Blurb:
Dua belas tahun yang lalu, Jaxon Thorne memberikan segalanya, hatinya, janjinya, masa depannya pada wanita dengan sepasang mata hijau yang indah, Scarlett Reed yang merubah namanya menjadi Scarlett Quinn.
Lalu, dia terbangun di dunia yang hancur, hanya disisakan secarik surat perpisahan yang melukai hatimya.
Sejak saat itu, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Thorne itu membangun benteng kokoh di sekeliling hatinya, dingin, berkuasa, dan tak tersentuh.
Kekayaannya melimpah, tetapi kebenciannya pada pengkhianatan lebih membara dari apapun hingga dia tak percaya lagi akan cinta sejati dan suka mempermainkan wanita.
Namun, takdir berkata lain.
Semuanya berubah saat Jaxon bertemu dengan Dash Quinn, seorang bocah jenius berusia dua belas tahun pemenang olimpiade sains yang mendapat beasiswa dari perusahaannya.
Ada sesuatu pada senyum dan sorot mata anak itu yang membuat dunia Jaxon berguncang, sebuah pengingat yang tak tertahankan akan masa lalu yang dikuburnya dalam-dalam.
Semakin dekat Jaxon dengan Dash, semakin banyak fakta yang terungkap. Rahasia gelap itu akhirnya terbuka.
Penghianatan terbesar bukan berasal dari gadis sederhana yang dulu dicintainya, melainkan dari lingkaran terdekatnya sendiri, yaitu keluarganya.
Sekarang, dihadapkan pada kebenaran yang pahit, Jaxon harus memilih, tetap menjadi pewaris yang terluka seperti yang diharapkan keluarganya, atau menjadi pejuang yang mengambil kembali segala sesuatu yang telah dicuri darinya.
Sebuah perjalanan untuk menuntut balas, memperbaiki kesalahan, dan meraih keluarga yang tak pernah dia sangka bisa dimilikinya, sebelum segalanya benar-benar terlambat.
Mana yang akan dipilih Jaxon? Keluarganya yang licik atau keluarga barunya yang baru dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Masa Lalu
Mereka dulu pernah berenang di danau dekat rumah keluarga Jaxon di Texas. Usia mereka masih begitu muda. Matahari musim panas bersinar terik.
Jaxon muncul dari air, rambutnya basah menempel di kening, tubuh remajanya sudah menunjukkan tanda-tanda kemaskulinannya.
Dia tersenyum pada Scarlett, senyum yang dulu bisa melelehkan hatinya dalam sekejap.
"Ayo, jangan takut!" teriaknya, menarik tangan Scarlett.
"Aku tidak bisa berenang dengan baik, Honey!"
"Aku yang akan menjagamu. Selalu."
Dan dia memang menjaganya. Tangan-tangan kuat itu mengangkatnya, membuat Scarlett merasa ringan seperti bulu.
Saat itulah dia pertama kali menyadari betapa dalam cintanya pada pria ini. Saat itulah dia berjanji dalam hati akan mengikutinya ke mana pun.
Air mata tanpa sadar mengalir di pipi Scarlett. Janji yang diingkari. Cinta yang ditinggalkan. Dua belas tahun bukan waktu singkat.
Scarlett berpaling dari kamar mandi, mencoba fokus pada kamar itu. Kamar ini mewah tapi dingin.
Tak ada foto, tak ada kenangan pribadi. Hanya sebuah jam dinding berwarna hitam, rak buku, dan laptop tertutup di meja.
Scarlett mendekati pintu lagi, mencoba mengutak-atik kunci elektronik itu. Tapi seperti yang dikatakan Jaxon, sistemnya canggih. Mungkin hanya sidik jari atau kode tertentu yang bisa membukanya.
Saat itulah air berhenti. Scarlett kembali berdebar. Dia cepat-cepat bergerak menjauh dari pintu, duduk di tepi sofa, berusaha terlihat sibuk dengan ponselnya meski sinyal di sini hampir tak ada.
Kaca shower terbuka. Jaxon melangkah keluar, hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggang. Rambutnya masih basah, beberapa helai menempel di keningnya.
Tubuhnya beruap, tetesan air masih mengalir di lekuk-lekuk ototnya.
Scarlett menghela napas dalam-dalam, memusatkan pandangan pada ponselnya tapi sembari menggigit bibirnya, tanda dia sedikit panik. Tapi Jaxon tak memberinya celah untuk diabaikan.
Dia berjalan langsung ke depan Scarlett, berhenti hanya beberapa inci darinya.
"Apa lagi?" tanya Scarlett ketus, masih menatap ke ponselnya.
"Kau masih sama," ucap Jaxon, suaranya lebih lembut. "Saat gugup, kau selalu menggigit bibir bawahmu sebelah kiri."
Scarlett segera berhenti menggigit bibirnya.
Jaxon membungkuk, tangannya menempel di sandaran sofa di kedua sisi tubuh Scarlett, mengurungnya.
Wangi sabunnya yang segar, jelas memenuhi ruang penciuman Scarlett. Wanita itu spontan mendongak dan membuat wajah mereka begitu dekat.
“Mau mandi juga?” tanya Jaxon, dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
“Tidak!”
"Dulu kau sangat suka jika kita … mandi bersama," bisiknya dekat telinganya. "Kau bilang itu romantis."
Wajah Scarlett memerah. “Itu ucapan seorang gadis belia yang terpengaruh!”
"Dan sekarang kau sudah dewasa dan bijaksana? Tapi kau masih di sini, terjebak di kamarku, Baby."
Scarlett menatapnya lebih tajam. Mata hijau yang dulu selalu hangat menatap Jaxon, kini dingin seperti es, tapi masih indah.
Lalu Scarlett mendorong dada Jaxon dengan paksa, karena dia tak tahan lagi dengan debaran jantungnya sendiri yang semakin cepat dan keras.
Jaxon menghela napas, lalu berdiri tegak. Dia berjalan ke lemari, mengambil kaos dan memakainya dengan santai seolah Scarlett tidak ada.
Gerakan itu intim, biasa, dan itu justru membuat Scarlett semakin tidak nyaman.
"Jika kau tak mau melakukannya sekarang, tak masalah. Masih banyak waktu untuk kita nanti. Tak akan ada perceraian dalam pernikahan kita,” kata Jaxon dan membuka handuknya yang melilit di pinggang lalu memakai celananya.
Scarlett terlambat memalingkan wajahnya hingga bisa melihat sekilas milik Jaxon. Jaxon tertawa pelan melihat reaksi Scarlett.
“Setelah dua belas tahun, kau senang bisa melihatnya lagi, bukan?” goda Jaxon.
“Menjijikkan,” gerutu Scarlett, yang masih memalingkan wajahnya.
“Kita membuat Dash dari hal menjijikkan ini, Baby.”