Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Luka Lama, Ikatan Baru
Lantai batu di kedalaman Benteng Obsidian bergetar hebat, seolah-olah gunung itu sendiri sedang mengalami kejang-kejang kematian. Aethela berlari menyusuri lorong-lorong sempit menuju Jantung Gunung, tangannya tidak pernah lepas dari genggaman Valerius. Udara di sini semakin panas dan berbau belerang yang menyengat, bercampur dengan aroma logam terbakar yang menandakan adanya sihir hitam yang sedang bekerja.
Ketakutan yang selama ini menghantuinya tentang kutukan "Penghancur" seolah-olah menemukan sasarannya. Ia menyadari bahwa kekuatannya bukan untuk menghancurkan naga, melainkan untuk menghancurkan racun yang mencoba membusukkan mereka dari dalam. Namun, melihat Valerius yang terus terbatuk karena asap hitam yang mulai memenuhi lorong, hatinya terasa perih. Pria ini sedang bertarung di wilayah yang paling melukainya—wilayah di mana kegelapannya sendiri dipicu.
"Sedikit lagi," geram Valerius, suaranya parau.
Mereka sampai di sebuah jembatan batu sempit yang melintasi jurang magma. Di seberang sana, di sebuah platform bundar yang dikelilingi oleh kristal-kristal raksasa yang berdenyut merah, berdiri Seraphina. Namun, ia tidak lagi tampak seperti bangsawan cantik yang ditemui Aethela di menara. Matanya bersinar dengan cahaya safir yang tidak alami, dan kulitnya tampak retak, mengeluarkan uap hitam yang beracun.
Valerius melepaskan tangan Aethela dan melangkah maju ke depan jembatan. Ia bisa merasakan sihir di ruangan ini mencoba mencabik-cabik kewarasannya. Jantung Gunung adalah tempat tersuci sekaligus tempat paling berbahaya bagi seorang Nightshade—tempat di mana dosa masa lalu Solaria terkumpul.
Setiap detak jantung gunung yang terinfeksi ini mengirimkan gelombang kejutan ke sistem saraf naganya. Ia melihat Seraphina memegang belati kristal biru—sebuah artefak dari Solaria kuno yang seharusnya sudah dimusnahkan.
"Seraphina! Hentikan kegilaan ini!" teriak Valerius. "Kau akan meruntuhkan seluruh gunung ini di atas kepala kita semua!"
Seraphina tertawa, suara yang terdengar seperti pecahan kaca. "Dunia ini sudah runtuh sejak kalian memutuskan untuk tunduk pada putri manusia itu, Valerius! Jika aku tidak bisa memilikimu, dan jika Obsidiana tidak bisa tetap murni, maka lebih baik kita semua kembali menjadi debu!"
Seraphina mengayunkan belatinya, mengiris udara. Seketika, gelombang sihir biru yang tajam melesat ke arah mereka. Valerius segera memanggil bayangannya, membentuk perisai besar, namun ledakan itu begitu kuat hingga ia terlempar ke belakang, menghantam dinding batu dengan keras.
"Valerius!" jerit Aethela. Ia berlari ke arah Valerius yang sedang berusaha bangkit. Darah segar mengalir dari pelipis pria itu, dan sisik-sisik hitam di lengannya mulai muncul tak terkendali, menunjukkan bahwa sihirnya sedang dalam kondisi paling tidak stabil.
Ia menoleh ke arah Seraphina. "Kau bicara tentang kemurnian, tapi kau menggunakan senjata milik bangsaku untuk menghancurkan bangsamu sendiri? Kau adalah pengkhianat yang sebenarnya, Seraphina!"
Aethela berdiri tegak, merentangkan tangannya. Ia tidak lagi mencoba menahan sihir bulannya. Ia membiarkannya mengalir keluar, bukan sebagai cahaya yang lembut, melainkan sebagai badai perak yang menyilaukan.
Aethela menyadari bahwa Seraphina sedang menyerap energi dari Jantung Gunung. Untuk mengalahkannya, ia harus memutus aliran energi itu. Namun, itu berarti ia harus bertindak sebagai konduktor—membiarkan sihir beracun itu melewati tubuhnya sebelum ia bisa memurnikannya.
