Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 003 : Ribuan Nyawa yang Mati dalam Kesunyian dan Adolf Hittler
Rara tersentak hebat, tubuhnya yang semula kaku perlahan melentur saat kesadarannya ditarik kembali secara paksa ke dunia fisik.
Napasnya memburu, keluar sebagai uap putih yang tebal di udara malam Brandenburg yang membeku.
Ia menatap lantai batu di depan pintu masuk utama Beelitz-Heilstätten dengan tatapan kosong selama beberapa detik, sebelum akhirnya menoleh ke arah Rachel yang berdiri tegak di sampingnya.
"Dia tidak hanya tersesat, Rachel," bisik Rara, suaranya parau dan bergetar.
"Klaus mengambil sesuatu. Sebuah pisau bedah perak dari ruang bawah tanah. Dia menemukannya dalam sebuah kotak kayu yang seharusnya tidak pernah dibuka. Bagi mereka yang mendiami tempat ini, Klaus adalah pencuri. Dan di sini, nyawa dibayar dengan nyawa."
Elena yang berdiri di belakang Peterson tampak terkejut, wajahnya yang semula pucat kini tampak kian pasi.
"A thief? Klaus wouldn't steal anything! He is a professional photographer, he knows the rules!"
(Pencuri? Klaus tidak akan mencuri apa pun! Dia fotografer profesional, dia tahu aturannya!) serunya membela kekasihnya dengan nada histeris yang memecah kesunyian hutan pinus di sekeliling mereka.
Rachel menoleh tajam, tatapannya sedingin es yang menyelimuti dahan pohon di sekitar mereka.
"Professional or not, Elena, he took a part of this building's soul. In Beelitz, the dead don't care about your profession. They only care about what you owe them."
(Profesional atau tidak, Elena, dia mengambil bagian dari jiwa bangunan ini. Di Beelitz, orang mati tidak peduli pada pekerjaanmu. Mereka hanya peduli pada apa yang kau hutangkan pada mereka.)
Peterson melangkah maju, mencoba menengahi ketegangan itu. Ia menatap bangunan bata merah yang menjulang angkuh, jendela-jendela pecahnya tampak seperti ribuan mata yang sedang menghakimi mereka.
"Elena, tell us again. What is the real darkness behind these walls? Why is the energy so possessive?"
(Elena, beritahu kami lagi. Apa kegelapan sebenarnya di balik dinding ini? Mengapa energinya begitu posesif?)
Elena menelan ludah, suaranya hampir hilang tertelan angin malam.
"This place... Beelitz-Heilstätten was a place of hope that turned into a factory of death. Built in 1898 for tuberculosis, it then became a military hospital in both World Wars. Even Adolf Hitler was a patient here in 1916."
(Tempat ini... Beelitz-Heilstätten adalah tempat harapan yang berubah menjadi pabrik kematian. Dibangun tahun 1898 untuk TBC, lalu menjadi rumah sakit militer di kedua Perang Dunia. Bahkan Adolf Hitler pernah menjadi pasien di sini tahun 1916.)
Elena memeluk dirinya sendiri erat-erat, matanya tak berani menatap lorong gelap di depan mereka.
"Thousands died in agony. But the worst part was the surgery ward. They talk about 'Der Chirurg'—The Surgeon. He was a doctor who went mad during the war, trying to 'fix' soldiers by stitching organs that didn't belong to them. He died here, but his knife remained. If Klaus took that scalpel, he didn't just take a tool... he took the Surgeon's heart."
(Ribuan orang mati dalam kesakitan. Tapi bagian terburuknya adalah bangsal bedah. Mereka membicarakan 'Der Chirurg'—Sang Ahli Bedah. Dia dokter yang gila saat perang, mencoba 'memperbaiki' tentara dengan menjahit organ yang bukan milik mereka. Dia mati di sini, tapi pisaunya tertinggal. Jika Klaus mengambil pisau itu, dia tidak hanya mengambil alat... dia mengambil jantung Sang Ahli Bedah.)
