NovelToon NovelToon
Rembulan Tertusuk Ilalang

Rembulan Tertusuk Ilalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak / Dendam Kesumat / Roh Supernatural
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: Cathleya

Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.

Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!

Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Kehidupan di desa.

Tiga tahun kemudian ...

Selama tiga tahun, Rembulan bersembunyi di perkampungan di satu kota perbatasan antara Jawa Barat dan Jakarta. Disinilah dahulu dia dibuang oleh kedua orangtuanya dan hidup di panti. Selama di kota ini, tak sekalipun dia menengok panti di masa kecilnya. Biarlah itu menjadi urusan belakangan sebab ada urusan yang jauh lebih penting.

Saat ini, dirinya hidup dengan damai dengan penduduk lokal. Maunya selamanya dia tinggal disini tapi ada urusan yang belum selesai. Sehari sebelumnya, dia pamit dengan masyarakat untuk kembali ke ibukota Jakarta. Isak tangis dan pelukan hangat mengantar perpisahan dengannya.

Mereka makan bersama di tengah lapangan, dihiasi api unggun dengan hidangan kambing muda guling hasil dari peternakan berbulan-bulan, ubi, jagung bakar dan kacang rebus, hasil dari perkebunan yang dirawat dengan sepenuh hati. Sungguh kehidupan bersahaja yang membahagiakan.

Tak perlu takut kelaparan dan kehausan. Saling berbagi dan bergotong royong. Tak ada saling sikut atau merenggut nyawa hanya karena selembar rupiah.

Hari telah beranjak terang. Saatnya pagi ini dia kembali ke peradaban dimana dia berasal untuk menuntaskan segalanya.

Rembulan memasukan pil penyembuh dan 10 koin emas berlogo suatu era bangsa yang sudah punah dari peradaban, dari ruang harta karun di Ruang Dimensi (Pink mengekstrasi berat koin tersebut menjadi ringan). Begitu keluar dari tas akan kembali ke sediakala tanpa disadari manusia lain.

Koin tersebut akan dia jual sebagai modal pertama untuk kembali ke tempat dia dibesarkan. Dimasukan dalam tas ransel handmade (terbuat dari kulit binatang) agar tidak terlihat mencolok.

Pink dan Violet yang kasat mata, mendampingi sang master saat turun gunung, di siang hari. Untuk mencapai daerah perkotaan membutuhkan waktu 3 jam menaiki berbagai jurusan angkutan umum.

Rembulan memiliki uang untuk ongkos keluar dari kota kecil ini dari hasil menjual rompi serta tas dari kulit binatang yang dijual di pasar, berjarak 30 menit dari dusun tempatnya tinggal.

Karena tutur kata yang manis, budi pekerti yang baik serta kecantikannya yang paripurna, dagangannya selalu laris manis dibeli konsumen. Tidak sedikit yang ingin mempersuntingnya baik dari desa maupun warga yang berkecimpung di pasar atau penduduk kota kabupaten di sekitar tempatnya berdomisili. Boleh dikata, Rembulan adalah kembang desa yang diidolakan sampai kampung tetangga.

Dari mulai pemuda lajang, bujang lapuk, duda, pria beristeri (beristeri satu hingga tiga), dengan beragam profesi dan pekerjaan. Namun gadis itu menolak secara halus.

Rembulan sangat disayang warga desa dan para pedagang karena selalu menolong tanpa pamrih. Semisal dagangannya sudah habis terjual, dia akan membatu pedagang lain yang kekurangan pegawai karena sakit atau cuti maupun susah laku.

Dengan bermodal kecantikan serta keluwesannya dalam bertutur sapa dan perilaku, barang yang tak laku, ludes terjual. Tentu saja, hal tersebut membuat pemilik barang senang dan memberikan upah cukup layak untuknya.

Tak jarang di desa, dia membantu penduduk memanen hasil kebun tanpa merasa risih. Pekerjaan yang dijauhi para gadis muda di desanya. Mereka lebih menyukai bekerja menjadi penjaga toko atau pelayan rumah makan di kota daripada menanam hasil bumi. Kuno dan udik katanya serta sayang dengan skin care mahal yang telah mereka beli.

Padahal jasa petani peternak sangat besar untuk kelangsungan hidup suatu negara, tanpa mereka, orang kota makan apa!? Rembulan hanya tersenyum mendengar curahan hati para gadis desa. Mereka tidak salah, keadaan dan perkembanganlah yang mesti disalahkan.

