yang kekar menghantam ke belakang dengan gaya punggung tangan.

Buagh!

Li Wei, yang masih melayang di udara, tidak bisa menghindar. Hantaman itu mengenai dadanya. Rasanya seperti ditabrak batang pohon yang diayunkan raksasa.

Li Wei terlempar mundur, berguling di tanah berlumpur, dan berhenti tepat di samping gadis yang terjatuh tadi.

"Uhuk!" Li Wei memuntahkan sedikit darah. Perbedaan satu lapisan kultivasi ternyata sangat besar. Qi milik bandit itu kasar dan berat, jauh lebih padat daripada Qi Li Wei yang baru Lapis 2.

"Kau..." Gadis di sebelahnya menatap Li Wei dengan mata terbelalak.

"Jangan bengong!" bentak Li Wei tanpa menoleh, matanya terkunci pada musuh. "Kalau kau mau hidup, bantu aku membunuhnya. Sekarang!"

Bandit itu memegang bahunya yang berdarah, wajahnya merah padam karena amarah. "Bagus. Tikus lain datang mengantar nyawa. Kalian berdua akan mati malam ini!"

Bandit itu menarik sebuah golok besar dari pinggangnya. Bilah golok itu menyala merah samar tanda dia mengalirkan Qi api tingkat rendah ke senjatanya.

"Teknik Golok Api Liar!"

Bandit itu menerjang maju. Setiap langkahnya meninggalkan jejak hangus di rumput.

Li Wei tahu dia tidak bisa menangkis serangan itu. Pisau karatnya akan patah seketika jika beradu dengan golok yang dialiri Qi.

"Menyebar!" teriak Li Wei.

Li Wei melompat ke kiri, gadis itu berguling ke kanan.

BLAR!

Golok itu menghantam tanah tempat mereka berada sedetik lalu. Tanah meledak, memercikkan lumpur panas dan batu kerikil.

Li Wei tidak membuang kesempatan. Saat golok bandit itu masih tertancap di tanah, Li Wei melesat maju.

"Jari Penembus Batu!"

Ia mengincar mata bandit itu.

Namun, bandit itu menyeringai. Ia melepaskan satu tangan dari gagang golok dan menyambut serangan Li Wei dengan telapak terbuka.

Plak!

Tangan Li Wei ditangkap dengan mudah. Cengkeraman bandit itu seperti catut besi.

"Teknikmu lumayan untuk bocah kampung, tapi tenagamu terlalu lemah!" ejek bandit itu. Ia meremas tangan Li Wei, berniat meremukkan tulang-tulangnya.

Rasa sakit menjalar di lengan Li Wei. Tulangnya berderit. Keringat dingin mengucur. Di momen kritis ini, Li Wei tidak panik. Ia justru tersenyum dingin.

"Benarkah?"

Tiba-tiba, dari belakang bandit itu, sebuah bayangan melompat.

Itu si gadis. Dia tidak lari. Dia memegang sabit rumputnya dengan kedua tangan, wajahnya pucat tapi matanya menyala dengan tekad.

"Lepaskan dia!"

Crash!

Sabit itu menancap dalam di punggung bandit itu, tepat di celah tulang belikat.

"Gaaah!" Bandit itu melolong. Cengkeramannya pada tangan Li Wei melemah sesaat karena rasa sakit yang mengejutkan.

Itu celah yang ditunggu Li Wei.

Ia tidak menarik tangannya mundur. Sebaliknya, ia menyalurkan seluruh sisa Qi murni dari Sutra Hati Dao Abadi ke kepalanya.

BAM!

Li Wei menghantamkan dahinya sekuat tenaga ke hidung bandit itu.

Bunyi tulang hidung yang patah terdengar mengerikan. Mata bandit itu berair seketika, pandangannya kabur karena rasa sakit di pusat wajah.

Li Wei menarik tangannya yang terbebas, mengambil pisau karatnya yang jatuh, dan dalam satu gerakan, ia menusuk ke bawah bukan ke leher, tapi ke sela ketiak bandit yang terbuka saat ia mengangkat tangan menahan sakit. Itu adalah jalan pintas langsung ke jantung tanpa terhalang tulang rusuk.

Jleb.

Tubuh bandit itu kaku. Matanya melotot, menatap Li Wei dengan tidak percaya. Napasnya tersengal, lalu berhenti.

Darah hitam mengalir dari mulutnya. Tubuh besarnya ambruk ke tanah seperti karung beras, menyeret Li Wei jatuh bersamanya.

Hening.

Hanya suara napas berat dua remaja yang terdengar di tepi sungai itu.

Li Wei menendang mayat itu menjauh, lalu duduk bersandar di pohon, memegangi lengannya yang memar parah. Jantungnya berpacu liar. Ini pertama kalinya dia membunuh manusia.

Ada rasa mual di perutnya, tapi ada juga rasa dingin yang aneh. Perasaan... lega?

"Kita... kita membunuhnya?"

Suara gadis itu memecahkan lamunan Li Wei. Gadis itu berdiri gemetar, menatap mayat itu dengan wajah ngeri. Sabitnya masih tertancap di punggung mayat.

Li Wei menatapnya tajam. "Dia yang mau membunuh kita. Itu adil."

