Daini Hanindiya Putri Sadikin : "Aku tiba-tiba menjadi orang ketiga. Sungguh, ini bukan keinginanku."
Zulfikar Saga Antasena : "Tak pernah terbesit di benakku keinginan untuk mendua. Wanita yang kucintai hanya satu, yaitu ... istriku. Semua ini terjadi di luar kehendakku."
Dewi Laksmi : "Aku akhirnya menerima dia sebagai maduku. Sebenarnya, aku tidak mau dimadu, tapi ... aku terpaksa."
Daini, Zulfikar, Dewi : "Kami ... TERPAKSA BERBAGI RANJANG."
Author : "Siksa derita dan seribu bahagia terpendam dalam sebuah misteri cinta. Banyak manusia yang terbuai oleh cinta, tapi tidak tahu hakikatnya cinta. Terkadang cinta laksana proklamasi, bisa dirasakan dengan mendalam dan seksama, namun dapat hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam hal menjaga hati, karena setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga dan saling percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izin Pergi ke Bandung
Zulfikar Saga Antasena
Doaku terkabulkan. Aku akhirnya bisa berbicara empat mata dengan Hanin, walaupun dengan sedikit memaksanya.
"Hanin," panggilku.
Aku spontan tersenyum. Dia tertidur. Ada wanita lain tidur di mobilku selain Dewi. Ini gila, sih. Tapi ya mau bagaimana lagi? Semua terjadi begitu saja di luar dugaanku.
Kini, kami sudah sampai di area perusahaan. Waktunya Hanin turun, tapi dia malah tidur. Wajahnya saat tidur terlihat lucu, bibirnya terbuka, bahkan gigi putihnya yang berderet rapi itu bisa terlihat dengan jelas.
Aku memandangi wajah teduh itu. Tiba-tiba ada perasaan tidak tega untuk membangunkannya. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul dua. Artinya, jam istirahat sudah habis. Lalu ponsel Hanin bedering, aku jadi kesal, gara-gara bunyi itu Hanin jadi terbangun.
Dia seperti orang linglung. Yang pertama diraba adalah jilbabnya. Mungkin sedang memastikan jika jilbabnya tetap rapi. Lalu mengusap area di sekitar bibirnya.
"Tidak ada air liur, tidak perlu diusap," kataku.
"Kenapa Bapak tidak membangunkan?!" teriaknya. Tangannya sibuk meraih ponsel di dalam tas yang terus bedering.
"Aku sudah bangunin kamu, kamunya saja yang kerbau," ledekku.
"A-apa?!" Dia sepertinya tak percaya. Ya, aku memang tidak pernah membangunkannya.
"Halo, Kak. Ya, i-ini sebentar lagi sa-sampai," katanya.
Berbicara pada telepon dengan nada gelagapan. Lalu mengakhiri panggilan, dan membuka pintu mobil. Tapi, ia kesulitan. Ya, pintunya memang masih aku kunci.
"Pak, cepat buka!" desaknya.
"Kalau aku tidak mau?"
Aku mengulur waktu. Entah kenapa, melihat dia yang panik, kok aku jadi senang, ya? Seperti melihat tontonan lucu.
"Pak Zulfikar, cepat! Kalau aku dipecat bagaimana?!" beteriak lagi, sudut matanya berkaca-kaca. Aku jadi tak tega. Mata kucing ini membuat batinku seolah turut merasakan kesedihannya.
"Oke."
Aku membuka pintu. Dia bergegas, setengah berlari. Dari balik kaca, aku memperhatikan gerak-geriknya. Aku kaget saat dia mengangkat roknya hingga ke betis.
"Jangan Hanin," kalimat itu keluar begitu saja, tiba-tiba jadi tidak rela jika keindahan dia dilihat oleh orang lain.
Aku mengintip di balik jemari. Tidak mungkin pikirku seorang Hanin mengekspos tubuhnya. Dan benar saja, di balik roknya ternyata ada celana panjang longgar bermotif bunga-bunga. Bukan celana legging ketat yang biasa digunakan oleh Dewi.
Aku menghela napas lega, setelah Hanin hilang dari jangkauan mata, barulah aku melajukan kemudi. Langsung ke ruanganku dengan pikiran yang terus terpaut pada kucing itu.
Aku yakin dia ke hotel karena bermaksud menyelidiki kasus pada malam itu. Dia tidak tahu kalau seluruh data CCTV untuk malam itu telah aku sabotase.
