NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan / Tamat
Popularitas:43.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Siang merambat pelan. Kartun di televisi masih menyala, tapi suara tawanya tak lagi benar-benar ditonton. Arbani sudah bersandar, matanya setengah mengantuk, mangkuk cemilan di pangkuannya tinggal remah.

Nara duduk di dekatnya, tangannya sesekali mengusap rambut anak itu. Terlihat tenang, tapi matanya tak pernah benar-benar lepas dari jendela.

Albi berdiri di dekat pintu, pura-pura membava koran yang tidak pernah benar-benar ia baca. Sejak pagi, rasa ganjil itu tak pergi, entah mengapa langkah kakinya menyeretnya ke depan.

“Ra,” panggilnya pelan.

Nara menoleh. “Nggeh?” (Iya?)

“Aku metu sek yo.” (Aku keluar sebentar ya.)

Nara refleks berdiri. “Metu?” (Keluar?)

“Iyo. Ning ngarep wae.” (Iya. Di depan saja.)

Nada Albi datar. Terlalu datar. Nara mengangguk, tapi dadanya mengencang.

“Iyo… ojo suwe.” (Iya… jangan lama.)

Albi melangkah keluar. Pintu ditutup perlahan, entah kenapa sedari tadi ia merasa ada sesuatu dibalik semuanya, hingga hatinya terdorong sendiri untuk menyelidiki tanpa sepengetahuan sang istri.

Begitu keluar rumah, Albi tidak langsung kembali. Ia berjalan santai ke arah warung kopi di ujung jalan, tempat orang-orang desa biasa singgah sekadar minum atau berbincang.

Langkahnya tampak biasa, tapi pikirannya tidak. Sejak pagi, gelagat Nara terlalu janggal. Dan wajah pria asing yang tadi dilihatnya di depan rumah masih tertinggal di kepalanya.

Warung kopi itu tidak ramai. Hanya beberapa orang duduk di bangku panjang. Asap rokok tipis menggantung di udara.

Albi baru saja hendak duduk, ketika telinganya menangkap potongan percakapan yang membuat langkahnya tertahan.

“Nggeh, omahe sing pager pring kuwi…”

(Iya, rumah yang pagarnya bambu itu…)

Albi menoleh pelan. Seorang pria berdiri tak jauh dari meja warung, berbincang dengan pemilik warung. Pria itu membelakangi Albi, tapi postur tubuhnya terasa… tidak asing.

“Hidupe kulawargane tenang-tenang wae yo?” tanya pria itu lagi. (Hidup keluarganya tenang-tenang saja ya?)

Pemilik warung mengangguk. “Nggeh. Wong apik. Bapake kerja, ibune dagang kembang.”

(Iya. Orang baik. Bapaknya kerja, ibunya jualan bunga.)

Dada Albi mengencang.Ia melangkah lebih dekat, pura-pura mengambil kursi. Saat itulah pria itu menoleh. Mata mereka bertemu. Ekspresi pria itu membeku.

“Albi?” ucapnya spontan.

  Albi menyipitkan mata, mencoba mengingat kembali wajah itu, dan ya wajah itu memang tidak asing, wajah itu dulu yang selalu menggandeng tangan Nara, yang mencintai Nara, namun disaat pernikahan cintanya tak sebesar ketika berpacaran.

  "Kamu," sahut Albi datar.

  Ardan sedikit gugup namun ia berusaha untuk berdiri tegap. "Iya aku datang ke sini karena urusan pekerjaan," sahut Ardan.

  Albi memicingkan mata, kata-kata itu terdengar terlalu mudah, sementara istrinya di dalam rumah, merasa ketakutan selama beberapa hari ini.

  "Urusan kerja, yang dibersamai mengintai masa lalu," kata Albi. Pelan tapi menusuk.

Ardan mencoba mengontrol semua agar tetap terlihat baik-baik saja. "Tidak begitu Bi, Aku gak ada maksud apapun," elak Ardan.

Albi memiringkan senyumnya, “Le gak ngono, kowe ngopo takon-takon soal kulawargaku?” tanyanya datar. (Kalau gak begitu, kamu kenapa tanya-tanya soal keluargaku?)

Pemilik warung langsung pamit masuk ke dalam karena merasa tidak enak, menyisakan mereka berdua dalam sunyi yang menegang.

Ardan menggaruk tengkuknya. “Mung penasaran. Wis suwe ora ketemu. Aku kira… kowe isih dhewekan.” (Cuma penasaran. Sudah lama tidak ketemu. Kupikir… kamu masih sendiri.)

Albi terkekeh pendek, tanpa senyum. “Penasaran kok tekan omah?” (Penasaran sampai ke rumah?)

Ardan terdiam sepersekian detik. “Desa ki cilik, Bi,” katanya kemudian. “Jenengmu gampang keprungu.” (Desa ini kecil, Bi. Namamu gampang terdengar.)