Rachel mendengarkan dengan seksama, jimat zamrud di lehernya mulai berdenyut, mengeluarkan cahaya hijau yang berpendar tidak stabil.
"Cak, Mas Suhu, siapkan perimeter. Pram, Teguh, nyalakan lampu tembak. Kita masuk sekarang."
Zzap!
Dua lampu halogen bertenaga besar membelah kegelapan. Cahayanya menyapu lorong utama yang lantainya dipenuhi puing-puing kaca, debu tebal, dan sisa-sisa kursi roda yang berkarat.
Dinding-dindingnya yang dulu berwarna putih kini mengelupas, menampakkan lapisan bata yang tampak seperti daging manusia yang membusuk.
Rachel, Rara, Cak Dika, dan Melissa mulai melangkah masuk. Begitu kaki mereka melewati ambang pintu, suhu udara mendadak turun drastis. Bau klorin yang tajam bercampur dengan aroma amis darah tua menyeruak tajam.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu bot yang berat terdengar dari arah belakang mereka.
Tap... tap... tap...
Cak Dika secara refleks memutar tubuhnya, mengarahkan senter berkekuatan tinggi ke arah lorong gelap.
Kosong. Namun, di atas lantai yang tertutup debu tebal, sebuah jejak kaki besar muncul secara tiba-tiba.
Plak
Debu itu tertekan, membentuk pola sol sepatu bot militer tua. Muncul jejak kedua, lalu ketiga, tepat menuju ke arah mereka.
"Rachel, dia di sini," bisik Cak Dika.
Suara gesekan logam yang tajam mendadak terdengar dari dinding di samping mereka.
Sreeeeeet... sreeeeeet... diikuti suara bisikan dalam bahasa Jerman yang parau.
"Wo ist mein Skalpell?"
(Di mana pisau bedahku?)
Melissa tersentak.
"Rachel, dia menagih benda itu. Dia mencari pisau bedahnya!"
Tiba-tiba, bayangan hitam besar melesat di langit-langit. Sang Ahli Bedah tidak lagi bersembunyi.
Sosok itu muncul sebagai pria jangkung dengan masker kain yang terjahit di wajahnya, mengenakan apron kulit yang basah oleh cairan hitam.
Di tangannya yang pucat, ia memegang sebuah bayangan pisau bedah yang panjang.
"Jangan bergerak!" teriak Rachel saat jimat zamrudnya meledakkan cahaya hijau-merah yang terang.
Energi itu menghantam Sang Ahli Bedah, membuatnya terlempar ke dinding bangsal. Suara teriakan ribuan sukma terdengar menggema dari dinding-dinding bata.
Rachel segera merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang dibawa Elena dari apartemen Klaus—kotak berisi pisau perak yang dicuri itu.
"Ini milikmu!" Rachel melemparkan kotak itu ke tengah lorong.
Begitu kotak itu menyentuh lantai, bayangan Sang Ahli Bedah menerjang maju. Namun, sebelum ia mencapainya, Rara merapalkan doa pemutus ikatan.
Udara di dalam lorong itu mendadak berputar hebat seperti badai. Sosok-sosok pasien tanpa wajah yang tadi dilihat Marsya di jendela kini muncul di sekeliling mereka, merintih dalam penderitaan.
Rachel maju selangkah, menatap langsung ke lubang hitam di mata Sang Ahli Bedah.
"Nimm dein Eigentum und lass die Seele des Mannes frei!"
(Ambil milikmu dan lepaskan sukma pria itu!)
teriak Rachel dalam bahasa Jerman yang secara ajaib keluar dari mulutnya karena pengaruh transmisi ghaib Melissa.
Sang Ahli Bedah berhenti.
Ia memungut pisau perak itu. Seketika, kabut hitam yang menyelimuti bangunan itu menyusut dengan cepat.
