Kata pepatah 'mulutmu adalah harimaumu' mungkin itu yang terjadi pada sebuah keluarga yang merasa dirinya tinggi maka bisa merendahkan orang lain.
Hal itu terjadi pada Yusuf dan keluarganya. Kesombongan mereka membuat mereka hidup tak tenang karena ada yang sakit hati pada mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irawan Hadi Mm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 7
"Lah babeh mau kemana? Ora mao liet nyak dulu?" tanya Wati yang melihat ayahnya malah pergi ke kamar, sementara dari dapur tadi ada suara yang cukup keras.
"Ora, lu bae yang liet nyak, lu! Babeh mau ke kamar, bersih bersih, belum sholat magrib juga ini babeh!" cerocos Yusuf, tanpa menghentikan langkahnya.
Brakkk
Baru beberapa langkah dari ruang depan, keduanya sudah dikejutkan dengan suara bantingan pintu.
"Apaan tuh yang loncat!" Wati berjingkat kaget.
Yusuf menatap tajam Wati, "Jelek amat si latah lu, Ti! Astagfirullah orang mah!" tegurnya pada anak perempuannya yang latahnya tidak menyebut kata yang baik, malah seperti itu.
Wati menggaruk kepalanya yang gak gatal, "Lah ya maaf, beh! Kapan Wati kan kaget! Mana ingat astagfirullah!"
"Lu harus ingat, Wati! Astagfirullah itu bisa diucapin kapan saja! Terutama saat lu menyadari kesalahan, sebagai zikir harian setelah sholat. Saat melihat hal buruk atau maksiat. Di sepertiga malam terakhir, di waktu sahur, dan setelah lu ikutin pengajian di majlis, atau pertemuan untuk memohon ampunan Allah SWT." jelas Yusuf panjang kali lebar menasehati anaknya.
Bukannya mendengarkan nasehat ayahnya yang emang sangat baik itu, tapi Wati sibuk mengamati pintu depan yang kini tertutup rapat.
'Perasaan tadi aye udah tutup itu pintu depan. Tapi kenapa bisa itu pintu kaya di tutup lagi ya? Dibanting pula!' pikir Wati gak habis pikir.
"Wati!" seru Yusuf dengan meninggikan nada suaranya.
Wati menoleh ke arah Yusuf, "Nyaut, beh! Ngapa beh?" tanya Wati.
"Dasar anak wadon! Di kasih tau sama orang tua, bukannya di dengerin malah gua lu cuwekin! Wati Wati!" Yusuf menggaruk kepalanya frustasi.
"Tadi babeh jelasin apaan dah?" tanya Wati yang tadi malah sibuk melihat ke arah pintu dan tidak mendengarkan apa yang ayahnya itu katakan.
"Astaghfirullahhaladziim! Lu ngeliatin apa si? Mulut babeh tadi berbusa tau kaga lu! Liet apaan lu? Orang tua lagi ngomong, kaga sopan bangat lu jadi anak! Anak orang apa anak setan si lu, Wati!" kesal Yusuf.
Wati melangkah menghampiri sang ayah, "Et dah babeh mah nanya nya gitu! Kalo Wati anak setan, babeh biangnya setan ya?" balas Wati.
Yusuf mengurutt dadanya, dengan nafas memburu kesal. Tidak istrinya, tidak anaknya, kenapa semuanya sulit dinasehati, diberi tahu hal yang baik, membantah saja semuanya.
Sifa kembali menjerit, "Watiiiii!"
Mendengar itu, kesabaran Yusuf sungguh tandas tak bersisa.
"Astagfirullah, ada bae ini hari bikin gua gilaa lu pada! Samperin sono nyak lu!" sentak Yusuf, sebelum melanjutkan langkahnya masuk ke kamarnya.
Wati mengerucutkan bibirnya, melangkah ke dapur di mana sang ibu berada, "Babeh dibuat gilaa ama nih hari. Lah aye, di buat bingung ama ni hari!"