Albi mencondongkan badan sedikit. Suaranya rendah. “Lan jeneng bojoku lan anakku ora kanggo obrolanmu.” (Dan nama istriku serta anakku bukan untuk obrolanmu.)

Tatapan Ardan berubah. Tidak lagi sekadar penasaran. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, tapi cepat ia sembunyikan.

“Aku ora duwe niat elek,” katanya. (Aku tidak punya niat buruk.)

Albi menegakkan tubuh. “Mugo-mugo.” (Semoga saja.)

Ia berdiri, menatap Ardan lurus-lurus.

“Amarga nek nganti kulawargaku keganggu…”

(Because kalau sampai keluargaku terganggu…)

Kalimat itu tidak selesai. Tapi ancamannya sampai, Ardan tidak pernah menyangka jika akan ketahuan secepat ini, bahkan sebelum melangkah lebih dalam lagi.

Albi berbalik pergi, meninggalkan Ardan yang masih berdiri di samping bangku warung, dengan wajah yang tak lagi bisa menyembunyikan ketertarikan berbahaya itu.

Dari kejauhan, Ardan menatap punggung Albi yang menjauh. “Dadi kowe sing njaga dheweke saiki…” gumamnya lirih. (Jadi kamu yang menjaganya sekarang…)

Dan sejak saat itu, permainan mereka tidak lagi sepihak, Ardan tidak pernah berhenti mengulik meskipun sudah ketahuan. "Aku pasti akan datang lagi."

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Di dalam rumah, Nara masih duduk di dekat Arbani. Anak itu kini tertidur, kepalanya bersandar di bantal sofa. Nara mengusap wajah Arbani pelan, lalu menarik selimut tipis menutupi tubuh kecil itu.

Langkah kaki terdengar dari luar. Pintu dibuka. Albi masuk tanpa suara keras. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak.

“Nara,” panggilnya lirih.

Nara menoleh. Seketika ia tahu.

“Bani turu,” katanya pelan. (Bani tidur.)

Albi mengangguk. Ia mendekat, duduk di kursi berhadapan dengan Nara. Jarak mereka dekat, tapi terasa jauh.

“Aku bar ketemu Karo wing sing gawe awakmu aneh.” (Aku baru ketemu sama orang yang membuatmu aneh.)

Tangan Nara yang tadinya melipat kain berhenti di udara. Kain itu melorot pelan dari jemarinya, hatinya mendadak bergemuruh.

Albi melanjutkan, suaranya rendah, tertahan.

“Aku ora salah weruh, Ra, bahkan awakdewe sing nyede'i uwong kuwi. (Aku tidak salah lihat, Ra. Bahkan aku sendiri, yang deketin orang itu.)

Nara menunduk. Bahunya bergerak kecil, seperti menahan sesuatu yang terlalu lama disimpan. Albi mendekat, tidak meninggikan suara. Justru sebaliknya.

“Saiki aku ngerti,” katanya pelan. (Sekarang aku paham.)

Nara mengangkat wajahnya perlahan, ia mencoba mendengar meskipun hatinya sedikit takut.

“Pantes wae akhir-akhir iki kowe dadi gampang kaget. Ngempet Bani neng omah. Masak kakehan. Ora gelem adoh sithik wae.”

(Pantas saja akhir-akhir ini kamu jadi gampang kaget. Menahan Bani di rumah. Masak berlebihan. Tidak membiarkan dia pergi sedikit pun.)

Albi menghela napas panjang. Dadi iki sing nggawe atimu ora tenang.” (Jadi ini yang membuat hatimu tidak tenang.)

Pertahanan Nara runtuh di situ, dan saat ini ia tidak bisa lagi mengelak ataupun menyembunyikan sesuatu.

“Iyo, Bi…” suaranya pecah. (Iya, Bi…)

Air mata jatuh satu-satu, tanpa isak, tanpa suara. “Aku salah,” lanjutnya lirih. “Aku mikir yen nyimpen iki dhewe luwih aman. Yen aku ora crito, masa lalu ora bakal nyusul.”

(Aku salah. Aku pikir menyimpan ini sendiri lebih aman. Kalau aku tidak bercerita, masa lalu tidak akan mengejar.)

Albi jongkok di hadapannya, menatap wajah istrinya yang basah. “Ra,” ucapnya pelan, “aku wis ngerti sopo dheweke. Wiwit biyen.”

(Ra, aku sudah tahu siapa dia. Sejak dulu.)

Nara terisak kecil, tangannya segera menghapus pipi yang mulai basah.

“Nanging aku ora ngerti yen tekan kene. Yen tekan omahku. Yen tekan anakku.” (Tapi aku tidak tahu kalau dia sampai ke sini. Sampai ke rumahku. Sampai ke anakku.)