Li Wei memaksakan diri berdiri. Ia berjalan ke arah mayat itu.

"Apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu kaget.

"Mengambil rampasan perang," jawab Li Wei datar. "Di dunia kultivasi, harta milik yang kalah adalah hak yang menang."

Ia menggeledah jubah bandit itu. Ia menemukan sebuah kantong kain kecil yang berat, beberapa potong daging kering, dan sebuah buku tipis yang lusuh.

Li Wei membuka kantong itu. Matanya berbinar.

"Tiga Batu Roh tingkat rendah," gumamnya. Batu-batu itu seukuran kuku jari, bersinar redup dengan energi Qi. Bagi kultivator miskin, ini harta karun. Selain itu, ada sekitar 50 koin emas.

Li Wei mengambil dua batu roh dan melempar satu batu roh serta separuh koin emas ke arah gadis itu.

Gadis itu menangkapnya dengan bingung. "I-ini..."

"Bagianmu," kata Li Wei sambil menyimpan sisanya. "Kau yang menusuk punggungnya. Tanpa itu, tanganku sudah patah."

Gadis itu menatap batu roh di tangannya, lalu menatap Li Wei dengan pandangan baru. Tidak ada ketakutan lagi, digantikan oleh rasa hormat dan rasa ingin tahu.

"Namaku Xiao Lan," katanya pelan, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda terima kasih. "Aku dari Desa Lembah Bunga."

"Li Wei. Desa Sungai Jernih," jawab Li Wei singkat.

Mendengar nama desa itu, mata Xiao Lan melebar. "Sungai Jernih? Desa yang... dibantai seminggu lalu?"

Wajah Li Wei mengeras. "Ya."

Xiao Lan menutup mulutnya. Dia mengerti sekarang kenapa pemuda di depannya memiliki aura membunuh yang begitu pekat.

"Aku... turut berduka," katanya lembut. Lalu, dia ragu-ragu sejenak sebelum bertanya, "Kau mau ke mana sekarang? Hutan ini berbahaya jika sendirian."

Li Wei menatap ke arah utara. "Aku berlatih. Lalu, aku akan mendaftar ke Sekte Langit Biru."

"Sekte Langit Biru?" Wajah Xiao Lan cerah. "Aku juga! Ayahku memberiku peta jalan pintas ke kota tempat ujian sekte diadakan. Itulah kenapa bandit itu mengejarku, dia ingin peta dan bekalku."

Li Wei terdiam. Peta jalan pintas? Itu informasi berharga. Hutan ini terlalu luas, tanpa peta, dia bisa tersesat berbulan-bulan.

"Tunjukkan petanya," kata Li Wei.

Xiao Lan merogoh bajunya dan mengeluarkan selembar kulit binatang yang digambar kasar. "Kita harus melewati Rawa Kabut Hitam, lalu mendaki Puncak Harapan. Ujian penerimaan murid baru dimulai sepuluh hari lagi. Jika kita berangkat besok, kita bisa tepat waktu."

Li Wei menimbang-nimbang. Gadis ini lemah (Lapis 1), tapi dia punya nyali. Dia berani menusuk bandit itu. Dan dia punya peta.

"Baiklah," putus Li Wei. "Kita jalan bersama. Tapi ingat satu hal: Jika ada bahaya yang tidak bisa kita tangani, jangan berharap aku mati demi menyelamatkanmu. Aku punya tujuanku sendiri."

Kata-kata itu dingin, tapi Xiao Lan tersenyum tipis. Dia tahu, seseorang yang melompat keluar dari persembunyian untuk menyelamatkan orang asing tidak sedingin ucapannya.

"Sepakat," kata Xiao Lan. "Aku bisa memasak dan aku tahu tanaman obat. Aku tidak akan menjadi beban."

Malam itu, di bawah cahaya bulan yang redup, dua korban kekejaman dunia kultivasi duduk berbagi api unggun. Mereka membagi daging kering rampasan bandit.

Tanpa mereka sadari, ini adalah awal dari legenda "Dua Abadi dari Timur" yang kelak akan mengguncang Sembilan Langit.

Namun saat ini, mereka hanyalah dua anak yang mencoba bertahan hidup di dunia yang kejam.

Li Wei memegang buku lusuh milik bandit itu di dekat api. Judulnya tertulis dengan tulisan cakar ayam: Langkah Api Hantu - Teknik Gerakan Tingkat Dasar.

"Teknik gerakan..." mata Li Wei menyipit. Ini adalah kelemahannya. Dia punya kekuatan fisik, tapi dia lambat.

"Besok kita berangkat," kata Li Wei sambil menyimpan buku itu. "Malam ini, aku jaga giliran pertama."

Xiao Lan mengangguk, meringkuk di dekat api dengan sabit di pelukannya.

Angin malam berhembus, membawa bau perubahan.

1
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💪🏻💪🏻💪🏻Ⓜ️
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍👍👍
Tatmani Oniaka
👍👍👍
MyOne
Ⓜ️👀👀👀Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😯😯😯Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️💥💥💥Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Sahrul Akbar
keren
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😵‍💫😵‍💫😵‍💫Ⓜ️
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very very very nice Thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!