Skuel Terra The Best Mother
Lanjutan kisah dari Terra kini berganti dengan. tiga adik yang ia angkat jadi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASAK BESAR
Bulan berlalu. Kini Usia Al dan El sudah tiga bulan begitu juga, Aisyah, Maryam dan Fatih juga Fathiyya. Kegiatan enam bayi itu tentu saja masih berkutat dengan tidur.
Sedang para perusuh yang mulai aktif adalah Harun, Azha, Arion dan Arraya juga Bariana.
"Bommy jadi nanti Benua sudah boleh puasa Ramadhan sama Kak Samudera?"
"Tentu sayang. Nanti baby harus puasa karena sudah usia enam tahun," jawab Gisel.
"Pita binep bi lumah mommy ladhi?" tanya Sky antusias.
"Tentu, kita habisin rendang mommy!" teriak Samudera tak kalah senang.
Gisel hanya menggeleng kepala saja. Memang setiap tahun, Puspita akan masak besar sebelum puasa datang. Ia akan memasak rendang dengan jumlah nyaris sepuluh kilo. Bahkan kini, wanita beranak enam itu akan memasak rendang nyaris lima puluh kilo.
Demian yang mengetahui berapa banyak daging yang akan dimasaka oleh istri dari pria sejuta pesona itu.
"Itu daging bisa setengah ekor sendiri," sahut Demian.
Pria itu baru pertama kali berpuasa tahun ini. Hatinya berdebar-debar menyambut ramadhan kali ini.
"Sayang, selain menahan haus dan lapar, kita harus apa di bulan puasa?" tanya pria tampan itu.
Lidya tengah menyusui Baby El sedang Baby Al sudah tidur dalam boksnya.
"Menahan hawa napsu, sering berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela," jawab Lidya.
"Menahan napsu untuk itu juga?" tanya pria itu lagi terkejut.
Lidya menatap suaminya dengan dahi berkerut. Lalu ia mengangguk.
"Jadi, aku puasa makan kamu satu bulan penuh?" Lidya lagi-lagi mengangguk.
Wanita itu ingin sekali mengerjai suaminya. Setelah nyaris dua bulan pria itu berpuasa. Demian nyaris setiap hari meminta jatah pada sang istri, entah itu siang atau malam. Bahkan tak hanya satu kali, pria itu bisa sampai empat ronde ketika di atas ranjang menikmati tubuh istrinya. Demian langsung lesu baru saja ia mereguk nikmatnya bercinta selama satu bulan, kini ia harus menahannya lagi selama kurang lebih satu bulan.
"Nggak apa-apa ... aku pasti bisa melewatinya. Dua bulan aku bisa tak menyentuhmu. Ini hanya satu bulan saja!"
Demian bertekad untuk menjalankan puasanya secara baik tahun ini. Ia juga sudah membaca berbagai artikel tentang puasa.
"Jadi aku harus shalat tarawih juga?" Lidya kembali mengangguk.
"Sayang ...."
Cup, Lidya mencium bibir sang suami agar berhenti bicara. Hal itu tak dilewatkan oleh Demian. Ia memagut bibir manis istrinya.
Sementara Darren dan Saf bersama tiga anak kembarnya sudah berada di mansion Virgou. Bahkan Saf sedang membantu Puspita juga ibunya. Benar, ayah ibu Puspita ada di hunian menantu mereka. Tahun ini mereka akan menginap. Shama mengecek halaman belakang mansion. Sepuluh tungku memasak sepuluh wajan berukuran besar. Satu wajan berisi lima kilo daging.
"Mom, ini hanya diaduk sesekali aja kan?" tanya Saf.
Tenaga wanita beranak kembar tiba itu jangan diremehkan. Walau kini Gomesh ikut mengaduk rendang di wajan lainnya.
"Iya sayang," sahut Puspita.
Shama sangat senang dengan cucu menantunya yang sangat rajin dan begitu cekatan.
"Sudah, kau tinggal saja. Kasihan anak-anakmu, pasti sekarang sudah lapar."
Shama meminta Saf lebih memperhatikan tiga bayi kembarnya. Darren belum pulang dari kantor.
"Nyonya, lontong dan ketupatnya sudah matang," lapor salah satu maid.
"Ditiriskan, Yul!" titah Ita.
Maid bernama Yuli itu pun melaksanakan perintah majikannya. Inah dan Yuyun sudah lama berhenti bekerja karena menikah.
Saf pun berjalan menuju lantai dua di mana kamar Darren berada. Di sana tiga anak kembarnya masih terlelap.