Ternyata, yang memberikan obat kuat ke minumanku adalah paklik Aryo. Aku memang sudah menduganya sedari awal.
Dari rekaman CCTV terlihat kalau paklik memberikan sesuatu pada bartender sambil senyum-senyum. Aku yakin dia sengaja melakukannya agar aku bisa memuaskan Dewi di malam pertama kami.
Namun aku belum menemukan bukti siapa yang menaruh obat pada minuman Hanin. Dari rekaman yang kulihat, tidak ada adegan janggal yang dilakukan bartender. Di hadapan Hanin hanya ada air putih.
Masalahnya adalah ... di meja barisan Hanin, ada banyak sekali karyawan. Baik yang berdiri maupun lalu-lalang. Sehingga gelas yang ada di hadapan Hanin berulang kali terhalang karyawan, dan tidak terekam kamera CCTV.
"Hmm," aku menautkan alis. Lalu tiba-tiba ada ide untuk mengerjai kucing itu lagi.
Aku meraih telepon paralel untuk menghubungi Bu Caca, manajer divisi mutu.
"Ya, Pak. Ada apa?" tanya Bu Caca.
"Yang tidak suka makan di kantin itu ada di divisi Ibu, kan?"
"Ya, Pak. Kita kan sudah membicarakannya kemarin. Apa ada yang perlu saya revisi lagi?"
"Emm, sebenarnya tidak ada sih. Kinerja divisi mutu sejauh ini tak ada masalah. Aku hanya ingin tahu alasan dan persepsi karyawan itu dari sudut pandang dia secara pribadi. Jangan-jangan, Anda dan sahabatnya mengarang cerita demi menjaga reputasi dia. Bisa jadi, kan?"
"Ti-tidak, Pak. Ka-kami tidak mengada-ada." Suara Bu Caca terdengar sedikit ketakutan.
"Kedepannya perusahaan ini memang akan mengembangkan hunian berkonsep syariah. Kurasa tidak ada salahnya kalau aku melakukan sedikit wawancara dengan karyawan itu. Siapa namanya? Emm ...." Aku pura-pura tidak tahu.
"Namanya Daini, Pak."
"Nah, benar. Cepat suruh dia ke ruanganku. Sekarang ya, tidak pakai lama," tegasku.
"Baik, Pak."
.
.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan sepatu. Aku senang. Hanin akan segera tiba. Lalu bel berbunyi.
"Masuk," kataku. Segera memasang wajah serius dan tegas.
Pintu terbuka. Dan ....
Aku terkejut. Sosok itu langsung tersenyum dan berlari ke pangkuanku. Dia bukan Hanin, dia ... istriku, Dewi Laksmi.
"Ci-cinta," aku terkesima.
"Hehehe, kaget ya Mas? Aku ke sini supaya bisa pulang bareng. Dari sekolah aku sengaja naik taksi," kata Dewi sambil bergelayut manja di pangkuanku. Dia bahkan menghidu leherku. Ya, Dewi memang agresif.
"Kenapa gak kasih kabar dulu cinta?" tanyaku sambil membelai rambutnya.
"Memangnya harus? Ya terserah aku dong," jawabnya. Tangannya sibuk membelai dadaku. Bahkan membuka dasi dan kancing bajuku.
"Wi, tunggu Mas dulu ya. Mas mau ada tamu. Kamu bisa menunggu Mas di kamar."
"Tamu? Siapa tamunya? Ya gak apa-apa kali Mas kalaupun aku tetap di sini? Aku kan istri kamu. Pokoknya, aku tetap di sini. Titik, katanya.
Belum juga aku memberikan alasan lain, bel berbunyi lagi. Kali ini aku yakin jika yang datang adalah Hanin.
"Assalamu'alaikuum," benar kan?
"Wa'alaikumussalaam, masuk," titahku. Aku tiba-tiba berdebar.
"Wi, duduk di samping Mas, ya."
"Gak mau," ucapnya manja.
Hanin masuk, ia menunduk. Lalu sekilas menatap kami, namun tanpa ekspresi.
"Duduk," kataku.
"Te-terima kasih," jawabnya. Duduk, dan terus menunduk.
"Mas, ini karyawan kita?" bisik Dewi.