Wati menepuk keningnya, mempercepat langkahnya, "Ya ampun, cing Minah lupa aya bukain pintu!"
Untuk sesaat ruangan di lantai 1 kini hanya menyisakan kesunyian, seperti rumah kosong tanpa penghuni. Namun siapa yang tau, jika lukisan wanita bergaun hijau itu seakan hidup.
Bibir wanita itu bergerak tersenyum, dengan sorot mata yang kian tajam. Seakan masih menunggu, sesuatu yang lebih mengejutkan dari apa yang sudah dialami penghuni rumah itu.
**
Begitu Wati sampai di dapur. Wanita itu di buat terkejut dengan ketidakberadaan ibunya di dapur.
"Lah, mana nyak?" gumam Wati, hanya mendapati serpihan gelas di lantai dekat meja makan.
‘Perasaan tadi gak ada gelas di atas meja, masa iya bisa keluar sendiri itu gelas dari rak piring, terus jatohin diri ke lantai. Kan aneh! Ora masuk akal dah!” pikir Wati gak habis pikir.
Sejurus kemudian, Wati menatap ke arah pintu dapur yang terbuka.
"Waduh, lokan nyak ketemu bang Samsul, walah alamat cing Minah yang di semprot nyak ini mah!" Wati gegas menyusul Sifa yang ia pikir berada di luar rumah.
Dengan pasti Wati melangkah keluar, melewati pintu belakang yang sudah terbuka sebelumnya. Melupakan perkataan Yusuf yang acap kali memperingatinya.
‘Jangan pernah keluar rumah lewat pintu belakang, apa lagi kalo lu lagi kedatangan tamu bulanan! Ini berlaku buat lu, Wati! Buat nyak lu juga, Sifa!’ cerocos Yusuf kala itu.
"Nyak! Cing Minah!" Wati berseru, usai beberapa langkah. Netranya mencari 2 sosok wanita yang ia pikir berada di luar rumah.
Namun sejauh mata memandang, hanya ada beberapa gundukan tanah dengan batu nisan di atasnya. Jangan lupakan dengan pohon pandan yang tumbuh dengan rindang bak latarnya.
Sementara di sisi lain, sebidang tanah dipenuhi dengan pohon pisang yang siap panen. Satu satunya warisan yang ditinggalkan mendiang orang tua Yusuf . Semilir angin, mampu membuat daun daun pisang yang lebar saling bergoyang.
Wuuuussshh.
Sekelebat bak angin, berhembus melewati punggung Wati, tepat di depan pintu belakang rumah yang masih terbuka.
"Bujuk dah, apaan sih! Kaya ada yang lewat!" beo Wati, mengelus leher belakangnya yang seketika terasa merinding.
Kreeseeek.
Wati menoleh ke asal suara, seakan ada benda jatuh dari arah kebon pisang yang beberapa meter dari hadapannya.
"Nyak, ngapain di situ nyak? Ada pisang yang matang emang, nyak?" tanya Wati tanpa saringan, melihat punggung yang ia pikir Sifa.
Brugh.
Wati kembali menoleh ke belakang, saat ada seseorang yang ia yakini menutup pintu dapur dengan keras.
"Bujuk dah, ngapa ditutup sih!" protes Wati, melangkah mendekat ke arah pintu.
Ceklek, ceklek, ceklek.
Wati gak berhasil membuka pintu, saat handle pintu seakan ditahan dari dalam oleh seseorang.
"Sarip buka pintunya! Ora lucu lu! Masa lu kunciin gua sama nyak di belakang! Buka oy!" teriak Wati.
Belum terdengar sahutan dari dalam, kini Wati dipaksa menoleh ke belakang. Usai hembusan angin yang sepoi, berhembus meniup leher belakangnya.
Wussshhh.
"Akkkkkkkkkhhhhhhhh!" Wati menjerit sekencang kencangnya, dengan mata membola dan mulut terbuka lebar.
***
Bersambung…