Sosok itu perlahan memudar, masuk kembali ke dalam dinding-dinding dingin Beelitz, membawa kembali penderitaannya ke dalam kegelapan.
Namun, Rachel tahu perjuangan belum usai. Raga Klaus di rumah sakit mungkin sudah stabil, tapi sukmanya masih tertinggal di kedalaman labirin ini.
"Cak, jaga fisik kami. Kami harus menjemputnya sekarang," perintah Rachel pendek.
Rachel segera mengambil posisi bersila di lantai koridor yang dingin. Ia memejamkan matanya, mengatur napas, dan mulai melepaskan sukmanya dari raga.
Rara, yang sudah sangat memahami apa yang harus dilakukan, ikut duduk bersila di samping Rachel.
Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya meluncur masuk mengikuti Rachel ke alam sebelah.
Seketika, dunia berubah. Bangunan yang tadi tampak hancur, kini terlihat utuh namun dalam kondisi yang mengerikan.
Dinding-dindingnya berdenyut seperti organ dalam manusia, dan uap klorin yang pekat menyelimuti lantai.
Begitu kaki astral mereka menginjak lorong utama di alam ghaib, Rachel dan Rara langsung disambut oleh ribuan pasang mata yang mengintip dari celah dinding dan plafon. Mata-mata itu merah, bengkak, dan memancarkan kebencian yang murni atas kedatangan mereka.
"Geh weg! Ihr gehört tidak hierher!"
(Pergi! Kalian tidak milik di sini!)
Suara teriakan itu bergema, tumpang tindih dengan raungan memekakkan telinga dari sosok-sosok tanpa wajah yang merayap di dinding.
Namun, Rachel dan Rara tidak peduli. Mereka berlari menembus kerumunan entitas itu. Rachel menggunakan energi dari jimat zamrudnya untuk menyapu bayangan-bayangan yang mencoba menghalangi jalan mereka.
Mereka berlari menyusuri labirin demi labirin, melewati bangsal-bangsal penuh ranjang besi yang berderit sendiri, dan ruang bedah yang lantainya digenangi cairan hitam.
Setiap sudut Beelitz menampilkan kengerian baru—tentara dengan seragam compang-camping yang memegang paru-paru mereka sendiri, hingga pasien anak-anak yang matanya dijahit.
Mereka terus berlari hingga sampai ke jantung bangunan, sebuah ruangan bawah tanah yang paling gelap.
Di sudut ruangan itu, di balik jeruji ghaib yang terbuat dari kabut hitam, mereka melihatnya. Sukma Klaus. Pria itu meringkuk ketakutan, wajahnya menunjukkan keputusasaan yang amat sangat.
"Klaus!" seru Rachel.
Klaus mendongak. Matanya yang semula redup mendadak berbinar saat melihat kehadiran manusia lain di tempat terkutuk itu. Ia mencoba berdiri namun tubuh astralnya sangat lemah.
"Ayo, Klaus! Kita harus pergi sekarang sebelum dia kembali!" seru Rara sambil merangkul bahu Klaus di satu sisi, sementara Rachel memapahnya di sisi lain.
Mereka membawa sukma Klaus berlari kembali menembus labirin. Kali ini, gangguan semakin hebat.
Suara langkah kaki sepatu bot yang berat mengejar mereka dari belakang.
Tap! Tap! Tap!
Meskipun pisaunya sudah dikembalikan, sisa-sisa dendam di bangunan ini masih menginginkan nyawa.
"Jangan menoleh! Terus berlari ke arah cahaya!" teriak Rachel.
Di depan mereka, gerbang cahaya yang merupakan titik raga mereka berada mulai terlihat. Dengan satu hentakan energi terakhir, Rachel dan Rara menarik sukma Klaus melompat masuk ke dalam cahaya itu.
GASPP!
Di dunia fisik, Rachel dan Rara tersentak secara bersamaan. Keduanya membuka mata dengan napas terengah-engah.
Di saat yang sama, Peterson yang sedang memegang ponselnya menerima panggilan darurat.
