NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:595
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sinar matahari pagi di Singapura terasa hangat namun tak mampu mengusir rasa nyeri yang berdenyut di sepanjang tulang belakang dan kaki Ares. Sesi fisioterapi hari ini terasa lebih brutal dari kemarin. Andrew benar-benar memenuhi janjinya, ia berdiri di samping Ares, memberikan semangat yang tak henti-hentinya, meski ia sendiri harus menahan napas setiap kali melihat wajah adiknya memerah menahan sakit.

​Setelah sesi yang melelahkan itu berakhir, Andrew membantu Ares pindah kembali ke kursi roda.

​"Res, tunggu di taman sebentar ya? Dokter Chen mau bicara soal penyesuaian dosis stimulasi sarafmu. Gue cuma sebentar," ucap Andrew sambil mengusap bahu Ares.

​Ares hanya mengangguk lemah. Ia terlalu lelah untuk bicara. Seorang perawat mendorongnya ke area taman rumah sakit yang asri, sebuah oasis hijau di tengah bangunan medis yang kaku, lalu meninggalkannya sendirian di bawah bayangan pohon kamboja besar.

​Ares menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. Rasa perih di otot kakinya masih tertinggal, berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Di tengah keheningan taman, pikirannya melayang pada kegelapan yang selalu menghantuinya, rasa tidak berguna, karier yang hancur, dan cinta yang ternyata hanyalah sebuah pengkhianatan. Wajahnya murung, gurat kesedihan tercetak jelas di sudut bibirnya yang pucat.

​"Tahu tidak? Wajah mendungmu itu bisa membuat bunga-bunga di sini layu seketika."

​Suara itu bening, seperti denting lonceng, memecah lamunan Ares.

​Ares membuka mata dan menoleh ke samping. Di sana, hanya berjarak satu meter, seorang gadis muda duduk di kursi roda yang serupa dengannya. Parasnya cantik dengan kulit yang tampak segar, matanya bulat bersinar, dan rambutnya diikat ekor kuda rapi. Ia mengenakan cardigan kuning cerah yang kontras dengan suasana hati Ares yang kelabu.

​Gadis itu tidak menunggu jawaban Ares. Ia menggerakkan kursi rodanya mendekat, lalu menjulurkan tangannya yang menggenggam sebatang cokelat.

​"Ini. Ambilah. Kata orang, cokelat bisa merangsang hormon kebahagiaan. Dan sepertinya, kamu butuh stok kebahagiaan untuk satu tahun ke depan," ucap gadis itu dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi.

​Ares tertegun. Ia tidak terbiasa disapa secara tiba-tiba oleh orang asing, apalagi dalam kondisinya yang sedang hancur. "Aku tidak suka cokelat," jawab Ares ketus, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya.

​Gadis itu tidak tersinggung. Ia justru terkekeh kecil. "Bohong. Tidak ada orang yang membenci cokelat saat sedang kesakitan. Aku melihatmu tadi di ruang fisioterapi. Kamu yang berteriak seperti sedang melawan naga, kan?"

​Pipi Ares sedikit memerah karena malu. "Itu... itu sesi yang sulit."

​"Aku tahu. Aku sudah melewati sesi 'naga' itu selama enam bulan," gadis itu menepuk kakinya sendiri yang juga tertutup kain. "Namaku Chloe. Dan aku masih hidup, masih bisa tertawa, meski kaki ini masih keras kepala tidak mau berdiri."

​Ares terdiam. Ia memperhatikan Chloe. Gadis ini memiliki energi yang sangat berbeda darinya. Padahal mereka berada di kapal yang sama, terombang-ambing dalam ketidakpastian fisik, namun Chloe seolah memegang kemudi dengan riang.

​"Kenapa kamu memberiku cokelat ini?" tanya Ares pelan, akhirnya menerima batang cokelat itu dari tangan Chloe.

​"Karena aku bosan melihat pasien di sini hanya saling melempar tatapan kasihan," jawab Chloe tulus. "Kita bukan objek kasihan, kita hanya sedang beristirahat sejenak dari berlari. Jadi, berhentilah menatap rumput itu seolah kamu ingin menelan mereka. Makan cokelatnya, dan tersenyumlah sedikit. Kamu jauh lebih tampan kalau tidak merengut."

​Ares tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik sudut bibirnya. Keceriaan Chloe terasa menular, seperti udara segar yang masuk ke ruangan pengap. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Ares tidak memikirkan tentang Alana, tidak memikirkan tentang pengkhianatan Andrew, atau tentang kakinya yang lumpuh. Ia hanya memikirkan rasa cokelat yang mulai meleleh di lidahnya.

​"Terima kasih... Chloe," bisik Ares.

​Andrew, yang baru saja keluar dari gedung rumah sakit, berhenti di kejauhan. Ia terpaku melihat Ares sedang berbicara dengan seorang gadis, dan yang lebih mengejutkan, Andrew melihat secercah senyum di wajah adiknya. Andrew memilih untuk tetap diam di tempatnya, membiarkan momen itu berlangsung. Ia menyadari bahwa mungkin, obat terbaik bagi Ares bukan hanya teknologi Singapura, melainkan jiwa-jiwa baru yang tidak mengenal masa lalunya yang kelam.

----

Sejak pertemuan di taman sore itu, rutinitas Ares di Singapura tidak lagi terasa seperti hukuman mati. Chloe, dengan segala keceriaan dan energinya yang meluap, seolah menjadi warna baru di tengah putihnya dinding rumah sakit.

​Setiap pagi pukul tujuh, Andrew tidak perlu lagi membujuk Ares untuk bangun. Ares sendiri yang akan memastikan dirinya sudah siap di depan pintu ruang fisioterapi. Alasannya sederhana, ia tidak mau kalah dari Chloe.

