Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERTAMA DALAM TIGA PULUH HARI
🌼🌼🌼🌼🌼
Lantai marmer itu sedingin es, namun hati pria yang berdiri di atasnya jauh lebih membeku.
Melisa melangkah masuk ke kamar utama. Ruangan itu luas, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam—maskulin sekaligus mengintimidasi. Aroma kayu manis yang tajam namun dingin memenuhi indra penciumannya. Itu bau parfum Harvey. Bau yang memicu memori masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.
"Jangan hanya berdiri di sana seperti patung," suara Harvey terdengar dari balik meja kerja. Pria itu bahkan tidak mendongak. "Mulai bersihkan. Aku tidak suka debu."
Melisa menarik napas panjang, mencoba menenangkan tangannya yang gemetar. Ia mulai merapikan tempat tidur king size yang berantakan. Saat menyentuh seprai sutra yang halus, ia teringat bagaimana dulu ia pernah membayangkan masa depan indah bersama Harvey di ruangan seperti ini. Kini, kain mahal itu terasa seperti duri di kulitnya.
Ia memunguti kemeja yang tersampir sembarangan di kursi. Di dalam walk-in closet, deretan jas dokter yang kaku seolah mengejeknya. Melisa bekerja dalam diam, menyapu setiap sudut ruangan hingga punggungnya mulai terasa pegal.
Tiba-tiba, pintu kamar yang tadi tertutup rapat kini terbuka lebar. Harvey berdiri di ambang pintu, memperhatikan gerak-gerik Melisa dengan tangan bersedekap.
"Kau terlalu lambat," kritik Harvey dingin. "Jika kau merawat suamimu selambat ini, tidak heran dia belum bangun juga."
Melisa tersentak. Ucapan itu menusuk tepat di jantungnya. "Maaf, Harvey. Aku akan lebih cepat."
"Benarkah? Mari kita lihat seberapa cepat kau bisa membereskan kekacauan."
Harvey berjalan mendekat, lalu dengan sengaja menjatuhkan gelas kaca yang ia bawa ke atas lantai marmer yang baru saja dibersihkan Melisa.
Prang!
Pecahan kaca berserakan, air membasahi lantai hingga ke ujung kaki Melisa.
"Bersihkan," perintahnya tanpa emosi. "Jangan pakai kain pel. Gunakan tanganmu."
Melisa menatap pecahan itu, lalu menatap mata Harvey yang gelap. Tidak ada belas kasihan di sana. Melisa berlutut tanpa membantah. Ia memunguti kepingan tajam itu satu per satu. Salah satu ujung kaca mengiris ujung jarinya. Darah segar menetes, membaur dengan sisa air di lantai. Ia tidak mengeluarkan suara. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada Harvey dengan menunjukkan rasa sakitnya.
"Selesai?" tanya Harvey saat Melisa mengeringkan sisa air.
"Sudah," jawab Melisa lirih, menyembunyikan jarinya yang terluka di balik lipatan rok.
"Bagus. Tugas kedua. Aku ingin kopi di ruang kerja dalam tiga menit. Tanpa gula. Pahit, sepahit kenyataan bahwa kau berada di sini sekarang."
Di dapur, Melisa menatap ke luar jendela apartemen. Di kejauhan, ia bisa melihat gedung rumah sakit tempat suaminya, Narendra, berbaring koma.
Mas Narendra, bertahanlah... hanya satu bulan. Hanya tiga puluh hari, batinnya menguatkan diri.
Saat ia membawa nampan kopi ke ruang kerja, ia menemukan Harvey sedang mempelajari berkas medis. Jantung Melisa berdegup kencang saat melihat nama di sampul berkas itu: Narendra Wijaya.
"Kau sedang mempelajari kondisi suamiku?" tanya Melisa, harapannya membuncah. "Kau akan membantunya, kan? Kau dokter terbaik yang kukenal."
Harvey mendongak, seringai tipis muncul di bibirnya. "Jangan salah paham. Aku mempelajarinya bukan untuk menyelamatkannya."
"Lalu?"
"Aku mempelajarinya untuk memastikan berapa lama lagi dia bisa bertahan hidup tanpa bantuan mesin yang aku bayar harganya setiap hari."
Dunia Melisa seolah runtuh. "Kau benar-benar iblis, Harvey."