"Hello? Yes? What?!" Peterson berteriak ke arah telepon. Ia menatap Elena dengan wajah penuh haru.
"Elena! The hospital just called! Klaus is awake! He just opened his eyes and called your name!"
(Elena! Rumah sakit baru saja menelepon! Klaus sudah bangun! Dia baru saja membuka mata dan memanggil namamu!)
Elena jatuh terduduk sambil menangis sejadi-jadinya. Klaus bebas. Jantung dan sukmanya telah kembali ke tubuh fisiknya di rumah sakit Brandenburg berkat keberanian Rachel dan Rara yang menembus labirin maut Beelitz.
Rachel bangkit berdiri, ia menyapu debu di celananya dan menatap bangunan di depannya yang kini terasa sedikit lebih."sunyi"
"Ayo pergi dari sini. Masalah ini sudah selesai."
Saat mereka berjalan keluar dari lorong utama, Melissa terus menggumamkan doa-doa kuno. Ia merasakan bahwa meski "Sang Ahli Bedah" telah mendapatkan pisaunya kembali, keberadaan mereka di sini telah meninggalkan jejak permanen.
Di sepanjang perjalanan menuju van, tanah di bawah kaki mereka terasa bergetar halus, seolah-olah raksasa yang tertidur di bawah Beelitz merasa terganggu.
Pram dan Teguh terus merekam setiap jengkal koridor saat mereka mundur.
Di layar monitor mereka, tertangkap bayangan-bayangan putih yang berdiri tegak di setiap ambang pintu bangsal, menatap kepergian rombongan itu dengan tatapan hampa. Tidak ada lagi serangan fisik, namun tekanan psikologisnya jauh lebih berat.
"Cak, bawa Rara ke mobil dulu," ujar Rachel pelan. Ia berdiri sejenak di depan gerbang besi, menatap ke arah bangunan utama.
Ia tahu, di salah satu jendela lantai atas, sosok berbaju apron bedah itu masih mengawasi. Rachel mengangkat tangan kanannya, menyentuh zamrudnya, memberikan tanda bahwa batas telah ditarik.
"Jangan ada lagi yang mengikuti!" tutur Rachel tegas.
Van hitam itu akhirnya melaju, membelah hutan Brandenburg yang gelap. Di dalam mobil, kesunyian menyelimuti.
Semua orang terlalu lelah bahkan untuk sekadar berbicara. Elena sudah tertidur karena kelelahan emosional di bahu Melissa.
Rara memejamkan mata dalam pelukan Cak Dika, mencoba membersihkan sisa-sisa memori kelam pasien TBC yang sempat terserap ke dalam jiwanya.
"Mbak Rachel," bisik Marsya sambil menoleh ke belakang.
"Kameraku... semua filenya korup. Kecuali satu adegan saat Rara dan Mbak Rachel bersila. Di sana terlihat bayangan besar yang membungkuk di atas kalian berdua."
Rachel hanya menatap keluar jendela, ke arah pohon-pohon pinus yang berlari cepat.
"Hapus saja, Marsya. Beberapa hal di dunia ini tidak diciptakan untuk dilihat oleh lensa manusia."
Perjalanan menuju rumah sakit Brandenburg pun berlanjut, membawa mereka kembali ke dunia nyata, meski mereka tahu bahwa sebagian dari diri mereka akan selalu tertinggal di labirin maut Beelitz-Heilstätten.
..._______...
Berdasarkan Kisah Nyata, tentang Beelitz-Heilstätten. Bangunan itu ada dan masih berdiri sampai saat ini di Jerman.
Kisah perihal ribuan nyawa yang mati dalam kesunyian. Itu memang benar ada. Aku memberitahu kalian, perihal kisah kelam ini. Agar dunia tidak lupa, bahwa tempat ini adalah saksi dari ribuan manusia yang mati dengan paru-paru hancur.
Beberapa foto dokumentasi "Beelitz-Heilstätten" :