Kalimat itu membuat dada Albi mengeras, bahkan ia merasa bersalah karena terlambat mengetahui.

“Aku wedi, Bi…” Nara menutup wajahnya. (Aku takut, Bi…)

“Wedi yen kabeh sing tak bangun iki ambruk. Wedi yen Bani kudu ngerti soko sing durung wayahe.” (Takut semua yang kubangun runtuh. Takut Bani harus tahu sesuatu yang belum waktunya.)

Albi menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara yang stabil, tapi penuh emosi:

“Kowe ora salah mergo wedi.” (Kamu tidak salah karena takut.)

Ia menggenggam tangan Nara erat.

“Nanging kowe salah mergo ngadhepi iki dewekan.” (Tapi kamu salah karena menghadapi ini sendirian.)

Tangis Nara pecah lebih keras.

“Aku njaluk ngapura, Bi…” (Aku minta maaf, Bi…)

Albi mengangguk pelan. “Aku ora njaluk kowe dadi kuwat dewe. Aku mung njaluk kowe percaya.” (Aku tidak meminta kamu kuat sendirian. Aku cuma minta kamu percaya.)

Ia menoleh ke arah kamar Arbani, lalu kembali ke Nara.

“Saka saiki, ora ana maneh sing ndelok anakku saka njaba pager tanpa tak hadapi.” (Mulai sekarang, tidak ada lagi yang mengawasi anakku dari luar pagar tanpa aku hadapi.)

Nara terdiam, lalu mengangguk kecil, lelah tapi lega. Untuk pertama kalinya, ketakutannya tidak lagi berdiri sendirian di depan pintu masa lalu.

Dan Albi tahu, ini bukan tentang cemburu, melainkan tentang menjaga apa yang sudah mereka selamatkan bersam selama ini.

Bersambung ....

Pagi semoga suka ya

1
Sugiharti Rusli
semoga takdir yang harus memisahkan mereka sekarang jadi bekal bagi Arbani ke depannya dan tetap menjadikan sosok Albi sebagai ayah yang selalu hadir❤❤🤍
Sugiharti Rusli
Albi mengajarkan kalo kasih sayang dan ketulusan bukan hanya soal darah siapa yang mengalir, dan Arbani telah merasakan sosok seorang bapak selama 9 tahun ini
Sugiharti Rusli
dan sepertinya kepulangan mereka ke kampung halaman memang menjadi keinginan Albi agar pergi di tempat dan bersama orang" yang dia sayangi selama ini
Sugiharti Rusli
karena cinta dan ketulusan Albi kepada Nara dan Arbani tuh sangat menyentuh
Sugiharti Rusli
asli baca part ini air mata terus mengalir dan turut merasakan perpisahan mereka😭
Ummee
makasih kak author...
ada bonus chapter kah? hehe
Ummee
huuaaaa.... 😭😭😭
aku nangis ini kak...
Rohmi Yatun
😭😭😭😭😭😭ahh sedihh..
ari sachio
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Kasih Sklhqu
terimakasih Thor 🙏 ditunggu karya berikutnya 🙏
Lisa
Terimakasih y Kak Ayu utk kisahnya..meskipun endingnya sedih..tp ada pelajaran sangat berharga yaitu dari seorang laki2 yg tulus merawat anak yg bukan anak kandungnya..
Ayumarhumah: Sama-sama Kakak ....
total 1 replies
Naim
bahasanya kebanyakan di campur"
Naim
baca nya ribett
Ayumarhumah: itu translate banyak yang gak tahu bahasa Jawa. karena kebanyakan yang baca dari luar pulau. makanya minta translate.
total 1 replies
Naim
bahasanya kalo bisa indo aja, kalo mau ada jawa jangan terlalu banyak jadi kya aneh bacanya
Ayumarhumah: aku di sini hanya ikut event. dan event itu hastagnya romansa pedesaan dan di event itu harus menggunakan bahasa daerah 🙏 nah saat aku menggunakan bahasa daerah banyak pembacaku yang gak ngerti akhirnya aku kasih translate. kalau kakak gak suka skip saja dari pada beri bintang satu.
total 1 replies
Naim
bahasanya belibet
ari sachio
antara Aku,Suamiku dan Mantanku

antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang mereka sudah bisa saling memahami dengan Ardan yang notabene ayah biologis Arbani,,,
Sugiharti Rusli
meski sakit yang Albi derita belum tahu ujungnya sampai kapan, tapi pulangnya mereka semoga menjadi obat dan semangat baru lagi,,,
Lisa: Amin..setuju banget Kak..
total 1 replies
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Albi sekarang bukan kesembuhan penuh yang dia harapkan, tapi berkumpul bersama sang putra yang sangat dia sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi apa yang Albi dan Nara lalui jauh dari kampung dan putra mereka sendiri,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!