"Aku hanya pria yang menagih utang, Melisa. Sekarang, berlututlah di samping kursiku."
Melisa terpaku. "Apa lagi?"
"Bacakan jadwal operasiku untuk minggu ini. Dan ingat," Harvey menyesap kopinya yang masih berasap, "setiap kali kau salah menyebutkan satu istilah medis, aku akan mengurangi waktu kunjunganmu ke rumah sakit besok sebanyak satu jam."
Melisa gemetar. Ia mengambil kertas jadwal itu dengan tangan yang perih. Ia mulai membaca dengan suara serak, menyadari bahwa setiap detik di apartemen ini adalah perang psikis yang dirancang Harvey untuk menghancurkannya perlahan-lahan.
Pukul enam sore, suasana semakin mencekam. Harvey memerintahkan Melisa memasak.
"Masak apa pun yang kau bisa," ancamnya sebelum masuk ke kamar mandi. "Tapi jika rasanya tidak sesuai dengan lidahku, kau tahu konsekuensinya."
Melisa menyajikan pasta sederhana dengan tangan yang kini terbalut plester. Saat mereka duduk di meja makan, Harvey duduk di kursinya yang megah, sementara Melisa dipaksa berdiri di sampingnya untuk melayani.
Harvey mengunyah perlahan, lalu meletakkan garpunya dengan denting yang keras.
"Hambar," desisnya. "Sama seperti dirimu, Melisa. Cantik di luar, tapi kosong di dalam."
Melisa hanya menunduk, menelan harga dirinya bulat-bulat. "Maaf. Akan aku perbaiki besok."
"Besok? Kau pikir aku punya banyak kesabaran?" Harvey berdiri, mendekati Melisa hingga wanita itu terdesak ke pinggiran meja. "Kau tahu apa yang paling menyedihkan? Kau rela berdiri di sini, dihina olehku, hanya untuk seorang pria yang bahkan tidak bisa membuka matanya untuk melihat pengorbananmu."
"Itu karena aku mencintainya!" teriak Melisa spontan.
Plak!
Harvey memukul meja di samping tangan Melisa. "Jangan pernah bicara soal cinta di depanku! Kau tidak tahu apa itu cinta. Kau hanya tahu cara mengkhianati."
Harvey menarik napas pendek, mencoba mengendalikan amarahnya. "Malam ini, aku ingin kau memakai gaun yang sudah aku siapkan di atas tempat tidur. Kita akan 'merayakan' malam pertama kontrak ini."
"Harvey, kumohon..."
"Pakai gaun itu, atau aku akan mematikan mesin ventilator Narendra malam ini juga."
Melisa menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun hitam berbahan satin itu sangat terbuka, memeluk lekuk tubuhnya dengan provokatif. Ia merasa seperti barang dagangan. Jiwanya tertinggal di ruang ICU, namun tubuhnya terjebak di sangkar emas ini.
Ketika ia keluar, Harvey sudah menunggu di balkon dengan segelas anggur merah. Lampu utama dipadamkan, menyisakan cahaya temaram dari lampu kota yang masuk melalui jendela kaca besar.
Harvey berjalan mendekat, jemarinya yang dingin mengelus leher Melisa. "Kau tampak cantik malam ini. Sayangnya, kecantikanmu sekarang punya harga."
Ia membimbing Melisa menuju balkon. "Lihat ke luar sana. Di salah satu titik itu, suamimu sedang berjuang hidup. Dan di sini, kau sedang bersamaku, mengenakan gaun yang kupilihkan, di apartemen yang kubayar."
"Apa yang kau inginkan dariku, Harvey? Kau sudah mendapatkan kontraknya, kau sudah mendapatkan tenagaku..."
Harvey memutar tubuh Melisa agar menatap matanya. "Aku ingin kau mengingat pemandangan ini setiap kali kau berpikir untuk membantahku. Aku ingin kau sadar bahwa hidup Narendra ada di telapak tanganku."
Harvey tidak memperlakukannya dengan kasar secara fisik malam itu, namun setiap kata dan tindakannya dirancang untuk merobek martabat Melisa. Setiap sentuhannya adalah pengingat akan pengkhianatan masa lalu dan penderitaan masa sekarang.
***
Bersambung...
......................
......Sebelum lanjut, bantu author lebih semangat dengan memberikan Like, komen, vote, dan gift semampu kalian ya 🥰🥰🥰......