​"Ayo, Tuan Aktor! Masa baru sepuluh menit sudah mau menyerah? Naga robot ini tidak seburuk itu, lho!" Chloe berseru dari mesin di sebelah Ares. Keduanya kini dijadwalkan untuk sesi yang sama.

​Ares, dengan wajah yang memerah dan peluh yang membanjiri tubuhnya, melirik Chloe. Gadis itu tampak jauh lebih tenang, meskipun Andrew tahu Chloe pun sedang menahan sakit yang luar biasa.

​"Gue nggak menyerah," desis Ares sambil mengatur napasnya. "Gue cuma lagi ambil ancang-ancang buat ngalahin rekor lo kemarin."

​"Oh ya? Kalau hari ini lo bisa bertahan lebih dari 45 menit, gue bakal kasih lo kartu rehab-pass gue. Artinya, gue yang bakal dorong kursi roda lo keliling Marina Bay sore ini, bukan Kakakmu yang galak itu," tantang Chloe sambil mengedipkan sebelah mata.

​Andrew yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa tersenyum. Ia bersyukur melihat Ares kembali memiliki semangat juang. Kehadiran Chloe adalah obat yang tidak bisa diberikan oleh dokter mana pun. Kompetisi kecil di antara mereka membuat rasa sakit itu teralihkan menjadi rasa bangga setiap kali mereka berhasil melewati target waktu.

​----

​Suatu sore, setelah sesi latihan yang melelahkan, Andrew sengaja memberikan ruang bagi keduanya untuk berbincang di ruang observasi rumah sakit yang menghadap ke arah pelabuhan. Andrew memperhatikan dari kejauhan, membiarkan Ares belajar membuka diri lagi.

​Ares melihat Chloe sedang menatap kakinya sendiri dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada senyum ceria yang biasanya menghias wajahnya.

​"Kenapa lo ada di sini, Chloe? Maksud gue... apa yang terjadi?" tanya Ares pelan, kali ini dengan nada yang benar-benar peduli.

​Chloe terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil, namun kali ini suaranya terdengar sedikit rapuh. "Aku dulu seorang balerina, Ares. Hidup aku adalah tentang melompat, berputar, dan melayang di atas panggung. Aku punya kontrak dengan salah satu dance company di London sebelum kecelakaan itu terjadi."

​Ares terpaku. Ia membayangkan betapa hancurnya perasaan seorang penari yang dunianya adalah kaki, kini harus terduduk di kursi roda. "Kecelakaan mobil juga?"

​"Bukan," Chloe menggeleng. "Cedera tulang belakang saat latihan. Aku jatuh dari ketinggian saat melakukan lift yang salah dengan partnerku. Dalam satu detik, aku berubah dari burung yang terbang menjadi burung yang sayapnya patah total."

​Chloe menoleh ke arah Ares, matanya berkaca-kaca namun tetap menunjukkan kekuatan. "Awalnya aku mau menyerah. Aku benci setiap melihat sepatu baletku. Tapi kemudian aku sadar, kalau aku nggak bisa menari dengan kaki, aku harus belajar menari dengan cara lain. Hidup itu terlalu indah untuk dilewatkan hanya dengan menangisi apa yang sudah hilang."

​Ares merasa dadanya sesak. Dibandingkan dengan Chloe, ia merasa dirinya sangat kerdil. Ia hancur karena pengkhianatan dan cinta yang salah, sementara Chloe kehilangan identitas dan impian terbesarnya namun tetap bisa memberikan cokelat pada orang asing yang sedang murung.

​"Kamu hebat, Chloe," bisik Ares tulus.

​"Kita hebat, Ares," ralat Chloe sambil menggenggam tangan Ares yang berada di sandaran kursi roda. "Kamu punya Kakak yang luar biasa yang rela ngelakuin apa aja buat kamu. Jangan sia-siain itu. Dia mungkin pernah salah, tapi lihat matanya... dia lagi berusaha nebus semuanya setiap hari."

​Ares menoleh ke arah Andrew yang sedang bicara di telepon di kejauhan namun tetap sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan cemas. Untuk pertama kalinya, Ares merasakan amarahnya pada Andrew benar-benar meluap, digantikan oleh rasa pengertian yang baru.

​Melihat kedekatan mereka, Andrew merasa bebannya sedikit terangkat. Namun, sifat protektifnya tetap muncul. Ia mulai melakukan riset pribadi tentang latar belakang Chloe. Ia menemukan bahwa Chloe memang seorang penari berbakat, namun ia juga menemukan sesuatu yang mengejutkan, pengobatan Chloe di Singapura sebenarnya hampir dihentikan karena masalah biaya yang menipis setelah orang tuanya bangkrut.

​Andrew berdiri di depan jendela apartemen malam itu, menatap lampu-lampu kota. Ia mengambil keputusan. Tanpa memberitahu Ares atau Chloe, ia menghubungi pihak rumah sakit.

​"Pastikan pengobatan Chloe tetap berjalan dengan fasilitas terbaik yang sama dengan adik saya," perintah Andrew pada perwakilan rumah sakit melalui telepon. "Kirim tagihannya langsung ke akun pribadi saya. Jangan biarkan dia atau keluarganya tahu. Katakan saja itu bantuan dari yayasan rumah sakit."

​Andrew tidak melakukannya karena ingin mencampuri hidup mereka, tapi karena ia tahu, Chloe adalah satu-satunya alasan mengapa Ares ingin kembali berdiri. Dan bagi Andrew, apa pun harganya, ia akan menjaga harapan itu tetap hidup.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!