"Aethela, jangan!" Valerius berteriak, suaranya penuh ketakutan. "Itu akan membunuhmu! Tubuh manusiamu tidak akan kuat menahan beban Jantung Gunung!"
"Aku punya sihir naga di dalam darahku sekarang, ingat?" jawab Aethela tanpa menoleh. "Kau memberikannya padaku semalam, Valerius. Sekarang, biarkan aku mengembalikannya."
Aethela melompat ke platform tengah. Ia menangkap tangan Seraphina yang memegang belati. Seketika, rasa sakit yang tak terbayangkan menjalar ke seluruh saraf Aethela. Rasanya seperti dibakar hidup-hidup dari dalam. Ia melihat memori-memori mengerikan tentang naga-naga yang sekarat, tentang kebencian berabad-abad yang tertanam di batu ini.
Valerius melihat Aethela yang gemetar hebat, wajahnya memucat hingga hampir putih, sementara cahaya perak di sekelilingnya mulai berubah menjadi biru kehitaman akibat racun. Ia tahu jika ia tidak segera bertindak, ia akan kehilangan wanita itu selamanya.
Dalam momen keputusasaan itu, Valerius tidak lagi takut pada monster di dalam dirinya. Ia memeluk kegelapannya. Ia bertransformasi setengah wujud naga—sayap bayangan raksasa membentang, dan matanya menyala merah darah—namun pikirannya tetap tertuju pada Aethela.
Ia melesat ke platform, menerjang Seraphina dan melempar wanita itu menjauh dari Aethela. Namun, belati itu masih tertancap di altar kristal, terus memompa racun.
Valerius segera menangkap tubuh Aethela sebelum wanita itu jatuh ke magma di bawah. Ia memeluknya erat, membiarkan sihir bayangannya berfungsi sebagai wadah untuk menyerap sebagian rasa sakit Aethela.
"Tetaplah bersamaku, Aethela! Jangan lepaskan!"
Dalam kekacauan sihir itu, sebuah ikatan baru tercipta. Bukan lagi sekadar sinkronisasi, melainkan fusi. Darah naga Valerius dan sihir bulan Aethela menyatu secara permanen. Luka lama di jantung gunung itu mulai bereaksi. Cahaya perak dan hitam berputar menjadi pusaran yang murni, menyapu bersih uap biru beracun milik Seraphina.
Aethela merasa jiwanya ditarik kembali dari ambang kegelapan oleh tangan-tangan Valerius yang kuat. Ia membuka matanya, melihat wajah Valerius yang kini memiliki jejak sisik naga yang permanen di pipinya—sebuah tanda bahwa ia telah melampaui batas kekuatannya.
Ia tidak lagi merasakan takut pada Valerius. Ia merasakan detak jantung pria itu sebagai detak jantungnya sendiri.
Di depan mereka, Seraphina menjerit saat sihirnya sendiri berbalik menyerangnya. Belati kristal itu hancur menjadi debu, dan dengan satu ledakan energi terakhir, Seraphina terlempar ke kegelapan jurang di bawah mereka.
Suasana di Jantung Gunung mendadak menjadi sangat sunyi. Getaran itu berhenti. Kristal-kristal raksasa yang tadinya merah darah, kini berubah menjadi ungu lembut—perpaduan antara perak dan hitam.
"Kau melakukannya," bisik Valerius. Ia membenamkan wajahnya di leher Aethela, tubuhnya gemetar karena kelelahan. "Kau benar-benar menyembuhkannya."
"Kita yang melakukannya," sahut Aethela lemah. Ia membelai rambut Valerius, merasakan kedamaian yang baru saja menyelimuti gunung ini.
Meskipun mereka menang, Aethela tahu bahwa luka lama telah terbuka dan ikatan baru yang lebih berat telah terbentuk. Mereka bukan lagi sekadar Putri dan Pangeran yang terikat perjanjian. Mereka adalah satu entitas. Dan saat mereka berjalan keluar dari kedalaman gunung yang kini tenang, mereka melihat Raja Malakor dan para Tetua berdiri di gerbang, menatap mereka dengan rasa hormat yang bercampur takut.
Aethela menyadari satu hal: mereka baru saja mengubah sejarah. Namun, pengorbanan yang mereka lakukan malam ini adalah harga yang harus mereka bayar untuk masa depan yang belum pasti.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...