Aku hanya mengangguk. Saat melihat penampilan Hanin, Dewi rupanya merasa aneh hingga turun dari pangkuanku. Aku sedikit lega. Dewi memperhatikan Hanin dari atas sampai bawah. Sementara Hanin terus menunduk.
"Gak sekalian pakai cadar, Mbak," kata Dewi sambil tersenyum.
"Wi," aku menyikut pelan bahu Dewi.
"InsyaaAllah, suatu saat memang ada niat memakai cadar," ucap Hanin. Tapi wajahnya tetap menunduk.
"Bu Hanin," sapaku.
"Ya Pak."
"Karena ada istriku, pertemuannya aku batalkan," ucapku dengan berat hati.
Padahal, aku mau mengakhiri pertemuan ini karena ingin menjaga perasaan Hanin. Walaupun aku tahu Hanin tidak memiliki perasaan padaku, tapi aku tidak mau membuatnya tak enak hati akibat perkataan Dewi.
"Baik, saya permisi, Pak, Bu," katanya. Berdiri dan memberi hormat.
"Assalamu'alaikuum," lanjutnya.
"Waalaikumussalaam," jawabku dan Dewi serempak. Aku menghela napas. Tatapan Hanin saat melihat Dewi, membekas di ingatanku.
"Mas, sudah gak ada scedule, kan?"
"Ya, gak ada cinta, kenapa?" tanyaku.
"Emm, hehehe, aku mau ini Mas. Kangen banget, Masnya capek, gak?" tanya Dewi.
"Oh, capek gak ya?" godaku.
"Aku cek ya," kata Dewi.
"Emm, be-begini cinta, Mas sebenarya ada yang mau diceritakan sama kamu." Aku menahan tangan Dewi.
"Mas, nanti saja ceritanya, aku mau sekarang." Kembali naik ke pangkuanku dan melakukan gerakan-gerakan yang menantang.
"Be-besok Mas mau ke Bandung."
"Ke Bandung, acara apa? Boleh aku ikut?"
"Kamu mau ikut?" Aku kaget.
"Eh, gak jadi Mas. Maaf ya gak bisa nemenin. Aku baru ingat, kan ada les, Mas. Di dua tempat lagi."
Syukurlah. Aku jadi tenang.
"Ada acara apa memangnya Mas?"
"Mau mengecek proyek, cinta. Sekalian mau meeting dengan kolega yang sangat penting." Maksudku meeting dengan keluarga Hanin.
"Oh, oiya Mas, aku mau mengunci pintu dulu ya."
Dewi beranjak, dan aku malah melamun. Baru tersadar dari lamunan ini saat Dewi menyambar bibirku. Aku memejamkan mata.
Tidak, ini tidak benar.
"Kenapa Mas?" Dewi heran karena aku menghentikannya.
"Mas lapar cinta, kita makan yuk," ajakku.
"Makan?" Dewi cemberut. Padahal, aku sebetulnya tidak lapar.
Faktanya adalah ... saat aku mencium Dewi, yang ada di otakku adalah wajah kucing itu. Aku menghela napas, segera memeluk Dewi dan mencium puncak kepalanya.
"Mas, kenapa?" tanya Dewi.
"Gak apa-apa cinta. Emm, kita lanjut di rumah saja ya," bujukku.
Dewi mengangguk pelan. Ia kembali merapikan dasi dan kancing bajuku.
"Emm, kamu yakin mengizinkan Mas ke Bandung, dan menginap di sana?"
"Ya mengizinkan lah, Mas. Memangnya mau menginap berapa hari sih? Tiga hari? Boleh-boleh saja kok, Mas." Katanya.
"Terima kasih, cinta."
Aku tersenyum. Ingin segera ke Bandung dan menyelesaikan semuanya. Setelah melaksanakan keinginan Hanin, aku yakin jika kucing itu tidak akan mengganggu pikiranku lagi.
...~Tbc~...
apakah a' abil dan neng listrik sudah punya momongan???
rindu manja nya,rindu tegas & galak nya makasih nyai...udah mengobati kerinduan ini 🤭🤭🤭🤭
Aku msh ter-hanin2 & ter-listi2.
Keknya seru Listi di bikin episode tersendiri.
Tengkyu tuk karya nyai yg wuapik ini.
Bukan skedar halu tp banyak pembelajaran yg ga menggurui dlm bersikap sesuai keimanan kita..
lav yu thor, Semangaattt..