Saf menciumi gemas tiga anaknya yang sudah terlihat bobotnya.
"Sehat semua ya babies," doanya penuh harap.
Tak lama mansion penuh dengan anak-anak balita plus Benua, Domesh dan Samudera.
"Uma!" teriak Bariana.
Saf selalu gemas dengan bayi cantik itu. Wanita itu tak berhenti menciuminya hingga protes seperti ini.
"Uma eundat bium atuh!" rajuk Arraya cemberut.
"Oh ... apa mau semua dicium!" semua mengangguk.
Saf berakting menjadi raksasa.
"Hahaaha ... aku adalah raksasa ... aku suka sama anak-anak!"
Semua berlari dan berteriak. Yang tertangkap akan tergelak karena Saf menciuminya. Hingga mereka minta ampun.
"Ayo makan!" teriak Puspita.
Semua anak diberi makanannya. Para remaja datang sedikit terlambat. Mereka cuci tangan dan ikut menikmati makanan. Rendang sudah matang dari tadi.
"Mommy sudah membaginya juga untuk para pengawal," ujar Puspita.
Semua makan dengan lahap. Darren, Demian, Lidya belum datang.
"Assalamualaikum!" Rion masuk memberi salam.
"Wa'alaikumussalam!"
Haidar datang bersama Rion dan Al. Mereka juga langsung cuci tangan dan makan. Virgou bersama ayah mertuanya.
"Kau semakin tampan, nak," puji Basri pada Rion.
"Anak siapa dulu," celetuk Haidar dan Virgou bersamaan.
Keduanya saling lirik dengan sinis. Jika diibaratkan, ada pedang laser di mata dua pria yang sama-sama tampan itu.
"Ck ... kalian itu dari dulu, nggak pernah berubah ya," sindir Basri pada menantu dan iparnya. "Kalah para bayi!"
Virgou dan Haidar tak acuh akan perkataan pria berusia mau sembilan puluh tahun itu.
"Abaikan mereka Bas. Mereka memang sudah seperti anak kecil," sahut Bart dengan pandangan malas pada Virgou dan Haidar.
Anak-anak selesai makan. Mereka diminta tidur siang. Rion, Haidar dan Al tak lagi kembali ke kantornya.
Tak lama Lidya datang bersama Demian dan Cal juga bayi kembar mereka. Lalu disusul Darren dan Budiman.
"Kalian makan dulu," titah Virgou pada anak-anak yang baru datang.
"Tentu ... aku sudah ingin sekali makan rendang," ujar Demian semangat.
"Ayahmu tidak jadi datang?" tanya Bart pada Demian.
"Daddy datang bersama Daddy Leon dan Daddy Frans. Malam baru sampai," jawab pria itu.
Memang setelah perkara WhiteFox beberapa minggu lalu. Frans dan Leon pulang ke Eropa bersama Dominic untuk mengurus beberapa pekerjaan yang tak bisa dikendalikan dari jarak jauh.
"Apa besok kita akan puasa?" tanya Demian.
"Kita akan ikuti pemerintah. Biasanya akan ada sidang isbat dan penentuan hari puasa akan dikatakan malam ini oleh menteri agama," jelas Haidar.
Demian mengangguk tanda mengerti. Usai makan, para wanita membereskan meja makan. Sedang Lidya membawa dua bayinya ke kamarnya.
"Rendangnya enak, nek," puji Demian pada Shama.
Shama tersenyum. Wanita itu merasa lelah dan pamit untuk istirahat. Usia memang tak bisa dibohongi, ia sudah kelelahan padahal hanya berdiri dan memeriksa saja.
"Kenapa nggak buat pabrik rendang, kan bisa dijual atau ekspor ke negara tetangga. Dunia tekhnologi sudah semakin canggih sekarang," tiba-tiba Demian memberi ide.
"Wah boleh juga tuh," sahut Puspita.
"Kalau perlu kita buat juga makanan khas lainnya, seperti gulai kambing," lanjut Demian.
Virgou mengangguk setuju. Hanya saja, ia tak begitu tertarik dengan ide dari menantunya itu.
"Sepertinya, setelah Maisya, Affhan dan Dimas sudah memegang kendali penuh perusahaan, baru kita bisa pikirkan itu," sahut Terra.
Mereka mengangguk. Basri pamit istirahat, begitu juga Bart. Hingga semua wanita juga ikut istirahat. Tinggal, Demian, Virgou, Haidar, Gomesh, Darren dan juga Budiman. Mereka kembali berdiskusi masalah WhiteFox kemarin.
bersambung.
wah ... bentar lagi puasa nih.
next?