Saat ini, beragam lowongan pekerjaan ditawarkan dan para gadis muda lebih leluasa memilih jenis pekerjaan yang sesuai dengan keadaan dan latar belakang pendidikan para wanita. Rembulan selalu mengedukasi mereka dengan pengetahuan baru dari kota. Membuka mata dan wawasan agar menjadi wanita mandiri. Para wanita di desa tidak merasa iri akan kecantikan Rembulan malahan sangat menghormatinya.

Menurut mereka, jodoh dan rezeki sudah ada yang mengatur, tertakar dan takkan tertukar!

Dirinya tidak takut, kulit gosong, kering bersisik serta terluka karena tinggal berendam di air hangat kolam penyembuhan, tubuhnya segar kembali. Masalah beres. Walhasil, selain uang, dia membawa berkilo beras beserta lauk-pauk secara gratis sebagai hadiah dari para warga karena gemar menolong. Terpaksa disimpan di Ruang Dimensi.

Tak jarang dia menjual hasil bumi penduduk desa yang dia beli langsung dari kebun. Selain itu, dia pun mengajarkan para wanita desa, menjahit, merajut dan menyulam guna menambah penghasilan para ibu muda selama di rumah menunggu suaminya pulang dari bekerja. Dia sangat betah di desa yang jauh dari hiruk pikuk kebisingan knalpot kendaraan, selain itu dia harus menyelesaikan kultivasi.

Sesekali, dia memberikan obat racikan dari Ruang Dimensi, untuk menyembuhkan sakit parah warga. Supaya tak mencolok dan menjadi perbincangan, dia mengklaim itu hasil racikan dan bahannya dari hutan serta menetapkan harga (tentu saja murah) bagi yang kurang mampu dan mahal bagi yang mampu. Tentu bagi pemilik uang yang berlebih, uang tidak menjadi persoalan, yang penting sembuh.

Daripada keluar uang banyak untuk operasi (belum tentu sembuh), lebih baik berobat ke Neng Rembulan (langsung sembuh). Begitulah perkataan warga.

Bersyukur dulu sebelum 'mati' dia memiliki keterampilan kewanitaan dengan tutorial internet dalam hal menjahit dan menyulam. Saat ini, simpanannya terkumpul 50 juta rupiah. (termasuk hasil dari menjual obat racikan dan pengobatan alternatif).

Cukuplah untuk modal akomodasi ke ibukota. Dia harus mendapatkan cuan lebih banyak dari dunia manusia karena dunia dimensi tidak menyediakan uang kartal (rupiah berupa uang koin dan kertas) hanya koin emas.

Bukan sejuta dua juta, kalau perlu bermiliaran rupiah cuan harus didapat, agar dapat mengalahkan Orion dan Ambrosia!

"Lumayanlah! Asal sampai ke kota kabupaten dahulu siapa tahu dapat akses ke pedagang besar untuk mendapatkan uang lebih sebagai modal menetap di ibukota, sebab tidak mudah menjual koin kuno seperti ini di kota kecil. Toko emas adanya di kota bukan pedesaan!" ungkapnya pada Pink dan Violet.

"Duhhh, gusti. Ribetnya. Tetap saja aku harus naik angkutan umum dengan uang kartal. Tidak bisa dengan koin emas!" keluhnya dalam hati saat sampai di pinggir jalan menunggu angkutan kota yang lewat.

Mengetahui kegundahan tuannya, Pink dan Violet pun merasa terenyuh.

"Master! Maaf yah, jadi susah begini. Aku pikir bisa langsung bayar dengan koin emas!" ujar Pink sendu.

"Tak apa! Kita kan tidak tahu, jadi ini pengalaman pertama kita. Beginilah hidup di dunia manusia zaman now. Penuh perjuangan dan kesabaran!" jelas Rembulan sambil tersenyum sehangat mentari.

Yap! Inilah Rembulan Senja versi baru. Yang tidak takut lagi pada intimidasi. Yang optimis menatap masa depan. Yang berani menantang dunia yang tidak memberi keadilan. Yang tak akan pernah sembunyi dalam bayangan. Yang akan menantang cahaya walau menyilaukan.

Rembulan baru yang akan mengangkat dagu pada manusia yang menganggapnya remeh. Tidak merunduk bila ditatap, takkan membungkuk ketika diinjak. Membalas saat disakiti!

Tak lama, angkutan umum pun lewat. Dia bergegas menaikinya. Setelah sekian jam berganti moda transportasi, dirinya sampai pukul 10 pagi di pusat kota kabupaten dengan hati sehangat mentari pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!